
Setelah mendengarkan pengakuan dari sang kakek tersebut, detektif Zen pun mulai mengerti sekarang bahwa memang ada hal yang janggal dengan buku tersebut dan memang sebaiknya buku seperti itu di hancurkan lebih awal agar tidak mengambil manusia lain lagi sebagai mangsanya, tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menghancurkannya sebab dia masih harus mengembalikan putri sang kakek yang bernama Meilan tersebut, juga mengembalikan sang raja api Lu Shi Cheng ke tempat dimana dia berasal sebelumnya.
"Jika benar begitu, maka kita memang harus menghancurkan buku terkutuk ini, tetapi saat ini kita harus menemukan putrimu dulu dan satu satunya cara untuk mengembalikan putrimu, aku mungkin harus masuk ke dalam dunia lain itu lewat portal di dalam buku ini, sekaligus harus mengembalikan sang raja api Lu Shi Cheng kembali." Ucap detektif Zen mulai mengutarakan pemikirannya saat itu.
"Aku pernah mencobanya, kau harus kembali pada waktu dimana kau pertama kali masuk ke dalam buku itu baru kau akan bertemu dengan putriku dan kau harus membawanya denganmu, dia kehilangan ingatannya dan dia malah merasa bahwa dirinya adalah ruh gunung sungguhan yang ada di dalam dunia kuno tersebut, padahal dia adalah Meilan putri kesayanganku satu satunya, kau harus menyadarkan dia baru dia bisa kembali ke dunia ini detektif Zen," ucap sang kakek terhadap detektif Zen dengan tatapan yang begitu serius sekali.
Detektif Zen semakin mengerti dengan apa yang dimaksud oleh kakek tersebut dan dia tahu dengan jelas bahwa memang dia juga tetap bisa kembali dari dunia aneh itu selama dia masih sadar dengan jati dirinya sendiri.
"Aku mengerti kakek, aku hanya meminta padamu agar kau tetap menjaga buku ini agar terus terbuka supaya portalnya juga tidak akan ikut tertutup, aku akan masuk ke dalam dengan raja api, apa kau mengerti maksudku?" Ucap detektif Zen meminta persetujuan dari sang kakek tersebut yang langsung mendapatkan anggukan kepala darinya.
Setelah sang kakek misterius itu menyetujui kesepakatan diantara mereka berdua detektif Zen pun meminta agar sang raja api melepaskannya sebab dia berada di pihak dirinya juga saat ini dan memiliki tujuan yang sama dengan apa yang dia maksudkan.
"Raja api tolong lepaskan kakek ini, dia bukan orang jahat dan dia bukan musuh kita, dia akan membantu kita untuk menyelesaikan misi misterius dan aneh ini." Ujar detektif Zen kepadanya.
"Tidak.. bagaimana jika dia menipu kita lagi sama seperti sebelumnya atau seperti penjaga di toko buku itu?" ucap sang raja api Lu Shi Cheng menolaknya saat itu.
"Ayolah raja api Lu Shi Cheng aku bisa menjaminnya, aku akan bertanggung jawab penuh jika sampai dia melakukan hal tersebut kepada kita." balas detektif Zen meyakinkan raja api saat itu.
Meski awalnya sangat sulit meyakinkan dia tetapi sang raja api Lu Shi Cheng pun akhirnya menyetujui keinginan sang kakek tersebut saat ini sehingga dia langsung saja melepaskan ikatan dari badan sang kakek dengan segera saat itu juga.
Mereka bertiga langsung masuk ke dalam gubuk tempat tinggal sang kakek tersebut dan buku terkutuk itu mulai di taruh di tengah-tengah meja tinggi yang ada di hadapan mereka saat itu, sang kakek mulai memberikan ancang-ancang kepada detektif Zen juga sang raja api untuk bersikap-siap bahwa dia akan segera membuka halaman di buku tersebut, tepat dimana kejadian pertama kali detektif Zen masuk ke dalam dunia kuno tersebut.
"Baiklah apa kalian berdua sudah siap?" Ucap sang kakek tersebut.
"Ya kami siap, buka sekarang." Balas detektif Zen yang di anggukkan oleh sang raja api Lu Shi Cheng juga saat itu.
Sang kakek mengangguk patuh dan dia dengan perlahan mulai membuka halaman di buku itu dengan satu tangannya sampai halaman dimana kejadian perang itu terjadi mulai terlihat oleh kami semua dan untuk beberapa saat memang tidak terjadi apapun saat itu sehingga mereka berpikir bahwa pemikiran mereka telah salah dalam mengira cara kerja buku terkutuk itu.
"Hah..ada apa ini, tidak mungkin buku ini rusak bukan? Kakek apa kau sungguh yakin bahwa ini buku yang benar?" Ucap detektif Zen mulai menatap tajam kepada sang kakek.
Namun wajah sang kakek juga terlihat kaget dan dia turut kebingungan sebab dia sudah sangat yakin bahwa buku itu adalah buku asli dan memang buku yang sudah dia dapatkan sebelumnya.
"Detektif Zen orang seperti aku ini tidak mungkin berani menipumu ataupun membohongi dirimu aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada buku ini." Balas sang kakek dengan wajahnya yang menampakkan sama bingungnya.
Sang raja api dan detektif hampir saja frustasi saat itu sampai ketika detektif Zen berusaha untuk memastikan keaslian buku itu dengan menyentuh bukunya dia mulai merasa ada yang aneh dimana saat tangannya menyentuh buku itu bukunya mulai mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan begitu menyilaukan.
Untungnya dia masih bisa menyadari tentang hal itu bahwa saat itu gerbang portalnya mungkin saja tengah terbuka sehingga detektif Zen dengan cepat langsung meraih tangan sang raja api dengan cepat dan mereka berdua seketika tersedot ke dalam buku tersebut dalam waktu sekejap saja.
"Aaarrkkkk...." Teriakkan sang raja api dan detektif Zen yang begitu cepat menghilang.
Sang kakek terbelalak kaget dan dia langsung saja menahan buku itu yang terus bergetar hendak tertutup kembali dia terus menahan buku tersebut dengan kedua tangannya dan dia benar-benar berharap detektif Zen bisa segera menemukan putrinya di dalam dunia aneh yang ada di balik buku terkutuk tersebut, sebab mereka bukanlah masuk ke dalam buku melainkan ke dunia dan masa yang berbeda seperti kembali ke masa lalu dengan jarak waktu yang begitu lama tetapi melewati portal aneh yang ada pada buku tersebut.
Sehingga aturanya akan sangat sulit untuk mereka berdua saat itu, detektif Zen mulai merasakan kejadian yang sama dengan apa yang dia rasakan dan apa yang dia lalui sejak dia pertama kali jatuh ke dunia yang tidak dia kenali saat itu, dia kembali jatuh menimpa sang panglima perang dari kerajaan suci di atas pangkuannya tepat tengah menaiki seekor kuda di tengah perang, persis sekali dengan kejadian yang pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Aaaahhh...brukk, astaga apa aku sudah kembali sekarang, aku mendarat di waktu dan keadaan yang sama seperti sebelumnya, dan jika aku tidak salah seharusnya sekarang aku berontak seperti orang gila dan berlari kepada sang raja api, dengan begitu aku akan bertu dengan Meilan di kediaman sang raja api atau mungkin saja dia sudah ada saat ini namun aku tidak menyadari keberadaan dia sebelumnya? Aahhh iya aku harus segera melepaskan diri dari orang ini." Batin detektif Zen saat itu.
Dia langsung saja berteriak dan berontak sama persis dengan apa yang dia lakukan pertama kali, dia harus kembali jatuh dari kuda atau lebih tepatnya sengaja menjatuhkan dirinya sampai berlari ke pihak sang raja api, terjatuh lagi di hadapannya dan mulai di bawa oleh sang raja api ke kerajaannya saat itu hingga mereka sudah berada di dalam kamar sang raja api saat itu.
Dan detektif Zen mulai bertanya kepadanya apakah dia sadar dan mengenali dirinya atau tidak.
"Raja api...apa kau mengingat semuanya? Apa kau kenal aku? Kenapa kau bersikap aneh dan sekaan kau seperti tidak mengenaliku? Apa kau sedang berperan seperti sebagaimana mestinya?" Tanya detektif Zen kepada sang raja api yang berdiri menatap tajam kepada dia saat itu.
Namun sayangnya sang raja api memang tidak bisa mengingat semua kejadian yang dia lalui sebelumnya sehingga saat itu dia terus saja mendesak detektif Zen sama persis dengan apa yang pernah dia lakukan sebelumnya.
"Siapa kau, dan kenapa kau tiba-tiba muncul dalam perang lalu berbicara seakan kau mengenali diriku?" Ucap sang raja api kepada detektif Zen saat itu.
Detektif Zen langsung saja membelalakkan matanya dengan lebar dia juga mengerutkan kedua alisnya dengan tajam, karena dia merasa tidak habis pikir sebab hanya dirinya saja yang bisa mengingat semua hal ketika beralih dari dunia lain ke dunia aneh ini, sedangkan adegan selanjutnya di mana dia akan menghantam dinding tak buku di kamar sang raja api sampai dia menjatuhkan buku itu sudah hampir terjadi, namun dia bahkan belum bisa menemukan keberadaan Meilan sama sekali, di tambah ini raja api malah tidak mengingat apapun.
Sehingga detektif Zen hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri sebelum semuanya terlambat.
Detektif Zen pun terus saja berusaha untuk mengingatkan sang raja api tentang siapa dirinya dan beberapa momen yang pernah dia lalui dengan sang raja api sebelumnya, bahkan detektif Zen sendiri mulai terus menahan tubuh sang raja api sampai ketika dia mencoba untuk mengingatkan sang raja api Meilan muncul di pojokan kamar tersebut dan dia tersenyum ke arahnya dia terus bersikap seakan dia benar-benar seorang ruh gunung yang suci sebagai utusan dewa di sana padahal dia adalah orang dari dunia lain yang tiba-tiba masuk dalam dunia ini dan mengubah sebagian kecil cerita di dalamnya dunia itu karena kemunculannya tersebut.
"Raja api tolong sadarlah, kau mengenali aku sebenarnya aku adalah detektif Zen aku bukan putri dari kerajaan suci, kau harus ingat aku pernah memboncengmu dengan kuda cepat yang selalu kau benci tapi aku selalu memaksa dirimu untuk menaikinya, aku orang pertama yang berani memotong rambut panjangnya itu, aku juga yang melepaskan mahkota kebesaran di kepalamu, aku bahkan pernah merampas pedang pusakamu, kau harus mengingat aku, kau harus ingat itu raja api, ini aku....tolong sadarlah demi aku!" Ucap detektif Zen berusaha terus mengingatkannya saat itu.
Sampai tiba-tiba saja sang raja api merasakan sakit di bagian kepalanya dan dia langsung mundur menjauh sambil memegangi kepalanya tersebut dan terus meringis kesakitan.
Meski saat itu detektif Zen sangat mencemaskan sang raja api tetapi dia harus mengabaikan hal itu sebab saat ini dia harus menangkap Meilan dahulu agar dia bisa membawa Meilan kembali ke dunianya dan membuat dia sadar akan jatuh diri dia sebelumnya.
"Aaaarrkkkk...kepalaku...aahh," ucap sang raja api meringis kesakitan dan terus mundur menjauh dari detektif Zen saat itu.
Terlebih di saat dia melihat wajah detektif Zen, sebab dalam bayanganya dia mulai mengingat momen-momen dirinya dengan detektif Zen meski secara acak dan dia terus saja mengulang bayangan itu dalam pikirannya sendiri sehingga membuat kepalanya terasa sakit saat itu.
Sedangkan detektif Zen tidak bisa terus memeganginya sebab dia melihat Meilan hampir saja akan menghilang lagi saat itu, dan dia harus segera menahannya sebelum semuanya terlambat lagi.
"Aaahhh.... Maafkan aku raja api Lu Shi Cheng, aku harus mengutamakan Meilan dahulu sekarang." Ucap detektif Zen sambil segera berlari dan memanggil nama Meilan sebagai tuh gunung agar dia bisa tetap berada disana.
"Ruh gunung tunggu! ruh gunung yang suci dan bijak sana utusan para dewa, aku mohon berikan aku berkat yang benar dan lurus, tolong sentuh tanganku, dan tolong ingatlah siapa dirimu sebelumnya, tepat sebelum kamu berubah menjadi ruh gunung seperti ini di dunia yang sebenarnya tidak pernah kamu ketahui," ucap detektif Zen kepada Meilan saat itu dan dia mengulurkan tangannya mengajak Meilan untuk meraih tangannya.
Detektif Zen terus saja berharap agar Meilan mau menerima uluran tangannya saat itu, dengan tatapan mata yang begitu penuh harapan detektif Zen terus saja tidak berhenti berbicara untuk mengingatkan Meilan tentang siapa diri dia sebenarnya.
"Kau bukan ruh gunung, tetapi kau adalah manusia, sama seperti aku, kau memiliki nama dan namamu adalah Meilan, kau bahkan ingin melamar pekerjaan padaku, kau adalah Meilan asisten pribadi detektif Zen yang baru saja di terima bekerja dengannya namun kau malah terjebak ke dalam dunia aneh dalam portal yang bisa menghapus ingatan seseorang tentang jati dirinya, kau harus berusaha keras mengingat siapa dirimu sebelum kau menjadi ruh gunung, kau bukan di pilih para dewa kau hanya terjebak di dunia yang tidak seharusnya kau tinggali," ucap detektif Zen terus saja berbicara saat itu.
Hingga Meilan mulai berpikir dan sepertinya dia mulai mengingat sedikit demi sedikit hal-hal yang pernah dia lakukan di dunia sebelum dia masuk ke dalam dunia aneh ini dan tiba-tiba menjadi ruh gunung disana.
Meilan mulai hendak menerima uluran tangan dari detektif Zen saat itu, dia terus saja mengerutkan kedua dahinya hingga dia berhasil menerima uluran tangan dari detektif Zen dan detektif Zen tidak bisa membuang waktu lagi dia langsung saja menarik Meilan dengan kuat kedalam pelukannya saat itu hingga Meilan sudah tidak melayang di udara lagi dan dia sudah tidak bercahaya seperti sebelumnya.
Dia jatuh dalam pelukan detektif Zen dan sudah benar-benar mengingat siapa diri dia sebenarnya saat itu.
__ADS_1
"Aahhh....kau...kau detektif Zen, kenapa kita bisa ada disini?" Tanya Meilan yang baru saja tersadar saat itu.
"Aku akan menjelaskannya nanti tetapi sekarang kita harus segera mencari buku itu dulu, dengan aku baik-baik Meilan jangan pernah lepaskan pegangan tanganmu dariku apa kau mengerti?" Ucap detektif Zen kepada Meilan saat itu.
Meski Meilan sendiri tidak mengerti dan dia masih kebingungan dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada dirinya saat itu, tetapi dia hanya bisa mengangguk dan menuruti apa yang diucapkan oleh detektif Zen saat itu.
Hingga saat detektif Zen sibuk mencari buku misterius tersebut, sang raja api sudah bangkit dan dia mulai menarik tangan detektif Zen yang tengah mencoba mencari buku tersebut di antara rak buku yang ada di sekitar sana.
"Aaahhh..dimana bukunya....dimana buku itu, aku harus cepat menemukannya, kakek pasti sudah tidak tahan menahan buku itu di sana," gerutu detektif Zen terus saja berusaha mencari buku itu seorang diri karena Meilan sama sekali tidak mengetahui apapun saat itu.
Sampai tiba-tiba sang raja api menarik tangan detektif Zen dan mendorong detektif Zen ke dinding sampai membuat Meilan sempat terlepas dari pegangan detektif Zen saat itu, namun dengan cepat Meilan untungnya kembali memegangi tangan detektif Zen lagi saat itu.
"Aahhh.... brukk," suara detektif Zen yang tubuhnya menghantam rak buku di sana.
"Meilan jangan lepaskan tanganku apapun yang terjadi apa kau dengar!" Teriak detektif Zen yang saat itu di bawah tekanan sang raja api yang terus saja mendesak dia dan mendekatkan dirinya ke hadapan detektif Zen saat itu.
Meilan dengan cepat kembali meraih tangan detektif Zen meski dia sangat takut dan hampir saja akan mem*kul sang raja api saat itu, namun untungnya detektif Zen menghentikan Meilan tepat waktu.
"Jangan Meilan dia tidak jahat!" Ucap detektif Zen yang membuat Meilan mengurungkan niatnya itu dan dia dengan perlahan menurunkan tangannya.
"Tapi detektif Zen dia mendesak mu begitu?" balas Meilan saat itu mencemaskan detektif Zen.
"Tidak. Jangan lakukan apapun dan biarkan ini menjadi urusanku dengannya," balas detektif Zen saat itu dengan tegas padanya.
Sedangkan sang raja api terus mendekati detektif Zen hingga jarak diantara mereka begitu sangat dekat dan sang raja api Lu Shi Cheng tiba-tiba saja mengacungkan tangan sebelahnya yang membawa buku misterius tersebut.
"Apa ini yang kau cari?" Ucap sang raja api Lu Shi Cheng kepada detektif Zen saat itu.
Detektif Zen terbelalak dan dia sangat senang ternyata buku itu ada di tangan sang raja api, dia langsung meminta raja api memberikan buku itu padanya namun sang raja api justru tidak memberikannya dengan mudah, dia terus saja menyangka dan mencurigai detektif Zen sebagai penyusup di kerajaan miliknya sama seperti tuduhan yang sang raja api berikan saat pertama kali detektif Zen bertemu dengannya.
"Aahh .. syukurlah bukunya ada di tanganmu, berikan aku buku itu raja api, aku harus segera kembali dan kau juga akan menjalani hidupmu yang normal lagi seperti biasanya," ucap detektif Zen kepadanya saat itu.
"Tidak...aku tidak akan memberikan buku ini kepada orang sembarangan sepertimu, tidak ada yang boleh membuka buku ini siapapun itu, meski aku pernah membukanya dahulu, siapa kau sebenarnya, apakah kau pengusup, kerajaan mana yang telah mengutus penyusup cerdik seperti dirimu?" Ucap sang raja api membuat detektif Zen benar-benar tidak habis pikir dengannya saat itu.
"Aishh ..... Raja api Lu Shi Cheng, apa semudah itu kau melupakan aku hah? Ini aku detektif Zen apa kau benar-benar lupa, aku detektif Zen aku orang yang memberimu mie instan dan aku yang selalu membantumu, kau ingat giok di tanganmu kau sudah tidak memilikinya lagi karena kau menjual giok itu untuk memberiku uang." Ucap detektif Zen kepadanya lagi saat itu.
Hingga sang raja api Lu Shi Cheng mulai mengerutka kedua alisnya sambil menatap ke arah tangannya dan dia mulai memeriksanya sendiri hingga dia mulai menemukan suatu ucapan dari detektif Zen yang nyata dimana gelang giok miliknya benar-benar tidak ada di tangannya lagi, dan dia kebingungan sampai mengingat kejadian yang aneh di dalam kepalanya saat itu.
Padahal ingatan itu adalah ingatan dimana dia bersama dengan detektif Zen pada dunia nyata saat dia menjual gioknya tersebut dan serangkaian kejadian lainnya yang pernah dia alami saat bersama detektif Zen.
Hingga dia mulai tidak sengaja menjatuhkan buku yang ada di tangannya ke lantai karena kaget mengingat kejadian tersebut termasuk mengingat tentang detektif Zen saat itu, hingga buku tersebut jatuh dalam posisi terbuka dan cahaya mulai memancar namun dengan cepat sang raja api mendekati detektif Zen dan dia mencium bibirnya tanpa aba-aba saat itu sambil mengatakan kalimat yang membuat detektif Zen ragu sebab saat itu dia sudah hampir tersedot ke dalam portal dalam buku tersebut.
"Much...aku mengingatmu, aku menyukaimu detektif Zen." Ucapan dari sang raja api setelah mencium bibir detektif Zen dengan singkat dan detektif Zen tidak sempat menarik sang raja api bersamanya saat itu, dia langsung tersedok masuk ke dalam portal di dalam buku itu yang sangat menyilaukan matanya hingga dia gagal menarik sang raja api dengan dirinya saat itu dan hanya membawa Meilan saja saat itu.
__ADS_1
"Arrtkkkkkk..." teriak Meilan saat itu yang kaget tubuhnya tiba-tiba saja terseret oleh detektif Zen yang menggenggam tangannya dengan erat, sedangkan dia mulai masuk dengan sekejap pada portal tersebut.
"Raja api...... Lu Shi Cheng..." teriakkan terakhir detektif Zen saat itu dengan air mata yang jatuh di pelupuk matanya dalam satu kedipan saja saat itu.