Detektif Zen

Detektif Zen
Tuduhan


__ADS_3

"Ya ampun kenapa dia malah mengelus kepalaku dan memelukku seperti ini, aahhh aku benar-benar akan mati karena meleleh dengan sikap manisnya ini" batin detektif Zen yang terus saja merasa sangat tidak nyaman sebab dia tidak terbiasa mendapatkan hal seperti itu.


Saat itu detektif Zen benar-benar merasa gugup dan tidak menentu karena sebelumnya jelas sekali dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu, sehingga selain gugup dia juga merasa geli dan tidak nyaman langsung saja detektif mendorong pelan kakak keduanya An Chen tersebut karena dia tidak bisa berlama-lama berpelukan dengan seorang pria serta penuh kasih sayang seperti itu.


"AA ...AA...ahaha... kakak kedua kau jangan memelukku secara tiba-tiba seperti itu lagi ya aku tidak nyaman" ucap detektif Zen begitu saja membuat sang An Chen merasa heran dan mengerutkan kedua alisnya dengan cepat.


Detektif Zen yang melihat itu dia pun segera membenarkan maksud dari ucapannya agar kakak kedua putri Xiao You tersebut tidak menaruh kecurigaan terhadapnya dan tidak berpikiran yang macam-macam lagi kepadanya.


"Ouuhh ... Tidak kak maksud aku bukan seperti yang kamu pikirkan, aku bicara seperti itu karena aku pikir sekarang aku sudah besar dan dewasa aku bukan anak kecil lagi dan usiaku sudah tujuh belas tahu bukan? Jadi aku sudah benar-benar dewasa sekarang tidak enak jika berpelukan denganmu terlalu lama haha....iya begitu maksudku" ucap detektif Zen yang akhirnya berhasil membuat alasan untuk menyelamatkan dirinya sendiri.


Detektif Zen terus saja tersenyum secara paksa dengan memperlihatkan giginya yang putih dan rapih kepada kakak keduanya An Chen agar sang kakak kedua tersebut bisa mempercayai ucapannya hingga tidak lama akhirnya An Chen kembali bersikap seperti semula lagi dan dia sudah merubah raut wajah yang mencurigai detektif Zen sebelumnya.


"Adik.... Meski kau sudah berusia tujuh belas tahu ataupun hingga lima puluh tahun, bagiku kau tetap adalah adik kesayanganku aku akan tetap menganggap mu sebagai gadis kecilku, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak ketika aku memelukmu aku ini kan kakakmu" balas sang kakak kedua An Chen kepada detektif Zen.


Detektif Zen langsung membelalakkan matanya karena dia benar-benar telah salah mengira jika kakak keduanya akan mempercayai alasan yang dia buat dan akan berhenti untuk tidak memeluknya lagi secara sembarangan sebab saat itu An Chen masih kembali memeluk detektif Zen lagi dan lagi.


"Aishh.... Dasar manusia bodoh ini, aku keberatan dan aku tidak nyaman karena aku bukan adik kandungmu bodoh, apa dia tidak mengerti aku sama sekali bukan putri Xiao You tersebut aahhh andai aku bisa memberitahunya, semua ini tidak akan terjadi kepadaku" batin detektif Zen yang terus menggerutu kesal sendiri.


Sampai dia mulai memiliki sebuah ide yang cukup bagus dalam kepalanya dan langsung saja segera mendorong kakak keduanya dengan cepat agar menjauh dari dirinya dan mengajak dia untuk segera kembali ke istana secepatnya.


"Aahhh... Kakak ayo kita kembali saja ke istana pasti kakak kedua akan mencari keberadaan kita sekarang, kita sudah terlalu lama bermain disini" ucap detektif Zen sengaja mengalihkan pembicaraan.


Untungnya kakak kedua An Chen tidak terlalu berfokus dengan pembahasan yang sebelumnya sehingga dia langsung saja menganggu dan menggandeng detektif Zen lalu membantunya untuk kembali meloncat dan memanjat benteng tinggi tersebut.


Meski sebelumnya detektif Zen merasa cukup tersentak kaget karena ada seorang pria yang untuk pertama kalinya benar-benar berperan melindungi dia juga menjaganya sampai ke detail kecil seperti itu, dia benar-benar merasa sang kakak kedua An Chen seperti saudaranya sendiri.


Dan karena kebaikan sang kakak kedua putri Xiao You tersebut, detektif Zen merasa ingin memiliki seorang kakak laki-laki juga karena dia sungguh ingin di perlakukan seperti itu di dunianya nanti dengan siapapun yang lebih tua darinya yang bisa menjadi kakak sungguhan untuknya bukan kakak bohongan seperti ini.

__ADS_1


"Adik....kenapa kau terdiam, ayo kita temui kakak pertama di singgasananya" ucap sang kakak kedua An Chen menyadarkan lamunan detektif Zen,


Mendengar itu detektif Zen langsung saja tersadar dan dia menggelengkan kepalanya tersentak sedikit kaget sampai langsung mengangguk dan segera pergi ke sana bersama sang kakak kedua An Chen saat itu.


"Andai dia benar-benar kakakku pasti aku akan menjadi manusia paling beruntung di dunia ini, sayangnya dia kakak putri Xiao You yang tidak aku kenal bukan kakakku, dia bukan siapa-siapa bagiku dan aku tidak boleh terhanyut dengan semua kebaikan yang dia berikan untukku karena semua itu pada dasarnya di berikan untuk adiknya Xiao You bukan aku" batin detektif Zen yang terus berusaha menahan dirinya agar dia tidak menyayangi pria yang seperti kakak tersebut.


Saat sampai di ruangan tempat dimana singgasana berada nampak disana dia lihat ada sang kakak pertama yang kini sudah menjadi seorang raja yang tak lain adalah raja Ming Hao yang perkasa di kiri dan kanannya juga masih ada sangantan Ratu juga Raja yang tidak lain adalah kedua orang tua dari kakak pertama dan kakak.keduanya tersebut.


Saat detektif Zen berjalan bersama dengan kakak keduanya An Chen ke tempat itu mendekati singgasana namun wajah sang raja terlihat mulai pucat dan dia tiba-tiba saja jatuh ke lantai hingga semua orang menjadi panik dan cemas terhadap keadaannya.


"AA..aaahhhh....." Ringis sang Baginda raja sebelumnya yang memegangi dadanya dengan kuat.


Jelas sekali terlihat dia seperti mencengkram dadanya itu sangat kuat dan wajahnya memperlihatkan dia menahan rasa sakit yang teramat sangat besar dalam tubuhnya saat itu sampai dia kehilangan keseimbangan pada dirinya dan jatuh langsung tidak sadarkan diri di lantai tepat di hadapan sang ratu juga putranya yang telah menjadi raja kala itu.


"Ayah handa apa yang terjadi dengan bangun ayah....bangun ayah handa bangun!" Teriak sang kakak pertama raja Ming Hao sambil memegangi kepala sang Baginda raja sebelumnya.


Sayangnya Baginda Raja tetap tidak bangun juga sampai sang putra pertama langsung menggendongnya dan membawa sang Baginda raja ke ruang kamar peristirahatan miliknya, Ratu juga terlihat cemas dan dia mulai menangis terisak melihat keadaan suaminya yang terkulai lemas tidak sadarkan diri.


"Kau.....untuk apa kau datang kemari, semua ini pasti karenamu kan, kau menyimpan dendam kepada suamiku dan membuat dia menderita dengan rasa sakit yang tidak ada obatnya sama dengan penyakit yang di idap oleh ibuku bertahun-tahun yang lalu, iya kan!" Bentak sang ratu sambil terus menangis.


Detektif Zen yang mendapatkan bentakan tidak jelas seperti itu dia hanya bisa menatapnya dengan kebingungan dan merasa sangat heran, sebab dia sama sekali tidak mengerti apa yang tengah di katakan oleh sang ratu kepadanya, dia tiba-tiba saja menuduh dirinya sebagai penyebab dari pingsannya sang raja padahal saat itu detektif Zen juga baru masuk ke dalam istana juga tidak mengetahui apapun yang terjadi sebelumnya.


Kakak kedua An Chen langsung saja melindungi adiknya putri Xiao You dan dia bahkan rela melawan ucapan dari ibunya dengan nada yang cukup tinggi dan penuh berani.


"Cukup ibunda, apa yang mau bicarakan adik Xiao You sedari tadi bersamaku dan dia sama sekali tidak pernah berpaling dari pandanganku tidak mungkin dia melakukan itu kepada sang raja, ayah handa memang sudah divonis oleh tabib bahwa dia mengidap penyakit yang langka pada paru-parunya yang menyebabkan dia selalu mengalami sesak nafas, juga jantungnya yang lemah, meski tidak ada obat atas penyakit tersebut tetapi semua itu jelas tidak di lakukan oleh adik Xiao You, kau jangan berani memfitnah dia seperti itu!" Bentak sang kakak kedua membelanya.


Detektif Zen yang mendengar apa yang dikatakan oleh kakak keduanya An Chen dia merasa mengenal penyakit semacam itu di dunianya dan penyakit seperti itu adalah penyakit yang biasa juga tidak terlalu berbahaya di dunianya lagi pula masih banyak obat yang bisa menyembuhkan penyakit sesak pada dadanya ataupun lemah pada jantungnya, detektif Zen hanya merasa bingung bagaimana bisa penyakit seperti itu bisa langsung membuat sang raja jatuh pingsan tidak sadarkan diri dengan memegang dadanya seperti itu, penyakit seperti itu tidak akan kambuh jika tidak ada pemicu yang di buat, itulah yang terus di pikirkan oleh detektif Zen saat itu.

__ADS_1


Namun meski sang kakak kedua An Chen sudah berkata seperti itu dan membela putri Xiao You tetap saja sang ratu terus mendesaknya dan menunjuk ke arah wajah detektif Zen yang masih kebingungan memikirkan penyakitan apa yang sebenarnya terjadi pada sang raja dan apa pemicu yang menyebabkan sang raja bisa mengalami kambuh pada penyakitnya tersebut.


"An Chen kau adalah putraku kenapa kau membelanya sudah jelas dia adalah alasan dan penyebab sang raja ayah handamu menjadi seperti ini, apa kau tidak ingat bagaimana ibunya selir yang tidak tahu diri itu mati? Dia mati karena penyakit aneh yang langka dan banyak ruam merah di tubuhnya, lalu lihatlah kini sang raja mendapatkan hasil yang sama dia juga memiliki beberapa ruam di tumbuhnya juga menderita sesak di dadanya dalam waktu yang lama hingga dia seperti ini, itu sudah jelas bahwa dialah pelakunya, dia dan ibunya adalah pembawa sial, dan juga pembawa penyakit menular!" Bentak sang Ratu sambil menunjuk dengan lurus dan di penuhi emosi serta kebencian kepada detektif Zen yang saat itu di kira sebagai putri Xiao You oleh mereka semua.


Detektif Zen yang tidak terima di fitnah seperti itu oleh seorang wanita tuan yang sangat menjengkelkan tentu saja dia akan melawannya dan detektif Zen langsung saja menepis tangan sang ratu yang menunjuk ke wajahnya saat itu lalu dia menjawab ucapan sang ratu dengan kalimat yang tajam dan menohok.


"Hentikan ucapanmu yang terus menuduhku Ratu.... Aku baru saja tiba di hadapan sang raja Ming Hao dan juga ayah handa tetapi dia tiba-tiba saja jatuh tidak sadarkan diri, menurutmu hal ganjal dimana yang kau temukan sampai kau bisa menuduhku tanpa sebuah bukti sedikitpun? Apa kau memang sebenci itu terhadapku dan ingin menyingkirkan aku dari kerjaan ini sampai harus membuat banyak drama seperti ini?" Ucap detektif Zen melawannya.


Sang ratu sangat kaget dan langsung terbelalak lebar membuka matanya, dia merasa tidak menyangka dan sangat syok ketika mendengar putri Xiao You yang dulu sangat lemah dan selalu berhasil dia desak juga selalu kalah dalam hal apapun kini tiba-tiba saja berubah dan berani melawan dirinya dengan membalas ucapannya seperti itu.


"Kau....kau berani beraninya bicara membalasku dengan lantang seperti itu, kau harus di beri hukuman yang setimpal!" Balas sang ratu yang saat itu hampir menampar detektif Zen.


Namun untungnya sang raja Ming Hao yang merupakan kakak pertamanya putri Xiao You dengan cepat menahan tangan ibundanya yang membuat sang ratu semakin kesal karena dia tidak berhasil melayangkan tangannya kepada detektif Zen saat itu.


"Eughhh ... Ming Hao lepaskan tanganku, apa kau juga sekarang berpihak kepada mereka hah?" Ucap sang ratu masih dengan tatapannya yang cukup menyeramkan,


"Cukup ibunda, apa yang dikatakan oleh adik Xiao You memang benar, ibunda tidak bisa memfinah dia seperti itu tanpa bukti, juga tidak ada di tempat tersebut saat itu dan baru datang ketika ayah mulai merasakan penyakitnya lagi, bisa saja itu hanya sebuah kebetulan dan tidak ada penyakit menular atau sebuah kutukan lainnya di dunia ini" ucap sang raja Ming Hao yang akhirnya bisa menghentikan sang ratu.


Dia menghempaskan tangannya dan langsung pergi mendekati sang raja, dia berdiri di samping sang raja yang terlihat masih sadarkan diri lalu kembali menangisi sang raja sambil menggenggam tangannya dan terus seakan tengah mengadu pada sang raja atas perlakuan kedua putranya tersebut.


"Sayang libatkan kedua putra kita yang kita besarkan dengan didikan juga semua pengajaran justru malah berani melawanku, mereka tidak memperdulikan mu atau aku lagi, kita telah gagal raja hiks...hiks...hiks.." ucap sang ratu yang membuat detektif Zen sangat muak ketika melihatnya.


Dia terus menatap tajam ke arah sang ratu yang terus membuat drama hingga membuat sang kakak pertama dan kakak kedua langsung saja menghampiri dia lalu mereka berdua meminta maaf kepada sang ratu sebagai ibu mereka hingga mengacuhkan detektif Zen yang masih berdiri di depan pintu seorang diri saat itu.


"Ibunda maafkan kami tapi kami sama sekali tidak membela salah satu diantara kalian, sebab kalian berdua sama-sama dua wanita yang sangat kami cintai, kita adalah keluarga ibunda ingatlah pesan ayah handa bahwa kami semua harus tetap rukun dan memajukan istana serta kerjaan ini bersama-sama" ucap sang kakak pertama raja Ming Hao sambil menggenggam tangan sang Ratu.


"Iya ibunda, aku juga meminta maaf kepadamu karena sudah berani membentakmu, maafkan aku ibunda" tambah sang kakak kedua sambil membungkukkan badannya meminta maaf.

__ADS_1


Sang ratu pun segera memeluk kedua putranya itu dan seakan dia memaafkan kesalahan kedua putranya padahal justru dialah yang sebenarnya melakukan kesalahan dan seharusnya dia juga yang meminta maaf kepada detektif Zen karena sudah menuduh dia sembarangan hingga membuat kekacauan seperti ini.


"Dia benar-benar wanita siluman ular, dia menatap tajam penuh kebencian kepadaku disaat berpelukan dengan kedua putranya, lihat saja aku akan membongkar kebusukanmu wanita jahat!" Batin detektif Zen yang saat itu mendapatkan tatapan sinis dari sang Ratu.


__ADS_2