DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 44


__ADS_3

Seharian menunggu akhir Alvaro sadar juga, Dia membuka matanya perlahan melihat sekeliling.


"Aku dimana?", gumam Alvaro pelan.


Syukurlah sayang, akhirnya kamu sadar juga, Ibu sudah sangat khawatir kepadamu, Nak " saut Ibu Emi yang dengan setia menunggu anak sadar setelah dia merasa baikan."


Aku dimana, Mah ?


Kamu di rumah sakit, sayang. Kamu habis kecelakaan apa kamu tidak mengingat sesuatu? "wajah Ibu Emi tampak tegang takut Alvaro ammesia."


Alvaro tampak berfikir, berusaha mengingat apa yang terjadi pada dirinya.


Apa kamu sudah mengingatnya, Nak? "selidik ibu Emi."


"Alvaro hanya mengangguk saja pertanda dia sudah mengingannya."


Syukurlah, sayang. Mama pikir kamu lupa ingatan "Ibu Emi dan yang lain tampak lega, mereka semua juga tadinya berfikir yang sama seperti ibu Emi."

__ADS_1


Mah, kenapa kaki ku tidak bisa di gerakin, Mah? Apa yang terjadi pada kaki ku, Mah? "tanya Alvaro karna tidak nyaman dengan kakinya yang terasa susah di gerakkan."


Ibu Emi dan yang lain terdiam, tidak sanggup memberikan kabar buruk ini, takut Alvaro terpuruk tidak dapat menerima kenyataan ini.


Mah, kenapa? "pekik Alvaro."


"Ibu Emi dengan cepat memeluk Alvaro berusah menenangkannya", Kamu yang kuat ya, Nak. Mama percaya kamu bisa melewati ini semua. Mama dan yang lain akan selalu ada untukmu "Ibu terisak tidak dapat menahan air matanya."


Maksud Mama apa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku? "Alvaro sedikit brontak."


Ka—kaki mu mengalami kelumpuhan sementara, Nak. Akibat benturan keras di kakimu membuat kaki mu tidak dapat digunakan sementara waktu ini "saut Ibu Emi dengan pelan, meraih Alvaro kepelukannya tidak ingin anaknya merasa sendiri."


Yang sabar ya, Nak. Kami semua selalu ada untuk mu, kamu jangan berkecil hati begitu ini hanya sementara, kamu juga akan bisa berjalan kembali. Kamu harus kuat, Nak. Mama yakin kamu bisa melewati ini semua "Ibu Emi mengusap lembut bahu Alvaro."


Alvaro melihat sekitar, melihat siapa saja yang menunggunya. Dia melihat Sintia istri duduk di pojok. Alvaro merasa malu dengan dirinya sendiri setelah melihat keberadaan Sintia yang masih mau menunggunya sedangkan orang yang membuatnya seperti ini tidak terlihat batang hidungnya.


Dimana Papah, Mah? "tanya Alvaro saat dia tidak mekihat keberadaan ayahnya."

__ADS_1


Ayah mu sedang di rawat di ruangan sebelah, dia mendonorkan darahnya pada mu karna kamu butuh darah yang banyak. Keadaannya sudah lebih baik hanya tinggal pemulihan saja, kamu tak perlu khawatir.


Alvaro semakin menyalahkan dirinya sendiri atas kebodohannya bukan hanya dirinya yang korban tapi ayahnya juga. Benar kata Kenan hanya keluarga dan orang terdekat lah yang selalu setia pada kita, sisanya hanya pelengkap saja dan mungkin tidak akan peduli saat kita terjatuh.


Apa Kenan tak kesini, Mah? "tanya Alvaro yang tiba tiba teringat sahabat baiknya itu, Coba saja di mendengar perkataan Kenan dulu semua ini takkan terjadi."


Kenan dan Sepupu mu sedang membereskan kecelakaan mu, dan menyelidiki dalang di balik kecelakaanmu ini, Nak.


Suruh mereka kembali, tidak perlu menyelidiki ini murni kecelakaan, aku yang salah tidak hati hati. Percuma mereka menyelidiki karna mereka takkan menemukan hasilnya. Aku lah yang tidak fokus menyetir "ucap Alvaro tidak ingin Sahabat dan Sepupunya buang buang waktu."


Baik, lah. Mama akan menyuruh mereka kembali. Sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa sampai begin, apa yang mempengaruhi pikiranmu. Mama tak yakin semua ini terjadi jika bukan karna ada sesuatu yang mempengaruhimu.


Ibu Emi memang yakin ini bukan ulah seseorang ini murni kecelakaan tapi Ibu Emi yakin satu hal kalau ada yang mempengaruhi pikiran putranya, karna Ibu Emi jelas tau putra sangat hati hati dalam berkendaraan.


Tidak ada, ini hanya karna aku tak hati hati saja. Kembali lah, Mah. Aku ingin sendiri dulu.


Alvaro tidak ingin Ibunya mengetahui hal ini karna Alvaro tak yakin jika ibunya tau ini, Sindi akan jadi sasarannya. Sebenci apapun Alvaro pada Sindi dan sebesar apapun kesalahan Sindi Alvaro tidak akan tega melihat Sindi menderita. Entah kebodohan Alvaro memang sudah mendarah daging sampai ke tulang tulang.

__ADS_1


Baik, lah. Jika kamu tak ingin bercerita, Tidur lah, kami akan keluar "ucap Ibu Emi pelan."


Mereka semua pun keluar dari ruangan Alvaro tidak ingin mengganggu ketenangan Alvaro, tapi di dalam hati Ibu Emi berjanji akan menyelidi ini sendiri, karna dia tidak terima anaknya seperti ini karna ulah seseorang.


__ADS_2