Detektif Zen

Detektif Zen
Saling Merindukan


__ADS_3

Hanya teriakkan semu yang terdengar semakin redup saat itu oleh sang raja api hingga buku tersebut kemudian langsung tertutup lagi dan langsung kembali lagi pada tempatnya, tepat berada pada tak yang sama dalam posisi serupa sejak pertama kali dia pernah tidak sengaja menyenggol buku itu hingga membuatnya jatuh dan pada saat itu juga Meilan muncul di dunianya dan kini Meilan sudah kembali lagi ke dunia asli tempat dimana dia seharusnya tinggal sehingga buku itu pun kembali pada asalnya lagi.


Detektif Zen merasakan tubuhnya kembali seperti jatuh dari ketinggian dan dia tidak bisa melihat atau merasakan apapun kecuali genggaman tangannya dengan Meilan saat itu, hingga dia mulai merasakan dirinya jatuh pada tanah dengan cukup keras saat itu dan Meilan menimpa tubuhnya lagi.


"Aarrrkkk...bruk.... aduhhh...b*kongku...aahh..sakit sekali," gerutu detektif Zen saat pertama kali jatuh di kawasan samping gubuk sang kakek misterius tersebut, tepat berada di tengah-tengah lahan kosong yang ada disana.


Hingga tidak lama ketika detektif Zen hendak bangkit dia malah mendengar teriakkan seseorang dan saat dia menengadahkan kepalanya ke atas tiba-tiba saja saat itu sudah muncul Meilan di atasnya dan menimpa tubuh dia dengan secepat kilat sampai membuat dirinya tidak bisa menghindar lagi, sampai kembali terjatuh dan membuat pinggangnya semakin sakit saat itu.


"Eeehhh...aaaaahh..brukkk," kedua kalinya detektif Zen jatuh di timpa Meilan saat itu.


Meilan sangat kaget dan dia segera bangkit sambil langsung saja membantu Meilan untuk segera bangkit berdiri saat itu.


"Aaaahhh...maafkan aku detektif Zen aku tidak tahu kenapa aku harus mendarat di atas tubuhmu aku minta maaf, ayo berdiri aku akan membantumu," ucap Meilan sambil segera menarik tangan detektif Zen dan memapah dia membawanya ke depan gubuk kakeknya saat itu.


Detektif Zen langsung saja menyuruh Meilan agar memanggil ayahnya yang berada di dalam sana, sebab detektif Zen masih mencemaskan kakek tersebut karena dia yang menjaga bukunya saat itu, sehingga Meilan segera menuruti perintah detektif Zen dan dia langsung berlari masuk mencari ayahnya yang ternyata tengah berada di ruangan tengah tempat dimana dia masih memegangi buku tersebut dan kini tiba-tiba saja semua gambar juga tulisan di dalam buku itu menghilang sedikit demi sedikit kemudian saat sang kakek melepaskan buku itu karena mendengar teriakkan Meilan dari belakangnya, seketika buku itu juga kembali tertutup.


"Ayah ... Ayah ini aku Meilan Ayah dimana kau?" Teriak Meilan mencari sosok sang kakek saat itu.


"Meilan apa itu sungguh kau nak? Meilanku, ayah sangat merindukan kamu sayang, hiks...hiks..ini sudah bertahun-tahun lamanya, ayah tidak menyangka akhirnya ayah berhasil mengeluarkan kamu dari dunia aneh dan buku terkutuk itu, ayah sangat merindukanmu Meilan," ucap sang kakek yang langsung saja berlari dan memeluk Meilan dengan sangat erat.


"Aku juga sangat merindukanmu ayah, kenapa kau menjadi cepat menua, aku tidak sempat melihat banyak hal ketika kau masih muda, aku sangat menyayangimu ayah," ucap Meilan membalas pelukan ayahnya dengan sangat erat juga.


Sekarang mereka segera pergi untuk menemui detektif Zen ke luar rumahnya dan tidak lupa sang kakek membawa buku misterius itu juga di tangannya, dia mengikat buku itu dengan sebuah kain yang sangat kuat karena untuk berjaga-jaga agar tidak terbuka lagi meski seseorang menjatuhkannya dengan tidak sengaja.


"Detektif Zen, terimakasih banyak kau sudah memecahkan kasus ini, kau benar-benar detektif yang sangat luar biasa, bahkan misteri di luar nalar seperti ini pun, kau bisa memecahkannya dengan semua kekuatan dan kepandaian yang kau miliki, aku sangat bersyukur sekali kau bisa membantu aku dan ayah," ucap Meilan sambil memegangi tangan detektif Zen dan dia memeluknya sesaat.


Sang kakek itu juga melakukan hal yang sama, sekaligus dia memberikan buku misterius itu pada detektif Zen kembali untuk menyerahkan buku itu pada tangan yang tepat supaya tidak ada lagi korban dari buku yang bisa mengambil manusia ke dalamnya.


"Detektif Zen karena kau sangat tangguh, aku rasa akan lebih baik jika buku ini aku serahkan kepadamu saja, aku percaya kamu adalah orang yang tepat untuk memegangi buku misterius ini," ujar sang kakek kepadanya saat itu.

__ADS_1


Namun detektif Zen sama sekali tidak bisa menerimanya sebab dia juga tidak ingin terlibat lagi dengan hal yang rumit dan sangat sulit di pecahkan oleh dirinya meski dia sudah bisa mengeluarkan Meilan dari sana dan mengembalikan sang raja api Lu Shi Cheng ke tempat semulanya.


"Maafkan saya kek, tapi akan lebih baik jika kita memusnahkan satu buku ini, bukankah kau berkata sebelumnya hanya buku ini yang tersisa? Dan jika bukunya di musnahkan ada kemungkinan besar portal tersebut tidak akan muncul lagi dan tidak ada siapapun yang bisa keluar atau masuk pada buku aneh ini, jadi sebaiknya kita memusnahkan saja," balas detektif Zen memberikan pendapatnya saat itu.


Sang kakek dan Meilan menyetujui usulan yang di buat oleh detektif Zen saat itu, sehingga mereka bertiga langsung pergi ke halaman belakang gubuk sang kakek dan dia mulai menyiapkan api yang sangat besar pada tungku pembakaran sampah yang ada disana.


Sang kakek mulai melemparkan buku tersebut ke dalam kobaran api yang cukup besar saat itu.


"Baiklah lemparkan sekarang!" Ucap detektif Zen mengeluarkan perintah.


Sang kakek langsung melemparkannya dan detektif Zen hanya bisa menghela nafas saat melihat buku itu benar-benar sudah terbakar hangus dan menjadi abu menyatu dengan banyaknya kayu bakar yang hancur di dalam kobaran api tersebut.


Seiring dengan padamnya api dan sudah hancurnya buku itu detektif Zen masih mengingat sosok sang raja api Lu Shi Cheng dengan ucapan terakhir yang dia katakan dan sebuah ciuman singkat yang dia berikan kala itu terhadapnya.


Detektif Zen menatap dengan tatapan kosong dan penuh dengan pikiran mengenai sang raja api Lu Shi Cheng ketika dia melihat api yang mulai mengecil di hadapannya, sedangkan sang kakek dan putrinya mulai kembali masuk ke dalam kediaman mereka karena hari sudah semakin sore saat itu, tetapi detektif Zen masih ingin berdiri di sana meski sang kakek dan Meilan mengajaknya untuk masuk saat itu.


"Raja api, namamu itu sangat konyol di telingaku, sikapmu juga sangat menjengkelkan bagiku, cara bicaramu begitu baku dan menyulitkan ku untuk mengikuti gaya bicaramu, kau juga bodoh karena sulit memahami sepeda motor yang aku miliki, bagaimana lagi aku harus menjelaskan kepadamu bahwa itu bukanlah kuda cepat tetapi sepeda motor dengan mesin canggih di dalamnya, kenapa aku bicara sendiri? Kau jelas tidak akan mendengarkan apapun yang aku katakan bukan? Mungkin disana sudah gelap, atau pagi-pagi. Tapi aku disini masih bingung apakah ucapan darimu sebelumnya benar-benar keluar dari mulutmu ataukah itu hanya imajinasi diriku saja? Huuuhhhh..." Ucap detektif Zen meratapi nasibnya sendiri dan dia langsung berjalan pergi meninggalkan tungku api yang masih sedikit menyala saat itu.


Detektif Zen berpamitan kepada sang kakek dan Meilan dan dia memberikan nasihat kepadanya agar mereka lebih baik jangan tinggal lagi di tempat yang sudah di tinggalkan banyak orang seperti ini, karena hal-hal aneh dan berbahaya lainnya mungkin saja akan kembali hadir tanpa bisa mereka prediksi sendiri.


"Kek....Meilan aku pergi, dan sebaiknya kalian juga pergilah dari sini malam ini juga, aku rasa tempat ini memiliki aura yang buruk." Ucap detektif Zen memperingati mereka berdua.


Sang kakek mengangguk dan kelihatannya mereka juga sudah bersiap-siap untuk pergi saat itu, detektif Zen langsung saja menaiki motornya dan mulai menyalakan motornya dan pergi dari sana dengan cepat, dia terus saja menangis mengeluarkan air mata dari pelupuk matanya saat itu dan membuat dirinya semakin meningkatkan kecepatan berkendaranya karena dia tidak ingin terus membuat matanya menangis seperti itu.


"Pertama kali jatuh cinta, kenapa aku harus menyukai orang yang tidak nyata? Bodoh!" Ucap detektif Zen sambil menepuk samping helmnya sendiri saat itu.


Dia kembali ke rumahnya dan mulai menyalakan lampu disana dia masih bisa membayangkan kehadiran sang raja api Lu Shi Cheng yang sering duduk di sofa rumahnya, menghabiskan banyak cemilan yang ada disana dan juga mengotori meja makannya, mengotak ngatik remote televisi dan laptop miliknya, semua bayangan itu kembali terlintas di dalam benak detektif Zen yang menandakan bahwa dia sangat merasa kehilangan atas perginya sang raja api Lu Shi Cheng, saat itu.


Hingga hari demi hari terus berlalu detektif Zen sudah semakin sukses dan dia menjadi detektif yang sudah di akui dunia dan bekerja sama dengan negara untuk memberantas semua tindak kejahatan di kota yang semakin maju itu, tetapi dia masih tetap tinggal di rumah kecil yang sama, dengan semua pasilitas yang terbatas, baginya meski berbulan-bulan sudah berlalu ingatannya tentang sosok sang raja api Lu Shi masih belum bisa dia lupakan bahkan dia masih saja kerap kali keceplosan dan merasa bahwa sang raja api masih tinggal dengannya saat itu.

__ADS_1


"Raja api...hei...raja api Lu Shi Cheng, kenapa kau memadamkan lampu?" Teriak detektif Zen saat itu dengan kencang.


Dia tidak sadar bahwa sang raja api Lu Shi Cheng sudah tidak ada di rumahnya.


Hingga saat dia tersadar dia mulai kembali merasa sedih lagi dan semakin teringat dengan sosok sang raja api Lu Shi Cheng tersebut.


"Aishh....bodoh sekali, kenapa aku memanggilnya? Dia sudah tidak ada, mungkin lampunya koslet lagi, aku harus segera memperbaiki lampunya," ucap detektif Zen saat itu.


Dia mulai pergi ke ruang bawah tanahnya untuk mengambil alat dan lampu baru saat itu, dia segera kembali mengambil peralatannya dan mulai mencoba untuk segera memperbaiki lampu di ruangan tengah tepat berada di atas sofa yang ada di depan televisi saat itu.


Dia menaiki meja di ruang tengah dan mulai memeriksa lampu disana yang terus saja berkelap kelip dalam beberapa saat menunjukkan ada kosleting disana, dia mulai memeriksa letak kesalahannya sampai tiba-tiba saja tepat ketika lampunya sudah dia bereskan lalu dia lepas dan hendak menggantinya dengan yang baru namun dia melihat ada seperti bayangan di belakangnya yang membuat dia merasa sedikit kaget dan takut tepat ketika dia sudah memasang kembali lampu yang baru saat itu.


"Astaga...bayangan siapa itu? Tidak mungkin itu bayanganku bukan? Ini pasti ada penjahat yang masuk ke rumahku, sialan beraninya dia mau merampok rumahku, apa dia tidak tahu siapa aku?" Batin detektif Zen merasa sangat curiga saat itu.


Detektif Zen mulai mempersiapkan dirinya dan membuat ancang-ancang dan dalam beberapa detik dia langsung saja menoleh ke belakang sekaligus dan sangat kaget ketika melihat sosok sang raja api yang sudah berdiri dengan tegak di belakangnya mengenakan pakaian yang terakhir kali dia kenakan saat dia masuk ke dunianya beberapa bulan yang lalu.


"Aaarrkkkkkk!" Teriak detektif Zen sangat kencang dan dia refleks langsung saja berjalan mundur menghindar, saking kaget dan syok melihat sang raja api Lu Shi Cheng yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya seperti itu dia hampir saja jatuh dari meja yang dia jadikan pijakan saat itu.


Namun untungnya dengan cepat sang raja api menangkap tangannya dan menarik tangan detektif Zen dengan cepat sehingga dia yang hampir terjatuh ke belakang bisa di selamatkan sebab sang raja api Lu Shi Cheng yang berhasil menarik tangan detektif Zen tepat waktu.


Hingga akhirnya detektif Zen jatuh dalam pelukan sang raja api dan mereka saling tatap dalam jarak yang sangat dekat.


Detektif Zen membelalakkan matanya terus menerus dan tidak bisa berkedip sedikitpun saat itu, sampai sang raja api mengangkat tubuhnya dan menurunkan detektif Zen ke bawah dengan perlahan agar dia tidak kembali jatuh saat itu.


"Kau....apa ini sungguh kau raja api?" Tanya detektif Zen kepadanya saat itu.


"Ya ..ini aku, aku sudah kembali dan aku merelakan gelar rajaku untukmu, aku ingin tinggal di duniamu menjadi seperti dirimu dan akan terus ada di sampingmu, meski itu artinya aku akan menjadi manusia biasa yang tidak memiliki tahta dan kekuasaan apapun di sini," ucap sang raja api Lu Shi dengan tersenyum kecil saat itu.


Detektif Zen tidak bisa menahan rasa bahagianya dia langsung memeluk sang raja api dan mereka terus saling melepas kerinduan selama ini.

__ADS_1


Sejak saat itu sang raja api Lu Shi Cheng sudah menghilangkan gelar rajanya dan dia kini memiliki nama Lu Shi Cheng sebagai pasangan dari detektif Zen, dia meninggalkan dunia tempat dia pernah muncul dan hidup di dalamnya, namun semenjak dia bertemu dengan detektif Zen dia menemukan arti hidup sesungguhnya, dia tidak bisa terus berada menjadi peran jahat di dalam sebuah dunia yang aneh, ciptaan dari orang yang bahkan tidak bisa dia ketahui asalnya, sehingga saat di dunianya dia menyerahkan gelar rajanya tersebut kepada sang adik Bian Cheng dan dia membuka buku tersebut di halaman paling akhir secara acak hingga dirinya kembali tiba-tiba saja terbawa masuk kembali ke dunia dimana detektif Zen berada dan muncul tepat di belakang detektif Zen saat itu, sedangkan kini bukunya juga ikut menghilang dari kedua dunia tersebut seiring dengan menghilangnya sosok peran penting di dalamnya.


__ADS_2