DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
HARUS BISA BERSABAR


__ADS_3

Sampai di rumah, Yoga menggenggam tangan Rebecca masuk ke dalam rumahnya. Mereka di sambut oleh nyonya Hana dan Putri, adik kandung Yoga.


" Selamat datang Rebecca." Ucap nyonya Hana.


" Selamat datang di keluarga kami kakak ipar." Ucap Putri.


Rebecca menyalami nyonya Hana dengan takzim. Ia juga memeluk Putri sebagai salam perkenalan, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun membuat nyonya Hana dan Putri merasa heran.


" Ma, Rebecca mungkin capek. Ijinkan kami untuk langsung ke kamar." Ucap Yoga.


" Baiklah, hari juga sudah terlalu malam. Selamat malam, semoga mimpi indah." Ucap nyonya Hana.


Yoga menggandeng tangan Rebecca menuju kamarnya. Mereka masuk ke dalam, Rebecca mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kamar berukuran empat kali empat dengan cat berwarna putih dan tatanan yang rapi membuatnya merasa tenang berada di sana.


" Bersihkan badanmu dulu baru kamu tidur." Ucap Yoga.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Rebecca masuk ke dalam. Yoga menghela nafasnya pelan. Ia turun ke bawah dengan membawa baju ganti, ia akan mandi di kamar tamu. Saat sampai di tangga bawah, Yoga berpapasan dengan mamanya.


" Yoga, kenapa Mama lihat Rebecca seperti tidak suka tinggal di sini? Atau memang peringainya begitu?" Tanya nyonya Hana.


" Saat ini dia sedang dalam kemarahan Ma, aku harap apapun dan bagaimanapun sikapnya, Mama dan Putri bisa menerima dan memakluminya. Karena semua ini terjadi karena sikapku padanya dulu, kami hampir kehilangan calon anak kami karena aku Ma. Sekarang saatnya aku menebus semua dosa dosaku." Ujar Yoga.


" Baiklah Mama mengerti, semoga Rebecca bisa segera kembali mencintaimu." Ucap nyonya Hana melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Selesai mandi di kamar tamu, Yoga kembali ke kamarnya. Ia naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping Rebecca. Rebecca mengubah posisinya menjadi memunggungi Yoga.


" Aku harap kau nyaman tidur bersamaku, aku ingin dekat dengan calon anak kita jadi aku tidak bisa tidur di ranjang lain." Ucap Yoga.


Rebecca tidak bergeming, ia terlalu malas untuk menyahut ucapan Yoga. Yoga memeluk Rebecca dari belakang, ia mengelus perut Rebecca dengan lembut.


" Anak papa sayang, maafkan sikap papa selama ini! Papa tidak bermaksud untuk menyakitimu hanya saja papa terlambat menyadari perasaan papa pada mamamu. Sehat sehat di dalam sini, papa sudah tidak sabar ingin menggendong mulai setelah kau lahir nanti. Sekarang istirahatlah! Papa menyayangimu." Ucap Yoga.


Tiba tiba...


Dug...


" Eh dia menendang." Pekik Yoga senang. Walaupun tendangannya belum sekuat saat berusia tujuh bukan, tapi tendangan itu sudah terasa.

__ADS_1


" Sayang dia meresponku. Aku senang sekali sayang." Ucap Yoga membuat Rebecca tersenyum.


Tidak bisa Rebecca pungkiri jika ia bahagia dengan sikap Yoga saat ini. Tapi ia harus berjaga jaga karena khawatir sikap yang Yoga tunjukkan padanya adalah palsu.


" Sayangnya papa mau makan apa nih? Akan papa belikan saat ini juga." Ucap Yoga tanpa berpikir panjang, padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Muncul ide jahil di kepala Rebecca untuk membalas dendanmnya. Rebecca membalikkan tubuhnya menghadap Yoga.


" Apa ada sesuatu yang ingin kau makan sekarang?" Tanya Yoga menatap Rebecca.


" Aku ingin makan nasi goreng, sama telur ceplok. Di tambah mie goreng dan sosis goreng di atasnya. Tapi aku ingin kamu yang memasaknya sendiri." Ucap Rebecca.


" Kalau aku membuat sendiri, akan membutuhkan waktu lama Rebecca, yang ada nanti kamu sudah tidur duluan." Ujar Yoga.


" Aku tidak bisa tidur kalau lapar." Sahut Rebecca.


" Baiklah akan aku buatkan, tunggulah sambil memainkan ponsel biar kamu tidak mengantuk." Ucap Yoga.


" Hmm." Gumam Rebecca.


Yoga mencium kening Rebecca, setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju dapur. Rebecca menyentuh keningnya sambil tersenyum.


" Terima kasih Tuhan, kau telah mengubah suamiku menjadi lebih baik dari sebelumnya." Batin Rebecca.


Setelah berkutat lebih dari setengah jam, akhirnya Yoga berhasil memasak seperti yang Rebecca mau. Ia membawa sepiring nasi gorengnya dan segelas air ke kamarnya.


" Sayang nasinya sudah ma.... " Yoga menggantung ucapannya saat melihat Rebecca tertidur pulas di atas ranjang.


" Astaga dia sudah tidur, katanya nggak bisa tidur kalau lapar tapi nyatanya tidur pulas gini." Ucap Yoga mendekati ranjang. Ia meletakkan nampannya di atas nakas.


" Sayang bangun!" Yoga mengguncang pelan tubuh Rebecca namun Rebecca tidak bergeming.


" Rebecca nasi gorengnya udah matang, makan dulu gih! Kasihan anak kita kalau dia kelaparan." Ujar Yoga mengelus kepala Rebecca.


" Engh." Lenguh Rebecca membuka matanya.


" Nasi gorengnya udah matang, makan dulu!" Ucap Yoga.

__ADS_1


" Besok aja, aku ngantuk banget." Ucap Rebecca.


" Udah nggak enak kalau buat besok Rebecca, mending kamu makan dulu terus nanti tidur lagi." Ujar Yoga.


" Aku ngantuk Ga. Kamu sih kelamaan masaknya. Makan sendiri aja sana! Aku mau tidur, ganggu orang tidur aja." Gerutu Rebecca kembali memejamkan mata. Ia menindih kepalanya menggunakan bantal.


" Baiklah." Sahut Yoga pasrah. ia tahu jika Rebecca sengaja melakukan semua ini untuk membuatnya marah, namun Yoga tidak akan mudah terpancing emosi hanya karena hal kecil seperti ini.


Akhirnya Yoga memakan nasi gorengnya sendirian daripada mubadzir.


Pagi hari Rebecca mengerjapkan matanya, ia menatap samping ranjang, Yoga sudah tidak ada di sana. Ia duduk bersandar pada head board mengumpulkan nyawanya.


Ceklek...


Yoga masuk menghampirinya.


" Sayang udah di tunggu mama sama Putri di bawah, kita sarapan bersama ya." Ucap Yoga.


" Suruh mereka duluan aja! Nanti aku menyusul." Sahut Rebecca.


" Sayang mama sama Putri ingin menjalin hubungan yang lebih dekat denganmu, hargai niat baik mereka sayang." Ucap Yoga.


" Dulu aku juga punya niat baik seperti itu, tapi kau bilang aku tidak pantas dekat dengan mereka. Itu yang coba aku lakukan saat ini." Sahut Rebecca membuat hati Yoga mencelos.


" Aku minta maaf untuk hal itu, tapi sekarang semuanya telah berubah Rebecca. Aku menerimamu sebagai istri dan ibu dari anakku, aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku dan aku ingin kita hidup bahagia bersama keluarga besar kita. Aku harap kau mengerti keinginanku saat ini." Ucap Yoga.


" Kenapa harus aku yang selalu ngertiin keinginan kamu? Aku tahu keinginanku tidak penting untukmu, tapi sangat penting untuk diriku sendiri. Jadi mulai sekarang aku tidak akan patuh pada perintahmu, aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan." Ucap Rebecca.


" Sayang bukan begitu maksudku, aku...


" Alah sudah lah, nggak usah pura pura peduli lagi sama perasaan dan keinginanku. Kalau kau tidak suka dengan sikapku selama di sini, biarkan aku pergi dari sini! Aku juga tidak menginginkan tinggal di sini." Ucap Rebecca turun dari ranjang. Ia masuk ke kamar mandi dengan perasaan kesal.


" Aku harus punya stok kesabaran yang banyak untuk menghadapinya, aku tidak boleh salah langkah lagi atau aku akan kehilangan dia lagi untuk selamanya. Aku akan memberimu kebebasan dalam bersikap di rumah ini selama kau tidak melewati batas sayang." Monolog Yoga.


Yoga keluar dari kamarnya menuju meja makan, ia meminta mamanya dan putri untuk tidak menunggu Rebecca. Akhirnya mereka makan lebih dulu.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2