
Besok paginya, Ibu Emi bangun subuh. Semalaman dia tidak bisa tidur karna tidak sabar untuk bertemu calon mantunya, Dia merasa jam tidak berputar.
Bi, tolong siapan sarapan kita aku akan memanggil yang lain "ucap Emi."
Baik bu.
Mas, cepat bangun sana mandi, lihat ini sudah jam berapa. Aku tidak ingin terlambat menemui menantuku, cepat lah "Emi membangun kan Suaminya."
Sayang ini masih sangat pagi, bahkan mungkin calon menantumu saat ini masih tertidur "jawab Gunawan karna kesal di bangunkan Istri sebelum waktuknya."
Cih...tidak masalah, Mas biar lah kita yang menunggunya dari pada kita yang di tunggu itu sangat tidak sopan. Masa pertemuan pertama sudah membuat kesan yang kurang baik, Aku tidak mau hal itu terjadi, cepat lh bersiap aku tunggu di bawah "kata Emi tidak terima dengan pendapat Suaminya."
Hmmm ...Turun lah dulu sebentar lagi aku akan datang, jangan lupa bangunkan anakmu itu, Dia yang ingin menikah bukan kita. Jangan sampai Dia yang tertinggal "cetus Pak Gunawan."
Ahk... Ia Mas, aku hampir saja melupakanya. Padahal Dia yang akan menikah, tapi Dia tidak ada antusiasnya sedikit pun. Entahlah dia mirip siapa padahal aku sudah mendidiknya dengan baik "gerutu Emi."
Ibu Emi pun melangkah pergi meninggalkan, Suaminya menuju kamar anaknya yang tidak jauh dengan kamar utama.
Hufff... Punya anak satu kerjanya cuman buat pusing Orang Tua saja, gak pernah ada niat nyenengin sedikit pun "keluh Ibu Emi."
Tok..!! tok..!!
Sayang kamu sudah bangun tidak? "panggilnya dari luar"
Tok...!!Tok..!!
"Ko gak ada Jawabpan si", Mama masuk ya sayang?
Kebetulan pintu tidak kunci, Ibu Emi pun masuk kedalam kamar Alvaro. kamar Alvaro sangat gelap sama seperti orangnya di tambah lagi Desain dan isi kamarnya berwarna hitam dan abu.
Clek..!!
Ibu Emi menyalakan lampu, Dia merinding melihat kamar putranya itu yang sangat gelap seperti tidak berpenghuni.
__ADS_1
Is.... Kamu suka sekali ke gelapan, buat apa Mama tiap bulan bayar listrik kalau Lampu tidak pernah di nyalain seperti ini "gerutu Ibu Emi."
Bangun lah, segera bersiap kita akan pergi melamar Calon Istri mu.
Bukankah perginya sore, Mah.
Kalau bisa lebih cepat, kenapa harus menunggu sore, itu terlalu lama cepat lah bangun, Mama bahkan sudah bangun dari subuh.
Mendengar itu Alvaro sedikit kesal karna tidurnya ternganggu. Apalagi semalam Dia tidur bisa tidur, Dia baru tertidur jam 2 pagi tapi sekarang sudah dibangunkan Mamanya bahkan sekarang belum ada jam 6 pagi.
Tapi, Mah ini masih Jam 6 kurang bahkan pihak sana mungkin masih tidur.
Lebih baik kita menunggu mereka dari pada kita yang di tunggu, Mama tidak mau di pertemuan Mama dengan calon mantu Mama membuat, Dia menunggu lama itu akan membuat pertemuan pertamaku berkesan buruk di mata menantu ku.
Alvaro memutar malas bola matanya mendengar Ibu nya terus menerus menyebut calon mantu seakan sudah kenal lama.
Cih....bahkan, Mama belum pernah bertemu dia tapi seakan Mama mengenalnya lebih dekat "cibir Alvaro."
Sudah sana pergi mandi, jangan banyak bicara. Jangan terlalu lama segeralah turun ke bawah Papa sama Mama sudah menunggu "Emi pun keluar dari kamar Putranya."
Hari ini Alvaro, memakai stelan berwarna Navi di padukan dengan Kemeja Biru Langit dan Sepatu Pentofel Hitam, tidak lupa juga Dia memakai Jam Tangan Mahal seharga rumah yang baru saja dia dapatkan dari Acara Pelelangan satu bulan yang lalu.
Dia menyisir rapi rambutnya dan meyemprotkan farfum mahal kesukaanya. Siapa pun yang melihat penampilan, Alvaro saat ini akan sangat tergila-gila. Ketampanan Alvaro benar benar Sempurna, Rahang tegas, Hidung mancung, Alis mata tebal, Bulu mata yang lentik, Bibir Tipis, Berewok tipis menambah ketampanannya dan Lesung pipi pemanis senyumnya tapi sayang tidak pernah terlihat karna jarang senyum.
Setelah semuanya selesai, Dia pun melangkah keluar menuju lantai bawah di mana Ibunya telah menunggu lama.
Cepatlah, bahkan wanita saja tidak selama dirimu saat berdandan. Lihat, Mama sudah selesai dari pagi harusnya wanita yang lebih lama. kenapa jadi sebaliknya., aku heran melihat lelaki di rumah ini "hardik ibu Emi."
Sudah lah sayang, Ini masih pagi malu di dengar tetangga teriak teriak. Kita juga tidak akan terlambat sudah duduklah kita sarapan dulu, biar ada tenaga buat Marah-marah Nanti "sindir Gunawan karna dari pagi istrinya sangat Brisik."
Apa kamu menyindirku? "sentak Ibu Emi."
Mendengar itu, Pak Gunawan yang takut Pada Istrinya sedikit linglung.
__ADS_1
Ahk tidak sayang, aku mana berani "ucap Pak Gunawan."
Begitulah, Pak Gunawan walau Dia di luar sana terkenal Tegas dan Berwibawa, tapi berbeda hal jika berhadapan dengan istri Dia akan Mati Kutu.
Cepat lah makan, entah apa yang kamu kerjakan di atas sana kami bahkan sudah menunggumu sejam lebih "Gunawan melampiaskan kekesalannya pada Alvaro."
Hmmm..."Alvaro memutar malas bola matanya, karna jika sudah merasa terdesak dengan Ibunya, ayahnya akan melampiaskan kemarahannya pada Alvaro."
"Merekan pun melakukan ritual sarapan paginya dengan diam dan tenang dan segera berangkan ke rumah Calon Besannya."
*
Berbeda dengan keadaan di rumah, Sutomo tampak sepi seperti tidak ada penghuni mereka semua berdiam diri di dalam kamar tidak ada tanda tanda persiapan menyambut Besannya, apalagi setelah perdebatan semalam.
Tok Tok...!!
Surti mengetuk pintu kamar, tuannya karna Keluarga Anderson telah sampai di rumah mereka.Tidak berapa lama terlihat, Pak Sutomo membuka pintu dengan wajah sangarnya.
Kenapa?
Maaf Pak, di bawah sudah ada Keluarga Anderson "jawab Surti."
Apa? "teriak Sutomo."
Kenapa sepagi ini? bukankah kemaren katanya sore hari Acaranya, kenapa di majuin begini? "gerutunya."
Saya kurang tau, Pak "jawab Surti."
Aku tidak bertanya kepadamu, memangnya apa yang kamu tau selain di dapur. Sana pergi bangunkan Anak-anak suruh mereka bersiap cepat dan turun lah kebawah, katakan mereka menunggu sebentar "bentak Sutomo."
Baik, Pak.
Surti sudah biasa di hina dan di bentak, Sutomo. Kalau bukan karna hutang budi dan telah berjanji ke mendiang Kiana, istri Sutomo akan selalu menjaga, Sintia. Jika Kiana sudah tidak ada lagi, mungkin Surti sudah pergi meninggalkan rumah ini.
__ADS_1
Surti juga berencana, setelah kepergian Nona Sintianya dari rumah ini Dia akan keluar dari rumah ini.Karna tugasnya telah selesai.
Surti pergi membangunkan Sila dan Sintia dan menggabari kalau mereka sudah di tunggu di bawah, karna Keluarga Anderson telah sampai dan Surti kembali lagi kebawah menemui tamu majikannya.