
Apalagi di saat detektif Zen semakin menarik tangannya dan membuat dia semakin dekat dengan wajahnya detektif Zen saat itu, sang raja api Lu Shi Cheng mulai merasa gugup dan tidak nyaman, dia menatap dengan membulatkan matanya merasa sangat tidak karuan sambil berusah keras untuk melepaskan pegangan tangan wanita di hadapannya pada tangannya tersebut dengan perlahan tanpa membangunkan detektif Zen sendiri.
"Aaahh...aku harus bisa terlepas dari orang aneh dan misterius ini, dia bisa saja berubah jadi apapun saat tertidur aahhh" ucap sang raja api yang terlalu berpikir sangat tidak masuk akal kepada detektif Zen saat itu.
Sang raja api yang terjebak dalam pikiran serta prasangka dirinya sendiri pada detektif Zen padahal saat itu sudah jelas detektif Zen adalah manusia biasa sama seperti dirinya hanya saja dia memang datang dari masa yang berbeda, tempat berbeda juga dari keadaan yang berbeda jauh dengan negeri tersebut.
Padahal saat itu sebenarnya detektif Zen tengah bermimpi dirinya tidur di kamarnya dengan tenang dan nyaman, dan tanpa di sengaja dia justru menduga bahwa tangan sang raja api tersebut adalah guling kesayangannya sehingga dia memegangnya dengan erat juga berusaha untuk memeluknya, bahkan guling itu selalu saja dia anggap sebagai harta paling berharga baginya sebab dia selalu kesulitan tertidur jika dirinya tidak bisa memeluk sebuah guling miliknya setiap kali hendak tidur.
Maka dari itu dia tidak mau melepaskan tangan sang raja api karena dia pikir itu sangat nyaman untuk dia pegang dengan erat dan membuat tidurnya menjadi lebih lelah, mungkin dia bermimpi seperti itu karena dia sangat merindukan rumahnya, kamarnya dan semua hal di tempat dimana dia seharusnya berada.
Detektif Zen juga menggenggam tangan sang raja api Lu Shi Cheng dengan begitu erat sehingga menyulitkan sang raja api untuk melepaskan genggaman tangan detektif Zen saat itu terhadap dirinya, walau dia sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi jika dia terus berusaha menarik tangannya tersebut dia mulai merasa takut detektif Zen akan terbangun dan tidurnya menjadi terganggu karena ulahnya, sehingga beberapa saat berlalu sebab dia tetap tidak bisa melepaskannya juga.
Raja api Lu Shi Cheng pun menyerah dan membiarkan saja tangannya tersebut di genggam detektif Zen sepanjang malam selama dia tertidur.
"Ahhh....dia memegang tanganku terlalu kuat aku tidak bisa menariknya dengan kencang atau dia akan terbangun dan menjadi lebih merepotkan untukku, sebaiknya biarkan saja putri aneh ini tertidur" ucap sang raja api memilih untuk mengalah.
Dia bahkan rela harus sudah payah memakai satu tangannya saja untuk terus membuat api unggun di hadapannya tetap menyala dengan terus menambahkan ranting pohon kedalam api tersebut setiap kali apinya mulai mengecil sehingga bisa kembali terus menyala dengan seimbang dan memberikan penerangan untuk mereka semua.
Hingga tidak lama kemudian seiring berjalannya waktu matahari mulai terbit dan menampakkan sinarnya yang sangat cerah juga menghangatkan tubuh mereka bertiga, cahayanya yang menerpa wajah adik Bian Cheng juga detektif Zen seketika membuat sang adik terusik dalam tidurnya dan dia segera bangun dengan cepat.
Sedangkan detektif Zen justru masih saja terlihat enggan untuk bangun sehingga membuat sang raja api langsung membantunya menaruh tangannya di atas wajah sang putri Xiao You tersebut untuk menjaga agar cahaya tidak menerpa wajahnya saat itu.
"Eummm apa ini sudah pagi ya" ucap Bian Cheng yang mulai terbangun dan segera mengedipkan matanya beberapa kali untuk menormalkan tatapannya pada sekeliling tempat tersebut saat itu.
Hingga tidak lama di saat dia mengalihkan pandangan menengok ke samping dia justru malah melihat sang kakak raja api Lu Shi Cheng yang tengah bersikap manis pada putri Xiao You calon permaisurinya nanti.
Tentu saja hal manis seperti itu di ketahui oleh adiknya Bian Cheng dengan cepat karena saat itu dia sudah terbangun lebih dulu dan menyadarkan dirinya sangat cepat di bandingkan putri Xiao You yang saat itu masih saja terlihat enggan untuk membuka matanya, sehingga langsung saja Bian Cheng menegur kakaknya tersebut.
"Ekmm...kakak...apakah kau benar-benar menyukai putri Xiao You itu ya?" Tanya Bian Cheng dengan wajah seperti menyelidik.
Mendengar bahwa sang adik sudah bangun dan ketika melirik ke depan ternyata dia sudah berdiri di hadapannya dengan tegak, sang raja api langsung merasa kaget dan gugup hingga dia segera menarik kedua tangannya dengan cepat bahkan langsung bergeser menjauh dari detektif Zen sampai membuat kepala detektif Zen yang tadinya berada di atas pangkuan dirinya menjadi jatuh ke tanah dan langsung saja membuat dirinya terbangun merasakan sakit lagi pada kepalanya saat itu.
"Aahhh.....tidak adik ini sama sekali tidak seperti apa yang kamu lihat" balas sang raja api berusaha untuk membantah hal tersebut.
Padahal dengan jelas adik Bian Cheng sudah melihat banyak sekali perlakuan manis dan baik yang di berikan oleh kakaknya tersebut kepada putri Xiao You, dimana semua kebaikan tersebut tidak mungkin akan di berikan oleh kakaknya kepada orang lain termasuk dengan dirinya sendiri yang sudah jelas adalah adik dari sang raja apinya.
"Dukkk....." Suara kepala detektif Zen yang harus kembali mengenai tanah cukup keras.
"Aduhhhh...sssttt...aaaahhh....kenapa lagi aku harus kembali jatuh dan jatuh setiap kali bangun tidur" gerutu detektif Zen sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing saat itu.
Raja api yang baru sadar dia sudah berbuat seperti itu, dan mendengar detektif Zen meringis kesakitan dia langsung saja berbalik mendekati detektif Zen juga langsung menangkup kedua kepalanya memeriksa apakah ada yang terluka terhadap dia atau tidak.
"Dimana yang kau rasa sakit, apa kau terluka lagi, katakan dimana rasa sakitnya? Kenapa kau diam saja ayo cepat katakan?" Ucap sang raja api yang terlihat cukup panik saat itu.
Bahkan sang adik Bian Cheng yang melihat kakaknya baru saja membantah apa yang dia ucapkan namun dalam beberapa detik langsung mencemaskan putri Xiao You yang ada di sampingnya itu membuat sang adik Bian Cheng tidak bisa menahan senyum lagi ketika melihatnya dengan begitu jelas.
Sedangkan detektif Zen sendiri justru hanya terdiam saja mematung merasakan kepalanya yang semakin pusing karena terus saja di putar oleh sang raja api tersebut hingga dia mulai berbicara mengatakan rasa pusing di kepalanya tersebut hingga membuat sang raja api akhirnya melepaskan kepalanya itu.
"Hey....raja api, kepalaku sangat pusing dan aku tidak bisa melihat dengan jelas karena kamu memutar kepalaku seperti ini, aahhhh aku rasa aku tidak akan bisa berdiri dengan tegak" ucap detektif Zen membuat raja api langsung tersadar dan langsung saja melepas pegangannya terhadap kepala detektif Zen dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa dia malah memutar kepalaku seperti itu sih apa dia pikir ini batok kelapa apa? Seenaknya memutar kepala orang dengan kuat, aahh aku semakin pusing karena ulahnya" batin detektif Zen yang sangat kesal.
Sang raja Api Lu Shi Cheng yang merasa bersalah atas perbuatannya dia pun segera menari tangannya dan meminta maaf kepada detektif Zen dengan cepat.
"Aaahhh ..maafkan aku, aku hanya terlalu mengkhawatirkan dirimu saja, ayo aku akan batu kau berdiri" ujar raja api sambil langsung berdiri dan dia terlihat mengulurkan tangannya di hadapan detektif saat itu.
Sang adik Bian Cheng yang melihat hal tersebut terjadi lagi dia langsung tertawa cukup keras meledeki kakaknya tersebut.
"Ffftt..tahahahaha......kakak...kakak..kau ini bicara baru saja beberapa saat yang lalu berkata bahwa kau sama sekali tidak seperti yang aku lihat tetapi kenyataannya kau memang sangat memperdulikan putri Xiao You, aku tidak keberatan kok karena dia memang akan menjadi permaisuri istana kerajaan api memangnya apa salahnya jika seorang raja memperhatikan calon permaisurinya sendiri, kau tidak perlu malu denganku kakak" balas sang adik Bian Cheng membuat raja api menahan emosi seketika.
"Diam kau!" balas sang raja api kepada adiknya Bian Cheng dengan tatapan yang tajam.
Saat itu juga dengan cepat Bian Cheng langsung menutup mulut dan memalingkan pandangan ke arah lain masih dengan wajah menahan senyum namun dia juga tidak ingin membuat sang kakak menjadi lebih marah dan mengamuk kepadanya.
Dia terlihat mengeratkan giginya dengan kuat dan menghembuskan nafas dengan berat, hingga detektif Zen sama sekali tidak perduli dengan apapun yang diutarakan oleh Bian Cheng saat itu, dan dia langsung saja menerima uluran tangan dari raja api, membuat amarah pada raja api seketika menurun dengan perlahan.
"Terimakasih sudah membantuku sssttt...kepalaku masih sakit, apa kita harus menunggangi kuda itu lagi?" Ujar detektif Zen sambil memegangi kepalanya tersebut.
Nampak sang raja api kembali terlihat merasa bersalah karena dia tahu dengan jelas hal tersebut terjadi akibat dirinya yang selalu tidak hati-hati dalam menjaga putri Xiao You sehingga membuat dia harus terjatuh dua kali ketika dia bangun tidur.
"Dia pasti benar-benar merasa pusing apa sebaiknya aku tidak mengguncang tubuhnya dengan menaiki kuda terlalu cepat ya" batin sang raja api memikirkan solusi untuk hal tersebut.
Dimana dia ingin segera sampai di kerjaan dan ingin segera melaksanakan upacara pernikahan dirinya dengan putri dari kerajaan suci tersebut, agar seluruh warga kerajaan api bisa mengetahui identitas baru dari putri Xiao You tersebut dan dengan dia menikahi putri Xiao You dia berharap simpati orang-orang terhadap dirinya juga sudup pandang mereka akan sedikit berubah, tidak lagi memandangnya dengan pandangan yang takut dan sebagainya.
Apalagi menyebarkan rumor yang tidak jelas asal usulnya tersebut, namun disisi lain dia juga tidak tega melihat putri Xiao You yang terlihat memegangi kepalanya merasakan sakit seperti itu, sehingga tidak ada cara lain baginya selain dari menunggangi kuda dengan cara yang lebih pelan dari sebelumnya.
"Putri Xiao You kamu tidak perlu merasa takut aku akan memastikan kudanya berjalan dengan pelan tidak akan berlari seperti sebelumnya" ucap sang raja Api Lu Shi Cheng kepada detektif Zen saat itu.
Dia pun menolak ucapan dari sang raja api Lu Shi Cheng untuk menyelamatkan dirinya dari Bian Cheng yang terus saja memberikan tatapan tajam kepada dirinya tanpa berkedip sedikitpun, membuat detektif Zen kesulitan menelan salivanya sendiri kala itu.
"Awas...saja jika kau akan setuju dengan ucapan dari kakak, aku akan memarahiku saat kita sampai di istana" batin Bian Cheng penuh dengan ancaman.
"Astaga...kenapa pria menyebkan itu menatapku seperti ini, apa dia sedang mengancam aku dengan sebuah tatapan, aaahhhh aku sudah mengerti dia tidak akan seperti raja api" batin detektif Zen yang memahami arti dari tatapannya tersebut.
"Raja api tidak perlu, aku ingin segera sampai di kerajaanmu, semakin cepat sampai kita bisa lebih cepat beristirahat dengan tenang disana, ayo kita lanjutkan perjalanannya" balas detektif Zen penuh dengan kebohongan.
Karena sebenarnya saat itu dia masih merasa pusing, dan sungguh menunggangi kuda hanya membuatnya merasa mual dan mual terus menerus padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah mengalami mual akibat di perjalanan meskipun harus memakai kendaraan umum dan berdesakkan melewati jalanan yang jauh di kehidupan dia yang sebelumnya.
Kini dia harus menunggangi kuda setiap kali dia ingin pergi ke manapun di tambah kepalanya yang sudah pusing meski tidak menunggangi kuda hal tersebut membuat detektif Zen merasa tersiksa tetapi tidak ada pilihan lain yang lebih bagus lagi untuk dirinya sehingga dia harus tetap menelan kepahitan tersebut seorang diri.
"Hidupku benar-benar sangat sial setelah bertemu asisten sialan itu, Meilan awas saja kau aku akan benar-benar menghajarmu nanti!" Gerutu detektif Zen merasa sangat emosi di dalam hatinya saat itu.
Dia segera menaiki kuda itu lagi bersama dengan sang raja api dan mereka mulai bergerak cepat menuju wilayah kerajaan api secepatnya hingga tidak lama kemudian sampailah mereka di gerbang besar yang menjulang tinggi pada kerajaan api saat itu sehingga detektif Zen yang sedari tadi sudah menahan tubuhnya yang merasa mual sangat merasa senang juga sudah tidak sabar untuk segera sampai di istana kerjaan api Lu Shi Cheng.
Namun sayangnya baru juga mereka sampai detektif Zen sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, dia benar-benar merasa sangat mual dan langsung meloncat dari atas kuda tersebut lebih dulu lalu benar-benar memuntahkan semua isi dari perutnya di depan istana kerajaan api juga di hadapan banyak orang yang menyambut kedatangan dirinya saat itu.
"Howekk....howekkk....aaaahhh..hah...hah...hah....howekkk...ini sangat melelahkan howek...." Ucap detektif Zen yang sama sekali tidak memperdulikan apapun di sekitarnya saat itu.
Sedangkan banyak sekali orang yang berada disana menatap dengan tatapan yang buruk kepada detektif Zen karena yang mereka tahu bahwa dirinya adalah seorang putri dari kerajaan suci yang terhormat dan di hormati oleh banyak orang sejak lama, terkenal dengan kelembutan juga etikannya yang begitu lekat tetapi kini citra itu sepertinya akan benar-benar hancur karena detektif Zen muntah di hadapan semua orang bahkan sang raja api juga kaget ketika melihatnya di tambah dia juga sedikit merasa cemas dan langsung saja menghampiri detektif Zen sambil mencoba untuk menanyakan keadaannya saat itu.
__ADS_1
Karena wajah detektif Zen terlihat sangat pucat sekali saat itu.
"Putri apa kau baik-baik saja, ada apa denganmu?" Ucap sang raja api kepada detektif Zen sambil memegangi sebelah punggungnya saat itu.
"Tidak..howweekk..aku tidak baik-baik saja" balas detektif Zen yang memang merasa sangat pusing juga dirinya yang lemas saat itu.
Hingga tidak lama ketika dia sudah sedikit lebih baik dan baru sadar bahwa di sekelilingnya saat itu banyak sekali orang yang menatap dan berbisik membicarakan tentang didinya detektif Zen mulai teringat bahwa dia adalah seorang putri bangsawan di tempat itu, dia harus menjaga citra putri Xiao You yang sangat baik dan sempurna.
"Apakah itu putri dari kerajaan suci yang terkenal dengan keramahannya bagaimana bisa dia malah bersikap rendah seperti ini di hadapan banyak orang, apa kau pikir dia pantas menjadi ratu di kerajaan besar seperti ini?" bisik orang-orang disana yang bisa terdengar jelas oleh detektif Zen saat itu.
Bisikan dari orang-orang tentu saja sama sekali tidak mengganggu dirinya hanya saja detektif Zen lebih merasa malu tidak berani untuk menampakkan wajahnya yang dalam keadaan kacau seperti itu dan dia juga tidak ingin mempermalukan putri Xiao You nantinya jika dia sudah kembali lagi.
"Ohhh...astaga ..aku melupakan hal yang sangat besar lagi, apa yang harus aku lakukan aku tidak bisa jika harus bangkit berdiri tegak dan melihat wajah mereka kepadaku seperti ini" batin detektif Zen yang mulai merasa panik tidak karuan.
Alhasil dia menemukan cara untuk menghindari rasa malu tersebut, detektif Zen langsung saja berpura-pura memegangi kepalanya dan tangan yang satunya lagi mulai berusaha meraih tangan sang raja api hingga dia langsung jatuh begitu saja berpura-pura pingsan dengan cara yang sangat bagus dan cerdik hingga semua orang merasa kaget dan mereka tidak lagi membicarakan mengenai dirinya.
"AA..ahhh..kepalaku...aku.. benar-benar pusing" ucap detektif Zen sambil langsung saja terjatuh pingsan dan sang raja api langsung menangkap tubuhnya.
Dengan perasaan kaget dan panik dia langsung saja mengangkat tubuh detektif Zen dengan cepat membawanya berlari masuk ke dalam istana bahkan sang raja api membentak semua orang yang ada disana dengan sangat keras membuat semua orang langsung membubarkan diri dan memberikan jalan untuk dirinya pergi.
"Putri Xiao You...bagus putri ada apa denganmu, putri....aaarkkkk...menyingkir kalian semua!" Teriak sang raja api yang sangat menggelegar dan wajahnya terlihat sangat marah besar saat itu.
Sang adik segera memanggil tabib istana untuk memeriksa keadaan putri Xiao You dengan cepat saat itu, dan segera memeriksa dirinya, sebenarnya saat itu detektif Zen benar-benar merasa gugup dan takut dia takut kebohongan yang dia buat akan terbongkar ketika tabib istana tersebut memeriksa dirinya.
Sehingga sebelum tabib itu tiba detektif Zen langsung saja bangun dengan perlahan membuka matanya saat itu.
"A..aahhhh......kau?..dimana aku sekarang?" Tanya detektif Zen berpura-pura tidak tahu apapun.
"Kau ada di dalam istana dan kau aman sekarang, apa ada yang mau rasakan lagi?" balas sang raja api memberitahunya.
Detektif Zen langsung menggelengkan kepala dengan perlahan.
Padahal jelas sekali dia sudah tahu semuanya bahwa dia di gendong masih dengan cepat setelah dirinya berpura-pura pingsan oleh sang raja api juga Bian Cheng yang terlihat panik memanggil tabib istana dengan cepat, sang raja api yang melihat putri Xiao You sudah siuman dia langsung saja mendekati wajahnya dan memeriksa dia dengan tangannya sendiri.
"Apa kau sudah merasa baik, apa ada yang sakit di tubuhmu, ayo cepat katakan? Jangan hanya menggelengkan kepala saja" Tanya sang raja api kepadanya saat itu,
"AA..aku...aku baik-baik saja baginda raja kamu tidak perlu mencemaskan diriku" balas detektif Zen sambil memperlihatkan senyum canggung saat itu.
Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa namun saat itu sang raja api langsung saja memberikannya minum dan membantu dia untuk mendudukkan tubuhnya hingga tidak lama tabib benar-benar datang ke tempat tersebut dan mau tidak mau detektif Zen harus tetap di periksa oleh tabib istana meski dia sangat tidak ingin diperiksa saat itu, bahkan disaat detektif Zen sudah memberontak dan mengatakan dengan keras bahwa dirinya baik-baik saja, tapi raja api dan adiknya tersebut terus saja memaksa detektif Zen untuk diam lalu menyuruh tabib istana tersebut untuk segera memeriksa tubuhnya dengan teliti.
"Akhirnya tabib tiba juga, tabib ayo cepat periksa putri Xiao You dan pastika kau akan memberikan ramuan paling baik untuk kesehatan dirinya" ujar sang raja api saat itu.
Detektif Zen yang melihat tabib istana dengan jenggot panjang yang menjuntai dan berwarna putih juga matanya yang sipit tapi tatapannya yang begitu tajam di tambah jubahnya yang berwarna hitam polos seluruhnya serta sebuah wadah yang terlihat seperti mangkuk berwarna emas di tangannya yang dia pegang, apalagi tabib itu seperti terus melirik ke arah matanya benar-benar membuat dia merasa takut dan gugup ketika melihat orang seperti itu untuk pertama kalinya, rambutnya juga begitu panjang juga berwarna putih, dia benar-benar sudah tua di mata detektif Zen.
"Astaga... bagaimana bisa ada seorang tabib yang menyeramkan seperti ini, aku bahkan sangat takut hanya dengan melihat wajahnya, bagaimana cara dia akan memeriksa aku, bagaimana jika dia menyuntik aku sembarangan dan memberikan obat aneh kepadaku, aahahh aku tidak ingin itu terjadi" batin detektif Zen yang merasa sangat takut tidak karuan.
Dia pun langsung saja menolak dengan cepat ketika sang tabib duduk di samping ranjangnya dan sudah siap untuk memeriksa dirinya saat itu.
"Baiklah baginda raja saya akan memeriksa putri Xiao You sekarang" balas sang tabib itu sangat serius.
__ADS_1
"Mari putri bisa anda uluran tangan kepada saya, izin saya untuk memeriksa kondisi anda" ucap tabib tersebut yang sangat menakutkan pada bayangan detektif Zen yang justru malah membayangkan tabib tersebut sebagai hantu drakula yang sangat menyeramkan.
Wajah detektif Zen langsung terlihat sangat tegang dengan mata terbelalak lebar dan dia sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun saking takutnya melihat tabib tua tersebut.