DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 24


__ADS_3

Besok paginya Sintia bangun cepat seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya, Dia akan mulai bekerja hari ini, karna tidak mungkin dia hanya berdiam diri di rumah dan dia juga harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya, karna Alvaro tidak pernah membicarakan soal Nafka ke padanya dia tidak ingin meminta, biarlah Suaminya yang sadar sendiri akan tanggung jawabnya.


Bi, apa Mas Al semalam pulang? "tanya Sintia ke Bi Nani sambil memakan sarapannya."


Tidak Non, tuan tidak pulang.


Oo... Begitu.


Nanti kalau, Mas Al sudah pulang kalau dia mencari ku, Bibi bilang saja kalau hari ini aku sudah mulai bekerjanya, bi.


Baik, Non.


Sintia pun berangkat ke kantor dengan menggunakan taxsi, karna dia tidak Membawa apa-apa ke rumah ini selain baju saja. Mobil yang biasa dia pake dulu tidak boleh di bawa sama, Ayahnya. Sintia tidak ingin menggunakan mobil suaminy, walaupun ada empat yang tidak terpakai di bagasi, Dia tidak ingin sembarangan menyentuh barang yang bukan miliknya, apalagi belum ada ijin dari yang punya.


Tidak masalah untuk saat ini aku naik Taxsi dulu, nanti kalau aku sudah punya uang lebih aku akan membelinya dengan uang ku sendiri "gumam Sintia dalam hati."


*


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Sintia sampai juga di depan kantornya. Untung dia belum terlambat karna hari ini jalanan cukup macet karna adanya perbaikan jalan.


Ahh... sepertinya besok aku akan berangkat lebih pagi lagi, aku tidak ingin terlalu lama di jalan seperti ini "ucap Sintia berbicara sendiri."


Hey...? "sapa Lusi ", akhirnya kamu datang juga, aku pikir kamu berbohong tentang ucapanmu kemaren.


Aku tidak pernah berbohong dengan apa yang sudah aku janjikan, kenapa kamu duduk disini? bukan kah sebentar lagi akan masuk "saut Sintia."


Aku menunggumu, bahkan aku sudah lima belas menit terduduk disini. Aku sangat merindukanmu "Lusi berdiri berjalan menghampiri Sintia."


Kamu selalu seperti itu, padahal ini belum genap dua minggu se'akan tidak bertemu dua tahun saja "Sintia berjalan meninggalkan Lusi."

__ADS_1


Hey, tunggu.


kamu mau kemana? Aku menunggumu, kenapa jadi aku yang tinggal begini "rengek Lusi mengejar Sinta."


Aku tidak meminta mu menunggu ku, ini sudah jam masuk kerja, kamu malah santainya duduk disitu "saut Sintia dengan santainya."


"Ck', Menyebalkan sekali, tau begini aku tidak akan menunggu mu "gerutu Lusi."


Sintia hanya menaikkan kedua bahunya dan masuk ke dalam lif di ikuti Lusi dari belakang.


Bagaimana? apa semalam kamu sudah mengatakan kepada, Pak Bagas hari ini aku akan masuk "tanya Sintia."


Ya,bahkan dia sangat senang mendengar kabar kalau kamu tidak mengundurkan diri "kesal Lusi."


Bagus lah, bekerjalah dengan baik hari ini, jangan Ceroboh seperti biasa "ucap berjalan ke luar dari lif menuju meja kerjanya."


Pagi semuanya, Pagi Pak Bagas "sapa Sintia ke teman temannya."


Maaf, aku ada pekerjaan yang sangat mendesak. Itu lah kenapa aku tidak sempat memberi kabar, aku harap kita bisa bekerja sama lagi dengan baik seperti sebelumnya "jawab Sintia menunduk hormat."


Tidak masalah yang penting kedepannya hal seperti ini tidak terjadi lagi "Saut Pak Bagas selaku Manager di Perusahaan ini."


Terimakasih, Pak Bagas "balas Sintia lembut."


Persiapan dirimu, nanti Pimpinan Pusat akan datang kesini untuk melihatmu secara langsung, karna Profosal yang kamu buat sangat Menarik Perhatiannya dan kemungkinan besar Pimpinan Pusat akan memindahkan mu ke Kantor Pusat "jelas Pak Bagas."


Ta-tapi aku tidak ingin di pindah tugaskan, Pak "tolak, Sintia karna Dia sudah sangat nyaman bekerja disini dengan lingkungan yang sehat dan tidak toxic.


Untuk masalah itu aku tidak punya Wewenang menolak Pimpinan, kamu saja yang bernegosiasi dengannya itupun kalau kamu berani.

__ADS_1


Mendengar itu Sintia terdiam membuang muka. Benar kata Pak Bagas tidak mungkin dia bisa menolak Seorang Presdir Perusahaan ini, itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Kalau begitu bagaimana dengan ku? Apakah aku mampu menolaknya? Memang ini sebuah pencapaian besar karna tidak semua orang bisa masuk ke Kantor Pusat, tapi disana juga tidak segampang yang terlihat pasti pekerjaannya akan lebih berat dan saingan di mana mana, ia kalau teman temannya well come kalau tidak. Ahh !! memikirkan saja aku sudah hampir gila, apalagi jika itu kenyataan aku bisa benar-benar gila."


Baik lah, Pak "lirih Sintia."


Setelah mengatakan itu mereka semua bubur dan kembali kemeja masing masing, banyak di antara mereka yang menyangkan Sintia akan di pindahkan, karna sama saja mereka akan kehilangan setengah sayap mereka, karna selama ini Sintia lah yang menjadi penopang mereka semua.


Bagaimana, apakah kamu masih akan menolaknya? "tanya Lusi yang duduk di samping Sintia."


Entahlah, aku belum bisa memikirkannya lagi. Aku ingin sekali menolaknya, tapi aku takut jika aku menolak aku akan di pecat. Bagaimana pun juga, aku sangat butuh pekerjaan ini kamu tau sendiri kan "ucap Sintia, karna Lusi sudah mengetahui kehidupan Sintia yang sebenarnya, karna mereka sudah berteman sangat lama jadi Sintia selalu curhat dengan Lusi, tapi untuk masalah pernikahannya saat ini Sintia belum memberitahunya karna belum ada waktu tepat."


Coba saja kamu melihat wajahnya, nanti kalau sekiranya bisa di ajak berkompromi coba saja meminta sedikit negosiasi dengannya, kemaren si aku lihat wajah Presdir kita tidak terlalu galak seperti yang di katakan orang orang, tapi aku tidak tau sih itu hanya karna penglihatan sekilas atau apa, coba saja lah kamu lihat sendiri nanti "tutur Lusi memberi saran."


Hm....aku akan mencobanya.


Saat mereka semua sedang sibuk dengan pekerjaan Masing-masing, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


Maaf mengganggu sebentar, apakah ini benar ruangan Bu Sintia? "tanya OB memanggil Sintia."


Mendengar ucapan Pak Kasim, OB di kantor ini mereka semua langsung melihat ke arah Sintia, itu artinya Pimpinannya telah datang, itulah kenapa dia di panggil saat ini.


Benar, ada yang bisa saya bantu? "Sintia yang menjawab langsung."


Ibu di panggil ke ruangan Presdir sekarang juga, mereka semua sudah menunggu ibu "jawab Pak Kasim."


Sintia melirik ke arah, Lusi dengan Wajah Masam dan Lusi hanya mengangguk dan menggangkat kedua tangannya seakan menyemangati Sintia.


Baik pak, saya akan segera datang "jawab Sintia."


Sintia pun berlalu pergi Meninggalkan mereka semua dan berjalan ke ruangan Presdir dengan wajah di tekuk.

__ADS_1


Semoga saja, Bu Sintia tidak jadi di pindahakan. Aku tidak akan rela jika harus kehilangan beliau yang baik dan selalu membantu "batin mereka semua."


__ADS_2