
Sampai di rumah yeshi berlari menuju kamarnya. Ia menghampiri Tian yang sedang berdiri menghadap jendela dengan kedua tangannya berada di sakunya.
" Mas kamu kenapa?" Tanya Yeshi.
Tian menatap Yeshi dengan mata memerah.
" Apa kau puas mempermalukan aku di depan teman temanku seperti tadi?" Tanya Tian.
" Apa maksudmu Mas? Aku hanya berusaha membelamu tadi."
" Ya.. Karena pembelaanmulah yang membuat aku malu di depan mereka semua." Sahut Tian dengan nada tinggi.
" Aku malu karena aku merasa tidak berharga saat berada di sampingmu. Kedudukan kita berbeda Yeshi. Mereka menghormatiku karena ada kamu. Tidak, sebenarnya mereka tidak menghormatiku tapi mereka menghormatimu. Mereka akan semakin menganggapku menikahimu karena kau kaya Yeshi." Ucap Tian.
" Mas bukan begitu tujuanku, aku hanya ingin membungkam mulut orang orang yang telah merendahkanmu. Kenapa kau peduli pada pemikiran mereka? Harusnya kau biarkan saja mereka mau berpikir apa tentang kita. Aku akan melawan orang orang yang telah merendahkan suamiku, siapapun itu." Ujar Yeshi.
" Tapi semua ada batasannya Yeshi. Apa aku memintamu untuk membelamu di depan mereka? Apa aku memintamu untuk melakukan semua itu hah?" Bentak Tian terbawa emosi.
" Tidak Yeshi... Sebenarnya aku sendiri bisa mengatasi semuanya, tapi kau tidak membiarkan itu terjadi. Kau selalu menunjukkan kekuasaanmu kepada mereka. Kau membuatku kecil di mata mereka Yeshi. Mereka pasti akan berpikir kalau aku berlindung di balik istriku sendiri." Sambung Tian.
" Aku tahu kau orang hebat, kau bisa membungkam semua orang dengan kekuasaanmu. Kau bahkan bisa membeliku dari Rebecca dengan harta yang kau miliki. Bahkan sampai harga diriku pun sudah kamu beli."
" Cukup Mas!!" Bentak Yeshi tidak tahan dengan ucapan Tian yang menohok hatinya.
" Apa aku terlihat begitu buruk di matamu? Apa seperti ini penilaianmu terhadapku?" Yeshi menatap Tian dengan tatapan kecewa.
" Ya aku salah telah mendapatkanmu dengan cara seperti itu. Aku juga salah karena dengan tidak sengaja aku juga merendahkanmu. Aku membuatmu tidak berharga karena telah aku tukar dengan uang. Tapi kau tidak perlu mengingatkan aku setiap waktu Mas. Jika kau menyesalinya dan tidak menyukai dengan apa yang aku lakukan padamu, lalu kenapa saat aku ingin bercerai darimu kau tidak mau? Saat aku pergi kau justru menarikku ke dalam hidupmu dan menceraikan mbak Rebecca. Kenapa?" Teriak Yeshi membuat Tian tersadar dari kemarahannya.
Tian menatap Yeshi yang mengusap air matanya. Hatinya perih melihat semua itu.
" Sa.. Sayang maafkan Mas! Mas tidak sadar apa yang telah Mas ucapkan. Maafkan Mas!" Ucap Tian menyentuh kedua bahu Yeshi.
" Jika kau melakukannya hanya karena kau merasa berhutang budi padaku, sebaiknya hentikan sampai di sini Mas! Jika semua yang kau ucapkan kepadaku hanya kepalsuan, lebih baik kau pergi jauh dariku!"
Yeshi berlari keluar kamar, ia masuk ke kamar tamu lalu menguncinya dari dalam.
" Argh!!!" Teriak Tian menarik kasar rambutnya.
__ADS_1
" Bodoh kamu Tian... Kenapa malah kau berkata kasar pada Yeshi? Dia pasti akan salah paham padamu." Ujar Tian duduk di tepi ranjang mencoba meredam emosinya sendiri.
Tian mencoba ke kamar tamu, ia ingin meminta maaf dan membujuk Yeshi.
Ceklek ceklek...
" Hah di kunci." Ujar Tian kembali ke kamarnya.
Jam makan siang pun tiba, Tian memasak di dapur untuk makan siang mereka. Setelah selesai, ia menuju kamar tamu untuk memanggil Yeshi.
Tok tok...
" Sayang makan siang sudah siap." Ucap Tian dari luar.
Tidak ada sahutan. Tian mencoba memanggil Yeshi kembali namun sama saja, tidak ada sahutan dari dalam.
" Sayang buka pintunya donk!" Panggil Tian.
Ceklek...
Yeshi membuka pintunya, dengan malas ia menatap Tian.
" Aku sedang malas makan Mas, kamu makan sendiri saja." Sahut Yeshi kembali masuk ke dalam.
Tian mengikuti Yeshi dari belakang. Yeshi membanting tubuhnya di atas ranjang.
" Sayang Mas minta maaf, Mas mengaku salah telah bersikap kasar sama kamu. Mas tidak bermaksud menyakiti hati kamu. Kamu boleh marah sama Mas, tapi tolong jangan sakiti dirimu sendiri. Ayo kita makan siang!" Ujar Tian berdiri di samping ranjang.
" Aku sudah memesan makanan dari luar, sebentar lagi Rean akan mengantarnya ke sini. Silahkan Mas makan duluan, jangan lupa di tutup kembali pintunya." Ucap Yeshi.
Tian duduk di tepi ranjang, ia mengelus kepala Yeshi dengan lembut.
" Maafkan Mas sayang, Mas menyesal telah berbicara kasar padamu. Mas tidak berniat menyalahkanmu sayang. Mas terbawa emosi, Mas marah pada diri Mas sendiri. Mas merasa tidak berguna menjadi seorang pria sayang. Selain Mas hanya orang biasa, Mas juga merasa menjadi orang rendahan yang tidak pernah di hargai oleh orang lain. Kenapa mereka selalu memandang remeh orang lain tanpa mendengar alasannya? Itulah yang membuat Mas merasa kesal sayang. Tapi Mas malah melampiaskannya padamu." Ucap Tian.
" Mas sangat menyesal sayang, maafkan Mas." Ucap Tian meneteskan air mata.
Yeshi beranjak duduk bersila menghadap Tian. Ia menatap air mata yang menetes di pipi Tian.
__ADS_1
" Jangan menangis Mas! Air matamu sangat berharga bagiku." Ucap Yeshi mengusap air mata Tian. Ia menjadi tidak tega melihat Tian terlihat rapuh seperti itu.
" Maafkan Mas sayang! Mas menyesali perbuatan Mas!" Ucap Tian memeluk Yeshi.
Yeshi mengelus punggung Tian dengan lembut.
" Aku juga minta maaf padamu Mas! Aku telah berani meninggikan suaraku padamu." Ucap Yeshi.
" Mas memaafkanmu sayang." Sahut Tian.
Yeshi melepas pelukanya, ia mengusap air mata Tian hingga kering.
" Mas begitu bodoh sayang, Mas telah membuat hati bidadari Mas tersakiti. Maafkan Mas!" Ucap Tian mencium punggung tangan Yeshi.
" Aku memaafkanmu Mas, tapi ada satu permintaanku untukmu." Ucap Yeshi.
" Katakan sayang kamu mau apa!" Ujar Tian.
" Lain kali semarah apapun Mas, jangan pernah mengira kalau aku telah membelimu ataupun membeli harga dirimu. Kau lebih berharga dari semua itu Mas. Kau segalanya untukku, aku sangat mencintaimu. Aku menghormatimu melebihi apapun, aku menghargai hubungan ini lebih dari hubunganku dengan keluargaku sendiri. Aku tidak pernah memandangmu sebagai seseorang yang pantas di tukar dengan uang ataupun sejenisnya. Kau sangat sangat berarti bagiku, dan kau tidak akan tergantikan oleh apapun, termasuk nyawaku sendiri. Apa kau paham semua ucapanku?" Tanya Yeshi menatap Tian.
" Mas sangat paham sayang, Mas berjanji tidak akan mengatakan ataupun mengungkit hal itu. Mas juga sangat mencintaimu. Sekali lagi Maafkan Mas." Ucap Tian mencium kening Yeshi.
" Aku memaafkanmu Mas, sekarang ayo kita makan! Aku tidak mau kau sampai sakit karena terlambat makan." Ucap Yeshi menggandeng tangan Tian.
Keduanya menuju meja makan. Saat melewat ruang tamu, Yeshi menatap Rean duduk di sofa sambil tersenyum ke arahnya.
" Rean, sejak kapan kamu di sini?" Tanya Yeshi menghampiri Rean.
" Sejak tadi, aku bahkan melihat drama live yang terjadi di kamar tamu." Sahut Rean.
" Apaan sih lo!" Ucap Yeshi.
" Ya sudah gue mau pulang dulu! Nih pesanan lo, makan yang banyak karena menghadapi suami plin plan butuh banyak tenaga." Ucap Rean berlalu dari sana.
" Awas lo Yan!!" Teriak Yeshi.
" Sayang jangan berteriak! Ayo kita makan! Ternyata menangis membuat Mas lapar." Ucap Tian membuat Yeshi terkekeh.
__ADS_1
TBC.