DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 20


__ADS_3

Pagi harinya mereka turun ke bawah untuk sarapan bersama, karna disana semua keluarga besarnya sudah berkumpul, karna memang mereka di minta, Pak Gunawan dan Bu Emi untuk menginap disini, begitupun dengan Pak Sutomo dan Sila menginap disini juga. Yah, itung itung hari terakhir bertemu dengan Putrinya, itulah kenapa Keluarga Sutomo di ijinkan menginap disini.


Aduh pengantin baru udah turun aja. Gimana malam pengantinya luar biasa bukan? "cecar Bu Ira."


Udah jangan malu-malu gitu, Om dan Tante juga pernah merasakannya. Nikmat sekali bukan? "timpalnya lagi."


Mah apa apa si, Malu. liat mereka jadi bahan perhatian orang-orang disini "tegur Suaminya."


Kenapa sih Pah, Itukan hal yang wajar mereka kan pengantin baru disini memang ada yang salah "balas bu Ira tidak mau kalah.


Mah, semua orang juga tau mereka Pengantin baru disini, masa ia dengan Malam Pertama mereka saja mama kepo. Apa perlu Mama mau Video nya juga? "hardik Ifan."


Is...apa-apa sih kamu ini, kamu ini masih kecil belum tau Urusan Orang Dewasa, kamu diam saja "balas Bu Ira."


Kecil kecil begini udah bisa bikin anak juga, Mah "gumam Ifan yang masih di dengar ibunya."


Apa kamu bilang? Jangan bilang kamu sudah menghamili anak orang, Siapa? siapa yang kamu hamili? " bentak Ira.


Apasih Mah teriak teriak malu ih, Aku bilang sudah bisa bukan udah ngerti gak si, Mama udah Tua si udah Bolot "cetus Ifan."


Apa kamu bilang!


Mama bolot? Dasar anak durhaka bisanya cuman ngatain Orang Tua. huh, entah anak siapa kamu ini "cibir bu Ira."


"Orang-orang yang melihat mereka geleng geleng kepala, tiada hari tanpa gelut selalu ada aja bahan perdebatan keduanya."


Sudah sudah jangan di bahas lagi, entah sampai kapan kita akan menunggu jika menunggu kalian selesai berdebat, makan lah telinga ku sudah sangat pekak mendengar perdebatan kalian dari kemaren "ucap Ibu Dewi di angguki yang lain."


Sayang kamu makan yang banyaknya, Aku tau semalam kamu sudah sangat bekerja keras "ucap Ibu Emi yang menaruh lauk di piring menantunya.

__ADS_1


Sintia hanya tersenyum mendengar ocehan mereka sedari tadi yang membahas tentang Malam pertama, nyata hanya Dia dan Tuhan yang tau kejadian semalam. Jangankan untuk Malam Pertama, komunikasi saja buruk. Bahkan mereka tidur terpisah, entah lah apa yang akan terjadi jika Mertuanya mengetahui hal itu.


Kamu juga Al makan yang banyak, Papa sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari kalian berdua "timpal Pak Gunawan."


Ia, Pah. "Alvaro hanya mengiakan saja, seolah keduanya telah bekerja keras dan Dia tidak mau membuat kedua Orang Tuanya mencurigainya."


Ia Nak Alvaro, Cepat beri kami cucu aku sudah tidak sabar menggendong cucu "ucap Sutomo."


Bersabar Pah, Mah, Ayah Mertua kalian semua yang ada disini, kami akan lebih bekerja keras memberikan yang terbaik untuk kalian semua. Doakan saja Semoga Tuhan Mempercayai kami untuk menimang seorang anak "ucap Alvaro dengan mulut manisnya.


Kamu benar kita memang harus bersabar menunggu, karna bagaimanapun juga Anak itu titipan Tuhan, kita tidak bisa memaksa kapan akan di beri "timpal Ridho."


Benar Om, Om memang sangat mengerti ku "balas Alvaro."


"Setelah mereka selesai sarapan, mereka pun pamit satu persatu karna sibuk dengan urusan masing masing."


Berkunjung lah kerumah sayang jika ada waktu, pintu rumah Bibi terbuka untuk menyambut kedatangan kalian "ucap bu Ira ke Sintia."


Terimakasih Bibi, lain kali kami akan datang kerumah "balas Alvaro dan di tambah dengan anggukan senyum manis Sintia."


Kami juga pamit ka, ada Urusan di kantor "ucap Ridho dan keluarganya."


Baik lah, hati hati di jalan berkunjung lah kerumah jika kalian punya waktu "ucap Gunawan di angguki mereka semua."


Saat ini tinggal lah Sutomo dan Sila mereka pun ingin ijin pamit, karna sudah sangat bosan berada di Keluarga ini.


Kami juga ijin pamit Besan, masih ada urusan putri ku Sila juga ada kelas pagi ini "ucap Sutomo."


Sintia sayang jaga diri baik baik yah, Jadilah anak yang penurut, saat ini kamu sudah jadi seorang Istri berbaktilah pada Suami dan Mertuamu. Ayah tidak bisa lagi selalu ada di dekat mu, kamu harus lebih Mandiri saat ini, jangan lagi bersikap manja "ceramah Sutomo di depan Besannya ."

__ADS_1


Sintia hanya diam saja melihat akting Ayahnya yang sangat luar biasa saat ini, berperan jadi Ayah yang baik.


Kak Tia, Baik baik lah disini berkunjung lah kerumah kita. jika kamu ada waktu, Aku akan sangat merindukan kakak, Aku tidak terbiasa jauh dari kakak "lirih Sila memainkan perannya.


Sudahlah sayang jangan menangis Kakakmu sudah Dewasa sudah waktunya dia memiliki Keluarga, kelak kamu juga nanti akan seperti dia, kalian semua akan meninggalkan Ayah "lirih Sutomo."


Baik lah, kalau begitu kami pamit dulu ya sayang, kembali lah kerumah jika ada waktu "ucap Sutomo dengan Mata berkaca kaca."


Ia Ayah, hati hati lah di jalan "jawab Sintia seadanya tidak ingin mendramatis seperti mereka karna baginya itu sangat memuakkan."


Saat ini tinggal mereka ber empat disana. Setelah semua pergi mereka juga ingin kembali kerumah, karna saat ini Alvaro dan Ayahnya masih cuti.


Mah Pah, hari ini kami ingin langsung pindah kerumah ku seperti yang aku bilang sebelumnya. Kami ingin Mandiri dan juga penting buat kami berdua saling mengenal satu sama lain tanpa adanya orang lain diantara kami, biar kedekatan kami lebih Natural "ucap Alvaro membuka suara dia tidak sabar akan segera pindah supaya dia bebas bertemu kekasihnya.


Tidak bisa kah kalian pindah minggu depan saja, setidaknya tinggal lah di rumah beberapa hari saja kamu juga masih cuti, Mama juga perlu dekat dengan Mantu Mama "jawab bu Emi."


Semakin cepat semakin baik, Mah ini juga untuk kebaikan kami berdua dalam menjalani rumah tangga kami. Mama kan sudah dekat sama Mantu Mama beberapa hari ini dan juga nanti Mama bisa datang kesana jika kami ada di rumah "balas Alvaro lagi."


Sudahlah Mah, Biarkan saja Anak anak Mandiri ini juga demi Kelangsungan Rumah Tangga mereka. Benar kata Al, biar kedekatan mereka secara Natural tidak di paksa paksa seperti yang sering Mama lakukan untuk mendekatkan mereka "timpal Pak Gunawan."


Sayang, apa kah kamu tidak masalah jika harus langsung tinggal berdua dengan Suami mu ?


Tidak Mah, gak papa itu sudah keharusan ku ikut Suami, karna cepat atau lambat kami juga akan tinggal berdua nantinya, Mama jangan khawatir kami akan baik baik saja "saut Sintia."


Kamu memang Anak yang baik tidak salah Mama memilihmu jadi menantu, Mama. Mama percaya padamu sayang, ingat apapun yang terjadi kamu segera beritahu Mama ya sayang. Mama akan selalu ada di pihak mu, Baik lah sekarang Mama tenang membiarkan kalian pindah dari rumah.


Ia, Mah.


"Alvaro memutar malas bola matanya melihat kedekatan Ibu dengan Istrinya, Dia curiga Ibunya telah di Pelet sama wajah pura pura baik Istrinya ini."

__ADS_1


__ADS_2