
Penikahan Alvaro dan Sintia tinggal menghitung hari semua acara di siapkan Ibu Emi. Memang ini permintaan, Emi dari dulu Dia ingin sekali mengatur konsep pernikahan anaknya. Apalagi saat ini kedua calon mempelai itu tidak keberatan sama sekali jadi, Emi bebas sesuka hati mengatur acara pernikahan.
Nak nanti sore kamu jemput, Sintianya kalian berdua temui mama di Butik, Tante Sarah. Mama udah ngabarin dia semalam "ucap Emi saat melihat Alvaro turun dari tangga, Dia sudah siap berangkat ke kantor."
Kenapa gak suruh Mang Rudi saja, Mah aku sibuk kalau hanya untuk menjemputnya "jawab Alvaro tidak ingin repot repot menjembut, Sintia."
Gak bisa sayang, kamu kan juga ikut fitting bajunya, memangnya cuman Sintia doang yang akan menikah kan kamu juga, gimana si "gerutu Ibu Emi."
Aku sibuk, Mah itu kan ada Mang Rudi yang nganggur ngapain harus Aku si, Masalah baju gampang nanti aku kalau ada waktu sempatin ke butik, Tante Sarah "tolak Alvaro."
Gak boleh pokoknya kamu harus jemput, Sintia. Mama gak mau tau alasannya ingat jam 4 sore harus udah ada disana, jangan membantah Mama nanti Mama aduin ke Papa kamu "bentak Emi."
Alvaro mendegus kesal, tidak terima dengan ucapan ibunya, ingin membantah tapi Sia masih sayang asetnya. Alvaro tidak ingin karna hal sepele seperti ini semua berantakan. Aset taruhannya disini, mau tidak mau akhirnya dia setuju.
Hmm... Ia ia, nanti aku jemput "kesal Alvaro."
Nah, begitu dong baru anak Mama "puji Emi."
Saat Alvaro ingin berangka pergi ke kantor langkahnya di tahan ibunya.
Eh... Tungggu dulu sayang, jangan langsung pergi, sini duduk dulu sebentar "ajak Emi duduk di sofa."
Apalagi sih, Mah. aku mau berangkat ke kantor nanti telat "kesal Alvaro di tahan Ibunya."
Elleh...kan kamu Bosnya terlambat sesekali gak papa, lagian ini juga hal penting ko bukan main main. Harusnya mulai sekarang, kamu sudah harus ambil cuti buat Mempersiapan Pernikahan mu bukan jadi, Mama begini yang repot "gerutu Emi."
Ini kan maunya, Mama "balas Alvaro merasa tidak bersalah."
Tapi, setidaknya bantu Mama sedikit saja, kalau di suruh itu jangan membantah "cibir ibu Emi."
Emang apalagi sih, Mah.
Ini Mama, mau kasih tunjuk kamu Model Perhiasan untuk Cincin Nikah kamu, masa ia untuk cincin nikah harus Mama yang pilihin si. kan ini juga kamu yang pake "gerutu ibu Emi."
Terserah Mama saja, aku gak masalah bagaimana pun bentuknya "ucap Alvaro enggan."
__ADS_1
Gak bisa kamu harus memilih modelnya. Nikah itu Sekali Seumur Hidup Alvaro, Pernikahan itu Sakral tidak ada yang boleh menggangunya.
Mungkin saat ini kamu merasa pernikahan ini tidak berarti apa-apa bagimu, tapi Mama yakin suatu saat nanti kamu akan sangat berterima kasih ke Mama, karna telah menikah kan mu dengan, Sintia.
Saat ini, kamu memang belum mencintainya tapi kita tidak Tau hari esok karna manusia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di masa depan dan stop berfikir bodoh amat, Mama muak melihat sikap mu yang seperti ini.
Dan satu lagi jika memang kamu belom mencintai Sintia, nanti tolong kamu jangan mempersulitnya hargai dia sebagai Istrimu, Mama yakin Dia Wanita yang Baik jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari "ceramah Sintia panjang lebar."
Hm.... "deheman Alvaro."
Ya sudah ini lihat mana yang kamu suka "tunjuk Bu Emi."
Setelah Alvaro membolak balikkan model majalahnya, akhir Dia menemukan yang cocok untuknya. Model lingkaran bulat biasa di taburi berlian di dalamnya simpel tapi elegan.
Ini saja, Mah "tunjuk Alvaro."
Seleramu memang sama dengan Mama sayang, tadinya Mama juga sudah ingin memilih ini. tapi Mama harus lihat keinginanmu.
Hm..."Deheman Alvaro enggan membalas ucapan ibunya."
Ibu Emi, memang sengaja membiarkan keduanya sering bertemu, supaya mereka berdua semakin dekat dan tidak terlalu kaku.
Tanpa pamit ke Ibunya, Alvaro langsung meninggalkan ruang tamu, berjalan keluar karna Mang Rudi sudah menunggunya sedari tadi.
Jalan, Mang "ucap Alvaro ke Rudi supir pribadinya yang di panggil Mang."
"Baik, tuan."
*
Berbeda dengan Keluarga Sutomo setelah acara lamaran kemaren selesai, Sintia mengurung diri di kamar. Dia enggan untuk keluar, Sintia malas berdebat lagi dengan Ayahnya, karna saat bertemu Ayahnya hanya umpatan kasar yang keluar dari mulutnya dan Sila sebagai sumbu kompornya.
Sekarang Sintia paham, bahwa selama ini Sila hanya berpura-pura peduli dengannya. Sila sama saja dengan Ayahnya yang sama-sama Benci denggannya.
Pertekaran Sintia dengan Ayahnya, selalu di awali dari mulut kompornya yang selalu memanas manasi Ayahnya, apalagi setelah penghinaan yang Sila dapatkan dari Ibu Emi, Sila semakin geram dan melampiaskan kekesalannya kepada Sintia melalui Ayahnya.
__ADS_1
Aku tidak mempercayai ini jika Adek yang selama ini ku anggap Baik ternyata hanya Manipulatif, Ya Tuhan entah siapa lagi yang akan menghianatiku lagi di kemudian hari aku benar benar tidak mempercayai ini semua "gumam Sintia."
Tidak berapa lama terdengar ketukan dari pintu kamar dari luar, Sintia pun beranjak dari ranjangnya segera membuka pintu.
Tok..!! Tok..!!
Non "panggil Bu Surti."
Ia, Bi kenapa ?
itu Non, Tuan Alvaro sudah ada di bawah katanya mau jemput, Non.
Ia bi , Bibi turun duluan saja aku akan segera menyusul.
Baik, Non.
Sintia memang sudah bersiap sedaritadi karna dua jam sebelumnya dia sudah di kabari, Tante Emi kalau Alvaro sudah jalan kesini, Itulah kenapa Sintia bersiap tidak terlalu lama, hanya mengoles lipstik saja yang belum. Saat di turun di sana sudah ada, Sila yang berusaha mendekati Alvaro tidak ada Sutomo karna sedang berada di kantor.
Maaf, Mas sudah membuat mu menunggu "ucap Sintia tidak enak hati walaupun dia tidak terlalu lama turun."
"Bukan Alvaro yang menjawab melainkan Sila", Kakak ngapain aja sih di kamar, Ka Varo sudah menunggu Kakak sedaritadi loh. Gak on time banget si jadi orang "cibir Sila."
Maaf ya, Ka Varo kakak ku memang sedikit lamban makanya untuk siap-siap saja dia harus lama begini "Sila berusaha sok baik di depan Alvaro."
Hm... Tidak masalah, ayo kita berangkat sekarang "ajak Alvaro tidak terlalu menanggapi Sila."
i—ia, Mas "jawab Sintia ragu."
Sintia mengekori, Alvaro dari belakang dengan diam tanpa membuka mulut sama sekali.
Sila merasa geram diabaikan, seolah tidak ada Dia disana padahal, Sila sengaja turun kebawah untuk mencari simpati Alvaro, Dia ingin sedikit menarik ulur Alvaro, Jika Alvaro memilihnya, Dia akan menolaknya dan berpura pura jadi adik yang berbakti kepada kakaknya.
Tapi apa yang dia harapkan tidak pernah terjadi, jangankan tertarik, sedari tadi saja Alvaro tidak melihatnya sama sekali padahal, Sila sudah memakai pakaian yang Memikat Hati Pria tapi tidak di respon sama sekali oleh Alvaro.
Sila tidak tau saja, bahwa Alvaro sudah biasa melihat yang seperti itu.
__ADS_1