
Berani membentak kami" balas Bian Cheng blak-blakan saat itu.
Hal tersebut sangat membuat kesal dan marah seorang An Chen sehingga dia hampir saja mengeluarkan pedangnya, tapi untung saja raja Ming Hao cepat menahan tangan sang adik, karena jika sampai adiknya An Chen mengeluarkan pedang maka perang akan berlangsung saat itu juga.
"Kalian...." Ucap An Chen sangat marah saat itu,
"Hentikan emosimu adik An Chen, kita tidak sedang dalam keadaan yang baik saat ini, kau jangan membuat keributan yang bertambah rumit" ucap sang raja Ming Hao sangat tegas ketika mengatakannya.
Meski dengan nafas yang menderu dan menahan emosi akhirnya An Chen bisa menahan diri ketika sudah mendengar peringatan tersebut dari sang kakak dan dia segera membungkuk meminta maaf saat itu juga.
"Jika bukan karena aku menghormati kakakku, aku sungguh akan menyerang mereka sejak lama!" Batin An Chen saat itu.
Walau An Chen sendiri terlihat begitu kesal dan menahan emosi yang sudah memanas di dalam dirinya, namun karena menghormati sang kakak sebagai seorang raja yang memimpin kerajaan suci ini, jadi dia sendiri harus bisa menahan emosi di dalam dirinya dan segera melontarkan kata maaf terhadap kakaknya di hadapan semua orang juga sang Raja api serta panglima perangnya yang menatap dengan tatapan sinis terhadapnya.
"Maafkan saya Baginda raja" ujar sang panglima perang An Chen dengan membungkuk memberikan hormat pada kakak pertamanya Ming Hao.
Ming Hao selaku raja dia hanya mengangguk mengedipkan matanya pelan hingga sang Ratu menarik tangan putra keduanya untuk sedikit mundur dari sana dan memberikan ruang kepada sang raja Ming Hao agar membicarakan masalah ini sesuai dengan keputusan dan pemikiran yang dia miliki, sebab sang Ratu sangat mempercayai putra pertamanya tersebut.
"An...Chen jika kamu mempercayai kakakmu maka jangan menyulitkannya dalam hal ini, biarkan dia mencoba membuat keputusan ibunda sangat mempercayai dia" ucap sang Ratu berbicara pelan ke dekat telinga An Chen saat itu.
"Baik ibunda Ratu, aku mengerti perkataanmu" balas An Chen pelan sambil membungkuk.
Dia pun mengangguk dan mulai memahaminya hingga membiarkan sang kakak pertamanya yang kini sudah menjadi raja di kerajaan suci untuk membuat keputusan.
Di dalam hatinya An Chen sangat tidak terla dan dia membenci raja api juga adiknya sang panglima perang kerajaan api Bian Chen tersebut, dia itu selalu bermusuhan sejak lama satu sama lain meski selama di sekolah kerajaan dulunya mereka adalah teman satu kamar dan cukup dekat, namun karena perseturuan diantara kerajaan mereka berdua sehingga timbul lah sebuah perdebatan yang cukup panjang dan membuat kedua sahabat tersebut terpecah belah bahkan hingga berubah menjadi musuh yang paling kuat dalam hidup mereka masing-masing.
"Semoga kakak tidak akan mengijinkan mereka masuk ke dalam wilayah upacara pemakaman ayah handa" batin An Chen saat itu.
Rasa bencinya terhadap kerajaan api begitu besar, dia sangat membenci kerajaan api melebihi rasa bencinya siapapun di dunia tersebut pada kerajaan api, dia benci karena beberapa faktor yang selama ini dia alami juga banyak konflik peperangan yang selalu terjadi diantara kerajaan api dengan kerajaan tempatnya tinggal, dimana setiap kali peperangan terjadi itu selalu meninggalkan banyak luka bagi seluruh penduduk wilayah kerajaan suci sebab banyak sekali prajurit yang kehilangan nyawanya di medan perang.
Sedangkan disisi lain pada kenyataannya harapan yang dia tanam dalam dirinya memang hanyalah sebuah harapan yang tidak bisa berubah menjadi kenyataan sebab sang kakaknya Raja Ming Hao justru malah menyetujui agar raja api Lu Shi Cheng dan adiknya seorang panglima perang Bian Cheng untuk ikut ke dalam area upacara pemakaman yang mulia saat itu.
"Bagaimana Raja Ming Hao, apakah kau mengijinkan aku dan adikku Bian Cheng untuk mengikuti upacara pemakaman yang mulia, kami disini hanya datang untuk menghormatinya dan menepati janji yang ayahku pernah lontarkan kepadanya, dan sebagainya putra yang baik aku tentu harus melakukan ucapan terakhir yang dia katakan kepadaku, termasuk melanjutkan janji yang tidak tersampaikan sejak lama" ujar sang raja api dengan raut wajah begitu serius.
Raja Ming Hao terlihat menarik nafas cukup panjang untuk beberapa saat dan dia segera mempersilahkan raja api beserta adiknya untuk masuk ke dalam wilayah istana dan ikut andil dalam ucapan pemakaman ayah handanya.
"Silahkan masuk raja api, kau bisa mengikuti upacara pemakamannya hingga selesai" balas sang raja Ming Hao memberikan jalan kepada raja api saat itu juga.
"Raja Ming Hao pikirkan lagi baik-baik, aku rasa kau mengerti atas semua ucapan dariku sebelumnya, dan dampak apa yang akan kau dapatkan jika menyetujui aku dan adikku untuk masuk ke dalam wilayah mu yang sangat dalam ini, itu akan membuatmu kehilangan hal paling berharga dalam hidupmu selain kerajaan ini" ucap sang Raja api yang sudah memberikan kode sekaligus peringatan kepada raja Ming Hao.
Tapi sebelum mengatakan dan membuat keputusan untuk menerima sang raja api masuk dan turut andil dalam proses pemakaman sang ayah handa, raja Ming Hao tentu sudah memikirkannya dengan cermat dan dia memahami dengan sangat apa yang sebenarnya dimaksud oleh sang raja api terhadap dirinya sejak pertama kali masuk dan datang menghadap dirinya.
"Aku mengerti semuanya raja api, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan keputusan yang aku buat" balas sang raja Ming Hao yang sudah bulat dengan keputusan dirinya tersebut.
__ADS_1
An Chen dan sang Ratu menatap ke arahnya dengan kedua alis yang di kerutkan secara bersamaan, mereka berdua terlihat kecewa dan kesal dengan keputusan yang di lakukan oleh sang raja, padahal sudah jelas mereka berdua adalah musuh kerajaan mereka sendiri yang selalu ingin merebut wilayah kekuasaan dari kerajaan suci sejak lama.
Tetapi raja Ming Hao yang bijaksana dia memang harus melakukan semua itu sebab mengingat semua kebaikan yang pernah di berikan oleh kerajaan api kepada ayah handanya dahulu, bahkan kini dia sudah memikirkan mengenai adik kesayangannya Xiao You, dia sudah tahu dan memahami alur pembicaraan yang di ucapkan oleh raja api kepadanya barusan.
Di saat dia mempersilahkan raja api untuk ikut melaksanakan upacara pemakaman yang mulia itu juga menandakan bahwa dirinya harus merelakan sang adik Xiao You untuk di serahkan kepada raja api, sesuai dengan janji dan amanat dari yang mulia di detik-detik terakhir hidupnya saat itu.
An Chen dan sang ratu sama sekali tidak bisa melakukan apapun apalagi untuk membantah keputusan yang di buat oleh Ming Hao karena kini dia adalah sang raja, yang memiliki keputusan diatas segala-galanya dalam memimpin perusahaan ini, bukan lagi hanya sekedar putra mahkota biasa, kakak biasa ataupun hanya putra laki-lakinya sang Ratu.
Mereka hanya bisa menatap dengan tatapan yang tidak bersahabat kepada raja Api Lu Shi Cheng juga kepada adiknya Bian Cheng saat itu, hingga mereka masuk ke dalam tempat dimana upacara pemakaman akan segera di laksanakan, upacara pemakaman ini akan di mulai dengan beberapa ritual khusus yang selalu dilakukan semua orang di tempat tersebut khususnya di wilayah kerajaan suci.
Dimana semua orang mati akan di persiapkan sebuah peti mati yang seukuran dengan tubuhnya lalu dia akan di pakaikan pakaian yang selalu dia kenakan dalam semasa hidupnya, barulah setelah itu jasadnya akan di kuburkan ke dalam tanah agar menghilangkan bau pada tubuhnya yang lama kelamaan akan membusuk.
Upacara pemakaman mulai di laksanakan dan semua orang mulai dilaksanakan dengan keadaan yang begitu mengharukan, sang ratu menjadi orang pertama yang terlihat sangat sedih dalam upacara pemakaman yang mulia saat itu.
Hingga tidak lama kemudian setelah ucapan pemakaman yang mulia sudah selesai semuanya segera bubar dan membereskan semuanya dengan cepat semua dilaksanakan dengan begitu rapih, sampai ketika semuanya sudah benar-benar selesai kini sang raja api Lu Shi Cheng kembali menemui sang raja Ming Hao saat itu, dia mulai kembali membicarakan mengenai perjanjian diantara ayah nya juga yang mulia dari kerajaan suci yang baru saja meninggal dunia saat itu.
"Raja Ming Hao seharusnya anda sudah memahami apa maksud dari kedatanganku ke kerajaanmu, dan tentunya aku datang bukan hanya untuk menyaksikan pemakaman yang mulia saja karena kau sendiri atau perwakilan dari kerajaanmu sama sekali tidak ada yang hadir dalam upacara pemakaman ayahku" ujar sang raja api Lu Shi Cheng saat itu.
"Aku tahu maksudmu raja api, dan dengan berat hati aku akan menyerahkan adikku Xiao You kepadamu, tolong jaga dia dengan baik karena dia adalah permata berharga kerajaan suci yang sudah kami jaga dalam waktu yang sangat lama" ujar sang raja Ming Hao.
Seketika sang Ratu yang mendengar itu dia langsung terlihat begitu senang dan gembira namun dengan cepat segera mengubah ekspresi wajahnya karena di ketahui oleh detektif Zen yang sudah memperhatikan dirinya sedari tadi. Sang ratu langsung saja berpura-pura seakan dia sangat keberatan atas keputusan putra pertamanya tersebut, namun di lubuk hatinya dia justru merasa sangat senang.
"Putraku Ming Hao, apa yang kau bicarakan, bagaimana bisa kau menyerahkan putri kerajaan Xiao You dengan begitu mudahnya tanpa sebuah pertimbangan dan membicarakannya dahulu kepada kami semua" ucap sang Ratu saat itu.
"Kakak pertama aku menghargai mu sebagai seorang raja saat ini, tetapi jika kau membuat keputusan seperti ini aku sungguh tidak bisa menerimanya" tambah adik pertamanya An Chen saat itu.
Detektif Zen hanya merasa kebingungan sendiri dan dia terus berfokus menatap pada sang Ratu yang sudah berhasil menyingkirkan dirinya dari kerajaan itu tanpa harus mengotori tangannya sendiri, memang sedikit menyebalkan dan itu membuat detektif Zen merasa sangat kesal dan emosi ketika melihatnya namun tidak ada cara lain lagi yang bisa dia lakukan sebab dia sendiri tidak mengerti dengan peraturan yang ada dalam negeri aneh tersebut.
"CK....dia berlagak seakan tidak terima padahal jelas sekali tadi aku lihat sebuah senyum lebar muncul di wajahnya, benar-benar aktor yang buruk" batin detektif Zen saat memperhatikan sang Ratu secara diam-diam saat itu.
Semuanya nampak seperti hal-hal kuno begitu pula dengan peraturan yang ada disana, sedangkan dirinya sudah hidup di dunia yang sangat maju dan berkembang, tentu dia tidak mengerti dengan hal semacam ini, semuanya sudah terlalu aneh bagi dirinya dan hanya membuat kepalanya terasa pusing ketika dia berusaha untuk mencari jalan keluar dari semua ini.
An Chen yang sangat tidak terima dengan adiknya putri Xiao You yang di serahkan oleh kakak pertama begitu saja kepada raja api dengan begitu mudah, dia langsung saja menarik tangan sang adik dan membawanya ke samping dia, lalu menatap tajam ke arah sang raja api saat itu.
"Raja api jika kau ingin membawa adik kesayanganku putri Xiao You, maka kau harus menghadapi diriku dahulu" ucap kakak keduanya An Chen saat itu.
Detektif Zen yang melihat hal tersebut dia merasa sangat kaget dan terperangah dengan lebar, dia sama sekali tidak ingin perkelahian terjadi di dalam aula kerajaan seperti itu, terlebih ini adalah hari berduka untuk seluruh rakyat kerajaan suci, tidak mungkin sebuah pertengkaran akan terjadi di hari yang menyedihkan seperti ini.
Sedangkan disisi lain raja api Lu Shi Cheng hanya tersenyum kecil menanggapinya dan dia justru malah menatap ke arah sang raja Ming Hao saat itu, sampai membuat sang raja Ming Hao segera menghentikan tingkah yang dilakukan oleh adiknya tersebut.
"Cukup An Chen, jangan melakukan hal yang di luar batas dan jangan mencoba menantang seorang raja api, tunjukkan rasa hormatmu di hadapannya!" Ucap sang raja Ming Hao menaikkan nada bicaranya saat itu.
An Chen yang sudah hampir mengangkat pedang, dia kembali memasukkan pedang itu dengan penuh kekesalan dan melirik ke arah sang kakak pertamanya yang duduk di singgasana dengan wajah yang terlihat begitu serius menatap ke arah dirinya.
__ADS_1
"Kakak....apa yang kau lakukan? Kenapa kau terlihat diam saja disaat sang adik akan di ambil oleh mereka, apa kau sudah tidak menyayangi adik Xiao You lagi?" Ucap An Chen meminta penjelasan kepada kakak pertamanya.
Dengan perasaan yang berat dan menahan seluruh emosi marah, sedih juga sakit di dalam dirinya raja Ming Hao tetap harus mengungkapkan alasan dirinya mengapa mengijinkan sang Raja api untuk menjemput adik kesayangannya saat ini.
"Adikku An Chen, kau adalah panglima perang yang sangat berharga dan kuat di kerajaan suci ini, kau adalah pedang yang tajam, sedangkan aku adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas seluruh hubungan di kerajaan suci ini, mungkin kau merasa kecewa dan aku memahami perasaanmu tersebut, tetapi rasa kecewa dalam dirimu jangan sampai menggelapkan matamu, janji ini sudah di buat oleh ayah handa kita semua jauh sebelum kita mengetahui tentang semua ini, kau lihatlah adik Xiao You dia sama sekali tidak pernah menolak atau berkata apapun tentang hal ini, yang menandakan bahwa dia sudah bisa menerima semua keputusan ayah handa pada dirinya, kita tidak bisa mempertahankan apapun lagi karena semua ini sudah di takdirkan" ucap sang raja Ming Hao mengatakan semuanya dengan begitu tegas dan jelas.
An Chen hanya bisa menerima semuanya dengan perasaan yang masih .erasa begitu berat jika harus berpisah dengan adik kesayangannya putri Xiao You yang selama ini sejak kecil selalu bersama dengannya.
"Adik...apakah kau menyetujui apa yang dikatakan oleh kakak pertama?" Tanya An Chen intim mendengar secara langsung dari adiknya sendiri kala itu,
Detektif Zen awalnya kebingungan dia harus mengatakan apa dan dia hanya melirik sekilas ke arah kakak pertamanya raja Ming Hao diaman saat mata mereka bertemu raja Ming Hao terlihat menganggukkan kepalanya dengan mengedipkan mata pelan, seakan tengah memberikan sebuah kode kepada dirinya.
Yang akhirnya hal tersebut membuat seorang detektif Zen mengerti bahwa dia memang harus menyetujui semua ini, meski keputusan dirinya mungkin akan membuat dia menyesal nantinya sebab harus kembali pada raja api yang sangat kejam juga begitu menyebalkan bagi dirinya.
"Maafkan aku kakak kedua, aku sangat menyayangi kau dan semua orang di kerajaan ini, tetapi apa yang dikatakan oleh kakak pertama memang benar, ayah handa sudah membicarakan ini di detik-detik terakhir hidupnya, yang berarti aku harus memenuhi semua perjanjian tersebut agar kedua raja terdahulu merasa tenang diatas sana" balas detektif Zen menirukan sebuah adegan dalam film kolosal yang pernah dia tonton sekilas.
Awalnya detektif Zen merasa sedikit gugup entah ucapannya itu akan di percayai oleh kakak keduanya atau tidak tetapi tangannya yang sebelumnya di genggam dengan erat oleh kakak kedua An Chen kini mulai di lepaskan secara perlahan dan An Chen mempersilahkan adik kesayangannya secara langsung pada sang raja api saat itu juga, di hadapan seluruh anggota kerajaan suci.
"Baiklah adik, jika itu sudah keputusanmu, dan aku harap kau tidak akan menyesali hal itu, jika seandainya suatu saat nanti kau menyesalinya dan membutuhkan pertolongan kau bisa menemui aku dan kau tahu dimana aku akan berada jika tidak dalam perang dan tidak di istana" ucap sang kakak kedua An Chen dengan ucapan terakhirnya kepada putri Xiao You.
Detektif Zen hanya membalasnya dengan anggukkan hingga kakak keduanya tersebut memeluk dia dengan sangat erat juga menepuk pundaknya pelan beberapa kali dan menggenggang tangannya berjalan membawa detektif Zen mendekati sang raja Ali yang berdiri tidak jauh di hadapan mereka saat itu.
"Raja api aku serahkan adik kesayanganku juga permata paling berharga di kerajaan suci ini untuk kau rawat dan kau jaga, jika sampai adikku terluka atau menangis sedikit saja, maka aku akan benar-benar menghancurkan seluruh wilayah kerajaan dirimu!" Ucap kakak kedua An Chen dengan tatapan mata yang teramat sangat tajam juga tangannya yang dia kepalkan dengan kuat.
Saat itu dia sangat tidak rela melepaskan adik kesayangannya tersebut tetapi sungguh tidak ada jalan lain lagi yang bisa dia lakukan sebab semua orang sudah menyetujui keputusan yang di buat oleh sang raja Ming Hao juga adiknya sendiri putri Xiao You, raja api juga mulai menyentuh tangan detektif Zen saat itu, sedangkan kakak keduanya An Chen juga tidak ingin melepaskan genggaman tangannya dari tangan adik kesayangannya tersebut.
Hingga Bian Cheng datang menghampirinya dan menghempaskan tangan An Chen dengan kuat hingga pegangan tangannya kepada detektif Zen terlepas.
"Lepaskan tanganmu kepada calon ratu kerajaan api kami!" Ucap Bian Cheng setelah menepuk tangan An Chen cukup kuat.
"Kau..." Balas An Chen menahan emosi karena sang ratu segera menarik tangannya ke belakang dan segera menjauh dari raja api serta adiknya tersebut.
Raja api Lu Shi Cheng itu segera menarik dengan cepat detektif Zen hingga dia bertemu dengan pelukannya, hal itu tentu membuat seorang detektif Zen kaget dan menatap ke arah wajah sang raja api tersebut yang terlihat memandangi dengan lurus pada kakak pertamanya.
Sang Raja Ming Hao yang langsung bangkit berdiri ketika melihat adik kesayangannya tersebut di tarik dengan kuat oleh raja api ke dalam pelukan dirinya saat itu, dia mengepalkan kedua tangannya menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuat keadaan semakin kacau saat itu.
Sedangkan raja api hanya tersenyum kecil merasa puas karena berhasil mendapatkan berlian juga harta paling berharga dari kerajaan suci tersebut, dia segera pergi bahkan berpamitan dengan sangat baik kepada raja kerajaan suci.
"Baiklah raja Ming Hao yang bijaksana, aku sungguh kagum dengan kebijaksanaan dirimu hari ini, dan aku hanya ingin mempertegas saja dari semua hal yang terjadi, bahwa mulai hari ini putri Xiao You dari kerajaan suci bukan lagi milik kerajaan ini, tetapi dia adalah calon ratu dari kerajaan api, yang akan menikah denganku dan hidup selamanya dalam kesetiaan terhadap aku sang raja sekaligus calon suaminya juga seluruh kekuatan kerajaan api!" Ujar sang raja api membuat pengumuman yang sangat menyakitkan untuk seluruh warga kerajaan suci juga semua kerabat kerajaan yang ada di sana menyaksikan secara langsung hal menyedihkan tersebut.
Raja Ming Hao sungguh tidak berdaya dia hanya bisa menatap dengan mengeratkan giginya juga tangan yang terus terkepal sangat kuat memperlihatkan urat di tangannya yang begitu mengencang dalam seketika.
Detektif Zen juga merasa sangat takut dan kaget bahkan dia sampai kesulitan menelan salivanya sendiri ketika mendengarkan pengumuman yang diucapkan oleh raja api Lu Shi Cheng tersebut tentang dirinya.
__ADS_1