
Mohon maaf kemarin author tidak update karena si bocil lagi rewel.
Jangan lupa setelah membaca tekan like, beri komentar yang membangun, jika berkenan beri hadiah ๐นyang banyak biar author semangat.
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu.
Happy Reading....
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Sinar matahari masuk ke kamar Yeshi melalui celah celah korden. Ia mengerjapkan matanya lalu menoleh ke samping menatap wajah tampan suaminya. Ia tersenyum bahagia mendapati kenyataan jika Tian telah membalas cintanya dan menjadikannya istri satu satunya.
Yeshi mengelus kening, mata, pipi dan terakhir bibi Tian dengan pelan karena takut mengganggu tidur sang empu.
" Wajahmu sangat tampan Mas, entah mengapa saat melihat mata dan senyummu membuat hatiku tenang. Aku merasa ada keteduhan di dalamnya." Gumam Yeshi.
" Aku sangat bahagia Mas, akhirnya kita bisa bersama seperti ini. Aku tidak pernah menyangka jika kepergianku mampu membuatmu mendekat ke arahku. Aku mencintaimu." Lirih Yeshi.
" Aku juga mencintaimu sayang." Ucap Tian membuka matanya membuat Yeshi gelagapan.
" Mas ternyata kamu sudah bangun?" Tanya Yeshi malu malu.
" Udah dari tadi, bahkan aku melihat wajah bantal kamu dengan jelas." Canda Tian.
" Mas kamu bikin malu aja deh." Ujar Yeshi.
" Kenapa mesti malu? Katanya mau memberikan aku enam anak, kalau gitu aja malu gimana cara memberikannya? Bukannya kita harus membuatnya setiap hari?" Ujar Tian menaik turunkan alisnya menggoda Yeshi.
" Tahu ah. Yang sedang dk bahas apa, yang di bicarakan apa." Cebik Yeshi.
Tian memajukan wajahnya, Yeshi segera mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Cup...
Tian mengecup bibir Yeshi. Sadar tidak ada penolakan, Tian menyusupkan tangannya ke leher belakang Yeshi. Ia menggigit pelan bibir Yeshi membuat Yeshi membuka sedikit mulutnya. Tian mengekspos setiap inchinya, ia *****@* lembut bibir Yeshi, suara decapan memenuhi kamar mereka.
Setelah kehabisan pasokan oksigen, Tian melepas pagutannya. Ia mengusap lembut bibir Yeshi menggunakan jempolnya.
" Manis." Ucap Tian di balas senyuman oleh Yeshi.
" Aku akan selalu manis di matamu saat di hatimu masih ada cinta untukku." Ujar Yeshi.
" Selalu sayang, hati dan cintaku hanya untukmu." Sahut Tian.
" Aku mandi dulu Mas, setelah itu gantian kamu. Aku akan menyiapkan airnya." Ujar Yeshi.
" Baiklah." Sahut Tian.
Saat Yeshi hendak turun dari ranjang tiba tiba..
" Awh!!" Rintih Yeshi merasakan nyeri di bagian bawahnya.
" Kenapa sayang? Apa masih sakit?" Tanya Tian menatap Yeshi.
__ADS_1
" Sedikit Mas." Sahut Yeshi menganggukkan kepalanya.
" Biar Mas gendong." Ucap Tian menggendong Yeshi ala bridal style.
Yeshi mengalungkan tangannya ke leher Tian. Ia nampak malu malu pasalnya tubuh keduanya masih sama sama polos. Tian mengisi air hangat dalam bath up, setelah penuh ia dan Yeshi masuk ke dalam dengan. posisi Tian di belakang Yeshi.
" Mas mending gantian aja, jangan begini! Aku malu Mas." Ucap Yeshi.
" Tidak perlu malu sayang, kita pasangan suami istri bukan orang lain. Aku akan menggosok punggungmu dengan sabun." Ucap Tian.
Dengan telaten Tian menggosok punggung Yeshi dengan busa sabun. Yeshi yang awalnya malu kini tidak lagi. Ia malah menyandarkan kepalanya di bahu Tian. Ia mendongak menatap wajah Tian, Tian menundukkan wajahnya lalu mencium bibir Yeshi.
Dua sejoli yang sedang di mabuk asmara kini kembali menyatukan cinta mereka. Kamar indah nan sunyi ini menjadi saksi bisu keduanya saling meluapkan perasaan yang ada di hati masing masing.
Setelah melakukan kegiatan panas, mereka mandi bergantian. Selesai mandi, Yeshi turun ke bawah untuk memasak sarapan walaupun sudah terlambat. Saat melewati ruang tamu ia menghentikan langkahnya, sekilas ia melihat seseorang yang duduk di sana.
" Rean." Ucap Yeshi menghampirinya.
" Mentang mentang pengantin baru jam segini baru bangun, aku sampai ubanan menunggu kamu di sini." Ujar Rean cemberut.
" Ada apa kau datang kemari?" Tanya Yeshi.
" Apa kau lupa kalau hari ini ada meeting penting dengan client dari Hongkong? Waktunya tinggal setengah jam lagi Yeshi. Kalau tadi kamu tidak turun juga, aku akan dobrak kamar kamu." Ujar Rean.
" Astaga.... Aku lupa Yan. Lagian kenapa semalam kamu tidak mengingatkan aku? Harusnya kan kamu telepon." Ucap Yeshi.
" Aku mau telepon kamu tapi papa melarangnya, kata papa kamu lagi asyik menikmati malam pertama." Sahut Rean.
" Om Reno memang yang terbaik." Sahut Yeshi.
Refleks Yeshi menyentuh lehernya sendiri.
" Astaga! Apa mas Tian membuat kismark di leherku? Kenapa aku tidak menyadarinya? Kau bikin malu saja Mas." Ujar Yeshi dalam hati.
" Buruan Yesh!" Ucap Rean.
" Ah iya." Sahut Yeshi kembali ke kamarnya.
Yeshi masuk ke kamar, Tian yang sedang memakai baju menoleh ke arahnya.
" Ada apa sayang? Katanya mau masak? Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan?" Tanya Tian menatap Yeshi.
" Aku nggak jadi masak Mas, kamu sarapannya delivery aja ya, aku mau bersiap ke kantor. Ada meeting dengan client penting pagi ini. Rean sudah menungguku di bawah." Ujar Yeshi mengambil baju kerja di almari.
" Iya nggak apa apa." Sahut Tian.
" Maafkan Mas ya yang belum bisa menjadi suami yang baik, sampai kamu harus bekerja." Ucap Tian merasa bersalah.
Yeshi menghampiri Tian lalu menatapnya.
" Mas aku bekerja di perusahaanku sendiri, kalau bukan aku siapa lagi? Aku akan resign saat aku hamil nanti. Untuk itu setelah kamu masuk kerja lagi, kamu harus belajar menjalankan tugas direktur karena kamu yang akan menggantikan aku selanjutnya." Ucap Yeshi.
" Mas takut tidak bisa mengemban tugas itu sayang." Ucap Tian.
__ADS_1
" Aku tahu kamu pria yang berbakat dan pekerja keras Mas. Kau pasti bisa belajar dengan cepat. Tetap semangat dan berdoa demi masa depan kita." Ujar Yeshi.
" Baiklah sayang, demi masa depan kita aku akan melakukannya." Sahut Tian.
" Terima kasih." Ucap Yeshi mencium pipi Tian. Ia masuk ke ruang ganti.
Setelah memakai baju, Yeshi merias wajahnya dengan make up natural. Tak lupa ia menutupi lehernya dengan bedak concealer supaya tak terlihat. Tian yang melihatnya tersenyum simpul.
" Ngapain senyum senyum gitu Mas? Bangga ya bisa membuat lukisan di leherku ini? Kamu tahu mas? Rean melihatnya, dia mengataiku seperti macan tutul." Ucap Yeshi. Tian menahan tawanya.
" Nggak usah ngejek gitu deh! Nanti nggak aku kasih jatah baru tahu rasa."
" Eh ya jangan donk sayang! Maaf ya!" Ucap Tian berjongkok di depan Yeshi.
" Jangan merendahkan dirimu di depanku Mas, bangun ah! Nggak sopan tahu aku duduk di atas kamu malah berjongkok di bawah." Ujar Yeshi.
" Terima kasih sayang kau selalu menghargai dan menghormatiku tanpa memandang status ataupun derajatku. Kau memang yang terbaik." Ucap Tian berdiri di depan Yeshi.
" Derajat manusia di mata Tuhan itu sama Mas. Tidak ada kaya maupun miskin yang ada hanya tingkatan keimanan mereka Mas. Doakan semoga kerja sama kali ini lancar ya Mas, aku berangkat dulu." Ucap Yeshi menyalami Tian dengan takzim.
" Semangat sayang! Semoga berhasil dan lancar. Mau Mas antar?" Tanya Tian.
" Tidak usah Mas, aku bareng Rean saja. Nanti pulangnya baru Mas jemput." Ujar Yeshi.
" Siap sayang. Kalau sudah mau pulang, kamu telepon Mas ya." Sahut Tian mencium kening Yeshi.
" Iya Mas, aku berangkat dulu! Assalamu'alaikum." Ucap Yeshi.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Tian.
Tian mengantar Yeshi sampai ke teras. Setelah mobil Rean tidak terlihat, Tian masuk ke dalam.
" Berasa jadi pemeran dunia terbalik ini." Gumam Tian terkekeh.
" Mumpung lagi cuti, tinggal bersantai saja. Aku buat sarapan dulu aja deh, lapar juga nih perut." Ujar Tian menuju dapur.
Di perusahaan YC Group Yeshi dan Rean menuju ruang meeting. Ia masuk ke dalam menuju kursinya, tiba tiba langkahnya terhenti saat menangkap sosok yang sangat ia kenal. Ia menoleh ke arahnya dan...
Deg....
" Arnold." Gumam Yeshi.
" Halo sayang, bagaimana kabarmu?"
Yeshi menatap semua orang yang saat ini sedang menatapnya. Mereka saling berbisik membicarakan hubungan mereka.
" Tuan Arnold, saya harap anda bisa menjaga ucapan dan sikap anda di sini. Bersikaplah profesional tanpa membawa urusan pribadi di ruang meeting ini!" Ucap Yeshi tegas. Ia duduk di kursinya yang berdekatan dengan Arnold.
Arnold menatapnya sambil tersenyum simpul.
" Aku akan mendapatkan kamu lagi Yeshika sayang, kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak peduli walaupun kamu sudah menikah. Aku akan mendapatkanmu." Batin Arnold.
Penasaran siapa Arnold? Temukan jawabannya di bab selanjutnya.
__ADS_1
Miss U all...
TBC...