DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 1


__ADS_3

Plakkk...!!


Suara tamparan terdengar nyaring di seluruh ruangan. Seperti ini lah setiap hari keadaan rumah ini, siapa lagi pelakunya kalau bukan Ayahnya sendiri.


Sejak kelahiran Sila, Sintia selalu kena marah di rumah ini entahlah apa penyebabnya padahal Sintia anak yang baik penurut dan berprestasi dia tidak pernah membuat malu keluarga ini.


Jangankan untuk membuat malu berbuat kesalahan kecilpun dia hampir tidak pernah tapi entah kenapa di selalu di salahkan. Contohnya saat ini Sila yang berulah Sintia yang kena imbasnya.


Apakah kamu tidak berguna lagi sebagai seorang kakak? Apa hanya menjaga adik mu saja kamu tidak bisa? Jawab ! "bentak Pak Sutomo."


Maaf kan aku Ayah kali ini aku benar-benar lupa menjemput, Sila "Sintia menunduk dan memengangi wajahya yang terasa panas karna tamparan, Sutomo yang begitu keras."


Sudah diamlah yang kamu tau hanya minta maaf saja tanpa memperbaiki sikapmu yang selalu ceroboh itu. lihat saja kalau sampai terjadi sesuatu pada, Sila. Papa akan kurung kamu di gudang belakang.


Amir cepat cari, Sila ! "Teriak Sutomo pada Amir assisten Sutomo."


"Ba-baik Pak."


"Belum sempat Amir melangkah suara tertawa bahagia terdengar di depan pintu."


"Selamat malam semuanya, Ayah aku pulang... ko wajah ayah di tekuk gitu si. Ayah lagi marah, kenapa? Kenapa berantakan begini si, Bi ?


Pertanyaan itu keluar dari mulut, Sila. padahal semua kejadian itu ulah dia sendiri yang telat pulang kerumah.


Biasanya memang Sutomo selalu berpesan pada, Sintia. Jika Sila belum pulang sampai jam 7 malam dari kampus tugasnya menjemput, Sila. tapi karna hari ini Sintia pulang sedikit terlambat dari kantor karna kecapean Sintia langsung masuk kamar, aktifitasnya hari ini sangat padat jadi dia merasa kecapean.


Sintia sudah lulus kuliah 2 tahun yang lalu usinya saat ini 25 tahun. Walaupun terlahir dari keluarga kaya raya tapi dia tetap kerja dan dia tidak bekerja di Perusahaan ayahya. Ayah selalu berpesan Sintia harus jadi anak yang Mandiri tanpa bantuan keluarga. itu semua tidak masalah buat, Sintia. Sintia orang yang pintar jadi bukan hal yang susah hanya untuk mencari kerja.


Sayang kamu dari mana saja jam segini ayah panik loh "Pak Sutomo bertanya dengan suara lembutnya pada anak kesayangannya."

__ADS_1


Maaf ayah aku telat tadi aku pikir, Kak Sintia bakal jemput aku padahal tadi siang aku udah chat kakak buat jemput aku di rumah Eve. Aku pikir Kakak udah baca pesan dari ku, ternyata blom dan masih ceklis satu. untung tadi ada teman aku yang baik mau anterin aku ke sini.


"Begitu lah, Sila si playing victim tadi siang dia memang nelpon Sintia tapi WA y tidak aktif. Sila sengaja kirim pesan seperti itu biar Dia bisa pergi main sama temannya dan nanti yang kena marah pasti kakak ya juga. Sila, memang sering melakukan hal itu dia sangat benci kakak tidak tau kenapa padahal Sintia selalu bersikap baik padanya."


Plak...!!


"Tamparan kedua kalinya lagi mendarat mulus di pipi, Sintia."


Dasar anak kurang ajar !!


Apa maksud mu membiarkan adek mu menunggu lama? Apakah kamu ingin mencelakai adikmu sendiri ? Apa salah adekmu sampe kamu tega membiarkanya sendiri di luar sana "bentak Sutomo."


Maaf ayah aku benar benar lupa kali ini.


Amir !!


Cepat bawa Dia ke gudang belakang kurung Dia disana Selama 3 hari, jangan biarkan satu orang pun kesana untuk membantunya keluar.


"Pak Amir, langsung membawa Sintia kebelakang." Sebenarnya dia kasihan pada majikannya yang satu ini tapi mau bagaimana lagi kalau dia membantah pasti dia juga yang kena imbasnya.


"Sila tersenyum smirik melihat itu semua dia sangat senang melihat itu memang inilah rencananya."


Untuk kalian semua jangan ada satupun yang membantunya keluar awasi Dia kasih makan sekali sehari saja "peringatan Pak Sutomo pada pembantunya yang lain."


Baik pak "jawab mereka serentak."


Surti, Cepat kamu bereskan semua ini !


"Baik Pak."

__ADS_1


Sayang kamu naik ke atas gih bersih-bersih, bentar lagi kita makan malam.


Ia Ayah "jawab Sila tersenyum manis."


Imas, siapkan makan malam setengah jam lagi aku turun.


"Baik, pak."


Sila, pun naik ke atas di lantai dua dimana dia tidur, berjalan berlenggak-lengok dengan perasaan bahagia. Dia sangat senang hari ini karna, Dia baru saja jalan dengan Crusnya dan kejadian di rumah ini tadi menambah staminanya.


Sila sangat senang kakaknya di hukum ayahnya, karna Dia sangat iri dengan pencapaian kakaknya di luar sana. Sila, udah menyuruh ayahnya untuk tidak membiarkan Sintia bekerja di Perusahaan keluarganya tapi dia tetap masih bisa dapat kerjaan. Mana kerjanya di perusahaan yang bagus lagi, Itu lah membuatnya makin murka.


Setiap mereka berjalan bedua orang lain akan selalu memuji kecantikan kakaknya dan Dia pasti selalu di nomor duakan dan jadi bahan perbandingan orang-orang, Sintia anak yang pintar dan berprestasi Dia selalu di kenal banyak orang sedangkan, Sila hanya punya otak pas-pasan.


Maka dari itu Sila selalu benci dengan kakaknya itu, karna di luar, Sila tidak bisa mempermalukan nya maka dirumah lah Dia selalu menang, karna ayahnya selalu berada di pihaknya.


Sejak kematian Sang Ibu, Keharmonisan keluarga ini sangat berkurang dan hampir setiap hari terjadi huru hara. Apalagi, Sila selalu menambahkan bahan bakar di dalamnya.


Sutomo selalu menyalahkan Sintia atas meninggalnya Istrinya, karna saat istrinya jatuh dari tangga hanya Sintia dan Ibunya yang ada di rumah dan ART lainnya kebetulan berada di luar rumah. Sejak kejadian itu, Sutomo selalu menuduhnya Pembunuh.


Padahal saat itupun, Sintia berada di kamar Dia tidak tau kejadian sebenarnya, saat Sintia keluar ingin turun kebawah mengambil minum, karna kebetulan minum di kamarnya kehabisan dan saat di jalan ke bawah Dia sudah melihat darah menetes di tangga dan saat di liat ke bawah sudah tergeletak Ibunya tak sadarkan diri berlumur darah dan saat Dia memeluk ibunya sambil menagis orang-orang datang dan befikir bahwa Sintialah pelakunya, tidak ada di antara mereka yang mau mendengar terlebih dahulu penjelasannya, sejak saat itu lah kebencian Ayahnya bertambah benci kepada Sintia.


Maafnya, Non harus tidur disini malam ini, yang sabar ya Non, Allah tidak tidur ko kelak Non Sintia akan bahagia dan orang yang selalu jahat ke Non akan dapat ganjarannya "kata Pak Amir tidak enak."


Sebenarnya Pak Amir tau kalau Sila yang sengaja menjebak, Sintia karna itu sudah hampir sering tapi Sintia selalu sabar menerima hukumanya.


Ia makasih, bapak udah baik sama saya. Pak Amir, pergi saja nanti kelamaan disini bapak jadi kena marah ayah.


Ia Non, saya pamit dulu ya, Non.

__ADS_1


"Sintia mengangguk saja."


__ADS_2