DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
ENTAH DIMANA


__ADS_3

Yoga menatap Yeshi dengan tatapan menyelidik.


" Yeshi, katakan dimana Rebecca berada!" Titah Yoga.


" Aku tidak tahu." Sahut Yeshi.


" Demi anak dalam kandunganmu?" Yeshi terkejut mendengar ucapan Yoga.


" Tidak." Sahut Yeshi.


" Sekarang katakan dimana Rebecca! Atau aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai kau berusaha membohongiku." Ucap Yoga penuh penekanan.


" Aku tidak tahu Yoga, mbak Rebecca bilang dia cuma mau pulang ke rumah tantenya. Tapi dia tidak memberikan alamatnya padaku. Tante yang mana aku juga tidak tahu." Ujar Yeshi.


" Minta Rodeo untuk melacaknya!" Titah Yoga seperti majikan saja.


" Aku udah meminta Rodeo melacaknya tapi Rodeo tidak berhasil, karena sepertinya mbak Rebecca meninggalkan ponselnya di rumah sakit. Atau malah membuang kartunya." Ujar Yeshi membuat Yoga frustasi.


" Kemana perginya Rebecca dalam keadaan seperti ini?" Gumam Yoga.


" Tian, apa kau tahu dimana saja keluarga Rebecca tinggal?" Tanya Yoga menatap Tian.


" Aku juga tidak tahu, selama ini tidak pernah ada keluarga yang mendatangi kami." Sahut Tian.


" Rebecca benar benar menghukumku dengan kepergiannya, kalau tahu kejadiannya akan seperti ini, aku tidak akan meninggalkan dia tadi." Ujar Yoga.


" Bersabarlah! Gunakan hati dan cintamu untuk menemukannya." Ucap Tian menepuk pundak Yoga.


" Entahlah.. Aku tidak tahu sampai kapan hati dan cintaku akan menjadi petunjuk. Kalau begitu aku permisi." Ucap Yoga beranjak dari tempatnya.


Yeshi menatap kepergian Yoga dengan tatapan iba.


"Kasihan kamu Ga, maaf aku tidak bisa membantu. Lebih baik kau renungkan kesalahanmu dulu, dan pastikan jika memang mbak Rebecca ada di hatimu." Batin Yeshi.


Yeshi menayap Tian dengan tajam.


" Sayang Mas...


" Mas apa? Kamu membuatku berbohong pada Yoga karena kau menyudutkan aku. Aku akan memberikanmu hukuman untuk hal ini Mas." Ucap Yeshi.


" Jangan donk sayang! Mas mohon maafkan Mas!" Ucap Tian.

__ADS_1


" Nggak mau." Sahut Yeshi cemberut.


" Jangan gitu donk sayang! Sekarang mending kita makan rujak sama semangkanya. Mas akan menyuapi kamu." Ujar Tian.


Tian menyuapi Yeshi rujak dengan penuh kasih sayang. Ia tidak mau anak dalam. kandungan Yeshi kekurangan kasih sayang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan kemudian...


Yoga sedang memakai bajunya, ia bersiap menuju kantornya. Sudah satu bulan ini ia banyak absen karena di sibukkan dengan pencarian Rebecca. Sejak kepergian Rebecca, Yoga tinggal di apartemennya, apartemen yang selama ini di tinggali Rebecca.


Bayangan bayangan ia menyiksa dan mengeluarkan kata kata kasar kepada Rebecca berputar di kepalanya membuat perasaan bersalah semakin menggerogoti hatinya. Ia menatap dirinya di depan cermin.


" Sudah satu bulan kau meninggalkan aku. Dimana kamu sayang? Kembalilah kepadaku, maka aku akan menyayangimu sepenuh hatiku. Aku akan membawamu pulang ke rumahku untuk bertemu dengan ibu dan adikku. Kita akan hidup bahagia di sana." Monolog Yoga.


Drt... drt...


Ponsel Yoga berdering tanda panggilan masuk, Ia mengerutkan keningnya saat melihat id pemanggil dari seseorang yang tidak ia kenal.


" Halo, siapa ini?" Tanya Yoga mengangkat panggilannya.


" Chek up? Chek up apa dok?" Tanya Yoga penasaran.


" Chek up kandungan Pak, kita akan melihat kondisi janinnya, apakah berkembang atau tidak."


" Bukankah istri saya mengalami keguguran waktu itu Dok?" Tanya Yoga semakin tidak mengerti.


" Tidak Pak, janin anda selamat mesti kondisinya lemah. Saya juga sudah memberikan obat penguat janin dan kandungan."


Jeduarrr....


Bagai di sambar petir di siang bolong, Yiga benar benar terkejut. Jadi selama ini Rebecca membohonginya? Dia membawa pergi anak dalam kandungannya? Pikir Yoga.


" Saat saya sampai di rumah sakit waktu itu, suster menjelaskan kepada saya kalau istri saya keguguran. Ada apa sebenarnya ini?" Tanya Yoga.


" Suster? Suster yang mana yang anda maksud Pak? Saya akan memberikannya teguran atau mungkin bapak mengehendaki hukuman untuknya, saya akan melakukannya karena telah memberikan informasi palsu kepada anda." Ujar dokter Reva.


" Baiklah saya akan ke sana, segera kumpulkan suster yang waktu itu menangani istri saya." Ujar Yoga.


" Baik Pak, kami tunggu."

__ADS_1


Setelah telepon di matikan, Yoga segera mengambil kunci mobilnya. Ia berjalan menuju mobilnya. Yoga melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Ia merasa emosi karena telah di bohongi oleh Rebecca dan suster itu.


Sampai di sana Yoga di sambut oleh dokter Reva dan beberapa suster yang berbaris di belakangnya.


" Tuan Yoga, ini empat suster yang berjaga saat nyonya Rebecca mendapat perawatan di sini." Ucap dokter Reva.


Yoga memperhatikan mereka satu per satu. Ia mengerutkan keningnya karena suster yang ia lihat waktu itu tidak ada di sana.


" Apa anda yakin hanya mereka yang bertugas saat itu?" Tanya Yoga menatap dokter Reva.


" Iya Tuan, selain mereka tidak ada lagi." Sahut dokter Reva.


" Tapi bukan mereka yang memberitahu saya dokter, saya ingat dengan jelas wajah suster itu."


Keempat suster itu bernafas lega. Setidaknya mereka tidak bersalah dan tidak akan mendapat hukuman.


" Kalau begitu semua yang terjadi saat itu di luar tanggung jawab kami Tuan. Karena dia bukan berasal dari pihak kami. Atau mungkin dia teman istri anda yang mengaku sebagai suster untuk mengelabuhi anda? Bukankah saat suster memberitahu anda, nyonya Rebecca juga ada di sana? Harusnya nyonya Rebecca menyangkal informasi yang di berikan suster itu kan? Lalu kenapa istri anda diam saja? Apa mungkin mereka bekerja sama?" Tebak dokter Reva.


" Maaf Tuan saya tidak bermaksud apa apa, saya hanya menggunakan naluri saya saja." Ucap dokter Reva.


Yoga nampak berpikir, semua yang di katakan dokter Reva ada benarnya. Menyadari ia telah di bodohi oleh istrinya, Yoga mengepalkan erat tangannya. Tanpa berkata apa apa lagi, ia meninggalkan rumah sakit itu dengan hati yang kecewa. Ternyata Rebecca telah merencanakan semuanya.


Yoga melajukan mobilnya tanpa tujuan. Hatinya benar benar terluka mendapati kenyataan ini.


" Bodohnya aku yang dulu menyia-nyiakan Rebecca. Sekarang saat aku menyadari jika aku mencintainya justru aku kehilangannya. Maafkan aku Rebecca, aku menyesal telah mengabaikanmu selama ini. Cintaku tertutup oleh rasa benci yang ada dalam hatiku. Aku akan mencarimu kemanapun kau pergi, aku yakin pasti aku akan menemukanmu. Aku pasti akan menemukanmu Rebecca, entah kapan waktu itu akan datang aku akan selalu menantinya." Ujar Yoga terus melajukan mobilnya.


Di sebuah desa di daerah pegunungan yang terletak di provinsi Jawa Tengah, saat ini Rebecca sedang membantu bibinya bekerja memetik sayuran. Ada terong, kentang, wortel dan Lobak. Suasana pegunungan yang begitu dingin membuat hati Rebecca nyaman tinggal di sini.


" Ecca kau istirahatlah! Budhe nggak mau sampai kamu kelelahan. Kasihan bayi yang ada dalam kandunganmu, kau belum pulih benar." Ucap bu Lami. Kakak sepupu dari mendiang ayah Rebecca.


" Iya Budhe, aku istirahat dulu ya." Sahut Rebecca berjalan menuju pendopo yang biasa di gunakan pekerjaan untuk berteduh.


Rebecca menatap hamparan kebun sayuran yang terbentang luas di sana. Sudah satu minggu ini dia membantu bibinya bekerja di ladang. Walaupun penghasilannya tidak seberapa tapi cukup untuk kebutuhan sehari hari.


Rebecca mengelus perutnya yang mulai membuncit.


" Maafkan Mama sayang, karena Mama kamu harus jauh dengan papa kamu. Aku harap kamu mengerti jika yang Mama lakukan sekarang demi kebaikan kita berdua. Walaupun papamu bilang kalau dia mencintai kita tapi Mama belum percaya sepenuhnya." Ujar Rebecca.


" Aku harap kau benar benar menyayangi kami Ga, setelah aku siap nanti, aku pasti akan kembali menemuimu. Itu pun jika kau masih sendiri. Walaupun aku bersumpah akan membencimu namun hatiku tidak bisa melakukannya, ternyata cintaku kepadamu lebih besar dari rasa benci ini." Gumam Rebecca.


TBC......

__ADS_1


__ADS_2