DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 13


__ADS_3

Susana di dalam mobil sangat hening tidak ada yang membuka mulut sedaritadi, Sintia benar benar merasa tertekan dengan aura, Alvaro yang begitu dingin dan sorot matanya yang seolah ingin menerkam.


Sepulang dari butik, Mama mengajak kita untuk makan malam bersama, Keluarga yang lain juga ikut datang. Aku harap kamu tidak menolak "Alvaro membuka mulut meyampaikan pesan, Ibunya untuk mengajak Sintia makan malam di rumah mereka."


Sintia ingin sekali menolak, karna tidak siap bertemu dengan Pihak Keluarga Alvaro yang lain. tapi dia tidak berani mengucapkan penolakan apalagi, Alvaro langsung menyuruhnya datang tanpa berbasa basi.


Ba—baik lah, aku akan Ikut "hanya itu yang keluar dari mulut Sintia."


Aku harap kamu bersikap baik, Bersikap lah seolah Calon Istri yang siaga. Jangan terlalu kaku, karna kedepannya kita akan semakin sering bertemu mereka dan aku harap selain di depan keluargaku, kamu jangan pernah mencampuri kehidupan pribadiku "timpal Alvaro lagi."


"Sintia, menganggukkan kepalanya," i—Ia Mas.


Hanya itu yang keluar dari mulutnya, Sintia tidak tau akan menjawab apa.


Satu hal lagi, aku sudah memiliki Pacar di luar sana. Jika suatu saat kamu melihat ku bersamanya, aku harap kamu tidak mengadukanku ke Mama. Kamu harus tau, aku terpaksa menerima perjodohan ini, jika di depan mereka bersikap lah seolah kita tidak ada masalah. Aku harap kamu mengerti maksud ku.


Mendengar itu, Sintia merasa kepalanya di hantam batu besar, Dia benar-benar sakit mendengar kejujuran itu keluar dari Mulut Calon Suaminya.


Dia memang tidak mencintai, Alvaro tapi dia tidak pernah berfikir untuk menghianati Pernikahan mereka. Sintia ingin sekali menangis tapi dia berusaha menahannya, Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang yang baru di kenal. Apalagi dia sangat yakin, jika dia menangis, dia akan semakin di anggap remeh.


Baik lah, tapi apa aku bisa bekerja setelah kita menikah nanti? "tanya Sintia."


Dia ingin membuang suntuknya di tempat kerja, karna hanya saat bekerja lah dia merasa tenang.


Tidak masalah, kamu bebas melakukan keinginanmu asal kamu jangan lupa Tanggung Jawab mu sebagai Istri saja, karna setelah kita menikah, kita akan tinggal berdua saja tidak dengan Papa Mama. Karna aku tidak ingin mereka ikut campur dengan urusan kita "jawab Alvaro tanpa melihat ke arah Sintia.


Baik lah.


Setelah membahas hal itu, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka, sampai kini mereka sudah ada di depan Butik.


Turunlah, Mama sudah menunggumu di dalam. Aku akan menyusul.


I—ia, Mas.


Sintia pergi ke dalam berjalan seorang diri, tidak ada yang mengenalinya karna, Sintia belum pernah sebelumnya datang kesini.


Permisi...!! Maaf mengganggu sebentar, apa Ibu Emi masih ada di dalam? "tanya Sintia ke penjaga Toko yang ada di depan."


Apa Nona yang bernama, Sintia?


Ia, Pak.


Nyonya Emi, sudah menunggu anda di dalam. Mari saya antar, Nona "ucap Bapak penjaga di depan."

__ADS_1


Melihat itu, orang orang yang berada di dalam sana merasa heran. Siapa Wanita itu? kenapa dia bisa masuk ke Ruang VIP Butik ini? Hanya orang kaya dan orang terdekat Pemilik Butik inilah yang di ijinkan masuk kedalam sana .


Siapa, Dia?


"Tanya gadis yang sedang berbelanja di sana, ke kariawan toko yang sedang melayani.


Dia tamu VIP kami mbak, dan aku dengar dia kesini bersama Nyonya Anderson "jawab pramuniaganya."


Apakah itu benar? Aku tidak percaya ini, bukankan Keluarga Anderson hanya memiliki satu anak, itu juga laki laki "jawab yang lain."


Mungkin itu sepupu atau keponakannya yang berada di Luar Negeri "Timpal yang lain."


Ahk ia, kamu benar mungkin saja, karna tidak mungkin orang biasa masuk kesana, Dia juga sangat cantik "Diangguki temannya yang lain."


Sayang, kamu sudah sampai? Dimana anak sialan itu, kenapa kamu hanya datang sendiri ? "tanya Ibu Emi saat Sintia datang hanya seorang diri."


Mas Alvaro, sedang memarkirkan mobil, Mah sebentar lagi dia akan menyusul.


Tumben sekali anak itu mau melakukan hal itu, biasanya di serahkan ke penjaga depan "gerutu bu Emi."


Ya sudah lah biarkan saja dia. Kamu lihat lihat dulu sayang, mana yang ingin kamu pakai buat Acara Pernikahanmu. Pilih sesuai keinginanmu jangan takut soal harga, Suamimu kaya manfaatkan kekayaannya dengan benar.


Mendengar itu, Sintia sedikit tersenyum tapi tidak dengan hatinya yang merasa sakit. Kebaikan ibu mertuanya tidak sama dengan anaknya, tapi dia merasa bersyukur setidaknya masih ada yang peduli dengannya .


Eh... Apa apaan ini, jangan memanggilku "Tante" panggil aku "Mama" sebentar lagi kamu akan jadi Menantuku. Itu terdengar lebih baik, kamu sama dengan Alvaro sama-sama anak Mama, jadi jangan pernah merasa di bedakan "protes Bu Emi."


Ia—tan...Eh Mah.... "Sintia merasa gugup karna belum terbiasa".


Itu jauh lebih baik, nanti juga akan terbiasa. Cepat ganti bajumu, tadi Mama sudah memilih tiga baju yang cantik. Lihat lah dulu mana yang lebih baik menurut mu.


Ia, Mah.


"Sintia masuk ke ruang ganti di bantu dengan Pelayan lainnya untuk memakai baju Pengantinyanya."


Menantu mu ternyata Cantik sekali, sepertinya dia orang yang Tulus kamu Beruntung Mendapatkannya "Sarah, membuka mulut setelah melihat Sintia."


Hahhaha... Ternyata penglihatanmu sama dengan ku jeng, Aku bahkan tidak mempercaya ini semua, anak ku yang kurang ajar itu dapat Istri yang baik. Semoga suatu hari nanti, dia membuka mata hatinya. Bahwa ada Berlian di depan Matanya sebelum dia Menyesal "jawab Emi."


Semoga saja, tapi aku kurang yakin dengan anak mu itu kamu harus lebih bekerja keras "timpal Sarah lagi."


Ia jeng, Aku juga merasakan hal yang sama. Doakan saja yang Terbaik untuk mereka.


Ibu Emi dan Sarah Pemilik Butik terkenal di Kota ini Sahabat Lama dan tak jarang keduanya saling curhat jika sedang bertemu.

__ADS_1


Selang beberapa lama keluar lah Sintia dengan Gaun Pertama yang di cobanya.


Bagaimana, Mah apakan ini Cantik? "tanya Sintia."


Hmmm...Sebenarnnya bagus, cuman belahan dadanya terlalu terbuka apalagi di belakang, tidak menarik. Coba yang kedua lagi sayang "ujar Bu Emi."


Baik, Mah.


Sintia nurut saja seperti Kerbau yang Cicucuk Hidungnya, Dia benar-benar begitu kaku belum terbiasa dengan Keluarga ini. Walaupun, bu Emi Baik kepadanya tapi di begitu segan. Bagaimanapun, Sintia tau siapa Keluarga Anderson, jadi Sintia sangat hati-hati untuk bertindak.


Sintia, keluar dengan baru yang kedua.


Bagaimana dengan ini, Mah?


Baju ini terlihat biasa saja, tidak memancarkan Aura Kecantikan mu, coba yang satu lagi "ujar bu Emi lagi."


Dengan sabar, Sintia balik lagi mencoba baru yang ketiga, Dia tetap Tersenyum Manis. Bagaimanapun juga ini demi kebaikannya dan memang baju ini tidak terlalu menarik baginya.


Ini yang terakhir, Semoga mama suka "batinnya."


Sintia keluar dengan baju yang ketiga, Gaun Putih di Mix dengan Pink Soft di Taburi Berlian sangat pas di badan munggil Sintia tidak terlalu terbuka tapi terlihat Seksi dimata orang, Ekor baju yang lumayan panjang menambah kecantikan baju ini, benar-benar pas di tubuh, Sintia.


Sempurna !!


Hanya itu yang keluar dari mulut Ibu Emi dan orang di sekitarnya, Sangat kagum dengan kecantikan Sintia. Apalagi saat, Sintia keluar dengan baju ketiganya. Bertepatan dengan datangnya Alvaro ke dalam ruangan ini.


"Cantik sekali." Tanpa sadar, Alvaro mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya.


Kamu Cantik sekali sayang kamu seperti Putri Dongeng, Ini sangat pas di badan mu.


Bagaimana Jeng? apakah kamu sependapat denganku? Menantuku cantik sekali, kan?


Ia Jeng, Menantumu benar-benar Sempurna, Kecantikan yang alami dan Postur tubuh yang pas. Dia benar-benar cantik sekali, kamu beruntung mendapatkanya "ujar Sarah."


Bagaimana Nak, Cantik kan Calon Istrimu ? "Bu Emi menyenggol siku Alvaro yang masih benggong."


Biasa saja "ucap Alvaro."


Bu Emi hampir tidak mempercayai telinganya, Saat ini dia begitu kesal dengan sikap acuh Alvaro.


Cih,,, Bilang saja kamu malu mengakui kecantikan Sintia, Aku rasa sedarita kamu sangat terpesona melihatnya "cibir bu emi."


Alvaro berlalu pergi tanpa merespon ibunya, Dia masuk ke ruang ganti untuk Mencoba Tuxedonya, Seakan tidak melihat manusia yang ada disana.

__ADS_1


__ADS_2