DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
DERITA ORANG KETIGA


__ADS_3

" Bagaimana Yeshi? Kau mau mengorbankan yang mana? Tian atau pamanmu yang sangat menyayangimu itu?" Tanya Rean menyudutkan Yeshi.


" Aku... Aku..." Yeshi nampak bingung mau menjawab apa. Ia merasa dilema dengan pilihan yang berikan oleh Rean.


" Aku akan menelepin perawat sekarang juga jika kau tidak memberikan jawaban." Ancam Rean.


Yeshi menghela nafasnya pelan. Siapa yang ia pilih? Tian atau tuan Reno? Keduanya pria yang sama sama ia sayangi. Lalu bagaimana ia bisa memilih salah satunya?


" Aku hitung sampai tiga, kalau tidak kau tahu akibatnya." Ucap Rean.


" Kenapa kau tega melakukan ini padaku Rean, aku tidak lernahenyangka jika kau bisa melakukan hal serendah ini." Ucap Yeshi.


" Semua adil dalam cinta dan perang sayang, jadi siapa yang akan kau korbankan di sini? Papa Reno atau Tian?" Tanya Rean sekali lagi.


" Dia tidak akan mengorbankan siapapun."


Keduanya menoleh ke asal suara. Yeshi tersenyum saat melihat Yoseph dan Tian berdiri di sana.


Rean terkejut saat melihat Yoseph. Ia tahu siapa Yoseph itu, tapi ia tidak tahu jika Tian mengenalnya.


" Tuan Yo.. Yoseph." Gugup Rean.


" Ya ini aku." Sahut Yoseph.


" Bagaimana anda bisa mengenal Tian?" Tanya Rean penasaran.


" Bagaimana aku tidak mengenalnya jika aku, Tian dan Yeshi adalah teman semasa kecil." Sahut Yoseph membuat Rean terkejut.


Rean menatap Yeshi dan Tian bergantian.


" Benarkah?" Tanya Rean tidak percaya.


" Mas tolong aku! Lepaskan ikatanku!" Ucap Yeshi.


Tian menoleh ke arah Yeshi yang saat ini dalam keadaan terikat tiba tiba emosinya memuncak ke ubun ubun. Ia tidak Terima istri tercintanya di perlakukan seperti itu. Bukannya menolong Yeshi, Tian malah berjalan mendekati Rean lalu menarik kerah leher Rean dengan kasar.


" Beraninya kau berbuat seperti ini pada istriku! Aku akan membuat perhitungan kepadamu." Bentak Tian.


Bugh.. Bugh... Bugh...

__ADS_1


Tian memukul wajah Rean berkali kali lalu mendorong Rean ke hingga tersungkur ke lantai. Rean berdiri lalu membalas pukulan Tian sekuat tenaga. Perkelahian tidak bisa di hindarkan, keduanya saling serang dan saling pukul.


Yoseph membuka ikatan Yeshi tanpa mau terlibat dengan perkelahian mereka kecuali jika tenaganya di butuhkan nanti.


" Terima kasih Kak." Ucap Yeshi setelah tali ikatannya terbuka.


" Sama sama." Sahut Yoseph.


Yeshi mengurut tangannya sendiri karena terasa sakit. Ia melihat Tian yang masih memukuli Rean.


Bugh.. Bugh...


Tian memukul Rean lagi, Yeshi segera menghentikannya.


" Sudah Mas jangan di teruskan!" Ucap Yeshi membuat Tian berhenti.


" Mas harus memberikan dia pelajaran supaya dia tidak mengulangi hal ini lagi Yeshi." Ujar Tian.


Tian hendak memukul Rena lagi namun Yeshi mencekal tangannya.


" Jangan sakiti dia lagi! Bagaimanapun dia tetaplah saudaraku Mas. Pukulanmu tidak akan membuat dia sadar. Biarkan hukum yang mengadilinya." Ucap Yeshi. Tian menghela nafasnya dalam dalam lalu menganggukkan kelapa.


" Bagaimanapun perilakumu sekarang padaku, aku masih menganggapmu sebagai saudaraku. Aku tidak tega melihatmu tersakiti seperti ini. Kita tumbuh besar bersama dalam lingkup kasih sayang yang sama. Aku memaafkanmu tapi biarlah hukum tetap berlaku. Setelah ini jangan temui aku maupun om Reno lagi! Aku yakin om Reno pasti sangat kecewa dengan tindakanmu kali ini." Ucap Yeshi. Ia beranjak hendak meninggalkan Rean namun ucapannya membuat Yeshi menghentikan langkahnya.


" Memangnya siapa dia? Dia tidak berhak menilai sikapku karena dia hanya ayah tiriku."


Jeduarrr....


Tubuh Yeshi memarung mendengar kenyataan ini. Ia membalikkan badan lalau menatap Rean dengan tatapan menyelidik.


" Ayah tiri?" Yeshi mengerutkan keningnya.


" Ya... Dia hanya ayah tiriku bukan ayah kandungku. Aku menyesal karena telah menuruti ucapannya. Jika dia tidak melarangku untuk mengatakan cintaku padamu dulu, pasti saat ini kita sudah hidup bahagia menjadi suami istri. Aku mencintaimu sejak aku kecil. Aku terus menahan perasaan ini hingga puluhan tahun, sampai saat aku kembali ke sini aku ingin mengungkapkan isi hatiku padamu. Tapi ternyata kau telah memilih lelaki tidak berguna ini." Ucap Rean melirik Tian.


Yeshi tidak bergeming, ia sangat syok mendapati kenyataan ini.


" Apa kau tahu Yeshi? Bagaimana rasanya memendam perasaan kepada orang yang kita cintai? Bagaimana rasanya mengendalikan diri untuk tidak bertemu ataupun menyentuhnya? Bagaimana rasanya saat aku menekan rasa rindu yang terasa begitu menyiksa? Bagaimana rasanya saat aku melihat orang yang aku cintai bersama orang lain?"


" Rasanya sakit... Sangat sakit sekali. Pikiranku tidak bisa memikirkan hal lain selain dia, dia, dia dan dia. Ingin rasanya aku berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat tanpa mau melepaskannya. Ingin rasanya aku menangis mengungkapkan perasaanku padanya. Ingin rasanya aku mengajaknya berlari meninggalkan kenyataan jika kami tidak bisa bersama. Ingin rasanya aku menulis takdir untuk diriku sendiri. Itulah yang aku rasakan selama ini, semoga kau mengerti." Ucap Rean panjang lebar. Tanpa terasa air mata terus menetea di pipinya membuat semua orang melow.

__ADS_1


" Aku minta maaf padamu, aku tidak menyadari jika selama ini sikapku melukai perasaanmu. Aku tidak pernah tahu tentang perasaanmu. Aku berpikir semua perhatian, cinta dan kasih sayang kau berikan padaku hanyalah sebatas kakak beradik saja. Aku memang mencintaimu, aku menyayangimu dan aku menghormatimu tapi hanya sebatas sebagai saudara saja. Aku mohon pengertianmu Rean."


" Setelah apa yang kau lakukan padaku dan Mas Tian, kau harus menebus kesalahanmu." Ucap Yeshi.


" Aku tidak melakukan kesalahan apa apa, lalu kenapa aku harus di hukum?" Tanya Rean menatap Yeshi.


" Kau telah mengkambing hitamkan suamiku dan kau telah mencemarkan nama baiknya, sebagai istri aku tidak terima itu. Semua yang kau lakukan pada suami dan perusahaanku, kau harus menanggung akibatnya." Ucap Yeshi.


" Kau tidak bisa menuduhku begitu saja Yeshi, tanpa bukti yang kuat kau tidak bisa mengirimku ke penjara untuk mempertanggung jawabkan semuanya." Ucap Rean sambil meringis kesakitan.


" Aku rasa dengan melihat kehadiran Kak Yoseph di sini kau sudah paham Rean, kak Yoseph telah memberikan semua bukti bukti kejahatanmu pada polisi itu sebabnya mas Tian bisa bebas. Tunggu sebentar lagi polisi pasti akan datang menangkapmu." Ucap Yeshi menatap Rean dengan sinis.


" Yeshi kau... " Rean menggantung ucapannya.


" Maaf Rean."


" Ayo Mas, Kak, kita pulang!" Ajak Yeshi menggandeng tangan Tian.


" Ayo sayang!" Sahut Tian.


" Yeshi tunggu! Yeshi... " Teriak Rean.


Mereka bertiga keluar dari kamar menuju pintu keluar. Saat hendak naik ke dalam mobil tiba tiba Yeshi merasa pusing.


" Shhh." Desis Yeshi memegangi kepalanya.


" Kau kenapa sayang?" Tanya Tian menopang tubuh Yeshi yang terhuyung ke belakang.


" Kepalaku pusing Mas, pandanganku terasa berputar. Dan aku...


Tiba tiba...


Brugh...


" Yeshi." Pekik Tian saat Yeshi tidak sadarkan diri.


" Yeshi bangunlah! Kau kenapa sayang?" Tian menepuk pelan pipi Yeshi.


Kenapa hayo...

__ADS_1


TBC...


__ADS_2