DI ANAK TIRIKAN

DI ANAK TIRIKAN
Bab 11


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit berlalu, Sutomo pun turun terlebih dahulu menyambut Calon Besanya.


Maaf Calon Besan, kalian menunggu lama "Sutomo tidak enak hati, telah membuat orang Terkaya di Negara ini menunggunya".


Tidak masalah, salah kami juga datang terlalu cepat dari waktu yang sudah kita sepakati "jawab Gunawan, walaupun sebenarnya dia sedikit kesal karna di buat menunggu, tapi tidak berani mengutarakannya karna berada di sisi Istrinya."


Dimana calon menantu ku? "celah Bu Emi tidak sabar bertemu Sintia."


Anak-anak sedang berdandan, Bu Emi bersabarlah sebentar lagi mereka akan turun "jawab Sutomo."


Ahh...Ia, Wanita memang lama berdandan tidak masalah aku sabar menunggunya.


Mendengar itu, Suami dan Anak itu kompak memutar bola matanya malas, tadi saja Dia mengomel di rumah tidak sabar untuk bertemu. Lihat sekarang senyumnya begitu lebar mengatakan sabar menunggunya.


Aku tidak mempercayai ini "batin Ayah dan Anak ini."


Hahha.. ia anda benar, memang begitu lah wanita "jawab Sutomo lagi."


Sembari menunggu, mereka mengobrol ringan tentang kehidupan pribadi dan 20 menit berlalu, akhirnya yang di Tunggu-tunggu datang juga.


Terlihat Dua Gadis cantik turun dari tangga. Satu memakai Gaun putih polos, tapi terlihat menarik di pandang Mata, di olesi make up tipis di wajahnya dan yang satunya memakai Dress warna meran marun yang begitu ketat, membuat lekuk tubuhnya terlihat dan belahan dada yang terbuka, di olesi make up yang strong.


Sila, sengaja melakukan itu untuk membuat dirinya terlihat cantik dan mengalahkan Kakanya, supaya Dia di puji. Karna pada dasarnya, Sila memang haus pujian. Padahal disini, kakaknya lah pemeran utama bukan dia tapi malah tampilannya yang lebih heboh dari pemeran utama .


Ibu Emi, langsung berdiri dan berjalan ke arah mereka berdua dan memujinya.


Sangat cantik aku suka ini, kamu sangat Cantik sayang "ucap ibu Emi."


Sila tersenyum lebar, Dia merasa seakan pujian itu di layangkan padanya.

__ADS_1


Terimakasih, tante "jawab Sila."


"Emi melihat Sila dengan tatapan tak suka", Bukan kamu yang ku Puji, tapi calon menantuku aku tau Dia calon menantu bukan kamu "telak Emi."


Mendengar itu, Sila geram dia malu ternyata bukan dia yang di puji Nenek sihir ini. Padahal, Sila sudah dandan Habis-habisan. Bahkan dia bangun dari Pagi hanya untuknmempercantik dirinya, supaya terlihat di mata mereka. Dan ingin jadi bahan perbandingan kepadanya, Sila kesal, tapi Sila masih berusaha menahan senyum indahnya.


Sini sayang, kamu duduk di sebelah tante "Emi mengajak Sintia duduk disampingnya."


Sintai mengangguk dan berjalan perlahan di samping, Ibu Emi dia begitu gugup.


Melihat itu, Sutomo tidak mempercayai matanya, Ibu Emi yang katanya Kasar dan Sombong kini tidak terlihat sama sekali dan bahkan hanya Senyum indah yang terpampang di wajah cantiknya. Walaupun umurnya sudah Tua, tapi tampilannya masih sangat cantik karna perawatannya yang mahal.


Sutomo, aku tidak percaya bahwa kau mempunyai Anak secantik ini, pantas saja kamu menyembunyikan nya dari Publik, sekarang aku mengerti maksud mu "tebak Gunawan."


Hahahha...


Kamu benar Gunawan aku memang selalu menjaga Putri-putriku "Sutomo berusaha menutupi kecanggugannya saat ini, Dia berbohong kepada Keluarga Anderson bahwa dia memperlakukan kedua Putrinya dengan Baik padahal kenyataannya tidak seperti itu."


Kamu memang pintar menjaga Calon Menantuku, Sutomo tapi bukan dengan anakmu yang satu lagi. Lihat tampilannya, Dia memakai baju yang kurang bahan seperti itu memamerkan bentuk tubuhnya yang tidak seberapa itu, padahal ini Acara Lamaran Kakaknya tapi, Dia bersikap seolah olah Pemeran Utamanya disini "cetus Emi tanpa filter sedikitpun."


Sila semakin geram, ingin berontak tapi tangannya di pegang Ayahnya. Dia tidak ingin Pertemuan ini berantakan, karna akan berakibat fatal buat Perusahaanya, sebenarnya dia juga kesal tapi berusaha menahan kekesalannya.


Bu Emi, Maafkan tampilan Anakku, tapi dia juga Anak yang baik dan penurut dia selalu membantu kakaknya, jika kakaknya membutuhkannya bahkan tidak jarang juga Dia selalu menutupi kesalahan kakaknya hanya untuk tidak di hukum olehku "puji Sutomo berbohong."


Aku tidak mempercayai itu, mungkin sebaliknya aku bisa menebak hanya dari mimik mukanya saja, mungkin kamulah yang sering di bohongi Anakmu itu, Sutomo "tetus Emi."


Sila semakin naik pitam, Dia benar-benar merasa Terhina disini sekuat mungkin Dia menahannya.


Maafkan aku Tante jika tampilanku merusak pandangan Tante, Aku akan menggantinya "ucap Sila menunduk sopan."

__ADS_1


Baguslah jika kamu sadar diri, cepat sana kamu ganti setidaknya tiru lah tampilan calon menantuku ini Sopan dan Elegan. Aku bahkan tidak Percaya jika kalian Kakak Adek sangat tidak mirip "Cibir Emi."


I—ia, Tante saya pamit dulu "Sila masih bersikap manis."


Setelah kepergian Sila, Sutomo membuka mulut membela Sila, Dia tidak terima Sila di hina seperti ini.


Bu Emi, tolong jangan menghina putriku, Sila. Dia anak yang baik dia yang selalu ada untukku, bukan seperti kakaknya yang selalu sibuk dengan dunianya "sindir Sutomo."


Aku mengatakan kebenaran, Sutomo kamu terlalu di butakan dengan muka sok polos putri mu itu, Aku tidak pernah salah menilai seseorang "jawab Emi."


ehm..ehmm... "Gunawan mencoba melerai perdebatan Istri dan temannya."


Sudah lah jangan terlalu di pikirin biarkan saja, Mah namanya juga anak muda masih labil nanti juga akan berubah. Sutomo juga tau yang terbaik untuk putrinya, kita jangan terlalu ikut campur itu Urusan Keluarga mereka lagian, bukan dia yang jadi menantu kita,Mah jadi biarkan saja lah "Ucap Gunawan tegas"


Aku cuman memperingati saja, Pah biar nanti tidak salah jalan "jawab Emi."


Benar kata, Gunawan biarlah Itu jadi Urusan Keluarga kami, orang luar jangan ikut campur "cibir Sutomo."


Berbeda hal dengan Alvaro Dia tampak menikmati perdebatan ini, Dia tidak ikut campur. Walaupun Dia membenarkan perkataan Ibunya, tapi Dia memilih diam. Melihat tampilan Sintia, Dia tampak biasa saja, Wajahnya memang cantik tapi hatinya tidak bergetar sedikitpun melihatnya seakan kecantikan, Sintia tiada artinya untuk Dia, Entahlah mungkin Dia sudah Mati rasa.


Ya sudah kita mulai saja Acaranya "ucap Gunawan."


Baiklah Calon Besan, disini kami datang untuk melamar Putri Pertamamu dan kami berharap Niat baik Kami diterima "ucap Gunawan membuka Acara."


Baiklah Calon Besan, saya menerima Lamaran kalian dan kembali lagi ke Putri Kesayanganku, Dia menerima atau tidak saya serahkan semua kepadanya, karna saya tidak ingin memaksa kehendak Putri saya "Sutomo berperan sebagai, Ayah yang baik dan peduli kepada Sintia."


Bagaimana Menantuku, apakah kamu Menerima Lamaran kami ? "tanya Emi."


Sa—saya Me—menerimanya, Tante "jawab gugup Sintia."

__ADS_1


Ahh leganya, aku pikir tadinya kamu di tolak, Nak "ucap Emi melihat Alvaro."


Alvaro hanya memutar malas bola matanya enggan menjawab basa-basi Ibunya.


__ADS_2