DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 41


__ADS_3

Sintia dan Kenan saat ini sedang di jalan menuju ke rumah sakit melihat keadaan Alvaro, karna Ibu Emi sudah menggabari Menantu dan Sahabat anaknya itu.


Apa yang terjadi kenapa bisa seperti ini, bukan kah tadi dia sedang bersama mantannya ? "tanya Sintia pada Kenan, Bagaimanapun dia syok mendengar kabar mengejutkan ini."


Aku tidak tau, suami mu sangat susah di tebak. Dia bisa saja dengan mudah berpindah tempat sama seperti hatinya yang suka berpindah pindah "cibir Kenan, masih sedikit kesal dengan sikap Alvaro yang seenaknya."


Apa kamu khawatir dengannya ? "tanya Kenan penasaran."


Ya, bagaimana pun dia tetap suamiku. Sebenci bencinya aku kepadanya aku tetap menghormatinya sebagai suamiku, aku tidak sejahat itu mendoakan kematiannya "jawab Sintia datar."


Alvaro sangat beruntung memilikimu, aku semakin tidak rela memberikanmu kepadanya. Apa kamu sudah mencintai suami mu ?


Ck', pemikiran macam apa itu, Aku khawatir bukan jatuh cinta. Tolong kamu bedakan itu, Mustahil aku mencintai orang yang tidak peduli sama sekali kepadaku. Kamu pikir aku malaikat ? Tidak !! Aku hanya Empaty saja mendengar kabarnya. Jika kamu diposisinya saat ini pun aku juga akan sama khawatirnya jadi kamu tidak perlu berfikir terlalu jauh. "cibir Sintia merasa kesal dengan pertanyaan konyol Kenan."


Aku hanya bertanya saja kenapa kamu jadi marah kepadamu "gumam Kenan yang masih terdengar di telinga Sintia."


Pertanyaanmu sangat tidak masuk akal. Cepat lah, kamu seperti baru belajar menyetir saja. Lambat sekali "gerutu Sintia."


Sabar, apa kamu ingin menyusul suamimu juga dengan ambulance biar kalian terlihat romantis ?


Tidak, tapi setidaknya percepat sedikit. Mertua ku saat ini sedang sendiri, aku tau dia pasti sangat terpukul dengan kabar ini.


Ya, sipaling sayang Mertua "cibir Kenan, menaikkan kecepatan mobilnya."

__ADS_1


Awh...!! Apa kau sudah gila "Pekik Sintia yang kaget tiba tiba Kenan menaikan kecepatan mobilnya, menyalip beberapa mobil di depannya."


Apa ? Bukan kah kamu yang meminta cepat, Apa lagi salahku ? Aku selalu serba salah di matamu "ucap Kenan dengan mendramatis."


Ya, tapi setidaknya beri aba aba. Aku belum siap. Kamu hampir membuatku beda alam. Sepertinya nanti disana aku akan mengunjungi Dokter spesialis jantung semenjak dekat mu jantung sangat tidak nyaman selalu mendapatkan cobaan.


Bukan kah itu ciri ciri seseorang yang sedang jatuh cinta. Apa kamu jatuh cinta kepadaku? Katakan sejujurnya aku akan mempertimbangkannya "canda Kenan."


Ck', Otak mu semakim tidak waras, aku harap kamu memeriksanya disana nanti "sinis Sintia."


*


Saat sampai di Rumah sakit Kenan dan Sintia melihat Ibu Emi terduduk di depan pintu operasi Alvaro, terlihat sangat menyedihkan.


Sayang, kamu sudah datang ? Alvaro sayang, Suamimu di dalam sayang "lirih Ibu Emi dengan isakannya."


Ia Mah, Tia tau kita tunggu saja. Kita doakan Mas Al selamat. Jangan menangis lagi nanti Mam sakit. Dimana Papa, Mah. Kenapa Mama hanya sendiri. "tanya Sintia yang tidak melihat keberadaan Ayah Mertuanya."


Papa sedang istirahat, Dia baru saja mendonorkan darahnya pada Al. Kenan lihat lah Paman mu, keadaan juga sedang tidak baik, Dia terlalu memaksakan diri mendonorkan darahnya pada Al padahal usianya sudah rentan.


Keadaan Pak Gunawan saat ini juga sedang lemah, Dia terlalu banyak mengeluarkan darahnya demi Al, padahal Dokter sudah melarangnya tapi dia tetap ngotot demi kesembuhan Al.


Ia, Bibi. Kenan akan kesana.

__ADS_1


Kenan pergi keruangan Pak Gunawan untuk menjaga karna keluarga Pak Gunawan yang lain sedang dalam perjalanan dan Sintia tetap setia menunggu bersama mertuanya di depan ruang operasi Al yang belilum selesai juga.


*


Dokter, bagaimana keadaan anak saja ? "Bu Emi dengan cepat menghampiri Dokter setelah melihat Dokter keluar."


Operasinya berjalan lancar, keadaan saat ini sudah lebih baik, Pasien sudah melewati masa kritisnya. Perawat akan akan memindahkannya ke ruangan perawatan kita tunggu saja pasien sadar kembali, Tapi pasien mengalami kelumpuhan sementara di kaki bagian kanannya, Kami berharap pihak keluarga memberinya semangat setelah dia sadar kembali.


Lumpuh ? "gumam Bu Eli merasa tidak terima dengan kabar ini."


Ya, sudah kalau begitu kami pamit dulu. Pihak keluarga dapat menemui pasien setelah Pasien di pindahkan.


Baik, Dokter "jawab Sintia."


"Bu Emi terduduk lemas dan masih terus menangis sedari tadi", Sayang, suami Lumpuh sayang. Mama mohon jaga dia, Mama mohon jangan tinggalin dia Tolong maafkan kesalahan anak Mama.


Ibu Emi memohon kepada Sintia, tidak ingin anaknya di tinggalkan disaat terpuruk seperti ini dan mungkin gidak ada lagi wanita yang mau dengan menerima anaknya setelah tau kabar ini.


Sudah, Mah jangan menangis tidak ada yang ingin meninggalkan Mas, Al. Aku akan tetap berada di samping Mas Al sampai dia sehat kembali, Dia hanya lumpuh sementara Mah bukan selamanya. Jangan terlalu berkecil hati begitu, Mam harus kuat Mah, jika tidak Mas Al nanti akan sangat terpukul melihat Mama dan Papa yang sakit karna keadaannya.


Sintia memang tidak ada niatan sama sekali meninggalkan suaminya, dia hanya menunggu suaminya sendiri yang menceraikannya karna perjanjiannya masih sangat lama dengan mertuanya dan Kenan.


Terimakasih sayang, Terimakasih sudah menerima suamimu. Mama janji akan selalu ada di pihakmu apapun yang terjadi. "Bu Emi memeluk Sintia dengan erat seakan tidak ingin kehilangan."

__ADS_1


__ADS_2