Detektif Zen

Detektif Zen
Kematian Yang Mulia


__ADS_3

Dengan cepat Raja Ming Hao meminta tabib istana untuk masuk ke ruangan dan segera memeriksa yang mulia secepatnya.


"Ayah....ayah....ayah....handa apa yang terjadi denganmu ayah...." Ucap detektif Zen yang merasa ikut panik saat itu.


"Tabib...dimana kau? Cepat masuk dan tangani ayah handa lagi, tekan semua rasa sakit itu dan cari tahu dengan benar apa penyakit ayah handa!" Bentak raja Ming Hao dengan matanya yang terlihat sangat marah saat itu.


Sang raja Ming Hao berteriak dengan sangat kencangnya memanggil tabib dan menyuruhnya agar segera masuk memeriksa keadaan yang mulia raja sebelumnya, semua orang seketika melihat dengan wajah yang panik dan penuh kecemasan tidak menentu, kakak kedua yang merupakan pang lima perang sekaligus orang kepercayaan yang mulia, dia kini berdiri di samping ranjang yang mulia dengan mengacak rambutnya pelan dan terlihat begitu panik mencemaskan keadaan yang mulia, sampai tidak lama wajah tabib itu terlihat pucat dia tertunduk dengan lesu dan tidak mempu berbicara apapun lagi setelah dia memeriksa kondisi tubuh yang mulia saat itu.


Sang kakak pertama Ming Hao yang melihat dengan jelas perubahan ekspresi dari tabib istana dia langsung saja mengerutkan kedua alisnya dan mencemaskan kondisi dari ayah handanya sendiri saat itu, sehingga dia langsung berjalan menghampiri sang tabib lalu segera menanyakan kondisi dari yang mulia dengan segera.


"Tabib ada apa dengan ekspresi wajahmu saat ini, kenapa kau terlihat sedih dan pucat, bagaimana kondisi ayah handa?" Tanya sang kakak pertama Ming Hao.


Tabib tersebut tidak berbicara juga dan dia masih terlihat tertunduk dengan lesu, rasanya dia sangat merasa sulit untuk mengungkapkan semua kenyataan yang dia dapati setelah memeriksa yang mulia raja sebelumnya.


Hal tersebut membuat sang Ratu begitu penasaran dia sudah banyak berharap bahwa yang mulia harus meninggal sebab dirinya sendiri yang diam-diam selama ini selalu memasukkan racun murni ke dalam teh yang selalu dia berikan kepada yang mulia mulai dari satu tahun belakang ini, semenjak yang mulia raja terdahulu terlihat semakin memperhatikan putri Xiao You sang putri selir yang sangat dia benci.


Tidak hanya itu kakak kedua An Chen juga langsung memegang bahu sang tabib dengan erat juga menatapnya dengan wajah yang begitu tajam menatap ke arah tabib tersebut sambil melontarkan pertanyaan yang sama seperti sang raja Ming Hao sebelumnya.


"Tabib cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi kepada ayah handa, katakan!" Bentak sang kakak kedua yang terlihat menahan emosi besar dalam dirinya saat itu.


Kami semua yang mendengar bentakkan dari seorang panglima perang yang perkasa tentu saja sangat kaget dan bergetar ngeri melihat matanya yang terbuka sangat lebar juga urat di tangannya yang mengecap terlihat menonjol sangat jelas di pandang mata.


"Astaga....ternyata amarah kakak kedua putri Xiao You itu lebih menakutkan dari pada sang Ratu yang jahat, aku harus berhati-hati dengannya kemudian hari" batin detektif Zen yang selalu memperhatikan hal-hal kecil di sekelilingnya juga semua yang terjadi di dunia aneh tersebut.


Sang tabib yang sedari tadi terus diam membisu dan tidak berani mengeluarkan sepatah katapun, kini akhirnya dia mau bicara setelah kakak kedua membentak dia dan mendesaknya dengan begitu keras.


"Maafkan saya panglima perang An Chen dan yang mulia raja Ming Hao, tetapi yang mulia terdahulu sudah tiada, dia sudah meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya," ucap sang tabib istana itu sambil menatap penuh haru kepada panglima perang An Chen juga kepada raja Ming Hao.


Detektif Zen sangat kaget ketika mendengar itu, dia tidak menduga yang mulia baru saja berbicara dan menceritakan mengenai hal yang sangat panjang terhadapnya tetapi kini yang mulia benar-benar sudah pergi meninggalkan mereka semuanya g ada disana.


Seketika wajah raja Ming Hao dan panglima perang An Chen berubah, mereka terbelalak kaget juga langsung mendekati yang mulia dan memeriksanya dengan langsung saat itu.


"Adik bagaimana?" Tanya raja Ming Hao saat itu dengan matanya yang terbuka lebar dan penuh harapan.


Panglima perang An Chen tidak bisa menjawabnya dia hanya mampu membalas pertanyaan dari sang kakak dengan gelengan kepala yang pelan hingga membuat sang raja Ming Hao langsung merasa lemas dan jatuh di lantai begitu saja.

__ADS_1


Detektif Zen yang mihat itu dia juga langsung menghampiri kakak pertamanta raja Ming Hao, dia juga turut merasa sangat sedih ketika melihat kepergian yang mulia yang baik hati juga bijak sana meninggalkan dunia aneh tersebut.


"Kakak.... Apa kau baik-baik saja, tenangkan dirimu kak, aku juga merasa sangat sedih atas kepergian ayah handa tapi kita tidak bisa merubah apapun" ucap detektif Zen menenangkan sang raja Ming Hao saat itu.


Raja Ming Hao hanya bisa diam dengan tatapan yang tidak fokus samb menatap sekilas kepada detektif Zen saat itu hingga dia langsung memeluk detektif Zen dengan erat, sang raja Ming Hao menyembunyikan wajahnya di balik pelukan wanita yang dia kira sebagai adiknya putri Xiao You, sedangkan sang kakak kedua An Chen terlihat duduk di samping ranjang yang mulia dan dia terus tertunduk memegangi kepalanya menahan air mata agar tidak sampai jatuh membasahi pipinya.


Bagaimana pun dia adalah seorang panglima perang, dia harus bisa menerima semua ini dengan ikhlas dan laang dada tanpa harus terlihat menang berlebihan seperti yang dilakukan oleh sang Ratu saat itu.


Sang Ratu begitu histeris dan terus menggoyangkan pundak suaminya yang sudah jelas dia sudah tiada saat itu, semua yang dia lakukan tidak akan berguna bagi orang yang sudah meninggal dan menangis juga merasa sedih berlebihan hanya akan membuat ruh nya tidak tenang dan sulit untuk sampai pada tujuan akhirnya.


Panglima perang An Chen langsung menarik tangan ibunya dan membawa sang ratu pada pelukannya, dia tahu bahwa sang Ratu sangat sedih dan terpukul dengan kepergian yang mulia seperti itu, tetapi melihat sang Ratu yang terus menangis histeris seperti itu tentu saja sebagai putranya panglima perang An Chen tidak tega melihat sang ibu terlihat hancur seperti itu.


Berbeda dengan detektif Zen yang justru hanya sedih biasa saja sambil melihat ke arah jasad yang mulia yang sudah terkujur kaku tidak bernyawa lagi, namun disaat sang Ratu tidak sengaja menarik pakaian bagian atas yang mulia, disitulah mata tajam detektif Zen melihat dengan jelas sebuah lebam yang sangat besar pada dada Baginda raja tersebut, bukan hanya itu bahkan di lehernya juga terlihat banyak lebam yang lainnya sehingga ketika pertama kali melihatnya detektif Zen sudah merasakan ada yang salah pada kematian baginda raja saat itu, hal itu sama sekali tidak terlihat seperti penyakit biasa dan lebamnya juga terlihat seperti sudah lama tidak hilang.


"Aneh sekali kenapa lebam di leher dan dada yang mulia terlihat membesar padahal sebelumnya tidak sebesar itu dan kenapa lebamnya terlihat sudah lama" batin detektif Zen yang terus memperhatikan secara diam-diam.


Namun sayangnya disaat detektif Zen tengah memperhatikan lebam itu dengan lebih baik dan lebih dekat lagi tiba-tiba saja sang tabib membenarkan pakaian yang mulia sehingga detektif Zen sudah tidak bisa mihatnya lagi.


Meski itu adalah ke dua kalinya detektif Zen mihat lebam tersebut dan pada awalnya dia merasa bahwa itu lebam biasa juga berpikir mungkin dirinya salah melihat, kini dia sudah benar-benar yakin bahwa dirinya melihat lebam itu begitu nyata dan besar, dia ingin menanyakan apa penyakit yang di prediksi oleh tabib istana tersebut sebenarnya.


Tapi sayangnya di waktu seperti itu bukanlah waktu yang tepat bagi detektif Zen untuk menanyakan mengenai penyakit sebenarnya yang di idap oleh yang mulia raja.


"Aku harus mencari tahu semua itu nanti, ini terlalu janggal untuk di biarkan saja" batin detektif Zen yang terus menatap tanpa berkedip ke arah jasad sang raja sebelumnya.


Sampai tidak lama kemudian semua orang langsung menutupi tubuh yang mulia dengan kain putih yang ada disana, tapi tiba-tiba saja disaat proses pemakaman akan di laksanakan pasukan kerajaan api datang ke depan gerbang kerjaan suci, dan sang raja juga panglima perang kerajaan api di kabarkan telah berhasil melewati gerbang pembatas wilayah kerajaan dengan dunia luar saat itu.


Semua orang terlihat begitu cemas dan panik termasuk sang raja Ming Hao juga panglima perang An Chen saat itu, sebab ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan perang bersama kerjaan api tersebut.


"Apa..... Raja api menerobos bentang?" Bentak sang kakak kedua An Chen dengan keras dan alisnya yang mengkerut tajam,


"Kakak bagaimana ini, kita akan dalam bahaya jika sampai pasukan kerajaan api menyerang kita dalam situasi seperti ini, pasukan kita juga sudah tidak sebanyak sebelumnya" ujar sang kakak kedua An Chen kepada raja Ming Hao.


"Tenanglah adik, kita akan baik-baik saja dan aku rasa raja api datang bukan untuk menyerang kita karena dia datang tidak dengan jumlah prajurit yang banyak, mungkin saja dia datang karena sudah mendengar kabar kematian ayah handa" balas sang raja Ming Hao menenangkan adik pertamanya An Chen.


Akhirnya An Chen sendiri bisa sedikit tenang dan dia mengesampingkan dugaan juga kecurigaan di dalam hatinya saat itu, hingga ketika sudah berada di puncak acara proses upacara pemakaman yang mulia, raja api juga adiknya pang lima perang Bian Cheng tiba disana, mereka berdua terlihat begitu gagah dengan menggunakan kuda berwarna coklat gelap dengan jubah khas mereka yang berwarna hitam di luar dan merah di dalam, juga mahkota hitam yang bak seperti akar di atas kepala sang raja api saat itu.

__ADS_1


Kedatangan mereka sama sekali tidak mendapatkan sambutan apapun dari pihak kerajaan api karena mereka sendiri masih perlu untuk berjaga-jaga jika semisal sang raja api akan berperang melawan mereka dalam keadaan seperti itu.


Beberapa prajurit juga di persiapkan oleh sang kakak kedua An Chen saat itu, hingga hal tersebut membuat sang raja api Lu Shi Cheng sedikit tersinggung oleh kerajaan api dan semua yang mereka lakukan ketika dia baru saja sampai di tempat tersebut.


"Wah ..wah...wahh....apakah ini sambutan baik dari kerajaan suci kepada aku sang raja api yang pernah berjasa besar atas berdirinya lagi kerjanya kalian?" Ucap sang raja api Lu Shi Cheng turun dari kudanya dengan begitu gagah berani.


Di ikuti dengan panglima perang sekaligus adik angkatnya Bian Cheng yang tidak kalah gagah saat itu.


Detektif Zen terus saja terlihat gugup dan panik ketika mihat sang raja api itu sudah berdiri tidak jauh dari hadapannya, dia merasa cukup takut rahasia dirinya akan di bongkar oleh raja api yang terlihat tidak bersahabat dengannya sejak awal, karena cemas dengan hal tersebut detektif Zen memilih untuk menjauh dan mundur dari sana.


Dia terus mundur hingga memilih untuk bersembunyi di balik badan sang kakak pertamanya Ming Hao saat itu.


"Ya tuhan aku harap bersemangat di balik sang raja akan aman, dan seharusnya begitu bukan" batin detektif Zen merasa cemas tidak terkendali.


Disisi lain raja api Lu Shi Cheng yang menatap sekilas tingkah laku detektif Zen dia hanya tersenyum sinis menatap kepadanya dan tanpa di sadari tangannya mengepal kuat menahan emosi saat itu, karena menyadari bahwa detektif Zen justru malah bersembunyi darinya, di tambah dia justru malah bersembunyi di balik sang raja Ming Hao, orang yang paling di benci Lu Shi Cheng sejak dulu.


"Kenapa gadis itu malah berbunyi dariku, aku datang kesini dengan niat baik untuk menolongnya dan membawa dia kembali" batin sang raja api Lu Shi Cheng saat itu.


Raja Ming Hao yang memahami dan mengerti bahwa saat itu sang raja api melirik ke arah adiknya dia langsung saja bertanya kepadanya dengan ucapan dan nada bicara yang khas seperti seorang raja bijaksana dan tegas.


"Apa niatmu datang ke tempatku?" Ucap sang raja Ming Hao melontarkan pertanyaan lebih dulu terhadapnya.


"Santai saja raja Ming Hao, kedatanganku kemari dengan raja api hanya untuk menyaksikan pemakaman yang mulia, dimana dulu kita pernah berhubungan baik dan raja api hanya menghormatinya sesuai dengan perjanjian yang sudah di buat, mungkin kalian sendiri seharusnya sudah mengetahui perjanjian apa yang saya maksud" balas sang panglima perang Bian Cheng mewakilkan sang kakak untuk menjawab pertanyaan dari raja Ming Hao.


Nampak sekali An Chen terlihat sudah mengepalkan tangannya dengan kuat, dia selalu mudah emosi dan sulit menahan diri sehingga dengan ucapan dari Bian Cheng yang seperti itu saja dia langsung terlihat marah dan kesal.


"Apa maksudmu, kami tidak akan menyerahkan adik kami putri Xiao You kepada kalian!" Balas kakak kedua dengan begitu keras juga melemparkan tatapan tajam saling membunuh lewat lirikan mata dengan Bian Cheng saat itu.


"CK.....dasar kalian tidak tahu malu, sudah mengingkari janji dan berkhianat sekarang masih berani membentak kami" balas Bian Cheng blak-blakan saat itu.


Hal tersebut sangat membuat kesal dan marah seorang An Chen sehingga dia hampir saja mengeluarkan pedangnya, tapi untung saja raja Ming Hao cepat menahan tangan sang adik, karena jika sampai adiknya An Chen mengeluarkan pedang maka perang akan berlangsung saat itu juga.


"Kalian...." Ucap An Chen sangat marah saat itu,


"Hentikan emosimu adik, kita tidak sedang dalam keadaan yang baik saat ini, kau jangan membuat keributan yang bertambah rumit" ucap sang raja Ming Hao.

__ADS_1


Meski dengan nafas yang menderu dan menahan emosi akhirnya An Chen bisa menahan diri ketika sudah mendengar peringatan tersebut dari sang kakak dan dia segera membungkuk meminta maaf saat itu juga.


__ADS_2