
Sehingga An Chen yang mendengar kalimat tersebut dari adiknya putri Xiao You dia terperangah bahkan sampai membelalakkan matanya dengan lebar, karena sama sekali tidak mengerti apa yang di katakan oleh adiknya putri Xiao You saat itu.
Meski sebenarnya saat itu An Chen juga merasa sedikit heran juga kebingungan dengan apa yang dibicarakan oleh sang adik putri Xiao You saat itu tetapi dia mengabaikan rasa keheranannya tersebut sebab melihat dengan jelas bahwa wanita yang ada di depannya saat itu sungguh adalah sang adik yang dia kenal selama ini, baik dari wajah maupun kesukaannya terhadap bunga juga tempat rahasia tersebut.
Sementara detektif Zen terus memainkan banyak bunga yang berhamburan disana hingga dia merasa lelah dan bosan sendiri, lalu dia mulai mendekati lagi An Chen hingga An Chen mempersilahkan putri Xiao You untuk duduk di sampingnya saat itu.
"Adik Xiao You apakah kau senang kita bisa datang ke tempat ini lagi?" Tanya An Chen kepada sang adik kesayangannya saat itu,
"Tentu, aku sangat senang kakak kedua terima kasih banyak kau sudah membawaku kemari, tapi apakah orang lain juga mengetahui tentang taman bunga yang indah ini? Aku sangat ingin hanya kita berdua saja yang mengetahuinya" ujar detektif Zen saat itu.
Ucapan dari detektif Zen membuat seorang An Chen semakin merasa heran dan mulai menanam kecurigaan kepada adiknya putri Xiao You saat itu, dia merasa sangat aneh dengan perkataan yang di ucapkan oleh sang adik saat itu, sebab sudah jelas sekali bahwa hanya ada mereka berdua yang mengetahui mengenai taman tersebut bahkan saat kecil An Chen sendiri yang dengan sengaja membuat taman itu dengan semua tenaga dan apa yang dia punya, dia merawat semua bunga yang tertanam di tempat itu.
Hingga bisa tumbuh menjadi sangat banyak dan indah seperti sekarang ini, bahkan An Chen juga mengambil beberapa jenis bunga dari berbagai daerah dan wilayah yang pernah dia datangi setiap kali dia melakukan perang saat itu, dan semua bunga itu dia tanaman disana sebagai persembahan sebuah simbol kesetiaan dan keperdulian kepada adiknya putri Xiao You yang akan selalu abadi di dalam hatinya.
Ketika mendengar putri Xiao You yang saat itu bersamanya malah menanyakan mengenai hal tersebut yang seharusnya itu dia ketahui sendiri, barulah An Chen benar-benar merasa curiga dan hanya bisa diam saja tanpa menjawab sepatah katapun dari pertanyaan yang diajukan oleh adiknya putri Xiao You saat itu.
Hal tersebut tentu saja membuat seorang detektif Zen merasa bingung karena melihat An Chen yang nampak diam termenung sambil menatapnya dengan lekat, dia tidak tersenyum atau seceria sebelumnya, itu membuat seorang detektif Zen merasa khawatir dengan dirinya dan dia segera memegangi tangan An Chen lalu berusaha menanyakan keadaannya lagi untuk memastikan saat itu.
"Kakak .. kak apa kau baik-baik saja, jika kau sakit katakanlah aku bisa merawatmu" ucap detektif Zen yang justru sangat mencemaskan An Chen.
Entah kenapa saat itu detektif Zen memiliki respect yang cukup besar terhadap An Chen dibandingkan dengan sang kakak pertama yang kini justru telah menjadi seorang Baginda Raja yang maha kuasa di kerajaan suci tersebut, juga merupakan seorang pimpinan dalam seluruh wilayah kerajaan suci untuk saat ini dan seterusnya.
An Chen yang melihat sang adik erempuan kesayangannya menggoyangkan tangannya ke depan wajahnya itu membuat An Chen langsung tersadar dengan cepat dan dia langsung membenarkan posisi duduknya sampai dia justru malah merebahkan tubuhnya di bawah pohon yang rindang dan membuat kami menjadi teduh saat itu.
"Aaahhh.... Aku baik-baik saja adik, ayo tidur di sampingku" ujar An Chen begitu saja.
Dia terlihat sangat santai dan tenang saat itu sedangkan detektif Zen merasa sangat heran dan semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara kakak pertama dan keduanya saat itu, apalagi jika mengingat sang ratu yang memperlakukan mereka berdua sangat bertolak belakang saat itu, di depan atau un di luar panggung.
Detektif Zen ingin menanyakan mengenai semua keanehan dan kepenasaranan yang ada di dalam dirinya terhadap semua itu, tetapi dia tidak bisa menanyakan ya saat itu ketika melihat wajah kakak kedua yang terlihat murung dan muram, dia hanya tidak ingin membuat mood kakak keduanya semakin hancur sebab dia yang malah membicarakan dan bertanya mengenai orang lain terhadapnya disaat mereka tengah berdua saat itu.
Tapi sayangnya An Chen langsung saja menarik tangan sang detektif Zen dengan cepat begitu saja bahkan dia menariknya sekaligus hingga sang detektif Zen tidak bisa menahan dirinya sendiri, dan langsung saja itu jatuh merebahkan dirinya di samping kakak keduanya An Chen saat itu.
__ADS_1
"Aaaaahhh.....kakak kedua kau ini bagaimana sih kenapa kau menarik tanganku sekaligus seperti itu?" Ucap detektif Zen dengan kaget saat itu,
"Kau sangat lama, jadi aku sendiri yang harus menarik tanganmu, lagi pula kau kenapa malah menatap aku dan melamun seperti itu" balas An Chen sambil tersenyum kecil kepada detektif Zen saat itu.
Detektif juga hanya bisa mengerutkan wajahnya sedikit kesal hingga tidak lama An Chen langsung saja menyuruh sang adiknya putri Xiao You untuk menatap keatas.
"Hey... Kenapa menatapku terus seperti itu, lihatlah keatas sana kau sangat suka berbaring di bawah pohon ini sambil memandangi buah mangga yang ada diatas sana bukan?" Ujar sang kakak kedua kepada detektif Zen.
Detektif Zen langsung menatap ke atas dan dia melihat benar-benar melihat sebuah mangga yang terlihat matang dan mangga adalah makanan kesukaan detektif Zen, dia sangat menyukai buah mangga sejak dia masih kecil hingga saat ini, bahkan saat berada di rumahnya detektif Zen memang selalu menyetok buah mangga di dalam lemari pendinginnya.
"Wahhh......kakak kedua lihatlah benar-benar ada buah mangga di pohon ini, itu sepertinya sudah matang, apa aku boleh mengambil mangga dia atas sana?" Tanya detektif Zen kepada sang An Chen kakak kedua saat itu.
Kakak kedua An Chen langsung saja bangkit terduduk dan dia juga segera membantu deteksi Zen untuk ikut bangkit terduduk disana, hingga dia segera ikut bangkit terbangun juga saat itu, dia menatap dengan tatapan sedikit aneh dan bingung menatap lekat ke wajah kakak keduanya An Chen yang terus saja tersenyum kepadanya saat itu.
"Kakak... Kedua kenapa kau malah membuat aku kembali duduk, dan kenapa malah tersenyum begitu kepadaku, apa aku tidak bisa mendapatkan buah mangga itu yah" ucap detektif Zen menduga saat itu,
"Haha.... Adik...adik kau ini sangat lucu dan kau ternyata memang tidak berubah, sangat menggemaskan, tentu saja kau selalu bisa mendapatkan apapun yang ada di taman ini, termasuk mangga ini, kau tidak perlu meminta izin sama sekali kepadaku untuk mengambilnya dan aku bisa mengambilkannya untukmu, aku bangkit berdiri dan bersiap untuk ambil mangganya, aku akan mengambilkan mangga itu untukmu" ujar sang kakak kedua An Chen sambil mengusap lembut kepala detektif Zen dengan sedikit kasar saat itu.
"Ehhh... Kakak kedua tunggu... Jangan memanjat pohonnya, biar aku saja yang mengambilnya sendiri" ucap detektif Zen dengan wajah yang ceria.
Namun kakak keduanya An Chen hanya bisa menatap wajah detektif Zen dengan kedua matanya yang terperangah dan sedikit merasa kaget saat itu, karena dia tidak menduga bahwa adik kecilnya putri Xiao You mau melakukan hal tersebut, karena yang dia tahu sang adik Xiao You sama sekali tidak pernah memanjat apapun, bahkan dia merupakan seorang gadis yang lemah lembut dan baik hati.
Dia sama sekali tidak mungkin bisa untuk melakukan hal kasar seperti memanjat pohon mangga seperti ini.
Mendengar itu kakak kedua An Chen langsung saja membelalakkan matanya dengan lebar karena dia tidak mengira hal yang seperti itu akan dilakukan oleh sang adik yang manis dan lemah lembut seperti putri Xiao You ini.
"A...AA....apa? Ahahaha.. adikku yang manis dan cantik, bagaimana kau mau memanjat pohon mangga ini dengan gaunmu yang lebar dan sangat besar seperti ini, apa kau sungguh bisa melakukannya? Sudahlah jangan membuat masalah seperti itu dan menyulitkan dirimu sendiri, disini ada kakak dan tugas kakak adalah melindungi adiknya, biar kakak yang akan memanjat dan mengambilkannya untukmu" ujar sang kakak kedua An Chen segera memegangi tangan detektif Zen dengan lembut.
Detektif Zen yang mendapatkan perlakuan semanis itu dari seorang pria dia langsung saja merasakan jantungnya yang berdetak cukup kencang dan dia benar-benar merasa terharu karena bisa merasakan kasih sayang dan keperdulian dari seorang kakak dengan begitu nyata di hadapannya saat ini, namun walau begitu dia tetap tidak ingin menjadi manja, dan dia juga tidak mau membuat sang kakak kedua An Chen harus memanjat pohon mangga itu demi mewujudkan keinginannya untuk menikmati sebuah mangga yang matang diatas pohon tersebut.
"Kakak kedua ayolah, kau kan orang yang sangat baik dan bijaksana aku mohon tolong dengarkan aku, aku sangat ingin mencobanya dan aku ingin memanjat pohon itu sendiri, aku ingin melakukannya kau tunggu saja di bawah dan kau harus percaya kepada diriku bahwa aku memang berbakat dalam hal memanjat" ucap detektif Zen sambil tersenyum kepada sang kakak keduanya untuk meyakinkan.
__ADS_1
Alhasil karena detektif Zen terus memaksa dan sang kakak kedua An Chen tidak bisa mengatakan tidak terus menerus kepada sang adik kesayangannya dia pun bisa menuruti keinginan adiknya itu dengan berpesan dahulu kepadanya agar berhati-hati.
"Baiklah adikku yang manis, kau boleh memanjat pohon mangga ini, tapi ingat kau harus berhati-hati dan perlahan dalam memanjatnya jangan terburu-buru dan aku akan berdiri di bawah sini untuk berjaga-jaga" ujarnya kepada detektif Zen saat itu.
Mendapatkan izin seperti itu dari sang kakak kedua detektif Zen langsung saja merasa sangat senang dia langsung tersenyum lepas dan menampakkan gigi bagian atasnya hingga ke gusi sambil mengangguk patuh dan segera saja mengangkat gaun yang dia pakai dan segera memanjat pohon mangga yang berukuran cukup besar hanya dalam beberapa saat saja.
Bahkan tingkah yang dilakukan oleh detektif Zen dan caranya memanjat pohon dengan cepat membuat kaget dan kagum kakak keduanya, karena pasalnya sang kakak sama sekali tidak pernah melihat adik kecilnya itu pernah memanjat pohon apapun sebelumnya.
"Wahhh ... Kenapa dia terlihat jauh lebih baik di banding aku ketika memanjat pohon mangga itu, apa aku memeng terlalu berlebihan dalam mencemaskan dia?" Gerutu sang kakak kedua An Chen yang tidak menduga saat melihatnya memanjat pohon dengan cepat saat itu.
Sedangkan detektif Zen sendiri hanya tersenyum mihat ke bawah dan dia langsung kembali memanjat naik keatas lalu mulai berusaha untuk meraih salah satu buah mangga yang ada di dekat kepalanya saat itu, dia berusaha untuk meraih buah mangga yang terlihat sudah berwarna ke orange-orangenan dan mangga itu cukup berukuran besar itu membuat seorang detektif Zen yang merupakan pecinta buah mangga tergiur melihatnya.
"Aaaahh... Buah mangga ini terlihat akan sangat manis, aku tidak tahan dengan godaan buah yang satu ini, aku harus mengambil buah yang banyak kali ini hehe" batin sang detektif Zen sambil tersenyum kecil.
Dia segera mengambil beberapa buah mangga dan melemparkannya ke arah sang kakak kedua An Chen yang ada di bawah dan meneriakinya dengan keras dan terus saja menyuruh dia untuk tetap berhati-hati dan mengambil mangganya dengan perlahan.
"Kakak ayo ambil buah manggaku ini, cepat kakak kedua ambil dengan baik jangan sampai buah mangganya lecet!" Teriak sang detektif Zen dari atas sana sambil langsung saja dia lemparkan salah satu buah mangganya ke arah sang kakak kedua saat itu.
Sedangkan di bawah sana sang kakak kedua An Chen terlihat kewalahan sebab detektif Zen melemparkan mangganya dengan jarak yang berdekatan sehingga dia cukup kesulitan untuk mengambil mangganya secara tepat bersamaan, dan hal tersebut membuat detektif Zen tertawa cukup lepas melihat sang kakak yang sibuk menangkap mangga yang dia lemparkan dari atas.
"Adik pelan-pelan sedikit dan lemparkan satu per satu kau harus menjaga dirimu diatas sana apa kau mendengarkan ucapanku!" Teriak sang kakak kedua memperingatinya saat itu.
"Mengerjai dia sekali tidak masalah bukan, lagi pula dia juga bukan kakak asliku, ahaha" batin detektif Zen yang memang terlahir dengan sikapnya yang seperti itu.
Namun sayangnya sang detektif Zen memang bukan seorang putri Xiao You yang akan patuh dengan semua ucapan kakaknya tetapi dia justru malah tidak mendengarkan ucapan sang kakak kedua An Chen dia terus saja mempermainkan kakaknya sendiri sambil menertawakan dia dengan keras.
"Ahahah... Kakak kedua kau sangat lucu sekali, lihatlah dirimu yang kewalahan ahahaha.... Ambil ini juga kakak" balas sang detektif Zen sambil kembali melemparkan buah mangga terakhir kepada An Chen saat itu.
Hingga akhirnya An Chen untung saja bisa menangkap semua mangga yang di lemparkan oleh detektif Zen dengan tepat menggunakan kedua tangannya saat itu dan dia mengumpulkan beberapa buah mangga yang matang di dekat pohon sampai dia mulai menatap dengan tajam dan merasa sedikit kesal dengan kelakuan adiknya itu yang sudah dengan sengaja mempermainkan dirinya.
Tapi disisi lain An Chen juga kembali merasa heran sebab adiknya Xiao You sama sekali tidak akan berani melakukan hal seperti itu kepadanya, pagi sampai mempermainkan dia berkali-kali secara sengaja dan malah menertawakan dia dengan seluas barusan.
__ADS_1