
"Huuh... akhirnya dia tidur juga, aku lebih baik berjaga sepanjang malam daripada harus membangun dia, yang ada aku akan mendapatkan semprotan lagi darinya aahhh aku tidak berani" gerutu sang adik Bian Cheng yang memang takut pada kakaknya sendiri.
Memang amarah dari seorang raja api Lu Shi Cheng ini tidak bisa di sepelekan, dia memiliki badan yang sangat gagah dan tangguh dalam perang, bahkan sejak kecil dia sudah bisa mengalahkan pimpinan musuh dan menyelamatkan sang raja dari kerajaan suci apalagi sekarang di saat tubuhnya sudah besar dan pikirannya semakin dewasa.
Dia terlihat semakin menakutkan hingga tidak ada kerajaan manapun yang berani menyerangnya kecuali kerajaan suci yang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak lama.
Malam semakin larut, jam sudah berlari sedikit demi sedikit hingga seorang panglima perang Bian Cheng sendiri mulai menguap beberapa kali dan dia terlihat cukup mengantuk saat itu, api unggun yang tengah dia jaga juga sudah mulai mengecil dan semakin terlihat padam sedikit demi sedikit saat itu hingga tidak lama kemudian kakaknya sang raja api Lu Shi Cheng bangkit terbangun dan dia mulai mengerjakan matanya melihat sang adik Bian Cheng yang saat itu hampi saja jatuh tersungkur ke depan tempat dimana api unggun yang dia buat berada.
Dengan cepat raja api Lu Shi Cheng bangkit tanpa memperhatikan bahwa detektif Zen masih berada duduk di sampingnya dan menyandarkan kepalanya pada bahu sebelah kanan sang raja api saat itu, sehingga disaat raja api berlari menahan adiknya Bian Cheng agar tidak sampai jatuh pada api unggun yang terlihat masih sedikit menyala detektif Zen justru malah jatuh tersungkur ke tanah dan tentu saja dia langsung terbangun dengan kesal saat itu.
"Adik ..awas...." Ucap Lu Shi Cheng menahan adiknya dan Bian Cheng sendiri langsung tersadar dari kantuknya karena dia sudah merasakan tubuhnya di tahan oleh sang kakak sambil segera menjauh saat itu.
Sedangkan detektif Zen yang jatuh tersungkur dia langsung meringis kesakitan dengan memegangi jidatnya yang saat itu tergores pada batu yang tajam disana hingga keningnya terlihat sobek sedikit dan mengeluarkan darah segar saat itu.
"Aaaahhhh.....AA..aawww....aishh kenapa aku malah jatuh" ucap detektif Zen sambil memegangi keningnya dan dia berusaha untuk bangkit berdiri namun dia masih terlihat linglung sendiri.
"Aishh.....kenapa aku bisa terjatuh begini sih, bagaimana cara aku bangun, sulit sekali" gerutu detektif Zen yang kesulitan untuk bangkit saat itu.
Sebab saat itu detektif Zen terjatuh ketika dirinya tertidur dengan sangat lelap sebelumnya dia pun kesulitan untuk bangun sebab belum mendapatkan kesadaran sepenuhnya, sang raja api Lu Shi Cheng juga Bian Cheng yang mihat hal tersebut mereka langsung saja menatap ke arah detektif Zen yang jatuh tersungkur dan melihat detektif sudah berbaring di tanah dan terlihat meringis kesakitan saat itu.
Sang raja api Lu Shi Cheng saling tatap dengan adiknya Bian Cheng dan membelalakkan matanya sangat kaget, dia juga langsung saja melepaskan pegangan pada adiknya dengan cepat lalu langsung saja bergegas menghampiri detektif Zen dan membantunya untuk berdiri saat itu.
"Ya ampun putri Xiao You...apa kau baik-baik saja?" Ucap sang raja api Lu Shi Cheng sambil segera membantu deteksi Zen bangkit.
Detektif Zen terus saja memegangi dahinya yang benar-benar terasa perih juga sakit saat itu, dia juga bukan tipe wanita yang akan berpura-pura baik-baik saja ketika memang dia kesakitan saat itu.
"Sakit.....keningku sakit, aahhh sepertinya ini tergores" balas detektif Zen sambil terus memegangi keningnya.
Sang raja Api Lu Shi Cheng yang mendengar itu dia langsung saja menarik tangan detektif Zen dan mencoba untuk memeriksa luka di kening detektif Zen saat itu secepatnya bahkan Bian Cheng juga sama kagetnya ketika mendengar hal tersebut dan dengan cepat dia menghampiri detektif Zen juga dengan wajah yang terlihat cukup cemas.
Sampai ketika sang raja api Lu Shi Cheng menarik tangan detektif Zen yang menutupi lukanya tersebut dia mulai melihat kening detektif yang benar-benar tergores cukup panjang juga terlihat darah keluar dari luka tersebut, dia merasa sangat panik begitu juga dengan sang adik Bian Cheng.
"Astaga....kakak dahinya benar-benar terluka apa yang harus kita lakukan untuk mengobatinya, kita sama sekali tidak membawa perlengkapan apapun" ujar sang adik Bian Cheng dengan panik menatap ke arah kakaknya raja api Lu Shi Cheng.
"Dia terluka seperti ini aku harus segera mengobatinya bagaimana pun caranya" batin sang raja api Lu Shi Cheng yang mencemaskan keadaan detektif Zen.
Lu Shi Cheng juga tidak diam saja dia terus berpikir untuk mengobati lukanya hingga dia langsung saja meminta adiknya Bian Cheng agar menjaga putri Xiao You di tempat itu sejenak sedangkan dia hendak pergi mencari tanaman obat yang bisa mengobati luka tersebut untuk sementara.
"Adik...begini saja kau tunggu disini dan tolong jaga putri Xiao You ini dengan baik, aku akan segera kembali dengan membawa tumbuhan obat" ujar sang raja Api Lu Shi Cheng.
Adiknya merasa sangat cemas jika sang raja harus pergi ke hutan berjalan sendirian di malam hari yang gelap seperti ini untuk mencari tanaman obat sehingga dia langsung saja menahannya dan memberikan usulan agar dirinya yang pergi untuk mencari tanaman obat tersebut sendiri.
"Tunggu kakak... sebaiknya kau saja yang disini menemani putri Xiao You, biar aku yang mencari tanaman obatnya, aku lebih mengenal hutan ini dengan baik jadi aku bisa menemukan tanaman itu lebih cepat" ujar sang adik Bian Cheng sengaja beralasan padahal dia sendiri sebenarnya tidak benar-benar tahu dimana letak tumbuhnya tanaman obat yang biasa di pakai untuk mengobati luka seperti ini.
Karena adiknya sudah mengatakan demikian tentu saja sang raja api Lu Shi Cheng menyetujuinya dengan cepat hingga dia langsung memegangi kedua pundak detektif Zen yang terlihat masih terus meringis kesakitan sambil segera menyuruh adiknya pergi mencari tanaman obat tersebut secepatnya.
"Baiklah adik, cepatlah kau pergi dan berhati-hatilah" ujar sang kakak Lu Shi Cheng saat itu.
"Baik kak, aku akan segera kembali secepatnya" balas Bian Cheng yang langsung saja mengambil salah satu batang ranting dengan api di tangannya dan pergi ke dalam hutan seorang diri untuk mencari tanaman obat bagi detektif Zen saat itu.
__ADS_1
Padahal lukanya tersebut juga tidak terlalu parah namun kedua orang tersebut memang mengkhawatirkanmu detektif Zen terlalu berlebihan entah karena dia seorang wanita atau seorang putri dari kerajaan suci, dan atau memang karena dia akan menjadi seorang ratu di kerajaan api nantinya.
Detektif Zen sudah menyuruh sang raja Api Lu Shi Cheng tersebut agar tidak terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan dirinya sendiri saat itu sebab dia masih bisa menahan rasa sakit di keningnya tersebut.
"Hey...kenapa kau menatapku seperti itu, sudahlah aku baik-baik saja kau tidak perlu mencemaskan aku, ini hanya luka sedikit saja walau memang terasa nyeri" ujar detektif Zen saat itu.
Detektif Zen mengatakan itu karena sebenarnya dia merasa sangat tidak nyaman mendapatkan tatapan sedekat itu dari seorang raja api Lu Shi Cheng, di tambah dengan wajahnya yang terlihat begitu tegang juga selalu menyeramkan baginya membuat dia benar-benar tidak nyaman ketika mendapatkan tatapan seperti itu.
Tapi walau sudah di bicarakan seperti itu raja api Lu Shi Cheng tetap saja merasa sangat mencemaskan detektif Zen dia tetap memeriksa luka di dahi detektif Zen dengan begitu teliti bahkan dia mencoba untuk meniupinya agar rasa sakit tersebut tidak semakin terasa besar pada detektif Zen sendiri.
"Diam! Aku hanya mencoba meredakan rasa sakitnya, kau tidak perlu berpura-pura kuat di hadapanku karena aku jauh lebih kuat darimu putri Xiao You" balas sang raja ali Lu Shi Cheng dengan menatap lekat pada detektif Zen saat itu.
Wajah mereka bertemu begitu dekat hingga detektif Zen merasa sedikit tidak nyaman dan jantungnya terasa berdebar cukup kencang saat itu hingga tidak lama kedatangan sang adik Bian Cheng membuat mereka berdua langsung memalingkan pandangan secepatnya ke arah Bian Cheng yang sudah kembali dengan membawa tanaman obat yang sesuai.
"Kakak ..kakak...aku sudah membawanya, ini tanaman obat yang kau maksud, ayo cepat berikan kepadanya kak" ujar sang adik Bian Cheng yang sama khawatirnya kepada putri Xiao You saat itu.
Melihat sang adik sudah kembali dengan membawa tanaman yang benar, raja api Lu Shi Cheng langsung saja mengambil tanaman itu dengan cepat dan dia langsung mengambil batu yang ada disana lalu menumbuk dedaunan yang tidak detektif Zen kenali sedikitpun sampai halus lalu terlihat sang raja api Lu Shi Cheng mengambil sedikit dari dedaunan tersebut sambil segera hendak menempelkannya kepada jidat detektif Zen yang terluka.
Sedangkan detektif Zen sendiri yang melihat hal tersebut dia merasa sangat kaget dan cemas sendiri karena sebelumnya dia sama sekali tidak pernah memakai tanaman seperti itu untuk mengobati lukanya sehingga dia cukup merasa takut saat sang raja api Lu Shi Cheng hendak memberikan obat tersebut pada luka di keningnya.
"E...e..ehhh...tunggu apa yang mau kau berikan kepada luka di jidatku, kau yakin ini akan membuatnya sembuh, bagaimana jika itu bukan tanaman yang benar dan malah membuat luka di jidatku semakin parah nantinya?" Tanya detektif Zen sambil menahan tangan sang raja Api Lu Shi Cheng dengan cepat.
Raja api dan Bian Cheng langsung saja menatap dengan heran ke arah wajah detektif Zen sambil mengerutkan kedua alis mereka bersamaan saat itu, karena mereka berdua merasa sangat heran sebab semua orang pasti akan mengetahui bahwa tanaman tersebut adalah tanaman yang paling bagus dan selalu ampun untuk mengobati luka tanpa meninggalkan bekas sedikitpun kepada bagian yang terluka tersebut nantinya.
Tetapi disini seorang putri dari kerajaan suci sama sekali tidak mengetahui hal tersebut dan justru malah terlihat ragu juga ketakutan saat mengetahui dia akan menempelkan obat alami seperti itu pada lukanya sendiri.
"Hey ... putri Xiao You apa kau sama sekali tidak tahu tanaman apa yang baru saja kakakku tumbuk untukmu?" Tanya sang adik Bian Cheng memastikannya saat itu,
Bian Cheng dengan raja api Lu Shi Cheng langsung saja menatapnya dengan wajah yang terlihat kaget dan seperti menahan tawa ketika mendengar ucapan dari detektif Zen yang mengatakan bahwa dia benar-benar tidak mengetahui mengenai tanaman obat tersebut bahkan dengan polosnya justru malah mengatakan bahwa tanaman obat tersebut terlihat tidak cukup meyakinkan sebagai sebuah tanaman obat bagi lukanya.
"Ffffftttt.... putri Xiao You apa kau tidak pernah di ajarkan sekolah pengobatan dan kesehatan dalam istana besarmu itu, bagaimana bisa seorang putri sepertimu tidak mengetahui pengetahuan sekecil ini?" Balas sang adik Bian Cheng meledeknya dengan terlihat tersenyum lebar.
Detektif Zen tentu saja sangat tidak terima dengan Hela itu dan hampir saja saat itu dia akan mengatakan kepada Bian Cheng bahwa dirinya bukanlah putri Xiao You tetapi untungnya raja api Lu Shi Cheng yang sangat peka dan pengertian dia sudah menduganya bahwa wanita di hadapannya saat itu akan mengatakan hal tersebut sehingga dia langsung saja menempelkan tanaman obat yang sudah di tumbuh halus di tangannya pada kening detektif Zen sehingga membuat detektif Zen yang tadinya akan marah kepada Bian Cheng kini justru malah langsung meringis kesakitan dan memegangi tangan sang raja api dengan begitu erat menahan rasa sakit dan perih di keningnya saat itu yang sudah di tempelkan tanaman obat oleh sang raja api secara tiba-tiba.
"Kau ....aku kan sudah bilang aku buk.....aaahhh...aaaaww...ini perih sekali aaaassstttt" ucap detektif Zen yang terpotong dan langsung meringis kesakitan menahan sakit di keningnya saat itu.
Detektif benar-benar merasakan keningnya sangat perih dan nyeri saat itu hingga dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meringis kesakitan dan hal tersebut langsung saja membuat sang adik Bian Cheng juga merasa cukup kasihan ketika melihatnya harus menahan sakit seperti itu.
Karena bagaimana pun dia tahu bahwa hal tersebut terjadi karena dia yang terlalu mengantuk dan terlalu dekat berada dengan api sehingga membuat sang kakak menyelamatkan dirinya sedangkan membuat calon isterinya sendiri malah terjatuh ke tanah sampai terluka seperti itu sehingga Bian Cheng merasa sedikit bersalah sebab hal itu.
"Ehh..ehhh...kakak apakah tidak apa-apa dia terlihat sangat kesakitan sekali" ucap sang adik Bian Cheng yang mencemaskan detektif Zen saat itu.
"Tidak masalah dia hanya tidak terbiasa menggunakan metode seperti ini, nanti beberapa saat kemudian dia juga sudah tidak akan merasakan sakit lagi, bahkan lukanya sudah kering besok dan akan sembuh sepenuhnya dalam beberapa hari saja" balas sang kakak raja Lu Shi Cheng menjelaskannya.
Bian Cheng langsung saja merasa lega, dan saat itu juga raja api Lu Shi Cheng langsung menyuruh sang adik agar beristirahat dahulu menidurkan dirinya dan membiarkan dia yang berjaga saat itu hingga pagi.
"Adik kau sebaiknya tidur untuk beberapa jam, agar kau bisa fit saat pagi nanti, jangan sampai kejadian seperti tadi terulang lagi" ujar sang raja api Lu Shi Cheng menyuruhnya saat itu.
Bian Cheng sebenarnya ingin menolak saat itu tetapi dia pikir dengan dia tertidur beberapa saat dan menghilangkan rasa kantuknya itu akan lebih baik daripada kejadian yang sangat tidak di inginkan seperti sebelumnya terjadi lagi menimpa mereka dan akan membuat masalah lebih besar lagi nantinya.
__ADS_1
Sehingga dia pun segera mengangguk menuruti perintah dari sang kakak, hingga langsung hendak bersandar di samping tempat putri Xiao You bersandar saat itu, sehingga hal tersebut membuat raja api Lu Shi Cheng sangat kesal dan langsung saja menatap tajam pada adiknya Bian Cheng juga menyuruhnya untuk berpindah dengan cepat dan mencari tempat lain sebab itu adalah tempat miliknya dan hanya dia yang bisa menempati tempat di samping putri Xiao You.
"Baiklah kakak aku akan beristirahat disini saja sepertinya tidur disini akan lebih aman aku juga bisa sambil menjaga kakak ipar" ucap Bian Cheng yang saat itu belum sadar bahwa kakaknya sang raja api sudah menatap dia dengan tatapan membawa maut.
Hingga ketika sang raja api memanggil nama sang adik, dan dia melirik ke arah kakaknya barulah Bian Cheng langsung tersadar dan segera berpindah tempat dari sana secepatnya sambil berbicara dengan nada yang terdengar sedikit gugup saat itu.
"Bian Cheng, apa kau sudah bosan menjadi adikku ya" ujar sang raja Ali dengan nada yang datar dan mata yang menatap dengan tajam.
"AA .ahh..ahhh..tidak...tidak...kak, aku masih ingin menjadi adikmu" balas Bian Cheng mulai merasa takut menatap wajah kakaknya seperti itu,
"Tunggu apa lagi, ayo cepat pindah, atau aku yang akan menendang dirimu dari sana" tambah sang raja api semakin membelalakkan matanya menatap ke arah Bian Cheng yang membuat Bian Cheng segera bergerak dengan terburu-buru berpindah dari sana.
"Baiklah aku akan pindah secepatnya kak, ini lihat aku sudah pindah dan kau bisa kembali ke tempatmu, aku benar-benar sudah berada cukup jauh darimu juga ratumu itu, aishhh...kenapa kakak tega sekali kepadaku sih" balas sang adik Bian Cheng yang sedikit kesal mendapatkan perlakuan seperti itu dari kakaknya.
Dia langsung berpindah ke pohon yang berada di dekat kudanya dan jaraknya memang sedikit jauh dari tempat dimana putri Xiao You duduk bersama kakaknya raja api yang langsung saja menempati tempat di samping putri Xiao You tepat setelah dia pergi berpindah tempat dari sana.
"Bagus...sekarang ayo cepat tidur jangan menggerutu padaku" balas sang raja api kepada adiknya tersebut.
Bian Cheng yang sudah tidak habis pikir dengan sikap kakaknya yang cukup terlihat aneh semenjak dia bertemu dengan putri Xiao You tersebut dia juga tidak ingin mengetahui apapun lagi dan langsung saja tertidur dengan cepat karena dia sangat mengantuk saat itu.
Sedangkan detektif Zen sendiri yang duduk dengan tegak dan masih mencoba memeriksa keadaan keningnya saat itu, dia tidak terlalu memperhatikan apa yang di bicarakan antara dua orang tersebut dan dia sama sekali tidak perduli dengan apa yang mereka bahas, kini detektif Zen hanya merasakan sakit di keningnya dan tanpa sadar salah satu tangannya terus saja memegang tangan sang raja api Lu Shi Cheng sedari tadi.
Hingga ketika raja api Lu Shi Cheng menyuruhnya untuk kembali tidur dia baru saja tersadar bahwa dirinya terus memegangi tangan pria aneh dan menyeramkan di sampingnya tanpa rasa takut sama sekali.
"Hey ...sudah kau terus memegangi jidatmu seperti itu juga tidak akan berpengaruh apapun, tidurlah masih ada tiga jam sampai matahari akan terbit" ujar sang raja api kepadanya.
"Tidak mau, jika aku tidur bagaimana jika aku jatuh lagi seperti sebelumnya dan mungkin saja nanti lukanya akan lebih parah aahhh aku tidak ingin terluka lagi dan harus kembali merasakan bagian tubuhku di tempelkan dedaunan aneh dan lembek seperti ini, sangat tidak nyaman" balas detektif Zen yang menolaknya dengan tegas dan cepat.
Raja Api Lu Shi Cheng juga terlihat menatap tanpa ekspresi sedikitpun kepada detektif Zen dan dia merasa cukup kesal sebab hanya detektif Zen yang berani menolak dan tidak melaksanakan ucapan darinya.
"Apa itu juga alasan kau terus memegangi tanganku dengan begitu kuat?" Balas sang raja Ali sambil mengangkat tangannya yang sedari tadi terus saja di pegang oleh detektif Zen begitu kuat.
Detektif Zen yang melihat ke bawah dan benar-benar dia yang memegangi tangan sang raja api Lu Shi Cheng tersebut, dia langsung saja melepaskan pegangannya tersebut dengan cepat dan membantah ucapan yang di katakan oleh pria di sampingnya.
"Ti..ti..tidak....aku hanya tidak sadar saja aku pikir tadi itu ranting, ternyata tanganku yah, ha...aku tidak tahu sama sekali jika itu tanganmu" balas detektif Zen yang membuat sang raja Api mulai naik darah.
Dia merasa sangat kesal dan berada dalam puncak kekesalannya ketika mendengar bahwa tangannya di anggap sebagai sebuah ranting pohon oleh detektif Zen saat itu, dia langsung sana menarik tangan detektif Zen dan menggandengnya dengan erat bertujuan untuk memastikan dan membuktikan lagi pada detektif Zen bahwa itu adalah tangannya yang perkasa dari seorang raja api yang kuat dan tidak terkalahkan.
Detektif Zen juga kaget ketika mendapati tangannya tiba-tiba saja di tarik dengan cepat lalu di genggam begitu saja oleh raja api tersebut di tambah ketika dia melihat ke arah wajahnya raja api tersebut menatap dia dengan kedua matanya yang dia sipitkan terlihat begitu sinis kepadanya juga wajahnya yang sama sekali tidak menampakkan ekspresi yang bersahaja sedikit pun.
"Ehhh..ehhh...apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku kenapa kau malah menggenggam tanganku seperti ini, kita bukan mau terbang atau menyebrang jalan bukan?" Ucap detektif Zen yang berusaha berontak melepaskan tangannya namun tidak bisa.
"Diam kau, dan rasakan saja genggaman dari tanganku, ini untuk memberikan kau sebuah pajaran dan meyakinkan juga menyadarkan dirimu, bahkan ini adalah tanganku bukan sebuah ranting pohon yang kau pikirkan sebelumnya. Ini adalah sebuah tangan yang perkasa dan tidak terkalahkan oleh siapapun, dan kau harus mengingat rasanya ketika kau memegangi tanganku ini agar kau tidak salah dalam mengira lagi, apa kau mengerti!" Ucap sang raja api begitu tegas dan membuat detektif Zen memebalalakkan matanya kebingungan juga sedikit takut.
Sehingga tanpa sadar saking bingung dan takutnya detektif Zen justru malah langsung saja mengangguk menuruti ucapan dari sang raja api tersebut dengan wajahnya yang terperangah tidak karuan.
"CK....tanpa kau menjelaskannya begitu aku juga sudah tahu itu tanganmu, ini hanya sebuah alasan saja bodoh!" batin detektif Zen yang menggerutu cukup kesal.
Dia segera membalas ucapan dari sang raja api secepatnya agar hal seperti itu bisa segera selesai.
__ADS_1
"Hah...iya iya.. terserah kau saja aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja kau katakan aahhhh aku benar-benar akan gila jika terus terdampar di tempat aneh ini" balas detektif Zen yang tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Dia sudah terlihat begitu pasrah menerima semuanya dan tidak tahu lagi untuk berbicara apapun sehingga dia hanya bisa menuruti semua ucapan dari raja api yang membuat dia sedikit takut tersebut.