
Sampai di rumah sakit Yeshi segera ke ruangan tuan Reno. Ia masuk ke dalam menghampiri tuan Reno yang sedang duduk bersandar di ranjangnya.
Grep....
Tiba tiba Yeshi memeluk tuan Tian membuatnya terkejut.
" Hei ada apa sayang?" Tanya tuan Reno mengelus punggung Yeshi.
" Kangen aja sama Om, cepet sembuh ya Om. Jangan sakit sakitan lagi! Hiks... Aku tidak mau kehilangan Om." Ucap Yeshi.
" Tenanglah! Om tidak apa apa. Jangan bersedih donk sayang! Om tidak akan pergi secepat itu." Ujar tuan Reno.
Rean yang melihatnya merasa ada yang tidak beres dengan Yeshi.
" Yeshi temani aku makan!" Rean menarik tangan Yeshi keluar ruangan.
" Jangan main tarik tarik gitu Rean! Sakit." Rintih Yeshi menghentikan langkah Rean.
Rean membalikkan badannya, ia menatap Yeshi dengan seksama.
" Aku tahu, Tian pasti berulah lagi. Katakan apa yang dia lakukan sehingga kau menangis sedih seperti ini! Aku akan membuat perhitungan kepadanya." Ucap Rean menatap Yeshi.
" Rean.. Hiks... " Yeshi terisak dalam pelukan Rean.
" Menangislah! Keluarkan semua kesedihanmu! Setelah ini jangan pernah menangisi dia lagi!" Ucap Rean tak tahan melihat Yeshi bersedih.
Yeshi menganggukkan kepalanya.
" Kita ngobrol di cafe aja." Rean menggandeng tangan Yeshi menuju cafe di seberang rumah sakit.
Sampai di sana mereka memesan minuman sambil mengobrol.
" Ceritakan apa yang terjadi padamu!" Ucap Rean.
Akhirnya Yeshi menceritakan apa yang terjadi padanya dan Tian sampai pada apa yang ia lihat di hotel tadi. Ia merasa membutuhkan pendapat Rean, itu sebabnya ia menceritakannya.
" Tian memang sudah keterlaluan Yeshi, tapi kau harus mendengar penjelasannya dulu. Jangan sampai kau salah berasumsi! Dia melakukan semua itu pasti karena ada alasannya. Sekarang lebih baik tenangkan hatimu! Dan tunggu penjelasan darinya. Oke?" Ujar Rean menangkup wajah Yeshi.
Yeshi menganggukkan kepalanya. Ia merasa ucapan Rean ada benarnya.
Setelah tenang, Rean meminta Yeshi untuk pulang.
__ADS_1
" Pulanglah! Selesaikan masalahmu dengan Tian sebelum melebar kemana mana! Jika alasan Tian karena ia masih mencintai Rebecca maka kau harus merelakannya kembali pada Rebecca. Jangan paksakan seseorang yang sudah tidak mencintaimu untuk selalu bersamamu. Apa kau paham maksudku?" Yeshi menganggukkan kepalanya.
" Terima kasih Rean, kau memang saudaraku yang paling baik." Ucap Yeshi.
" Apapun untukmu." Sahut Rean.
Yeshi pulang ke rumahnya. Ia masuk ke dalam kamar dimana Tian sudah menantinya.
" Sayang kamu sudah pulang?" Tian menghampiri Yeshi.
Yeshi masuk ke kamar mandi tanpa membalas ucapan Tian. Tian mengheoa nafasnya pelan. Lima belas menit kemudian Yeshi keluar dari kamar mandi. Ia naik ke atas ranjang membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, ia mencoba memejamkan matanya.
Tian berbaring di sebelahnya, ia memeluk Yeshi dari belakang.
" Maafkan Mas sayang! Mas telah melukai hatimu. Tapi percayalah padaku kalau Mas melakukan semua ini karena ada alasannya. Alasan Mas membawa Rebecca dan alasan kami berakhir dengan tidur bersama." Ucap Tian.
Yeshi tidak bergeming, namun ia mendengarkan ucapan Tian.
" Rebecca tidak bahagia bersama Yoga. Dia terpaksa menikahi Yoga karena Yoga mengancamnya. Selama ini dia salah mengira, dia kira Yoga mencintainya namun ternyata tidak. Yoga hanya ingin bersenang senang saja padanya. Dia berpikir setelah menikah Yoga akan memperlakukan dia dengan baik, apalagi dia sedang mengandung anaknya. Tapi lagi lagi dia salah menduga." Tian mengheoa nafasnya pelan.
" Yoga memperlakukan Rebecca dengan buruk, ia selalu menyalahkan Rebecca tentang pernikahannya dan anak itu. Ternyata Yoga sengaja menikahi Rebecca supaya Rebecca tidak mengganggu hidup kita. Semalam Rebecca mendapat perlakuan kasar dari Yoga, dia merasa tidak sanggup menghadapi Yoga, itu sebabnya dia meneleponku dan memintaku membawa pergi dari apartemen Yoga. Aku merasa kasihan sayang, aku tidak tega melihatnya di sakiti. Bukan karena masih ada rasa tapi lebih kepada sifat kemanusiaan saja. Bagaimanapun dia pernah menemani hari hariku dulu, setidaknya kami pernah hidup bahagia bersama." Tian mengusap kepala Yeshi.
" Tanpa berpikir panjang, aku langsung ke rumahnya. Rencananya dia akan pulang ke rumah neneknya di kampung. Sambil menunggu travel yang akan di tumpangi Rebecca kami mencari tempat aman, kami memesan kamar hotel untuk istirahat sejenak. Di kamar dia terus menangis meminta maaf padaku karena menyesal telah menyia-nyiakan pria sepertimu. Aku tidak tega sayang, pada akhirnya aku memeluknya. Dan tanpa kami sadari malah kami tertidur." Ucap Tian menjelaskan.
" Mas harap kamu bisa memaafkan kebodohan Mas kali ini. Mas tahu ini akan menyakitimu, tapi Mas merasa apa yang telah Mas lakukan adalah benar. Buat apa Rebecca hidup tidak bahagia bersama Yoga? Bukankah lebih baik dia kembali pada keluarganya Mas yakin kau akan melakukan hal yang sama jika berada di posisinya kan." Ucap Tian mencium pipi Yeshi.
" Apa kau mau memaafkan Mas lagi?" Tanya Tian menempelkan pipinya ke pipi Yeshi.
" Entahlah Mas aku tidak tahu. Aku mau istirahat, tolong jangan ganggu aku!" Ucap Yeshi mejamkan matanya.
" Dan ya!.. Jika kamu masih mau melibatkan dirimu ke dalam rumah tangga mereka lebih jauh lagi, sekarang juga silahkan kau pergi dari sini. Bantu orang yang pernah membuatmu bahagia dan juga membuatmu menderita itu." Ucap Yeshi menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tian menghela nafasnya pelan, ia tidak mengambil hati ucapan Yeshi karena ia tahu Yeshi sedang marah saat ini.
" Baiklah sayang sekarang tidurlah, Mas tidak akan mengganggumu." Ucap Tian keluar kamar.
Tian berjalan menuju dapur untuk mengambil minum, langkahnya terhenti saat melihat Rean yang duduk di ruang tamu.
" Kau di sini?" Tanya Tian menghampiri Rean.
" Ya, untuk memastikan jika Yeshi baik baik saja. Kenapa kau selalu bersikap kekanakan seperti ini? Kau sudah menikah dua kali tapi bersikap seperti ABG saja." Ujar Rean.
__ADS_1
Tian duduk di depan Rean.
" Aku minta maaf!" Ucap Tian.
" Yeshi menceritakan tentang kemarahanmu semalam, kau salah paham Tian. Yeshi lembur bareng aku, tapi tiba tiba aku di telepon bi Sari kalau papa masuk rumah sakit. Jadi aku meninggalkan Yeshi di sana sendiri. Entah bagaimana ceritanya, Yeshi ke rumah sakit di antar oleh Arnold." Jelas Rean.
" Arnold mengirim pesan dan foto kepadaku." Ucap Tian.
Tian mengambil ponselnya lalu menunjukkan hasil tangkapan layar chat dari Arnold.
" Ini screenshot pesan dari Arnold, kalau yang asli dia sudah menghapusnya." Ucap Tian.
Rean melihat foto itu.
" Aku rasa Arnold mengambil foto ini tanpa sepengetahuan Yeshi. Karena Yeshi tidak mungkin mau di pegang oleh orang lain. Aku yakin kau lebih memahami Yeshi dari aku." Ujar Rean.
Tian menganggukkan kepalanya sambil memikirkan apa yang terjadi padanya.
" Sebentar! Aku jadi ingat saat tadi di hotel. Aku menyadari ada yang tidak beres. Tiba tiba aku merasa mengantuk saat memeluk Rebecca." Ujar Tian.
" Kenapa? Apa terjadi sesuatu denganmu dan Rebecca? Kenapa kau bisa tidur dengannya?" Selidik Rean.
" Sebelum aku tidur, aku memesan jus kepada pelayanan hotel." Ujar Tian.
" Apa mungkin pelayanan itu menaruh obat tidur di minumanmu? Jika benar itu tandanya kau sudah di intai dari jauh Yan." Ujar Rean.
" Iya kau benar Yan, apa mungkin ini juga kerjaan Arnold? Dia sengaja membuat kerenggangan dalam hubungan kami." Ujar Tian.
" Mungkin saja." Sahut Rean menganggukkan kepala.
" Berarti aku harus menguatkan hubunganku dengan Yeshi." Gumam Tian.
" Bagaimana caranya?" Tanya Rean.
Bagaimana ya?
Sangat di tunggu like koment vote dan 🌹nya yang banyak.
Terima kasih..
Miss U All..
__ADS_1
TBC...