DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
MASALAH DATANG


__ADS_3

Jam dua belas malam Yeshi tiba di rumah. Ia masuk ke dalam kamarnya yang sudah gelap. Tiba tiba..


Pyar...


Lampu menyala menampilkan Tian yang sedang berdiri sambil bersedekap dada. Ia menatap Yeshi dengan tajam lalu berjalan menghampirinya.


" Darimana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Apa kau tidak berpikir bagaimana aku di rumah? Kau tahu kan kalau aku sedang sakit? Lalu kenapa tidak mengurusku dan malah meninggalkan aku bersama pria lain? Apa sekarang kau sedang menunjukkan sifatmu yang sebenarnya?" Tian memberondong Yeshi dengan pertanyaan. Hatinya benar benar di liputi emosi dan amarah.


" Apa maksudmu Mas? Aku dari rumah sakit, aku..


" Rumah sakit yang mana Yeshi!!" Bentak Tian membuat Yeshi berjingkrak kaget. Tian menganggap Yeshi hanya alasan saja.


" Kau pergi bersama Arnold, berpegangan tangan, berjalan berdampingan, kalian kelihatan mesra sekali. Bahkan masuk mobil saja sampai di bukakan pintu. Dan kau beralasan apa? Kau beralasan lembur Yeshi. Lalu sekarang apa? Kau beralasan ke rumah sakit? Untuk apa? Apa kau mau beralasan kalau Arnold sakit lalu kau mengantarnya ke sana? Atau kau mau alasan yang lainnya hah?" Teriak Tian meluapkan emosinya.


" Mas tenangkan dirimu!" Ucap Yeshi hendak menyentuh dada Tian.


" Jangan sentuh aku!" Ucap Tian dengan nada tinggi.


" Baiklah aku tidak akan menyentuhmu. Aku juga tidak akan menjelaskan apa apa karena saat ini kamu sedang emosi. Kau sedang di liputi rasa marah dan curiga, entah apa penyebabnya aku sendiri tidak tahu. Aku akan menjelaskannya setelah emosimu mereda." Ucap Yeshi berlalu ke kamar mandi.


" Yeshi aku belum selesai bicara. Yeshi.. " Teriak Tian.


" Argh... " Tian menarik sprei hingga bantal dan selimut berjatuhan di lantai membuat kamarnya berantakan.


Tian keluar kamarnya, ia turun ke bawah menuju kamar tamu. Ia tidur di sana untuk meredam emosinya. Ia tidak mau sampai berbuat kasar pada Yeshi.


Di dalam kamarnya, Yeshi baru saja keluar dari kamar mandi.


" Kemana mas Tian?" Gumam Yeshi mencari Tian.


" Mungkin dia di kamar tamu, ya sudahlah biarkan saja. Lebih baik aku istirahat, aku capek sekali hari ini. Aku akan berbicara padanya besok pagi." Ujar Yeshi.


Yeshi menata kembali ranjangnya, lalu ia naik ke atas ranjang. Entah karena kecapekan atau mengantuk tak terasa Yeshi terlelap begitu saja.


...****************...


Matahari masuk ke kamar Yeshi melalui celah celah korden. Ia membuka matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul setengah enam. Ia segera bangun dan melakukan kewajiban seorang muslim.


Setelah selesai ia turun ke bawah untuk membuat sarapan. Jam setengah tujuh sarapan sudah siap di meja makan.


" Aku bangunkan Mas Tian dulu." Ujar Yeshi menuju kamar tamu.


Tok tok...


" Mas kamu sudah bangun atau belum? Sarapan sudah siap Mas." Ucap Yeshi.


Tidak ada sahutan sama sekali.

__ADS_1


" Mas." Panggil Yeshi lagi.


" Kemana Mas Tian? Apa dia sedang mandi ya? Tapi kan baju gantinya ada di kamar." Monolog Yeshi.


Yeshi mencoba membuka pintunya, ternyata terbuka.


" Tidak di kunci." Gumam Yeshi masuk ke dalam. Ia mencari Tian di sana namun tidak ada. Yeshi mencoba mencari di kamar tamu yang lain tapi tetap tidak menemukan Tian dimanapun.


" Aku harus melihat rekaman CCTV, kemana Mas Tian pergi pagi pagi begini?" Ujar Yeshi berjalan ke kamarnya.


Yeshi membuka rekaman CCTV pada ponselnya, nampak jam lima pagi Tian keluar dari rumah setelah menerima telepon dari seseorang.


" Siapa yang menelepon Mas Tian ya? Kok dia buru buru pergi begitu. Sepertinya aku harus memasang audio pada cctv." Monolog Yeshi.


" Aku coba telepon aja deh." Ujar Yeshi menelepon Tian. Tidak ada jawaban.


" Angkat donk mas! Apa kau masih marah padaku? Kenapa kau cepat sekali marah sih!" Kesal Yeshi.


Drt drt..


Ponsel Yeshi berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap id pemanggil yang tak lain adalah Yoga.


" Ada apa Yoga pagi pagi begini telepon? Apa mas Tian membuat masalah kepada mbak Rebecca?" Jantung Yeshi terasa berdetak sangat kencang. Ia segera mengangkat teleponnya.


" Halo Ga, ada apa?" Tanya Yeshi to the point.


" Maksudmu mas Tian membawa mbak Rebecca pergi, begitu?" Tanya Yeshi memastikan.


" Ya, setelah bangun tidur aku tidak mendapati Rebecca. Setelah aku cek rekaman CCTV dia pergi bersama Tian, Tian menjemputnya ke sini. Sebenarnya apa mau suamimu itu? Dia menginginkanmu atau Rebecca?"


Berbagai pikiran buruk muncul di otak Yeshi. Ia tidak mampu berpikir kenapa Tian melakukan semua ini. Apa karena Tian marah padanya soal semalam? Atau memang karena Tian masih mencintai Rebecca?


" Yeshi." Panggil Yoga di sebrang sana.


" Aku tidak tahu kemana mereka pergi Ga." Ucap Yeshi.


" Atau mungkin mereka bersengkokol untuk menghancurkan hidup kita? Aku rasa ini bukan suatu kebetulan Yeshi, melainkan sesuatu yang di rencanakan." Ujar Yoga.


" Aku akan meminta bantuan Rodeo untuk melacak keberadaan mereka." Ucap Yeshi.


" Kabari aku jika kau sudah mendapatkan kabar." Ujar Yoga.


" Oke." Sahut Yeshi menutup panggilan teleponnya.


" Ada apa sebenarnya ini? Semalam mas Tian menurutku bersama pria lain. Sekarang dia sendiri yang bersama wanita lain. Aku benar benar tidak mengerti. Baru saja baikan sudah ada aja masalahnya." Monolog Yeshi.


Hingga siang hari, Yeshi mendapat kabar jika Tian dan Rebecca berada di kamar hotel xx. Ia dan Yoga segera ke sana. Sampai di hotel Yeshi menemui receptionist untuk meminta kunci cadangan. Dengan kekuasannya ia mendapatkan kunci itu.

__ADS_1


" Ayo Ga!" Ucap Yeshi menuju kamar xx.


Sampai di depan kamar itu, Yeshi membuka kuncinya. Ia menyiapkan mental sekuat mungkin untuk menghadapi hal terburuk yang akan terjadi.


Ceklek....


Yeshi dan Yoga masuk ke dalam dan...


Deg...


Jantung Yeshi terasa berhenti berdetak saat melihat Tian dan Rebecca tidur berpelukan di atas ranjang. Hatinya sakit, bahkan sangat sakit. Mereka nampak seperti sepasang suami istri yang sedang bermesraan.


Tak terasa air mata mengalir begitu saja. Yoga yang melihatnya merasa tak terima, ia mendekati keduanya.


" Apa yang kalian lakukan hah!!!" Teriak Yoga membuat keduanya membuka mata.


Yoga menarik Tian dengan kasar lalu...


Bugh... Bugh...


Tian memukul wajah dan perut Tian hingga Tian tersungkur ke lantai.


Uhuk... uhuk...


Tian terbatuk batuk merasakan sesak di dananya akibat tendangan Yoga. Ia menatap Yeshi yang sedang menangis membekap mulutnya.


" Sa.. Sayang." Lirih Tian.


Tidak tahan melihat itu, Yeshi berlari keluar meninggalkan Tian.


" Sayang tunggu!" Teriak Tian hendak mengejar Yeshi.


" Tian jangan tinggalkan aku!" Ucap TRebecca menghentikan langkah Tian.


Ia menatap Rebecca yang nampak ketakutan melihat Yoga ada di sana.


" Jika kau berani membela Rebecca, maka kau akan kehilangan Yeshi untuk selamanya. Aku akan menyerahkan Rebecca dengan rela kepadamu dan aku akan merebut Yeshi dari sisihmu." Ancam Yoga penuh penekanan.


" Maafkan aku Rebecca." Ucap Tian berlari keluar mengejar Yeshi.


Yeshi melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Ia butuh pelukan tuan Reno dan dukungan dari Rean.


" Hiks... Hiks... " Yeshi mengusap air matanya.


" Aku tidak menyangka kau bisa melakukan semua ini padaku Mas. Aku kecewa padamu." Ucap Yeshi.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2