DERITA ORANG KETIGA

DERITA ORANG KETIGA
HARI PERTAMA


__ADS_3

Pagi hari Tian membuka matanya, betapa terkejutnya ia saat menyadari Yeshi tidur dalam pelukanya. Ia menatap wajah polos Yeshi yang nampak begitu bercahaya. Entah mengapa hatinya merasa damai.


" Sampai kapan aku akan menyakitinya? Mungkin aku bisa bersikap adil padanya tapi aku tidak bisa memberikan cintaku padanya. Ya Tuhan... Engkau yang Maha membolak balikkan hati, semoga aku bisa membuat keduanya bahagia." Batin Tian.


" Kenapa menatapku seperti itu Mas?"


Ucapan Yeshi membuat Tian tersadar dari lamunannya. Ia langsung beranjak dari ranjang untuk menghilangkan kegugupannya karena ketahuan telah memeluk Yeshi. Yeshi tersenyum melihat tingkah Tian.


" Kamu mau mandi Mas? Biar aku siapkan air dan baju gantinya." Ucap Yeshi menatap Tian.


" Tidak perlu, aku akan kembali ke kamarku. Aku...


" Bukankah ini juga kamarmu? Kamar keduamu jika kau lupa itu Mas." Sahut Yeshi memotong ucapan Tian.


Tanpa menunggu jawaban Tian, Yeshi masuk ke dalam kamar mandi. Hatinya terluka mendengar ucapan Tian. Ia merasa Tian tidak menghargai kehadirannya.


" Hiks... Kenapa rasanya sesakit ini ya Tuhan." Isak Yeshi menyandarkan punggungnya pada pintu kamar mandi.


" Aku terlalu percaya diri, aku kira hatiku akan menerima semua ucapan dan perlakuannya padaku. Tapi belum genap sehari saja aku sudah lemah. Hiks... Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin menyerah begitu saja, atau om Reno akan ikut merasakan penderitaan ini. Tidak Yeshi... Kau sendiri yang sudah mengambil keputusan ini. Kau harus sabar menghadapi semua ini, semoga Mas Tian mau menerimaku dengan ikhlas." Ucap Yeshi duduk di lantai sambil menekuk kedua kakinya mengeluarkan sesak di dadanya.


Setelah tenang, ia segera mandi. Yeshi berdandan ala wanita rumahan. Dengan memakai dress selutut serta wajah natural tanpa make up. Ia segera turun ke bawah untuk memasak makanan untuk sarapan mereka bertiga.


Setelah selesai ia segera ke kamar Rebeca untuk memanggil Rebeca dan Tian. Sampai di depan pintu ia mendengar keributan dari dalam.


" Kamu keterlaluan Rebeca. Aku mau berangkat kerja, seharusnya kamu menyiapkan semua keperluanku, tapi ini apa? Kau malah masih malas malasan seperti ini." Ucap Tian menarik kasar rambutnya.


Pasalnya Rebeca saat ini sedang tidur di ranjang bersama uang uangnya.


" Kenapa kau hanya menuntutku? Kau punya dua istri sekarang. Kalau aku tidak mau mengurusmu kan masih ada Yeshi. Kenapa malah kamu kembali ke kamarku dan mengganggu tidurku? Merepotkan saja." Ketus Rebeca.


" Kau di butakan oleh uang Rebeca, sehingga kau tidak mau mengurusku lagi." Sahut Tian.


" Bukan aku tidak mau mengurusmu Tian, tapi aku masih malas. Mendingan kamu keluar gih! Kembali ke kamar Yeshi, jangan mengganggu kesenanganku." Ujar Rebeca.


" Rebeca...


" Keluar!!" Bentak Rebeca.


Tidak mau membuat keributan di pagi hari, Tian keluar dari kamarnya, tubuhnya mematung saat menatap Yeshi yang berdiri di depannya.


" Maaf Mas aku mendengarnya! Aku ke sini untuk memberitahukan kalau sarapan sudah siap di bawah, tapi sebelum itu aku akan menyiapkan air hangat dan baju ganti untukmu." Ucap Yeshi masuk ke kamarnya.


Yeshi menghentikan langkahnya lalu menolrh ke belakang.


" Masuk Mas, nanti kamu terlambat ke kantor." Ucap Yeshi saat melihat Tian yang masih berada di posisinya.


" Ah iya." Sahut Tian masuk ke kamar Yeshi.

__ADS_1


Tian duduk di tepi ranjang menunggu Yeshi menyiapkan segala keperluannya. Lagi lagi ia merasa kagum dengan perhatian yang Yeshi berikan padanya.


" Sudah Mas." Ucap Yeshi keluar dari kamar mandi.


Tian segera masuk ke dalam untuk mandi.


Selesai mandi Tian memakai bajunya. Saat ia hendak memakai dasi, Yeshi memintanya.


" Biar aku saja Mas." Ucap Yeshi mengambil dasi dari tangan Tian.


Tian menatap wajah Yeshi yang sedang memakaikan dasi. Ada gelenyar aneh dalam dirinya.


" Sudah Mas, sekarang ayo kita sarapan!" Ucap Yeshi di balas anggukan kepala oleh Tian.


Mereka berdua turun ke bawah menuju meja makan. Di sana sudah ada Rebeca yang sedang menyantap makanannya.


" Maaf Yeshi, aku kelaparan jadi aku tidak menunggu kalian." Ucap Rebeca menatap Yeshi.


" Tidak masalah Mbak." Sahut Yeshi.


" Masakanmu oke juga, kau kursus masak dimana? Nggak mungkin kan kalau kamu terbiasa memasak sendiri? Secara kan kamu orang kaya. Pasti belilah ya." Ujar Rebeca.


" Aku belajar memasak sejak kecil Mbak, aku ingin menjadi wanita yang bisa melayani suami dengan baik." Sahut Yeshi membuat Tian terharu.


" Owh." Gumam Rebeca melanjutkan makannya.


" Rebeca ambilkan aku makanan!" Titah Tian.


" Memangnya kau mau kemana?" Tanya Tian menatap Rebeca.


" Aku mau jalan sama teman teman." Sahut Rebeca.


" Aku tidak mengijinkan kamu pergi!" Ucap Tian.


" Aku tidak butuh ijinmu. Udah deh nggak usah rewel dan banyak ngatur! Aku udah janjian sama teman teman masa' mau batalin gitu aja, kan nggak enak." Ujar Rebeca.


" Tapi Rebeca...


" Lama lama kamu cerewet ya, udah deh diam aja! Udah nggak bisa bahagiain istri masih aja ngomel. Kalau kamu tidak bisa memberiku uang yang banyak, setidaknya biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri." Ucap Rebeca meninggalkan meja makan.


Tian menatap kepergian Rebeca dengan perasaan kesal.


" Mas biar aku aja yang mengambilkan makanan buat kamu." Ucap Yeshi menatap Tian begitupun sebaliknya.


" Tidak usah! Ini terjadi gara gara kamu Yeshi. Kalau kamu tidak datang menemuinya dan tidak bersedia memberikan apa yang dia mau, semua ini tidak akan terjadi padanya. Nyesel aku menikahi kamu." Ucap Tian menohok hati Yeshi.


Tian pergi meninggalkan Yeshi sendiri. Yeshi memegangi dadanya menahan rasa sesak yang menjalar di sana.

__ADS_1


" Benarkah semua ini salahku? Apakah cinta yang aku rasakan pada Mas Tian sebuah kesalahan? Ya Tuhan kuatkan aku menjalani kebencian dan kemarahan dari Mas Tian. Aku tidak mengharap apapun darimu kecuali cintanya ya Rob." Monolog Yeshi.


Tidak mau terlarut dalam kesedihan, Yeshi segera menata makanan ke tempat bekal. Ia berlari mengejar Tian yang baru saja keluar dari rumah.


" Mas tunggu!" Panggil Yeshi menghampiri Tian.


Tian menatap Yeshi tanpa bersuara.


" Jangan bekerja dengan perut lapar! Atau kau tidak akan bisa konsentrasi. Makanlah setelah kamu sampai di kantor! Kau boleh marah padaku tapi jangan menyiksa dirimu sendiri. Semoga hatimu menyenangkan." Ucap Yeshi memberikan kotak bekal kepada Tian.


Melihat perhatian dan mendengar ucapan Yeshi membuat hati Tian tersentuh. Ia mengambil kotak itu lalu masuk ke dalam taksi yang sempat ia pesan.


Saat ia membuka pintu taksi, tiba tiba Rebeca menghentikannya.


" Tian mending naik mobilku, dan antar aku ke Mall xx." Ucap Rebeca.


" Aku tidak mau, kau pergilah sendiri!" Sahut Tian masuk ke dalam taksi.


Rebeca cemberut mendegar ucapan Tian. Bagaimana ia bisa menaiki mobil itu sedangkan ia tidak bisa mengemudi.


" Jalan Pak!" Ucap Tian.


" Hati hati Mas!" Teriak Yeshi melambaikan tangannya.


Setelah kepergian Tian, Yeshi masuk ke dalam di ikuti Rebeca.


" Yeshi, apa kau punya kenalan seseorang yang bisa mengajariku mengemudi mobil?" Tanya Rebeca.


" Ada sih Mbak, namanya Yoga. Kalau Mbak mau nanti aku telepon." Sahut Yeshi.


" Ok, kamu telepon dia secepatnya ya dan suruh dia membuat jadwal latihannya." Ucap Rebeca.


" Iya Mbak." Sahut Yeshi.


" Apa kamu tidak ke kantor?" Rebeca bertanya lagi.


" Tidak Mbak, mulai hari ini aku resmi menjadi ibu rumah tangga yang akan mengurus rumah." Sahut Yeshi.


" Baiklah kebetulan kalau begitu, mulai sekarang aku limpahkan tanggung jawabku untuk mengurus Tian dan rumah ini kepadamu. Aku ingin menikmati hidup sosialitaku seperti yang selama ini aku mimpikan. Aku pergi dulu." Ucap Rebeca keluar dari rumahnya.


Yeshi menggelengkan kepala menatap kepergiannya


" Semoga sikapmu yang seperti ini tidak berlangsung lama Mbak. Kita harus sama sama mengurus Mas Tian dengan baik. Dia tanggung jawab kita berdua bukan hanya aku saja. Jangan sampai kau menyesal akhirnya karena Mas Tian lebih memilihku dari pada kamu." Batin Yeshi.


Jangan lupa like untuk mendukung karya author...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2