
Saat Arnold membuka pintu mobil tiba tiba...
" Berhenti!!"
Yeshi menoleh ke asal suara.
" Rean tolong aku!" Ucap Yeshi.
Arnold menyembunyikan Yeshi di belakang tubuhnya saat Rean berjalan mendekati keduanya.
" Jangan berani berani mendekat! Atau aku akan menyakiti Yeshi dan Tian." Ancam Arnold penuh penekanan.
" Rean cepat tolong Mas Tian, dia dalam kondisi yang memprihatinkan." Ucap Yeshi sambil menangis.
" Tenanglah, orang orangku sudah menolongnya. Sekarang giliran aku menolongmu." Sahut Rean.
" Heh... Tidak semudah itu Bro, jika kau sudah mendapatkan Tian maka kau tidak akan mendapatkan Yeshi, begitupun sebaliknya." Ucap Arnold.
" Tidak perlu banyak bicara! Serahkan Yeshi padaku! Dan pergilah dari sini sebelum polisi menangkapmu." Ucap Rean.
" Rupanya kau berani membawa polisi Rean, kau akan tahu akibatnya karena tidak mendengarkan kata kataku." Ucap Arnold membuka pintu mobilnya. Ia mendorong Yeshi masuk ke dalam lalu menutupnya kembali.
Arnold menodongkan pistol ke arah Rean membuat Rean tidak berkutik. Arnold masuk ke mobilnya lalu melajukannya membelah jalanan kota. Rean segera mengejarnya dengan mobilnya. Kedua mobil saling berkejaran di jalan raya.
" Arnold hentikan! Aku tidak mau pergi bersamamu! Arnold aku mohon! Hiks.. "
" Kau harus pergi bersamaku, aku tidak akan membiarkanmu kembali menjadi milik orang lain. Aku tidak rela itu Yeshi." Sahut Arnold.
" Aku mohon mengertilah Arnold! aku tidak mencintaimu, aku hanya mencintai mas Tian."
Yeshi tidak tahu jika ucapannya memancing amarah Arnold. Arnold menginjak pedal gas dengan tajam, mobilnya melesat melebihi batas maximum pengendara.
" Arnold kau gila, kurangi kecepatannya! aku tidak mau mati di sini." Teriak Yeshi ketakutan.
" Kalau kau tidak mau diam, lebih baik kita mati bersama di sini." Ucap Arnold.
" Iya aku akan diam. Kurangi kecepatannya!" Ucap Yeshi.
Arnold mengurangi kecepatan mobilnya. Mobil terus melaju ke arah Bandara. Sepanjang perjalanan Yeshi selalu berdoa semoga Rean berhasil menyusulnya sebelum ia sampai ke jet pribadi yang di sewa oleh Arnold.
Saat melewati sebuah jembatan panjang tiba tiba mobil Rean menghadang di depannya membuat Arnold menginjak rem secara mendadak.
Ckiiitttt..
Brak...
__ADS_1
Kecelakaan kecil tidak bisa di hindari. Tubuh Yeshi terhuyung ke depan, dahinya terbentur dashboard hingga mengeluarkan darah. Yeshi tidak sadarkan diri.
" Yeshi bangun!" Arnold menepuk pipi Yeshi berharap Yeshi akan membuka mata.
" Yeshi bangun! Jangan seperti ini!" Bentak Arnold mengguncang bahu Yeshi.
" Hiks.. Yeshi bangunlah! Aku tidak mau kau kenapa napa." Arnold memeluk Yeshi.
Rean membuka pintu mobilnya, ia menyeret Arnold keluar lalu..
Bugh.... Bugh... Bugh...
Rean memukul wajah Arnold.
Bugh.. Bugh...
Kali ini Rean memukul perut Arnold lalu mendorong tubuh Arnold ke aspalan. Beberapa polisi langsung meringkusnya.
" Bawa dia Pak! Pastikan dia mendekam di penjara dengan waktu yang lama." Ucap Rean menatap pak polisi yang berdiri di depannya.
" Baik Tuan." Sahut pak polisi.
Arnold di gelandang ke mobil polisi. Rean segera membopong Yeshi memindahkanjya ke mobilnya. Ia segera membawa Yeshi ke rumah sakit terdekat.
" Bagaimana kondisi adik saya Dok?" Tanya Rean menatap dokter cantik yang saat ini sedang menatapnya.
" Pasien baik baik saja, dia hanya syok saja. Pasien juga sudah siuman, setelah menebus obat pasien di perbolehkan pulang." Terang dokter yang memakai tagename Wina.
" Terima kasih Dok, lalu bagaimana dengan pasien yang bernama Christian? Apa dia baik baik saja?" Rean kembali bertanya.
" Tuan Christian baik baik saja, namun jika di lihat dari fisiknya beliau sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya terdapat luka memar. Mungkin luka itu akan pulih sampai satu minggu lagi."
" Saya sudah meresepkan obat dan salep yang harus di oleskan pada lukanya. Tuan Christian butuh perawatan beberapa hati di sini. Apa ada yang mau di tanyakan lagi?" Dokter Wina menatap Ren membuat jantung Rean berdebar kencang.
" Ah tidak Dok, terima kasih." Sahut Rean gugup.
" Kalau begitu saya permisi."
" Silahkan!" Sahut Rean.
Dokter Wina berlalu dari sana, Rean masuk ke dalam menghampiri Yeshi yang terbaring di atas ranjang.
" Rean bagaimana keadaan Mas Tian? Apa dia baik baik saja?" Tanya Yeshi terlihat sangat cemas.
" Tenanglah Yeshi! Kau baru saja mengalami kecelakaan." Ucap Rean menyentuh kedua bahu Yeshi.
__ADS_1
" Tian baik baik saja, dia hanya butuh perawatan beberapa hari saja di sini untuk pemulihan." Sambung Rean.
" Bagaimana dengan Arnold? Apa..
" Polisi sudah menahannya, kau tenang saja! Sekarang lebih baik kau fokus pada kesehatanmu dan Tian." Ujar Rean memotong ucapan Yeshi.
" Aku ingin menemui mas Tian." Ucap Yeshi.
" Tian ada di ruang rawat, dia belum sadarkan diri. Aku akan mengantarmu ke sana." Sahut Rean.
" Ayo!" Rean memapah Yeshi menuju ruang rawat Tian yang lumayan jauh dari sana karena Rean memesan kamar vvip. Mereka harus menggunakan lift untuk sampai ke ruangan Tian.
Sampai di depan ruangan, Rean membuka pintunya. Keduanya masuk ke dalam mendekati ranjang Tian. Nampak Tian terbaring lemas dengan beberapa alat medis yang menempel pada tubuhnya.
Yeshi duduk di kursi samping ranjang. Ia genggam tangan suami tercinta. Tak terasa air mata menetes begitu saja.
" Hiks.. Mas... Bangunlah Mas! Aku ada di sini. Aku menanti kamu sadar, kamu baik baik saja kan? Apa kau terlalu sakit merasakan semua ini sampai kau tidak mau bangun? Ya sudah istirahat saja dulu, kalau sudah mendingan bangun ya. Aku merindukanmu." Ujar Yeshi mengusap air matanya.
" Bersabarlah Yeshi! Tian pasti akan sadar, dia baik baik saja. Mending kamu istirahat di sofa, aku akan menunggu Tian. Kalau Tian sudah sadar aku akan membangunkanmu." Ucap Rean.
" Aku tidak mau, aku ingin jadi orang pertama yang mas Tian lihat saat dia sadar nanti." Sahut Yeshi.
" Benar benar bucin." Ucap Rean menggelengkan kepalanya.
" Biarin, namanya sama suami. Kau akan tahu saat kau jatuh cinta nanti." Ujar Yeshi.
" Bagaimana aku bisa jatuh cinta jika di hatiku hanya ada kamu Yeshi. Andai saja papa tidak melarangku, aku pasti sudah mengungkapkan perasaanku padamu. Dan aku yakin kau pasti akan menerimaku walaupun dengan alasan terpaksa. Yang kamu tahu selama ini kita saudara, padahal kita tidak sedarah. Aku bukan anak kandung papa Reno melainkan anak tirinya." Batin Rean.
" Rean kenapa kau malah melamun?" Yeshi mengguncang tangan Rean.
" He he.. " Rean menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Kau tadi bertanya, apa kau punya kekasih? Apa kau mencintai seorang gadis? Beri tahu aku siapa dia." Ujar Yeshi menatap Rean.
" Tidak ada." Sahut Rean.
" Aku tidak percaya, jangan sampai kau menyukaiku."
Deg...
Jantung Rean berdetak kencang. Melihat Rean yang diam saja, Yeshi mendekati Rean. Ia menatap Rean dengan tatapan menyelidik.
" Rean, apa tebakanku benar? Kau menyukaiku selama ini? Itu sebabnya kau selalu di sampingku dan tidak mencari gadis lain untuk menjadi kekasihmu?"
TBC...
__ADS_1