
Cinta.
Spesies apa itu?
Apakah nama sebuah kota? Di belahan bumi yang mana?
Atau nama makanan? Tapi, dengan rasa apa?
Tidak jelas makna pasti dari ‘satu kata’ itu.
Aku seakan dibuat kenyang dengan sodoran sejumlah pria yang diajukan oleh para keluarga, kerabat, dan kolega. Bukan urusan mereka jika aku memiliki prinsip sendiri dalam hidupku, selama tidak merugikan siapa pun maka aku akan tetap berdiri teguh pada pendirianku mengingat ini menyangkut jalan hidupku, bukan hidupmu, atau hidupnya. Hahaha~
Aku penyandang julukan ‘gadis pemilik hoki’ karena nasibku yang terkesan selalu mujur dan beruntung dalam aspek persaingan hidup (mereka tidak melihat perjuangan dan kerja kerasku yang mati-matian untuk menggapai satu per satu impian dalam wishlitsku itu). Aku yang dikatakan mempunyai kehidupan yang seimbang, karir yang menjanjikan, kecerdasan, dan semua yang mereka sebutkan tentang aku sebagai si pemilik hoki. Bahkan tidak jarang jika aku sering dijadikan pembanding dengan anak-anak lainnya oleh para orangtua mereka.
Semakin bertambahnya usia, ada satu hal yang tidak bisa menjadi tolok ukur dari diriku, asmara. Pacar, crushed, gebetan, doi, cem-ceman, mereka menganggap istilah semacam ini tidak ada dalam kamus hidupku karena aku tidak pernah terlihat tertarik dengan lelaki mana saja. Jodoh, ya menurutku ia kan datang bila si pemilik hati sudah siap sedia dengan segala konsekuensinya, sedang aku yang masih mengatakan ‘tidak!’ tentang itu, maka ia seakan tahu bahwa belum saatnya hati ini terisi oleh cinta dan segala spesiesnya.
Tapi aku tidak menutup hati sepenuhnya, mereka yang datang dan berhasil mengetuk hatiku kusambut dengan senang. Sekadar mengisi hati, menghias hari, dan mengibur diri, apa salahnya? Jadi, aku tidak jauh berbeda dengan manusia lainnya. Aku punya pacar beserta barisan para mantan yang menanti kartu undangan. Bedanya, saat dia yang datang kusambut dengan senang, maka yang pergi tidak perlu kukenang. Seperi itulah aku, mudah kan?
Seperti saat ini, di bangku taman rumah sakit di waktu makan siang. Aku dan pacarku tengah duduk berbincang, Mas Dika aku memanggilnya. Jika dimasukkan dalam rekor, ialah orangnya sebagai pemegang rekor 'orang terlama yang mampu bertahan menjalin hubungan kasih dengan Arindya Romansa (Dysa).'
“Kamu nggak memahami Mas, Dys.” Ujar pria yang duduk di hadapanku saat ini.
“Nggak memahami Mas gimana? Jelas-jelas dengan tegas aku mengatakan ‘big no!’ pada siapa pun yang menghalangi jalanku. Kamu itu memangnya siapa sih, Mas? Suami aku? Atau ayah aku?” Aku berucap pada Mas Dika, kekasihku.
“Dys, Mas hanya sedang merancang masa depan kita.” Ucap Mas Dika lembut padaku, jemarinya menggenggam erat jemariku yang sedang bertautan di atas meja.
“Loh, itu kejauhan Mas. Mau sampai kapanpun, aku tidak mau melepaskan pekerjaanku. Buat apa dong aku sekolah lama-lama, bakar otak setiap saat, tapi berakhir tragis karena aku harus melepaskan profesiku begitu saja? Kerja kerasku untuk jadi seorang dokter bukan hal yang mudah, Mas.” Mode debatku sudah turn on.
Pria di depanku itu hanya diam tanpa kata, pandangannya terfokus pada gelas berisi cappucinno kesukaannya lalu terdengar helaan napas berat sebelum akhirnya dia berkata,
“Tidak, bukan seperti itu maksud Mas. Lagi pula Mas bakalan dukung kamu kok, apapun yang kamu sukai Mas tidak akan menghentikan kegiatanmu.” Ujar Mas Dika yang membuatku kembali mencuatkan diri,
“Kata siapa? Bagiku pernikahan adalah pembatas dunia luar dengan kehidupan keluarga. Kamu tahu? Secara tidak langsung setelah menikah akan ada pembatasan seluruh aktivitasku dengan duniaku. Bohong kalau kamu mengatakan akan mendukungku atas kebebasanku dalam mengejar impianku sepenuhnya.” Aku yang pandai berkilah sudah lanyah mengucapkan alasanku secara istilah. Dalam kamusku, nikah berarti siap susah.
“Mas hanya tidak ingin kamu terus menunda membicarakan tujuan hubungan kita ke depan,” Mas Dika menyampaikan maksud perbincangannya.
“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan status kita? Hubungan tidak jelas ini, status pacar semu ini, semua tentang kita selama enam tahun ini. Semua ini benar-benar membuatku tidak tahan, Dysa. Lebih baik kita menikah saja.” Lanjutnya,
__ADS_1
“Aku tahu ini berat untukmu, kalau untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, Dysa rasa Dysa belum siap, Mas. Mas kan tahu, Dysa baru saja menikmati jadi seorang dokter. Ini baru langkah awal bagiku, belum ada pengalaman apapun yang Dysa dapatkan dari ilmu yang Dysa perjuangkan.” Kataku, seakan mas Dika memahami ucapanku ini.
Kemudian dia hanya tersenyum lantas bertanya singkat,
“Kenapa?” Tanya pacar Backstreetku itu.
Aku menghela napas dalam dan panjang,
“Kamu kan tahu, menikah itu butuh komitmen dan itu berlaku sepanjang hayat. Pernikahan bukan hanya status atau pun ikatan, tapi tanggung jawab yang nyata. Pernikahan bukan sekadar hubungan yang perlu dijalani, tapi juga sesuatu yang rumit dan penuh dengan pembangunan. Bangun kepercayaan, kesadaran, tanggung jawab, kasih sayang, rasa nyaman, dan…” Aku mendikte untuk menyebutkan perlu ‘membangun’ apa lagi.
“Bangun rumah juga?” Sambungnya disertai gelak tawa.
Dia yang kembang kempis dadanya karena kekehan tawa, sementara aku hanya menghempaskan diri pada sandaran kursi yang kududuki, menyedekapkan tangan, lantas berkata.
“Au ah, Mas bercanda mulu!”
“Hahaha… Dysa, Mas jauh-jauh datang kemari bukan untuk berdebat denganmu. Mas hanya ingin melihatmu saja. Sudah dong, jangan merengut begitu.” Ucap pria di depanku ini, aku mengangguk paham.
“Ya sudah, Mas kembali ke kantor saja. Perlu kamu ingat, Mas akan segera datang ke rumahmu untuk melamarmu. Mas tidak bisa membiarkan kita berlama-lama dengan status yang hanya sebatas pacar dan itu pun status semu.” Kalimatnya penuh dengan nada kepiluan.
“Dysa mengerti, Mas. Tapi perlu mas Dika ketahui bahwa sampai kapan pun--”
“Mas nggak malu, ya? Inikan di depan rumah sakit.” Aku risih mendapat perlakuan seperti itu.
“Kenapa malu? Kalau ada yang bertanya, bilang saja aku ini adalah kakakmu. Hehehe…” Mas Dika menanggapi dengan kekehannya.
Mas Dika adalah kekasihku sejak aku kuliah semester lima, dia anak dari dosen pembimbingku. Kami bertemu di jalan saat aku diturunkan dari angkutan umum karena aku adalah penumpang terakhir di sore itu. Aku hendak berkunjung ke rumah dosenku untuk mengantarkan tugasku yang terlambat. Dengan kemurahan hatinya, Mas Dika yang melihatku berjalan seorang diri menyusuri trotoar menawarkan tumpangan padaku untuk sampai ke tempat tujuan. Sepanjang perjalanan, aku bercerita tentang dosenku yang killer dan anti toleran terhadap kesalahan tugas. Mas Dika tertarik dengan ceritaku, dia malah menuntut kelanjutan ceritaku. Dengan ingin mengorek isi kepalaku tentang dosenku yang satu itu, mas Dika memancingku untuk terus bercerita dengan berkata 'Terus-terus?'. Dan ternyata dia malah memanggil dosen yang kumaksud dengan sebutan ‘Mama’. Hah? Aku terlonjak kaget, sadar bahwa sepanjang jalan topik pembicaraanku adalah dosenku yang killer alias Mamanya.
***
Mas Dika sudah pergi dengan mobilnya bersamaan jam makan siangku yang hampir selesai. Sejenak mengambil beberapa langkah menuju ruanganku.
“Doktel Isa! Doktel Isaaasa!” Terdengar suara cedal khas anak kecil memanggilku, aku menoleh.
*Oh benar, ternyata suara si gembu*l lucu, batinku.
“Iya, ada apa nih?” Aku meraih tubuhnya yang padat sesaat ia berlari ke arahku.
__ADS_1
“Ella indu.” Ucap si gembul memelukku.
“Ouhh, rindu ya? Rindu disuntik?” Tanyaku bergurau, anak chubby ini menggeleng,
“Lalu rindu apa dong?” Tanyaku lagi,
“Ella indu digendong doktel Isa, dikacih itu loh hem itu emen yang besal. Olipop.” Si gembul Bella bercerita disertai gerakan tangannya yang meriah.
“Oh, lollipop itu ya? Sudah Bella makan lolipopnya?” Mencubit pipinya yang tumpah ruah.
“Sudah! Enak, anis, doktel. Ella cuka.” Si pipi pluffy di hadapanku ini bercerita sembari melototkan matanya dan membuatku teramat gemas ingin menggigitnya.
“Padahal dokter Dysa nggak mau kasih lolipop lagi lho ke Bella.” Ucapku memasang wajah serius, reaksinya malah melongo menatap kedua mataku dalam-dalam.
“Kenapa?” Lirihnya, bahkan bibirnya terlihat sangat lucu saat bicara meski tanpa suara.
“Di dalam lolipop itu terdapat banyak kandungan gula yang bisa mengundang monster di gigi Bella.” Aku bercerita dengan wajah serius,
“Monstel apa doktel?” Bocah itu antusias mendengarkan kelanjutan dongenganku, mendekat dan melingkarkan tangannya pada leherku. Setengah ketakutan tersirat dari tatapan matanya, tapi dia juga terlihat sangat penasaran.
“Ya, monster gigi, mereka itu dat--”
“Bella?” Seorang pria dewasa memanggil anak yang tengah kupeluk. Aku bangkit dari posisi jongkokku.
“Oh, dengan dokter Dysa ya? Maaf, Bella merepotkan ya?” Ujar pria itu, ayah Bella.
“Tidak, Ayah dan Bella sedang ada keperluan apa kemari?” Tanyaku ragu.
“Kami sedang berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk program bayi kembar, adik Bella.” Jawab ayah Bella.
“Oh, hehhe… Saya mengerti,” balasku. Tidak lama kemudian datang seorang wanita, ibu dari Bella. Kemudian, mereka langsung berpamit pulang.
“Doktel Isa, nanti celitain monstel gigi itu ya?” Ujar Bella yang mulai pergi digandeng ayahnya. Si gembul itu terus saja menengok ke arahku, padahal dia sedang berjalan. Aku hanya menggelengkan kepala, gemas pada mantan pasien kecilku itu.
“Doktel Isa, nanti celita ya?!” Teriak Bella semakin melengking.
Aku bersedekap dada dan menggeleng penuh kegemasan melihat langkah kecilnya, lantas tersenyum dan berucap tanpa suara,
__ADS_1
“Iyaaa.”
Aku, seorang dokter anak yang setiap hari selalu bertemu dengan para makhluk berhati malaikat, hati mereka yang masih putih, suci, dan sebening embun. Bahkan setitik kebaikan yang tanpa sadar aku sebar, selamanya menjadi kenangan yang terekam baik dalam ingatan mereka.