
Sepulangnya mereka dari butik, Bu Emi langsung mengajak Sintia ke rumahnya untuk makan malam seperti yang sudah di katakan Alvaro sebelumnya.
Sayang kita langsung pulang kerumahnya, Paman dan Bibimu sudah menunggu kita di sana "ucap Emi."
Baik, Mah.
Nak, Mama pulang bareng kalian yah, Mama kesiapan di dalam mobil cuman sama Mang Rudi "tutur Emi."
Ya udah, Mama pulang sama Sintia aja. Kebetulan aku mau ketemu Kenan dulu "ucap Alvaro berbohong dia malas dekat sama Sintia."
Eh...Tidak bisa kamu ini gimana si, kita itu ada makan malam bersama keluarga. Kalau kamu tidak ikut, Sintia sama siapa? yang benar aja "ujar Emi sedikit marah."
Ya sama Mama lah, lagian Dia harus sudah belajar menemui keluarga lain tanpa Suami, Mah. Di masa depan Dia akan melakukannya sendiri sama seperti Mama tidak selalu bareng Papa "jawab Alvaro tidak mau kalah."
Itu beda sayang Ini kan, Sintia masih baru. Kalau Mama kan sudah terbiasa, gimana sih "gerutu Bu Emi."
Sintia hanya diam mendengar perdebatan mereka berdua, dia tidak tau harus menjawab apa. Saat dia ingin menolak untuk datang, dia sudah di skamat duluan sama Alvaro jadi dia memilih ngikut saja dan melihat bagaimana situasi disana, benar kata Alvaro di masa depan, Dia akan menemui mereka juga. Jadi tidak ada salahnya, jika dia datang sekarang.
Ya udah cepat masuk, kita pulang bertiga kerumah, Papa dan yang lain sudah menunggu kita "ucap Emi."
Mau tidak mau, Alvaro mengiakan Mamanya dia malas berdebat karna tidak akan ada ujungnya.
Di perjalanan, hanya Ibu Emi yang sedaritadi membuka mulut. Keduanya hanya pendengar setia dan hanya menjawab semua pertanyaan Mamanya jika di tanya, sampai tidak terasa kalau mereka sudah berada di depan rumah.
Ahhh ternyata kita sudah nyampe aja, gak kerasa, yah ?jadi gini rasanya duduk bareng mantu, semua terasa cepat "ucap Emi."
Mama aja yang gak ngerasa, karna Mama sibuk sendiri. kita mah bosen dengar ocehan Mama, udah Mama turun aja Papa udah nunggu tuh "gerutu Alvaro."
Kamu ini semakin tidak sopan sama Orang Tuanya, entah siapa yang mengajarimu "omel Ibu Emi."
Baik lah, Ayo sayang kita masuk bareng. Mama tau kamu merasa gugup, karna Mama juga dulu pernah merasakannya. Tapi, untungnya Mama ada yang nemenin. Suami, Mama tidak seperti calon suamimu yang gak ada pengertiannya "sindir Bu Emi."
Tapi yang di sindir seolah tidak mendengar apa-apa, malah sibuk dengan ponselnya. Entah apa yang di lihat disana.
__ADS_1
Tenang sayang, Mama ada di samping mu "Bu Emi memengangi tangan Sintia yang terasa dingin dan lembab."
Terimakasih, Mah udah ngertiin, Tia.
Sintia memang sedari tadi diam, tapi jauh di dalam hatinya sangat deg-deg'an, karna belum pernah bertemu dengan Keluarga Besar Anderson. Dia benar-benar gugup. Tapi untungnya Mertuanya mengerti keresahan hati Sintia, dia beruntung punya mertua sebaik bu Emi, walaupun anaknya tidak sebaik Dia.
*
*
Hallo semua... Maaf ya kalian lama menunggu lama, maklum lah jalanan sedikit macet "sapa Emi ke keluarga yang ada di sana."
Tidak masalah, Kakak Ipar itu sudah hal biasa "jawab Ira istri dari adek Suaminya."
Perkenalkan Ini Calon Menantuku, lihat lah Dia sangat Cantik, kan? Aku tidak Berbohong pada kalian semua "ujar Emi."
Sebelumnya dia memang sudah mengirimi foto Sintia di group Keluarga dan Memberitahu Perihal Lamaran Alvaro beberapa hari yang lalu. Tapi mereka semua tidak ada yang percaya, Berkata kalau Emi mengambil gambar orang lain karna memang mereka semua tidak ada yang kenal Sintia.
Aku hampir tidak mempercayai ini Kakak Ipar "saut Dewi Istri adek Suaminya lagi."
Aku tidak menyangka, Kak Alvaro punya Calon Kakak Ipar yang sangat cantik "ujar Ifan."
Ia makanya, cepat cari pedamping hidup biar kamu jangan hanya mengangumi milik orang lain "Cibir Ira ke anaknya."
Apaan si, Mah kan ada waktunya. Kakak dulu baru nanti Aku menyusul "Saut Ifan."
Kenapa, jadi bawa bawa aku? "balas Evan."
Karna kamu anak pertama, cepat lah kasih Mama calon mantu karna Mama udah gak sabar Menimang Cucu "cibir Ifan."
Sudah sudah, kalian jangan berdebat disini nanti lanjut di rumah saja, kita lanjut makan malam nya saja "Potong Emi."
Saat semuanya sudah tenang dan mengambil makan malamnya dengan penuh hikmah, tiba-tiba Tika membuka mulut.
__ADS_1
Memangnya kamu bisa apa? sampai kamu berani bersanding dengan, Kak Alvaro"ucap Tika."
Mendengar itu, Sintia terdiam dia tidak bisa menjawab apa, dia benar-benar terintimidasi dengan tatapan, Tika kepadanya sedaritadi, memandang tak suka.
Dia Cantik dan Dia sanggup menghabiskan uang Calon Suaminya "bukan Sintia yang menjawab, melainkan Ibu Mertuanya."
Tika memang bermulut pedas, sama seperti Ayahnya. Makanya, Bu Emi yang menjawab pertanyaan Tika, karna dia tau Calon Menantunya ini sangat lugu dan polos, hanya di tatap saja Nyalinya sudah Menciut .
Tapi kan, Tante itu bukan keahlian, kalau hanya itu saja siapapun bisa melakukanya "kesal Tika, karna Tantenya sangat membela calon menantunya, yang menurut Tika tampilannya biasa saja lebih bagus dia kemana mana.
Siapa bilang semua bisa, kamu salah sayang hanya Istri Alvaro lah yang bisa melakukannya. Memangnya kamu bisa menghabiskan uang Alvaro ? kan tidak !! jangankan menghabiskan uang Alvaro, menghabiskan uang kakak mu saja kamu tidak bisa.
Ia kan, Jasen? "tanya Emi ke Jasen."
Mendengar namanya disebut Jasen mengangkat kepalanya yang sedari tadi fokos dengan makananya. Jasen memang berbeda dengan, Tika sikap Jasen yang pendiam dan tidak mau tau dengan urusan orang lain berbanding terbalik dengan, Tika yang selalu mencampuri urusan orang lain, terlebih urusan Alvaro dengan Wanita yang dekat dengannya. Entahlah apa alasannya.
Tante benar ! "hanya itu yang keluar dari mulut Jasen."
Muka Tika semakin jelek, Kakanya bukannya membelanya malah makin menyudutkannya.
Tang...!! "Tika langsung membanting sendoknya dengan keras dan meninggal meja makan."
Sudah sayang jangan hiraukan dia, Dia memang selalu seperti itu "ucap Emi ke sintia."
Dewi yang melihat sikap ke kanak-kanakan Putrinya merasa tidak enak hati.
Maafkan Putriku, Kakak Ipar mungkin dia lagi ada masalah dengan pekerjaannya "ucap Dewi tidak enak hati."
Tidak masalah, karna hari ini aku sangat bahagia jadi biarkan lah itu jadi lelucun untuk kita "ucap Emi tenang sambil menambah lauk menantunya."
Makan yang banyak sayang, kamu terlihat sangat kurus wanita tidak baik jika terlalu kurus "ucap Emi lembut."
"Ira hampir tidak mempercayai, Kakak Iparnya yang tegas dan galak ini bersikap lembut ke orang lain," Ini benar benar ajaib pikir mereka semua.
__ADS_1
Alvaro dan Pak Gunawan tidak heran lagi, karna memang Ibunya sangat agresif dengan Menantunya, jadi mereka berdua sudah mulai terbiasa dengan sikap Emi.