Detektif Zen

Detektif Zen
Sikap Yang Manis


__ADS_3

An Chen menatap dengan tatapan yang aneh dan menyelidik ke arah detektif Zen yang saat itu masih memanjat pohon mangga itu diatas sana sambil tertawa dengan begitu renyahnya menertawakan dirinya di bawah sana, itu sangat membuat An Chen merasa penasaran dan mencurigai detektif Zen saat itu.


Sampai tidak lama ketika detektif Zen terus tertawa dengan lepas dia sampai tidak sadar bahwa pegangan tangannya tidak terlalu kuat dan dia malah terpeleset dengan pegangan tangannya sendiri ke dahan pohon itu, hingga dia langsung saja jatuh ke bawah dan dengan cepat kakak keduanya An Chen bergegas melempar mangga yang dia pegang saat itu dan berusaha untuk menangkap tubuh sang adik kesayangannya itu.


"Ahahah .. aaahhh....kakak...." Teriak detektif Zen saat itu yang jatuh terpeleset dari atas pohon mangga jatuh ke bawah,


Untungnya An Chen bergegas dengan cepat dan tepat sehingga dia berhasil menahan detektif Zen yang jatuh kepada gendongan tangannya saat itu dan dia juga menahannya dengan kuat sehingga detektif Zen tidak jatuh ke tanah begitu saja.


Detektif Zen yang ketakutan dan dia masih menutup matanya saat itu membuat seorang An Chen menahan tawa mihat ekspresi dari adik tercintanya tersebut yang terlihat sangat menggemaskan bagi dirinya kala itu.


"Hey ... Adik kau sudah selamat kapan kau akan membukakan matamu" ucap An Chen sambil menahan tawa melihat detektif Zen yang masih saja ketakutan saat itu,


Mendengar ucapan dari kakak keduanya dan karena dia tidak merasakan sakit sama sekali barulah detektif Zen membuka matanya dengan perlahan sampai dia benar-benar bisa melihat dengan jelas bahwa saat itu dia tengah di gendong oleh kakak keduanya An Chen dengan aman dan selamat.


"AA....a..ahhh... Terimakasih kakak, kau bisa menurunkan aku sekarang" ucap detektif Zen dengan tersenyum canggung dan dia berbicara sangat gugup saat itu.


Apalagi dengan kedua pipinya yang terlihat merah merona seperti itu dan kakak keduanya An Chen segera menuruti perkataan sang adik putri Xiao You tersebut hingga An Chen segera menurunkan adiknya dengan pelan dan lembut.


Sebenarnya saat itu detektif Zen juga merasa sangat tidak enak hati kepada kakak keduanya An Chen Krena dia tidak bisa berkata jujur kepada orang sebaik dirinya bahwa dia itu bukanlah adiknya yang asli melainkan seorang wanita dari dunia asing yang tersesat dan tiba-tiba muncul di dunia kuno dan aneh seperti ini.


Detektif Zen sangat ingin mengatakan semua kebenaran itu karena dia juga tahu dan bisa merasakannya sendiri bahwa kemungkinan An Chen bisa menyadari keganjalan atau perbedaan karakter antara dirinya dengan adik asli dan putri sungguhan dari kerajaan tersebut, namun sayangnya karena untuk saat ini detektif Zen juga belum mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi di kerjaan itu dan bagaimana cara dia kembali ke dunianya juga mencari sebab dia bisa masuk ke dunia aneh ini hanya dalam sekejap, sehingga dia masih harus menyembunyikan kebenaran tersebut dari An Chen.


"Maafkan aku kakak tadi aku menertawaknmu terlalu berlebihan sehingga aku justru malah terjatuh, mungkin itu balasannya" ujar detektif Zen langsung meminta maaf dan merasa sedikit bersalah kepadanya,


"Sudah tidak masalah aku senang bisa melihatmu lebih ceria dan aktif seperti ini daripada kau yang sebelumnya, tapi kamu benar-benar baik-baik saja bukan?" Balas kakak kedua An Chen sambil menatap dengan lekat dan dia menaikkan kedua alisnya seperti tengah menyelidiki sesuatu pada detektif Zen saat itu.


Untungnya karena memang pada dasarnya detektif Zen seorang detektif mudah dan pandai juga sangat berpengalaman sehingga dia sendiri dapat mengetahui tatapan dan gerak gerik orang seperti apa saja yang tengah mencurigai atau tengah mencari tahu sesuatu di dalam dirinya saat itu, dan dia melihat hal tersebut dalam diri kakak keduanya An Chen saat melihat dia dan menanyakan keadaannya saat itu.


"Aahh ... Aku baik-baik saja kakak kedua, kamu jangan terlalu mencemaskanku, sebenarnya selama ini aku selalu datang seorang diri ke tempat ini dan berlatih untuk memanjat pohon mangga tanpa sepengetahuan dirimu jadi kamu tidak perlu menatapku dengan heran seperti itu" tambah detektif Zen sengaja berbicara seperti itu untuk menghilangkan sorot mata kecurigaan dari kakak keduanya An Chen yang terus menatap heran dan penuh tanya terhadapnya.

__ADS_1


Dengan mendapatkan perkataan yang cukup masuk akal dan begitu meyakinkan dari adiknya secara langsung, akhirnya kakak kedua An Chen mengurungkan lagi rasa kecurigaan di dalam hatinya meski rasa penasaran dan aneh itu sudah siap rasakan bukan sekali dua kali melainkan berkali-kali sejak sang adik kembali dari perang tersebut sebelumnya.


"Hmmm....maafkan aku An Chen kamu pemuda yang sangat baik aku bisa melihat dari sorot matamu yang selalu menatap aku dengan tulus dan penuh kasih sayang, aku tahu semua itu dan selama aku datang ke dunia aneh ini hanya kau yang terlihat benar-benar bersikap baik dan memperdulikan aku secara nyata dan terus menerus, tapi saat ini aku tidak bisa memberitahumu hal besar seperti ini, aku harus mencari dulu keberadaan si Meilan sialan itu, karena aku yakin dia adalah kunci dari segala keanehan yang terjadi antara aku dan dunia milikmu ini An Chen" batin detektif saat itu.


An Chen sendiri yang sudah menghempaskan rasa kecurigaan nya kepada putri Xiao You dia pun bisa kembali tersenyum lebar dan langsung saja menggandengkan tangan detektif Zen lalu mengajaknya untuk duduk di bawah pohon mangga yang rindang itu sambil merebahkan tubuh mereka dan tidak lupa menikmati buah mangga segar yang matang secara langsung dari pohonnya sendiri.


"Sudahlah ayo duduk disini dan kita nikmati mangganya" ucap kakak kedua An Chen sambil mengajak detektif Zen duduk di sampingnya.


Dia mengupaskan buah mangga itu dengan sangat bagus dan rapih lalu memberikan buah itu kepada detektif Zen hingga sang detektif Zen bisa menikmati buah itu dengan cepat, dia yang memang pecinta buah mangga sejak kecil tentu saja sangat senang dan begitu antusias dalam menikmati semua potongan buah mangga matang dari kakak keduanya saat itu.


Bahkan detektif Zen bisa menyantap sekaligus beberapa potong buah mangga yang di kupaskan oleh sang kakak kedua.


An Chen yang melihat adik kecilnya makan buah dengan begitu lahap hingga belepotan pada mulut bagian luarnya, dia sangat senang juga tidak bisa menahan tawa ketika mihat wajah putru Xiao You tersebut di penuhi dengan warna kuning di sisi pipinya akibat dari sisa air buah mangga yang menempel di mulut bagian luar miliknya.


"Ahahaha..... Adik Xiao You lihatlah wajahmu suruh mulutmu habis dengan buah mangga yang belepotan apa kau masih anak kecil setelah berusia 17 tahun? Ayo kemari dekatkan wajahmu aku akan membersihkannya" ucap kakak kedua An Chen tersebut yang tertawa dengan begitu manisnya.


Detektif Zen yang mihat pria tampan tertawa dengan sangat manis dengan lesung pipi yang cantik di sebelah pipinya itu membuat detektif Zen termenung mihatnya karena pria semanis itu sangatlah langka di dunianya saat ini.


Kakak kedua An Chen langsung saja mengusap ujung bibir milik detektif Zen tersebut dengan pelan dan lembut, dia membersihkannya dengan sangat serius sambil sedikit menampakkan senyum tipis di wajahnya.


Sedangkan detektif Zen tidak bisa berhenti memalingkan pandangannya dari wajah sang kakak kedua putri Xiao You tersebut, dia benar-benar merasa sangat kagum ketika melihatnya sebab pria itu terlihat sangat tampan dan bercahaya di matanya, detektif Zen tidak bisa berkedip sedikitpun karena dia sendiri tidak ingin menyia-nyiakan momen yang sangat bagus seperti itu.


"Ohh... Astaga kenapa ada pria semanis ini? Dan kenapa dia harus mengira aku sebagai adiknya, ohhh tuhan beruntung sekali putri Xiao You tersebut memiliki dua pria tampan di sampingnya yang selu menjaga dan merawati dia dengan sepenuh hati seperti itu" batin detektif Zen merasa sangat tidak karuan saat itu.


Sedangkan kakak keduanya An Chen yang menyadari sang adik menatap wajahnya dengan begitu lekat dia langsung saja segera menyelesaikan pekerjaannya membersihkan bagian mulut sang adik Xiao You tersebut.


Dan tidak lupa An Chen langsung saja menyentuh bagian ujung hidup sang detektif Zen sekilas sambil menegurnya pelan dan tertawa kecil melihat sang adik terlihat terperangah dan kaget untuk sesaat saat itu karena ujung hidungnya yang dia sentuh perlahan dengan sekilas.


"Adik ... Kau sangat menyayangiku bukan, kenapa kau harus menatap kakak keduamu dengan tatapan aneh seperti itu, kau memang benar-benar adik yang tidak baik" ucap sang kakak kedua An Chen sengaja menggoda adiknya saat itu.

__ADS_1


Sayangnya godaan tersebut tentu saja tidak akan tersampaikan dengan benar karena orang yang ada di hadapannya bukanlah adik dia sungguhan melainkan detektif Zen yang langsung merasa bingung dan keheranan sendiri mendapatkan perlakuan semanis itu dari seorang pria.


Dulu di dunianya detektif Zen sama sekali tidak pernah mengenal atau berkenalan dengan seorang pria pun, meski banyak sekali pria yang mengantri untuk mendekatinya bahkan ada yang sampai menghalalkan segala cara hanya untuk berkencan dengannya, namun dengan tegas detektif Zen selalu menolak semua pria itu dengan alasan bahwa dirinya adalah seorang detektif yang memiliki banyak tugas berbahaya dalam hidupnya.


Dia tidak bisa bergantung kepada siapapun atau memiliki seorang pasangan yang akan menyuruh dia berhenti dengan pekerjaan yang dia sukai atau mengkhawatirkan dirinya secara berlebihan dan hal semacam itu sangat merepotkan bagi seorang detektif Zen yang tumbuh besar dan menjalani hidup seorang diri sejak kecil.


Tidur di jalanan seorang diri tanpa ranjang dan selimut di tubuhnya, makan dari sisa-sisa makanan yang di buang orang-orang dan hingga mengamen dan menjual koran bekas di pinggir jalan atau ketika lampu lalu lintas berubah merah, kehidupannya sangat pedih dan pilu ketika dia masih kecil.


Namun sayangnya detektif Zen hanya ingat bahwa dia dulu di tinggalkan oleh seorang wanita yang sangat cantik dengan memakai pakaian aneh yang selalu muncul dalam mimpinya dan mengatakan bahwa dia adalah ibunya, namun semenjak kejadian dia yang bisa masuk ke dunia aneh ini, setiap malam dia sudah tidak pernah memimpikan wanita yang cantik jelita tersebut lagi.


Dan kini disaat dia menatap dengan lekat dan serius kepada kakak keduanya An Chen entah kenapa dia merasa seperti tidak aneh dengan wajah kakaknya saat itu dan senyuman An Chen mengingatkan dia dengan senyuman seorang wanita yang cantik bak seorang dewa yang sering muncul dalam mimpinya.


"Ya ampun kenapa senyumannya mirip seperti seseorang yang selalu muncul di mimpiku itu, apakah dia ada sangkut pautnya dengan seorang Dewi yang cantik dan selalu mendatangi aku ketika dalam mimpi?" Batin detektif Zen memikirkan dengan penuh keheranan sendiri.


Kakak kedua An Chen yang melihat sang adik justru malah melamun dan sama sekali tidak merespon godaan darinya, dia pun sempat merasa heran dan langsung berusaha menyadarkan adik kecilnya itu dengan melambaikan tangan ke depan wajah sang adik secara pelan juga memanggil nama adiknya tersebut beberapa kali.


"Adik....ada apa denganmu? Adik apa kamu baik-baik saja adik Xiao You apa kau mendengarkan sadarlah adik" ucap kakak kedua An Chen yang mulai merasa cemas saat melihat sang adik justru sama sekali tidak sadar juga.


Hingga ketika kakak kedua An Chen memegangi kedua pundaknya barulah detektif Zen langsung terperangah dan tersadar sambil mengedipkan matanya dengan cepat.


"Ahh.... Kakak.... Maafkan aku tadi aku sedikit tidak fokus karena melihat senyuman mu itu" balas detektif Zen yang justru keceplosan malah mengatakan yang sebenarnya.


Sampai ketika dia sadar dia langsung menutup mulut dengan kedua tangannya serta kedua mata yang terbuka lebar dengan kaget ketika mendengarnya.


An Chen langsung saja tersenyum lagi melihat adiknya semakin hari terlihat semakin aktif dan lucu, tetapi An Chen merasa sangat senang karena sekarang sang adik yang sangat dia sayangi bisa berbicara lebih banyak dan lebih terbuka lagi dengannya.


Detektif Zen benar-benar merasa malu saat itu dia merasa sangat tidak menentu tapi disaat dia menahan rasa minyak itu justru pipinya malah dengan terang-terangan memperlihatkan sebuah rona merah muda yang dapat diketahui oleh sang kakak kedua An Chen dengan jelas saat itu.


"Ya ampun adik kau tidak perlu merasa malu dan menahan perasaan dirimu sendiri di hadapanku, aku adalah kakakmu mau harus terus terbuka seperti ini kepadaku dan mengatakan semuanya tanpa ragu, apa kau mengerti?" Ucap sang kakak kedua An Chen sambil mengusap lembut pucuk kepala detektif Zen yang membuatnya semakin merasa malu dan gugup.

__ADS_1


Tapi detektif Zen langsung saja mengangguk patuh dan mengerti sampai kakak kedua An Chen tersebut tidak di duga langsung memeluknya dengan erat dan mengecup pucuk kepalanya itu penuh cinta antara seorang kakak kepada adik perempuannya.


"Ya ampun kenapa dia malah mengelus kepalaku dan memelukku seperti ini, aahhh aku benar-benar akan mati karena meleleh dengan sikap manisnya ini" batin detektif Zen yang terus saja merasa sangat tidak nyaman sebab dia tidak terbiasa mendapatkan hal seperti itu.


__ADS_2