
Setelah kepergian Pak Amir, Sintia duduk di sudut ruangan yang gelap dan lembap itu menekuk kakinya dan menangis sesunggukan.
Mah, Tia kangen sama Mama. bawa Tia pergi dari sini, Mah. Tia gak kuat disiksa terus sama Papa dan selalu disalahkan. Tia gak tau kenapa Papa sangat membenci Tia, Mah. "Tangis Sintia terdengar begitu menyedihkan di ruangan itu."
Ya Allah kenapa Hamba di kasih cobaan seberat ini ya Allah, apa salah hamba, jika bisa memilih lebih baik hamba terlahir dari keluarga sederhana ya Allah yang penting bener-benar sayang dan peduli sama Tia, tidak seperti ini ya Allah seperti cangkang kosong.Hanya di luar saja terlihat bahagia dan harmonis tapi di dalamnya penuh luka dan air mata.
Tolong hamba ya Allah kuatkan hamba. Hamba tidak ingin menjadi anak Durhaka yang melawan Orang Tua ya Allah, tolong sadarkan Papa Ya Allah, bimbing Dia ke jalanmu ya Allah Tuhanku.
"Sintia tetap mendoakan sang Ayah."
Begitulah Sintia selain cantik dan pintar Dia tidak pendendam Dia tidak pernah membalas perbuatan orang lain, melainkan selalu mendoakan dan menginginkan pertobatan mereka yang menzoliminya.
Padahal kalau di balas pun mungkin Tuhan tidak akan marah melainkan bangga atas kebangkitannya yang tidak mudah di tindas itu. Hal ini lah yang membuat, Sila semakin semena-mena dengannya karna Sintia tidak pernah membalasnya dan menganggap kakaknya lemah dan bodoh.
*
Bi, panggil Sila di atas ini sudah terlambat untuk makan malam nanti Dia sakit.
"begitu lah Ayahnya selalu membeda bedakan keduanya."
Baik, Tuan.
Tidak lama Sila pun turun bersama Bi Surti.
Kenapa belum makan juga, ayah? Kenapa harus menungguku? Nanti ayah sakit, kalau ayah terlambat makan.
Begitulah, Sila sok perhatian dengan ayahnya padahal Dia sengaja berlama-lama di atas tadi.
Tidak sayang, Papa tidak bisa makan sendiri kalau anak kesanyangan Papa ini belum makan. Papa khawatir sama kamu sayang, lagian papa belum begitu lapar dan papa hanya Ingin makan bareng sama kamu sayang. Papa baru tenang kalau kamu sudah makan.
Makasih Papa sayang, papa memang the best.
"Bagitulah keduanya saling memberi perhatian satu sama lain, merasa hanya mereka berdua yang ada disini tanpa mengingat anak yang satunya. Sangat miris memang, tapi apa boleh buat ini kenyataannya."
Ini Pah, makan yang banyak jaga kesehatan jangan terlalu memikirkan pekerjaan "Sila mengambil nasi dan lauk untuk Papa nya."
Ia sayang memang hanya kamu yang peduli sama Papa. Tidak seperti anak Papa yang satunya.
__ADS_1
Pah, jangan terlalu keras sama Kak Sintia, Bagaimana pun Dia tetap kakak aku dan anak Papa juga, kan ?
Kamu memang begitu tulus sayang, Kakak mu sudah sangat jahat kepadamu dan membiarkan kamu menunggu lama tapi masih saja kamu maafkan. Tidak salah ayah memilihmu sebagai anak kesanyangan, Papa.
Ahhh... Papa bisa aja, "Sila tersenyum jahat dalam hati."
Tapi Pah, Bi—bisa gak, Sila ijin sama Papa buat besok nginap di rumah Eve. Soalnya, Sila ada tugas kelompok dari kampus sama Eve. Bisa gak, Pah.
"Tanya Sila pura pura takut seolah di anak baik yang tidak pernah keluar rumah."
Bisa sayang, kenapa tidak? kalau untuk hal penting, ayah ijinkan asal jangan yang aneh-aneh aja.
Be—benar ko Pah, mana berani Sila bohong sama Papa.
Hahhaha... jangan takut begitu sayang, Papa sudah yakin ko kamu anak yang baik tidak seperti kakak mu itu.
Hehehe... Ia, Pah "tawa Sila garing."
Tapi Pah, Sila butuh uang tambahan. Sila mau beli buku untuk tugas yang satu Ini. Bisa gak, Pah?
Bisa dong sayang, apasih yang gak buat anak Papa ini. Jangankan untuk beli buku buat yang lain juga papa kasih. Memangnya Papa kerja siang malam buat siapa? Buat kamu sayang, tenang aja nanti Papa akan transfer sekalian buat jajan kamu sama Eve.
Beneran, pah?
Ia sayang, nih sekarang Papa transfer kalau kamu gak percaya. "Sutumo meraih ponselnya dari kantong celananya."
Tuh liat, Ayah udah transfer 20 jt.
Aaaa... makacii Papa sayang, Ummah.
"Sila berdiri dari kursinya berjalan mendekat Papa nya untuk memeluk dan mencium sang ayah."
Hahahhaa.... Ia anak manis "mengosok gosok lengan Sila."
"ART yang melihat kejadian Itu tersenyum miris, anak yang satu di banggakan dan anak yang satunya serasa tidak terlihat keberadaannya."
Bi, bereskan semua ini kita udah selesai, sisanya kasih aja sama anak nakal itu.
__ADS_1
Baik, tuan.
Udah sayang kamu Istirahat ya jangan begadang.
Siap Komandan !! "seakan menghormat Ayahnya."
Hahahah kamu bisa aja bercandanya.
Tok...!! Tok..!!
Non Bibi masuk ya, Non.
"Bi Surti, datang kebelakang membawa nampan berisi nasi dan lauk untuk majikannya yang satu ini".
Ia, Bi masuk aja.
"Saat berjalan, Bi Surti ingin menagis melihat keadaan majikannya yang satu Ini. Wajahnya terlihat bengkak karna tamparan keras tuannya tadi dan mata yang sembam, mungkin Dia habis menangis sedari tadi di tambah lagi keadaan tempat itu yang sangat memprihatinkan jauh dari kata layak. Hanya beralaskan kardus yang disimpan disini dan baju yang tidak layak pakai digunakan menjadi bantal".
Non ini Bibi, bawa makan malam buat Non Sintia.
Maaf ya Non, adanya tahu sama tempe soalnya semua Makanan sudah tidak ada sisa Non, semua di habiskan tuan dan Nona Sila.
Tidak apa-apa, Bi Ini juga sudah cukup ko.
"Sebenarnya, Bi Surti masak makanan banyak tadi tapi semuanya sudah di habiskan sama Tuan dan Nona nya. Sebenarnya tidak habis si, hanya di makan sedikit sedikit saja. Entahlah, Sila sengaja melakukan itu apa tidak yang pasti saat ini semuanya tidak layak di konsumsi Manusia, untuk peliharaan mungkin ia. Akhirnya Bu Surti membawakan tahu sama tempe yang belum tersentuh mereka untuk di makan Sintia saat ini".
Yang sabar ya Non, semua pasti ada hikmahnya. Allah sudah mempersiapkan yang terbaik buat Non nantinya, Allah tidak tidur, percaya sama bibi.
Ia bi, Tia pasti kuat ko melewati ini semua "jawab Sintia menghibur diri."
Ini ada salep Non, nanti non Sintia oleskan secara merata ya biar memarnya sedikit berkurang.
Makasih ya, Bi. Udah peduli sama keadaan, Tia.
Ia Non sama- sama, Bibi, pamit ya Non takut tuan nyariin saya. Di abisinnya, Non makanannya.
Ia, Bi.
__ADS_1
"Selain Pak Amir, Bi Surti juga sangat peduli dengan Sintia dan selalu membantunya di saat seperti ini. Sebenarnya yang lain juga baik tapi tidak sebaik Pak Amir dan Bu Surti, mereka terlalu takut jika tertangkap basah oleh tuannya, nanti imbasnya ke mereka juga. Maka dari itu mereka hanya bantu doa saja".