
Pagi ini Yeshi mendatangi kantor Arnold. Ia berjalan menuju meja receptionist.
" Pagi Nona Yeshika, ada yang bisa kami bantu?" Tanya receptionist menatap Yeshi.
" Apa tuan Arnold ada di ruangannya? Saya ingin bertemu dengannya." Ujar Yeshi.
" Ada Nona, silahkan langsung ke ruangannya saja!" Ucap receptionist.
Yeshi berjalan menuju lift. Ia menaiki lift sampi ke lantai lima belas. Ia segera membuka ruangan Arnold.
Ceklek...
Yeshi masuk ke dalam menghampiri Arnold yang sedang sibuk dengan komputernya.
" Apa kau tidak punya sopan santun sehingga kau masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu dulu?"
" Ya aku tidak punya sopan santun."
Arnold mendongak menatap Yeshi.
" Oh Yeshi, sorry! Aku pikir tadi Juan." Ucap Arnold.
Yeshi melipat kedua tangannya di dadanya. Ia menatap Arnold dengan tajam.
" Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau sengaja membuat kerenggangan dalam hubungan kami? Apa kau pikir cinta kami selemah itu? Apa kau pikir kami akan berpisah hanya kerena rencana murahanmu itu?" Ujar Yeshi.
Arnold mendekati Yeshi, ia berdiri di hadapannya.
" Kenapa kau percaya diri sekali dengan cintamu Yeshi? Aku ingin lihat, apakah cintamu masih sama setelah melihat video ini atau tidak." Ujar Arnold memberikan sebuah flashdisk kepada Yeshi.
Yeshi menerima flashdisk itu lalu memutar mutarnya.
" Apa kau bisa menjamin jika video di dalamnya asli?" Tanya Yeshi menatap sinis kepada Arnold.
" Kalau kau ragu, kau bisa menyelidikinya. Bukankah kau punya Rodeo." Ujar Arnold.
" Baiklah aku akan melihatnya setelah tiba di rumah nanti, satu hal yang harus kamu tahu. Apapun yang coba kau lakukan, tidak akan menyurutkan cinta kami apa lagi menghilangkannya." Ucap Yeshi tegas.
" Baiklah kita akan sama sama melihatnya, jika kau butuh sandaran aku siap meminjamkan bahuku untukmu." Ucap Arnold tersenyum manis.
Yeshi keluar meninggalkan Arnold. Arnold tersenyum smirk menatap punggung Yeshi.
Yeshi kembali ke rumah, di sana Tian menunggunya di ruang tamu.
" Sayang kamu darimana saja? Kenapa tidak bilang pada Mas? Mas khawatir sayang." Ujar Tian menatap Yeshi.
" Aku dari kantor Arnold untuk memberikan pengertian padanya dan memintanya untuk tidak membuat ulah lagi. Tapi dia malah memberikan aku flashdisk ini." Ucap Yeshi menunjukkan flashdisknya.
" Flashdisk apa itu sayang?" Tanya Tian.
" Aku juga tidak tahu, ayo kita lihat Mas!"
Yeshi menuju kamarnya di ikuti Tian dari belakang. Sampai di kamar Yeshi menyalakan laptopnya lalu menancapkan flasdisk yang di berikan Arnold.
Video mulai berputar, nampak Tian merangkul Rebecca masuk ke dalam hotel. Yeshi menatap Tian sekilas lalu kembali fokus ke laptopnya.
Sampai Tian dan Rebecca masuk ke kamar hotel yang ia pesan. Keduanya duduk di tepi ranjang, nampak Rebecca menangis lalu Tian memeluknya.
Adegan berikutnya membuat mata Yeshi melongo. Hatinya tersayat perih saat melihat video dimana Tian mendorong tubuh Rebecca lalu menciumnya.
__ADS_1
" Sayang tidak seperti ini! Video ini palsu." Ucap Tian hendak menutup laptopnya tapi Yeshi menahannya.
" Aku ingin melihat kelanjutannya." Ucap Yeshi.
" Sayang kau akan terluka jika melihat semuanya. Ini video palsu sayang, Mas tidak melakukan hal itu. Percayalah pada Mas! Mas tidak...
" Diam!!!" Bentak Yeshi penuh emosi.
" Sa... Sayang kamu... " Tian menjeda ucapannya.
Yeshi kembali fokus ke laptopnya. Adegan adegan hot terpapang jelas di sana. Hati Yeshi memanas, ia merasa sakit hati melihat semuanya. Tapi ia ingin tahu endingnya.
Tian yang tidak tahan melihat semuanya beranjak hendak keluar kamar.
" Tetap di sini! Supaya kau tahu apa yang terjadi padamu dan mbak Rebecca." Ucap Yeshi menghentikan Tian.
" Sayang Mas yakin itu editan, Mas tidak merasa melakukan semua itu." Ujar Tian menatap Yeshi.
Ending dari video itu yaitu Tian memeluk Rebecca di atas ranjang. Sepertinya keduanya tertidur sampai jam dimana Yeshi dan Yoga masuk ke sana.
Yeshi menatap Tian dengan tatapan tajam.
" Ini video asli Mas."
Jeduarrr......
" A... Apa?" Tanya Tian tidak percaya.
" Ya.. Kau memang melakukannya dengan mbak Rebecca Mas." Ucap Yeshi.
Deg...
" Tidak sayang... Mas tidak melakukannya, kalau Mas memang melakukannya seharusnya Mas mengingatnya, Mas juga tidak merasakan apa apa saat bangun tidur sayang. Mas tidak melakukan apa apa sayang, percayalah!" Ucap Tian.
Yeshi tidak bergeming, ia justru meneteskan air matanya.
" Sayang jangan menangis!" Tian menarik Yeshi ke dalam pelukannya.
" Maafkan Mas! Mas tidak pernah memiliki niat untuk melukaimu sayang. Maafkan Mas!" Tian menciumi pucuk kepala Yeshi.
" Hiks.. Hiks... Sakit Mas. Hatiku sangat sakit menerima semua ini. Kalian sudah berpisah tapi kalian masih berhubungan. Kau masih memberikan perhatianmu padanya, kau masih peduli padanya bahkan kau masih mau menyentuhnya, hiks.... " Isak Yeshi.
" Tidak sayang... Ini pasti rencana Arnold untuk memisahkan kita. Bukankah kemarin kita telah berjanji untuk saling percaya." Ujar Tian mengelus kepala Yeshi.
Yeshi melepas pelukan Tian. Ia mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
" Kau berbicara seperti itu karena kau tahu ini akan terjadi. Kau sengaja membodohiku dengan mengucapkan kalimat itu. Aku tidak menyangka ternyata kau licik sekali Mas." Cebik Yeshi tersenyum kecut.
" Sayang kau tidak mepercayai Mas?" Tanya Tian menatap Yeshi tidak percaya.
" Tidak Mas, aku lebih percaya pada apa yang aku lihat. Maaf! Aku harus pergi." Ucap Yeshi beranjak.
" Sayang kau mau pergi kemana?" Tian mencekal tangan Yeshi.
" Aku mau pulang ke rumah om Reno untuk menenangkan diri! Kau boleh menyusulku tapi nanti jam tujuh malam. Aku akan memikirkan langkah apa yang akan aku ambil untuk masalah ini Mas. Aku harap kau bisa mengerti apa keinginanku." Ucap Yeshi.
" Baiklah sayang, Mas menghargai keinginanmu. Mas tidak akan mengganggumu, Mas harap apa pun keputusanmu nanti kau tidak akan meninggalkan Mas." Ucap Tian.
" Aku tidak bisa menjanjikan itu Mas." Sahut Yeshi meninggalkan Tian.
__ADS_1
Tian terduduk lesu di atas ranjang. Ia mencabut flashdisk itu lalu membuangnya.
" Kenapa kau lakukan ini padaku Tuhan.... Di saat aku hampir hidup bahagia bersama Yeshi selalu ada rintangannya. Apakah kami memang tidak di takdirkan untuk bersama? Aku mohon kepadamu, segera ungkap kebenaran ini sebelum Yeshi mengambil keputusan yang salah." Monolog Tian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam tujuh malam Tian mengendarai mobilnya menuju rumah tuan Reno untuk menjemput Yeshi. Sampai di sana ia segera turun dari mobilnya. Tian berjalan membuka pintu rumah tuan Reno.
" Kenapa gelap? Apa om Reno belum pulang dari rumah sakit? Itu berarti Yeshi ada di sana, atau Yeshi ada di kamarnya? Tapi dia memintaku untuk menjemputnya di sini." Ujat Tian.
Tian menelepon Yeshi.
" Halo Mas."
" Halo sayang, kamu dimana? Mas di rumah om Reno tapi sepi, ruang tamu gelap juga." Ujar Tian.
" Kau tidak perlu menjemputku Mas, karena aku tidak mau pulang bersamamu. Aku sudah mengambil keputusan untuk berpisah darimu. Maafkan aku!" Yeshi menutup teleponnya.
" Tidak Yeshi! Yeshi jangan lakukan ini!" Ucap Tian.
" Yeshi... " Teriak Tian.
Suaranya menggema di ruangan itu. Tubuh Tian luruh ke lantai, ia tak kuasa menahan kesedihan ini. Di dalam gelapnya ruangan, Tian nampak menangis meratapi nasibnya.
" Hiks... Hiks.. Mas tidak mau berpisah darimu sayang, Mas tidak mau." Ucap Tian.
" Aku juga tidak mau Mas."
Tian menoleh mencari asal suara itu.
" Yeshi kamu dimana?" Teriak Tian mengedarkan pandangannya mencari Yeshi. Karena gelap Tian bisa melihat apa apa.
" Yeshi." Panggil Tian.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Yeshi berjalan menghampiri Tian dengan membawa kue di tangannya. Cahaya lilin membuat wajahnya terlihat samar samar.
" Sayang kamu." Ucap Tian menatap Yeshi.
" Selamat ulang tahun Mas, semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga kau semakin mencintaiku." Ucap Yeshi.
" Apa ini sayang? Apa kau sengaja mengerjaiku?" Tanya Tian.
" Sedikit." Ucap Yeshi.
" Nakal kau ya, kau harus di beri hukuman." Ucap Tian. Tian merutuki kebodohannya karena telah di perdaya oleh Yeshi. Tapi masalah video itu, Tian akan menanyakannya nanti.
Tian memajukan wajahnya, tiba tiba ia menciun bibir Yeshi dengan lembut. Ia menekan tengkuk Yeshi memperdalam ciumannya. Tiba tiba...
Pyar...
Lampu menyala dengan terang di barengi dengan suara tepuk tangan tamu undangan yang berdiri di sana.
Tian mengedarkan pandangannya menatap orang orang itu. Wajahnya memerah menahan malu. Yeshi terkekeh melihat semua itu.
" Kau berhutang penjelasan pada Mas sayang, dan untuk rasa malu ini kau harus di beri hukuman." Ucap Tian.
__ADS_1
TBC....