
Saat ini di Kediaman Anderson terlihat sangat ramai para ART mondar mandir di dalam rumah, mereka sangat sibuk untuk mempersiapkan seserahan yang akan di bawa untuk melamar menantu Keluarga ini besok. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Ibu Emi Nyonya di ruman ini, sejak suaminya membawa kabar bahwa Alvaro menerima perjodohan ini, Ibu Emi yang tadinya kurang sehat kini penyakitkan seakan hilang di telan bumi, Dia terlihat lebih bersemangat di bandingkan calon penganten.
Bagaimana tidak Inilah moment yang di tunggu tunggunya selama ini, dan karna ini juga lah Dia sedikit stres terlalu memikirkan masa depan Anaknya yang tak kunjung menikah yang sudah kepala tiga. Dia belum iklas meninggal kan Dunia ini jika Anak Tunggalnya belum memiliki seseorang pendamping hidup di Masa Depan, karna sebanyak apapun harta yang mereka tinggalkan nanti buat, Alvaro itu tak akan mampu membuatnya bahagia. Hal Itulah yang selalu menganjal fikirannya.
Sayang, aku sudah tidak sabar bertemu dengan Calon Mantu kita, aku merasa jam bergerak begitu lama "ucap Emi berjalan ke arah Gunawan yang duduk di sofa king sizenya".
Sabar sayang, besok kita akan bertemu dengannya "jawab Gunawan."
Aku bahkan tidak sabar menunggu hingga besok, bagaimana kalau kita percepat saja? "Celetuk Emi."
Hahahhah... Sabar sayang, Ini bahkan sudah malam tinggal beberapa jam lagi "Mengelus lembut pundak sang istri."
Aku penasan dengan wajah mantuku itu, aku bahkan belum pernah melihatnya sama sekali. Apakah Dia memang se pemalu itu, sayang? bahkan zaman sudah sangat Maju tapi dia tidak punya Sosial Media.
Bukan kah itu bagus sayang dan Dia mirip dengan mu dulu "jawab Suaminya."
"lMemang benar, dulu semasa muda Emi juga tidak pernah membagikan gambar dirinya di sosial media walau dia terlahir dari Keluarga Konglomerat dia sangat tertutup di depan Publik.
Tapi itu beda sayang, itu beberapa tahun yang lalu kalau sekarang kan semua sudah serba sosmed, tapi aku bangga dengannya walau begitu dia tidak terikut ikut dengan Generasi Muda sekarang ini. Tapi aku sedikit khawatir dengannya, apa Alvaro akan menerimanya sayang, kamu kan tau sendiri, gimana kelakuan anakmu itu "lirih Emi."
Tenang sayang, aku sudah bilang ke Alvaro untuk tidak macam macam dengannya, cukup kita Doakan saja yang terbaik buat mereka aku yakin setelah Alvaro menikah dia akan berubah, laki laki akan luluh dengan Istri sayang cepat atau lambat Papa yakin.
Semoga saja, Pah "harap Emi."
Sebenarnya, Gunawan tidak yakin dengan Ucapannya tadi apalagi melihat sifat keras anaknya itu tapi Dia berusaha menenangkan Istrinya itu supaya tidak stres lagi.
*
Berbeda di Kediaman, Sutomo rumahnya tampak biasa saja tidak ada hal yang mereka persiapkan seakan Pernikahan, Sintia tidak ada artinya bagi mereka. "Saat ini mereka sedang makan malam bersama seperti biasa."
__ADS_1
Ayah, apakah kita tidak mempersiapan sesuatu untuk Acara lamaran kakak besok? "Sindir Sila."
Dia sengaja menanyakan itu di depan, Sintia untuk mengompori kakaknya. Dia jelas tau ayahnya tidak akan melakukan itu, tapi dia sengaja memperkeruh keadaan.
Tidak sayang, kita tidak perlu melakukan apapun pihak sana yang akan mempersiapkannya, kita tinggal meyambut mereka saja "Mendengar itu, Sila sedikit cemburu."
Tapi, Ayah kita juga perlu mempersiap kan acara peyambutan Calon Besan ayah. Bagaimana pun di masa depan kita akan jadi keluarga. Yah, walaupun Kakak tidak akan kembali kerumah ini lagi "Sila memberi pemantik."
Sintia yang tadinya hanya menyimak saja merasa heran dengan ucapan terakhir, Sila.
Maksud kamu apa dek? "tanya Sintia."
Apa kak? "jawab Sila pura pura bodoh"
Kenapa kamu bilang, kakak gak pulang kerumah ini lagi? Memang setelah Menikah, aku bukan Milik Keluarga ini lagi? "sedikit meninggikan suaranya karna merasa tersinggung dengan ucapan, Sila."
Loh, Kakak belum tau kalau kakak menikah kakak akan jadi milik Keluarga Anderson dan mereka yang mengatakan itu, tidak boleh kembali lagi kerumah ini dan kamu bukan hak ayah lagi. Ayah tidak memberitahu kakak ? "Sila menambah Bara Api."
Bukan kah ayah berkata aku akan menikah saja dan menerima perjodohan ini, kenapa sekarang seakan aku di usir dari rumah ini dan secara tidak langsung Ayah telah menjualku "geram Sintia."
Tutup mulut mu, kamu tidak ada hak mengatur, ayah setidaknya ini Balas Budimu setelah ayah membesarkan mu selama ini. Ingat membesarkan mu sampai saat ini butuh uang, kamu bahkan tidak sanggup membayar semua ini. Sekarang lah waktumu membayarnya "bentak Sutomo."
Bukanya merasa bersalah Sutomo malah membentak, Sintia.
Mendengar itu, Sila yang jadi penonton tertawa keras dalam hati.
Apa kah aku, benar anak Ayah? "hardik Sintia."
Kak? ko Kakak, ngomong gitu sama, Ayah "Protes Sila membela ayahnya."
__ADS_1
Lihatlah, bahkan anak kecil lebih paham dari pada kamu. Dan kamu tau, aku akan merasa sangat senang jika kamu bukan anakku. Aku benar-benar menyesal menghadirkan mu ke dunia ini, kamu seorang Pembunuh "Murka Sutomo."
Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ayahnya, Dunia Sintia seakan runtuh, dadanya terasa sesak Air Mata yang sedari tadi di tahannya keluar juga.
Tapi aku juga tidak ingin di lahirkan kedunia ini, aku tidak pernah meminta kalian melahirkan ku "teriak Sintia."
Turunkan suaramu, kamu tidak ada hak berteriak disini, Ini bukan hutan kamu hanya menumpang disini, kalau bukan karna kamu masih berguna untuk Keluarga Anderson aku sudah mengusir malam ini "bentak Sutomo."
Kenapa, ayah membenciku. Apa salah ku? "isak Sintia."
Salahkan dirimu sendiri, kenapa kamu jadi anak yang tidak berguna dan karna kamu seorang PEMBUNUH "jawab Sutomo."
Aku bukan Pembunuh, ayah aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Disini aku juga Korban, aku juga merasa kehilangan ibu, bukan hanya Ayah.
Kamu bahkan tidak bisa membuktikan ucapmu itu setelah sekian lama. Apa kamu punya bukti ? Tunjukkan jika kamu punya. Sekali pembunuh tetaplah pembunuh aku semakin muak melihat mu. "Sutomo lalu pergi meninggalkan meja makan itu Dia sudah tidak berselera lagi."
Ayah, mau kemana? "panggil Sila."
Ayah mau ke kamar sayang, aku muak melihat wajah Pembunuh Itu "sinis Ayahnya."
Tapi ayah belum menghabiskan makan malam, ayah "sendu Sila."
Ayah sudah kenyang "Lalu pergi meninggalkan ruang makan itu."
Lihat Kak, karna ulah kakak yang melawan, ayah jadi tidak makan. Bagaimana kalau Ayah sakit "seru Sila sok peduli."
Apa karna kakak akan meninggalkan rumah ini kakak jadi melawan, ayah ? aku benci, kakak "Sila pergi meninggal meja makan itu juga."
Sintia, menagis melihat semua kejadian ini dadanya terasa sesak karna sedari tadi menangis terisak, saat ini Dia benar-benar sendiri tidak ada lagi keluarga semua membencinya.
__ADS_1
Sabarnya Non, semua bukan salah Non ko. Bibi yakin semua sudah di atur cepat atau lambat, semua akan terungkap "Bi surti, datang memeluk Sintia mengusap lembut bahunya."
Bi Surti, melihat semua kejadian itu sedari tadi, Dia geram melihat Sila yang terus jadi sumbu kompor dan benci Sutomo yang menyudutkan Sintia, Dia benar-benar tidak tahan melihat semua ini.