DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 42


__ADS_3

Saat ini Pak Gunawan ngotot untuk menemui Alvaro, dia berontak tidak ingin berdiam diri terus di dalam ruang perawatannya, hatinya tidak tenang dia ingin melihat keadaan putra kesayangannya.


Paman tolong jangan begini, pikirkan kesehatan Paman juga kondisi Paman saat ini belum stabil yang ada Paman semakin menambah pikiran, Bibi "Kenan berusaha menenangkan Pak Gunawan, dia tidak ingin keadaan Pamannya semakin parah."


Aku sudah katakan aku sehat tidak terjadi sesuatu padaku, aku lebih mengerti kondisi tubuhku saat ini, Minggirlah aku akan kesana. Alvaro membutuhkan aku disisinya "Pak Gunawan masih saja keras kepala."


Paman tolong dengarkan perkataan Dokter, tubuh Paman sangat lemah, Alvaro juga akan sedih jika terjadi sesuatu pada Paman karenanya. Apa Paman mau Alvaro sedih melihat keadaan Paman? Yang ada kesehatannya akan semakin memburuk jika terjadi sesuatu pada Paman. Apa Paman menginginkan hal itu?


"Pak Gunawan terdiam membenarkan ucapan Kenan", Tapi aku ingin melihat keadaan putraku "lirih Pak Gunawan."


Alvaro saat ini sedang di tangani Dokter dia belum bisa di jenguk, makanya Paman fokus dulu pada kesehatan Paman setelah Paman sehat, nanti kita kesana melihatnya bersama. Kita Doakan kelancaran operasinya, semoga saja tidak ada hal serius yang terjadi padanya.


Pak Gunawan hanya diam saja tidak merespon ucapan Kenan, air matanya mengalir terus sedaritadi, dia tida berhenti menangisi keadaan putranya yang sekarat.


Sus, tolong pasang lagi infus Paman "ucap Kenan pada Suster yang menangani Pak Gunawan tadi."


Baik, tuan.


Tenangkan pikiran Paman jangan menangis terus, itu akan mempengaruhi kesehatan Paman. Alvaro anak yang kuat aku mengenalnya tidak akan terjadi sesuatu padanya, aku yakin dia bisa melewati ini semua. "Kenan berusaha menenangkan Pak Gunawan yang terlihat sangat tertekan."


Tidur lah supaya Paman lebih cepat baikan, aku akan melihat keadaan Alvaro, nanti aku akan kembali lagi.

__ADS_1


"Pak Gunawan hanya mengangguk saja."


Kenan menyuruh Suster menyuntikan obat tidur pada Pak Gunawan karna dia tidak yakin, bisa saja setelah dia pergi Pak Gunawan akan berontak lagi seperti tadi pada Suster, untung dia datang tepat waktu kalau tidak dia akan meninggalkan ruanganya karna Suster tidak berani menahannya.


*


Saat ini Sintia dan Bu Emi terduduk di samping brangkar Alvaro, air mata Bu Emi tidak berhenti mengalir sedaritadi melihat keadaan putranya yang masih belum sadar juga.


Mah, lebih baik Mama istirahat dulu. Pikirkan kesehatan Mama juga, kalau Mama menangis trus akan sangat mempengaruhi kesehatan Mama juga. "Sintia tidak tega melihat keadaan Ibu Mertuanya yang terlihat sangat lemah."


"Sintia mengajak Bu Emi duduk di sofa dan menyuruhnya tidur", Lebih baik Mama istirahat sebentar sembari menunggu Mas Al sadar, biar aku yang menjaganya dulu. Nanti saat Mas Al sadar aku akan membangunkan Mama.


Ia, sayang. Terimakasih sudah peduli dengan Mama dan Suamimu "lirih Bu Emi".


Sedaritadi Sintia tidak menangis sama sekali, entah lah kenapa. Padahal biasanya saat melihat hal seperti ini air matanya selalu hadir menemaninya. Apa mungkin air matanya sudah habis atau memang tidak rela terbuang sia sia hanya untuk menangisi orang yang tidak peduli sama sekali padanya.


Sebenarnya Sintia bukan orang yang pendendam hanya saja perlakukan Alvaro kepadanya sangat merusak mentalnya dan mungkin karna terlalu sering disakiti membuat Sintia mati rasa dan dia tidak se'sedih Ibu Mertuanya dia hanya sedikit iba saja.


Mungkin bagi sebagian orang terlihat sangat kejam dan tidak punya perasaan, tapi bagi Sintia yang merasakan langsung sangat menyakitkan.


*

__ADS_1


Kenan masuk keruangan Alvaro bersama dengan anggota keluarga lainnya yang kebetulan bertemu di jalan, mereka juga sama khawatirnya dengan Ibu Emi dan Pak Gunawan.


Bagaimana keadaanya, kenapa bisa begini "tanya Ridho terlihat khawatir."


Kami kurang tau Paman keadaan sebenarnya kami juga baru datang dan Alvaro juga belum sadar dari tadi "saut Sintia menyambut kedatangan mereka semua."


Dimana Kakak kenapa hanya kamu disini ? "tanya Adam tak kalah khawatirnya."


Ayah mertua sedang di rawat di ruangan sebelah, Paman. Ayah mertua mendonorkan darahnya pada Mas Al karna pihak rumah sakit kekurangan darah dan Ibu Mertua saat ini sedang istirahat karna kondisi Ibu Mertua juga sangat lemah "Sintia menjelaskan semuanya dengan hati hati, tidak ingin mereka semua salah paham."


Oh... Begitu. Ifan cepat datangi tempat kecelakaan Alvaro selidi ini semua kenapa bisa terjadi, Ayah rasa ini bukan kecelakaan biasa, Jasen ikut lah bersama Ifan. Evan kamu pantau pihak berwajib yang menangani kasus ini. Pergilah sekarang juga jangan sampai kalian kehilangan jejak "ucap Adam bertindak cepat, karna mungkin Kakak tidak sempat memikirkan hal ini karna sudah terlalu khawatir."


Baik ayah, Paman "ucap mereka kompak dan bergegas ke luar."


Aku ikut bersama kalian "ucap Kenan menghentikan langkah mereka".


Ya, itu lebih baik. Pergilah bersama mereka "saut Ridho."


Sayang, kamu harus kuat. Tidak akan terjadi sesuatu pada suamimu "Bi Ira menenangkan Sintia, dia sangat paham dengan keadaan Mantu kakak Iparnya itu."


Ia, Bibi aku tidak apa apa, Ibu Mertua lah yang terlihat sangat terpukul "saut Sintia datar karna memang sedaritadi dia biasa saja."

__ADS_1


Kamu memang sangat pintar sayang menyikapi masalah, Bibi bangga padamu "puji Ira."


"Sintia hanya tersenyum seperti biasa tidak terlalu menyikapi ucapan Bu Ira dan Bu Dewi yang setia menunggu Alvaro sedangkan Pak Adam dan Pak Ridho pergi melihat keadaan Kakaknya."


__ADS_2