DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
KEHIDUPAN YESHI, YOLAN & REBECCA


__ADS_3

Huek... Huek..


Pagi ini Yeshi kembali merasakan mual setelah sarapan pagi. Ia memuntahkan semua isi perutnya di wastafel kamar mandi.


" Sayang." Ucap Tian mendekat.


" Mas perutku mual sekali, kepalaku rasanya juga sangat pusing." Ujar Yeshi sambil membasuh mulutnya.


" Apa Mas perlu membuatkan sesuatu untukmu? Kamu mau apa?" Tawar Tian.


" Tidak usah Mas, aku tidak mau apa apa. Aku mau tiduran saja." Sahut Yeshi.


" Baiklah Mas bantu." Tian menuntun Yeshi ke ranjang.


Yeshi duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Mas pijat ya kepalanya." Ujar Tian di balas anggukkan kepala oleh Yeshi.


Tian memijat pelan kepala Yeshi. Yeshi nampak menikmati pijatan lembut Tian. Rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang.


" Mau makan sesuatu?" Tanya Tian.


" Aku ingin makan bakso yang pedas nanti siang Mas, sama semangka merah yang non biji ya Mas." Sahut Yeshi.


" Baiklah nanti akan Mas belikan." Sahut Tian terus memijat kepala Yeshi.


" Apa sudah mendingan?" Tanya Tian.


" Sedikit, ternyata pijatanmu enak juga Mas." Ujar Yeshi.


" Benarkah? Kalau begitu mulai besok Mas akan membuka panti pijat." Ucap Tian.


" Boleh juga." Sahut Yeshi tersenyum.


" Tapi khusus perempuan."


" What???" Pekik Yeshi membalikkan badannya. Ia menatap tajam ke arah Tian.


" Enggak sayang, Mas hanya bercanda kok." Ujar Tian tersenyum.


" Kalau beneran aku akan membuang Mas ke laut Selatan sana." Ancam Yeshi.


" Emang bisa?" Goda Tian.


" Ya Bisalah, mau buktikan sekarang?" Tanya Yeshi menatap tajam ke arah Tian.


" He he tidak sayang, Mas tidak mau coba coba. Mas tidak berani, maafkan Mas." Ucap Tian.


" Cari aman saja lah." Batin Tian.


" Awas aja kalau Mas berani punya niatan mau lirik lirik wanita lain, aku akan meninggalkanmu tanpa ragu." Ancam Yeshi.


" Iya sayang iya. Mas tidak tidak berani lagi." Sahut Tian.

__ADS_1


Yeshi mengerucutkan bibirnya. Tian memajukan wajahnya menciumi pipi Yeshi membuat Yeshi tersenyum senang.


" Ternyata sesederhana ini membuatku tersenyum sayang." Batin Tian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Mas aku sudah siapkan baju Mas di atas ranjang ya." Teriak Yolan di depan pintu kamar mandi.


" Iya sayang, terima kasih." Sahut Yoseph dari dalam.


Yolan duduk di depan meja rias, ia mengaplikasikan cream di pipinya dan sedikit lip balm di bibirnya yang berwarna pink.


Ceklek...


Yoseph keluar dari kamar mandi, ia menatap Yolan yang sedang bercermin.


" Adek mau kemana?" Tanya Yoseph menghampiri Yolan.


Yolan menoleh ke arahnya.


Glek...


Yolan menelan kasar salivanya saat melihat perut sispack Yoseph yang terekspos karena saat ini Yoseph hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Rambut basah dan air yang mengalir ke tubuhnya membuatnya nampak begitu *3**!.


" Sayang kamu encesan." Ucap Yoseph.


Tanpa sadar Yolan mengusap mulutnya.


" Ha ha ha ha Adek lucu sayang, mau aja Mas kibulin." Ucap Yoseph tertawa lepas membuatnya nampak semakin tampan.


Fiuh...


Yoseph meniup wajah Yolan membuat Yolan tersadar dari lamunannya.


" Lagi mikirin apa sih Dek?" Tanya Yoseph membungkukkan badannya menatap Yolan membuat wajah mereka sangat dekat.


" Ah tidak Mas, aku tidak mikirin apa apa kok. Mas pakai baju lah nanti masuk angin." Ujar Yolan.


" Mas tidak khawatir kalau Mas sakit, ada Adek yang siap merawat Mas kan." Sahut Yoseph.


" Aku siap merawat Mas kalau Mas sakit, tapi aku tidak mau kalau sampai Mas sakit. Aku inginnya Mas selalu sehat supaya Mas bisa selalu menjagaku." Ujar Yolan.


" Hmm mulai keluar nih rayuannya." Ucap Yoseph.


" Ih siapa yang merayu Mas? Aku bicara sesuai kata hatiku Mas. Mas bilang suruh jujur." Ujar Yolan.


" Iya deh iya Mas salah, maafin Mas ya sayang." Ucap Yoseph mencium kening Yolan membuat tubuh Yolan terpaku.


" Ya sudah Mas mau ganti dulu, Mas juga tidak mau sakit karena Mas ingin menghabiskan waktu berdua bersama Adek." Ujar Yoseph membawa baju gantinya ke ruang ganti.


Tak lama Yoseph keluar dari sana dengan pakaian rapi.


" Ayo kita sarapan!" Ajak Yoseph mendekati Yolan.

__ADS_1


" Iya Mas." Sahut Yolan.


Yoseph menggandeng tangan Yolan menuju meja makan.


" Aku ambilkan Mas." Ucap Yolan mengisi piring Yoseph dengan makanan.


Yoseph tersenyum bahagia melihat usaha Yolan yang berusaha memberikan yang terbaik padanya.


" Ini Mas." Yolan meletakkan piring itu di depan Yoseph.


Mereka makan dengan khidmat.


" Sayang." Ucap Yoseph.


" Iya Mas." Sahut Yolan menatap Yoseph.


" Apa Adek masih mau merahasiakan pernikahan kita ini dari teman teman kampus Adek?" Tanya Yoseph hati-hati takut menyinggung perasaan Yolan.


Yolan nampak sedang berpikir.


" Kedua temanku sudah tahu soal pernikahan kita, tinggal temanku yang lain. Aku tidak akan mengumumkan pernikahan kita pada mereka tapi aku juga tidak akan melarang Mas mengantarku sampai ke dalam gerbang. Dengan begitu mereka akan tahu dengan sendirinya kalau kita memiliki hubungan. Kalau mereka bertanya pasti aku jawab kalau tidak ya sudah." Sahut Yolan menyuapkan makanan ke mulutnya.


" Baiklah tidak apa apa, setidaknya Mas tidak menurunkan Adek di perempatan lagi." Ucap Yoseph.


" Maaf untuk hal itu." Ucap Yolan.


" No problem sayang, sekarang lanjutkan makannya sebelum kita terlambat." Ucap Yoseph. Mereka melanjutkan makannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman Yoga, saat ini keluarga Yoga juga sedang sarapan.


" Rebecca apa kamu makan acara ini?" Tawar nyonya Hana kepada menantunya.


" Tidak Ma terima kasih, ini saja sudah cukup." Sahut Rebecca.


" Kalau Kakak mau makan sesuatu, katakan padaku! Aku akan membelikannya." Ucap Putri.


" Iya." Sahut Rebecca.


Hubungan mereka memang mulai membaik, tapi Rebecca masih merasa sungkan kepada mertua dan adik iparnya. Terkadang ia merasa seperti ada dinding yang ia bangun sendiri di antara mereka.


" Sayang bagaimana kalau minggu ini kita jalan jalan, ke pantai misalnya." Ucap Yoga menatap Rebecca.


" Aku sedang tidak ingin kemana mana. Kehamilanku semakin membesar membuatku tidak nyaman berasa pada posisi apapun. Jadi aku malas kemana mana." Ujar Rebecca.


" Iya aku tahu itu. Tapi aku merasa kau pasti suntuk di rumah terus, itu sebabnya aku mengajakmu jalan jalan." Ucap Yoga menyuapkan makanan ke mulutnya.


" Aku lebih suka ke rumah Yeshi, kami bisa saling sharing seputar kehamilan. Kalau kamu mau mengantarku ke sana, aku akan merasa senang." Ucap Rebecca.


" Kenapa tidak? Aku akan mengantarmu ke sana. Kau bisa mengobrol dengan Yeshi nanti. Aku akan mengabari Yeshi, semoga Yeshi tidak kemana mana." Ujar Yoga.


" Iya." Sahut Rebecca.

__ADS_1


Mereka melanjutkan makannya. Yoga merasa tenang karena Rebecca sudah mau menerimanya dan keluarganya. Sepertinya kebencian yang ada dalam hatinya mulai runtuh. Ia berharap mereka hidup bahagia selamanya.


TBC....


__ADS_2