DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 39


__ADS_3

"Kenan memasuki ruangan Sintia karna memperhatikan ekpresi Sintia yang sedih setelah melihat ponselnya", Apa yang membuat mu terdiam membisu seperti itu ?


"Sintia melihat Kenan yang berjalan ke arahnya", Apa kamu tidak punya pekerjaan? Kenapa kamu disini? "bukan menjawab malah bertanya balik."


Aku bosnya ! aku bebas. Itulah enaknya jadi Bos bisa bebas sesuka hati, hanya mengatur dan tidak di atur "kekeh Kenan."


Apa kamu pernah merasa ketidak adilan ?


Tidak, semua adil menurutku, hidup ku lurus lurus saja selama ini, semua yang ku mau selalu ada dan aku mampu mengatasi masalah yang menimpaku. Kenapa kamu menanyakan itu ?


Aku hanya merasa hidup ini tidak adil bagiku. Takdir seperti mempermainkanku "lirih Sintia."


Takdir apa ? Apa karna suami mu ?


"Hm..." Apa kamu pernah memikirkan wanita ?


Tidak !! "jawab Kenan cepat."


Kenapa ?


Untuk apa memikirkannya, Wanita hanya membawa malapetaka saja. Aku tidak percaya cinta, yang mereka inginkan hanya uang dan kepuasan, aku muak melihatnya.


Apa kamu tidak pernah jatuh cinta ?


Tidak, bagiku cinta sejati itu tidak lah ada. Orang-orang hanya membuang buang waktu saja dengan hal yang tidak penting itu.


Kenapa kamu mengatakan begitu ?


Karna yang aku lihat begitu, Wanita tidak pernah puas dengan satu lelaki di sampingnya dan bahkan mereka rela menusuk sahabat sendiri demi hal yang tidak penting itu, Lalu untuk apa memikirkan hal yang tidak penting itu.


Apa kamu tidak ingin menikah ?


Tidak, aku tidak ingin sepertimu di selingkuhi dan disakiti. Kenapa, apa yang terjadi ? Pertanyaan mu aneh sekali "cibir Kenan."


Kamu mengenalnya ? "Sintia menyodorkan ponselnya ke depan Kenan."

__ADS_1


"What the F*ck!!" Kebodohan anak ini sudah mendarah daging "guman Kenan."


Apa kamu mengenalnya ?


Ya Dia, Sindi mantannya. Aku tidak tau lagi harus menanggapi seperti apa. Apa yang ingin kamu lakukan ?


Aku tidak tau, kamu tau sendiri aku tidak punya kekuatan untuk itu dan juga Ibu mertua tidak akan mungkin melepaskanku begitu saja "lirih Sintia."


"Kenan merasa kasian melihat Sintia yang sangat terpukul seperti ini, tapi Dia juga tidak bisa berbuat apa apa."


Bersabarlah dari waktu yang sudah kita sepakati dengan Ibu Mertuamu, aku yakin kamu bisa. Berpura puralah tidak tau karna itu lebih baik dari apapun. Nanti aku akan menyuruh Evan menambahi pekerjaanmu supaya kamu tidak memikirkan hal itu lagi.


Bugh !! "Sintia melempar bollpennya ke wajah, Kenan."


Kamu mencari kesempatan dalam kesempitan, Lihat ini bahkan ini saja belum selesai, kamu bos yang kapitalis "pekik Sintia."


Aku hanya membantu mu melupakannya, supaya kamu tidak berdiam diri seperti tadi, "gumam Kenan."


Kamu bukan membantu tapi menyiksaku, kamu bilang kamu sudah kaya tapi kamu masih saja sangat perhitungan, Aku semakin membencimu. Keluarlah kamu sumber masalahnya.


Bahkan kamu masih sangat galak setelah ide yang kuberikan, kamu wanita yang tidak tau berterimakasih "gerutu Kenan yang keluar dari ruangan Sintia."


*


*


"Diana mendatangi apartemen Sindi, Dia tidak ingin berdiam diri. Hatinya terasa panas apalagi setelah mendapat Vidio yang di kirim Sindi kedua kalinya."


Tok !! Tok !!


Ya sebentar, "Suara Sindi terdengar dari dalam."


"Plak!"


"Saat Sindi membuka pintu, Diana langsung malayangkan tamparan keras di wajah Sindi."

__ADS_1


Apa yang kamu lakukan j*l*ng! berani kamu menamparku. "Sindi ingin membalas tapi lebih dulu Diana menahan tangannya dan memutar tangan Sindi dan menjambak rambutnya."


Lepaskan aku Diana kamu bisa membunuhku, Apa kamu sudah tidak waras? "pekik Sindi."


Kamu yang tidak waras sialan, setelah apa yang kamu lakukan kepada ku, kamu berharapkan apa dariku?Hah!! Kamu itu parasit sialan yang terus menjadi benalu di kehidupanku, Mati saja kau !!


"Diana membenturkan kepada Sindi ke dingding, Diana seperti kerasukan setan."


Apa yang kamu lakukan, Diana? Kamu bisa membunuhnya? "Alvaro melepaskan Sindi dari cengkraman Diana."


Biarkan saja dia mati, Dia hanya pembawa sial yang selalu parasit diantara kita, buka matamu Alvaro dia itu sudah membuangmu, kenapa kamu menerimanya lagi ? "pekik Diana."


Tutup mulut Sialan, kamu tidak ada hak mengaturku. Ini hidupku pilihanku jangan mengaturku "Alvaro membawa Sindi kepelukannya dan mendudukkannya di sofa dengan cepat Alvaro mengambil P3K."


Lihat ini, Dia sudah di buang mantan pacarnya makanya Dia kembali kepadamu, jangan percaya dia. Kamu sudah di bohonginya "Diana berjalan mengikuti Alvaro."


Itu editan sayang, jangan percaya kepadanya. Dia hanya tidak ingin kita bersatu. Diana kenapa kamu tidak pernah berhenti mengganggu ku, Apa salahku ? "isak Sindi."


Plak !! Diam kau j*l*ng sialan, kamu tidak usah berpura pura lagi, apa perlu aku mendatangkan Bram kesini ?


"Sindi terdiam mendengar perkataan Diana, Dia takut Bram menjelaskan semuanya itu akan merusak kepercayaan Alvaro."


Lihat, bahkan dia terdiam, apa kamu masih percaya dengan, Dia ? Buka matamu Alvaro jangan terus di butakan dengan kelicikannya "hardik Diana."


"Alvaro terdiam dan nampak berfikir", Apa itu benar Sindi ? Apa kamu membohongiku lagi ? Jawab!!


Ti—tidak aku tidak berbohong, jangan percaya pada Dia. Lihat aku sayang, tatap aku, aku tau kamu masih cinta padaku jangan membohongi perasaanmu. Kita mulai lagi dari awal aku mohon maafkan aku "Sindi menarik tangan Alvaro."


Aku pikir kamu sudah berubah Sindi, tapi kamu tetap mengecewakan aku. Mulai sekarang jangan pernah lagi muncul di hidupku kamu itu hanya pembohong "Alvaro melepaskan tangan Sindi."


"Alvaro meninggal keduanya, Dia kecewa dengan Sindi yang sudah di percayainya sebelumnya."


Sialan kamu Diana, kamu pembawa sial. "Sindi melempar gelas ke arah Diana dan untungnya Diana dengan cepat menghindarinya."


"Plak !!" Berani kau sialan. Kamu itu tidak layak bersamanya "Hanya aku" yang layak bersamanya. Berhentilah mengharapkan yang bukan milikmu.

__ADS_1


"Diana berlalu meninggal Sindi yang terduduk di lantai."


"CK", sekali milik ku tetaplah milikku, jangan harap kamu bisa pergi dari ku Alvaro. Takdir sudah mempertemukan kita dan kita harus menerima itu, " Diana tersenyum miring berlalu pergi dari apartemen Sindi."


__ADS_2