
Kusentuh lengan yang menjadi tumpuan kepalannya. Matanya mengerjap-erjap, dia membuka matanya.
"Ya Tuhan, sudah bangun ya?" Ucapnya langsung menegakkan tubuhnya. Aku terkekeh, "kenapa tidur di sini?"
"Aku tidak sengaja semalam. Bagaimana keadaanmu?" Dokter Andre bertanya, aku mengangkat kedua bahuku.
"Aku tidak tahu, kan kamu dokternya. Coba cek saja kesehatanku." Ucapku.
"Ahahah, benar juga. Biar kuperiksa ya bu."
Stetoskop menyentuh dada kanan dan kiriku. Dokter Andre mengangguk-angguk,
"oke." Saat stetoskop menempel pada dada sebelah kanan condong ke kiri.
"Baik sekali lagi." Sekali lagi stetoskop itu menempel pada dada sebelah kiriku.
"Oke juga." Lalu ia melepaskan stetoskop pada dari telinganya.
"Jadi, bagaimana keadaanku, Dok?" Aku bertanya, cenderung bergurau. Karena kutau, jika diriku ini baik-baik saja.
"Cukup mengkhawatirkan." Tuturnya dengan ekspresi serius.
"Apa?"
"Iya, ada yang tampak kosong di dalam rongga dadamu." Ucapnya seraya membenahi mejalu yang berantakan karena obatku yang berceceran.
"Apa itu? Paru-paruku kekurangan oksigen?" terkaku bercanda.
"Bukan, tapi yanh di bawah paru-paru." Ucapnya.
"Oh iya, lambungku. Aku belum makan. Jadinya kosong deh." Ujarku.
"Ck, bukan itu. Makanan semalam saja belum kamu buang, bagaimana bisa kosong." Kelakarnya.
"Hahaha, maksudmu ketoprak? Hahaha." Benar juga apa katanya.
"Jadi apa dong yang kosong?"
"Ini bukan masalah organ lagi, tapi perasaan. Kamu sedang hampa di sini kan?" Ucapnya menujuk bagian perutku, tepat menunjuk pada letak hati manusia.
Aku mendengus, "Bisa saja kau, dokter."
Memang benar, yang kurasa saat ini adalah kehampaan. Nyaris tidak ada rasa apapun di dalam sini.
"Boleh aku mengisinya?" Ujarnya.
Aku bangkit dari posisiku, "Dengan apa kamu mengisinya? Air?"
"Semacam air, tetapi berjuta rasa." Ujarnya sangat ekspresi yang dramatis.
"Hahaha, silakan kalau bisa. Namun, sayang sepertinya masih tertutup. Masih mau coba membukanua dulu?" Kalimatku ini membuatnya mengerutkan dahi sampai matanya menyipit.
"Boleh?" Dia bertanya.
"Kalau mau dicoba silakan, jangan salahkan aku jika tidak tidak berhasil." Tuturku.
Kini dia beranjak dan pergi menuju pintu, "mau kemana, dok?"
__ADS_1
Dia menoleh lagi, mengembuskan napasnya. "Mau mencari sumber air sejuta rasa itu dulu. Jadi, tolong izinkan aku pergi atau kau ingin aku berada di sini sepanjang hari tanpa makan dan mandi?"
"Ya, baiklah. Kabari aku jika kamu menemukan telaga air sejuta rasa yang dijaga oleh para bidadari ya."
Ia menggeleng, "ada-ada saja kamu."
Sore ini aku pulang ke apartemenku ditemani dengan dokter Andre yang mengantarku sampai di depan pintu apartemenku.
"Mau mampir?" Tawarku, dia sudah berbaik hati mengantarkanku dengan selamat sampai ke tempat tujuan. Salah jika tidak kutawarkan mampir barangkali hanya untuk mencicip air teh buatanku.
Namun, dia menggeleng. "Lain waktu saja, istirahatlah. Jaga kesehatanmu, jangan banyak pikiran. Selesaikan masalahmu satu per satu, bila butuh teman jangan sungkan kabari aku ya?"
Aku tersenyum, sudah lama tidak mendengar orang cerewet di depanku. "Siap, aku usahakan. Hati-hati di jalan ya dok, jangan lupa makan."
"Oh ya, kamu belum makan? Ayo kita makan malam." Kalimatku seperti pemantik untuknya, dia menarik tanganku untuk pergi makan malam.
"Tidak, aku masih kenyang. Nanti aku bisa pesan lewat online saja."Ucapku.
"Benar?" Dia bertanya menelisik mataku.
"Hem, iya." Aku mengangguk.
"Huft, okey jaga diriku. Bye." Pamitnya dengan serta mengacak rambutku.
Aku semakin ketakutan, para demonstran itu benar-benar melaporkan kasus ini ke ranah hukum. Kini foto keluargaku menjadi tontonan gratis di semua media. Bahkan kabar papa dan mama sudah diketahui oleh media, kondisi mama yang berada di rumah sakit jiwa turut terekspos ke layar kaca.
"Mama." Aku menangis, mama yang di layar kaca itu menolak diwawancarai oleh wartawan. Harusnya mereka tahu kalau mama sedang tidak baik-baik saja. Aku hanya bisa menangis melihat mama yang didesak seperti itu.
Apalagi yang bisa kulakukan? Aku tidak punya kuasa, aku seorang pengangguran sekarang. Tidak berpenghasilan, uang di tabungan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhanku beberapa waktu ke depan.
Tok tok tok. Ting tong.
"Aku tidak mau dipenjara."
Plentung... Notifikasi pesan masuk dari ponselku berbunyi.
"Dysa, aku di depan apartmenmu." From: Dokter Andre, 8.19 Pm.
"Oh dokter Andre." Ucapku lega, ternyata bukan polisi ya.
Kurapikan penampilan dan rambutku. Kulipat selimut di kasurku dan menata bantalan sofa. Mematikan televisi, lalu aku berjalan menuju pintu depan.
"Hai, Dok? Tumben mampir?" Tanyaku padanya yang masih berpakaian rapi, sepertinya baru pulang dari kerja.
"Kamu terlihat gugup, ada apa?" Kurasa dia menyadari kegelisahan hatiku. Aku tak menjawab, harus kujawab apa?
"Hem... Boleh aku masuk?"
Aku terlonjak, "oh ya iya, silakan." Aku membuka lebar-lebar pintu ini, mempersilakan dia masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar ini.
Cukup lama kita berdiri, lantas aku kembali dikejutkan dengan pertanyaannya, "Boleh aku duduk?"
"Ya ya, silakan. Mau makan atau minum apa?" tanyaku beruntun dengan spontan. Aku menjadi salah tingkah karena diriku yang sedang kalut ini.
"Kamu seperti pelayan restoran saja, aku hanya ingin mampir melihat keadaanmu. Bagaimana kabarmu, hem?"
"Aku, aku baik saja. Mengapa memangnya?" Aku mengendikkan bahuku, apa aku terlihat tidak baik-baik saja di matanya?
__ADS_1
"Duduklah, kenapa terus berdiri di situ. Duduklah kemari."
Aku benar-benar tenggelam dalam pikiranku, kuraup wajah ini dengan kasar. Bagaimana bisa aku bersikap seperti ini di depan orang lain?
"Ya, aku sedang sedikit kalut saat ini. Ya, ada sajalah masalah setiap orang." Ucapku saat duduk di sebelah dokter Andre.
Aku menangkup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku benar-benar kacau saat ini, pikiranku sedang berada di mana-mana.
"Kamu sepertinya sedang tidak baik-baik saja, Dokter Dysa. Ada apa? Bisa ceritakan kepadaku kalau sedang terjadi sesuatu."
"Nggak, nggak ada. Aku baik kok, aku baik saja. Oh ya mau minum apa? Aku buatkan ya?" Ucapku seraya bangkit dari sofa. Mengambil alih diriku untuk tidak memikirkan hal-hal buruk yang sedang terjadi di luar.
Dokter Andre menatapku aneh, heran, dan curiga. Dia melemparkan tatapan yang penuh rasa keingintahuan, mungkin aneh melihatku yang bersikap tidak biasa. Aku mencoba bersikap biasa saja, tapu tidak bisa.
"Air putih saja." jawabnya.
"Ouh, okey. Air putih, tunggu ya." Kini aku pergi meninggalkan dia di depan ruang televisi. Kubasuh wajahku dengan air dingin dari wastafel. Mencoba berpikir jernih dan bersikap tenang.
"Tenang Dysa, tidak ada polisi di depan kamar apartmenmu. Tenang. Tenang. Huh... hufft." Aku berbicara dengan diriku sendiri, menarik napas dan mengembuskannya perlahan kuulang ritual tersebut berkali-kali. Sampai airnya mendirih, uap panas mengepul keluar. Kucabut kabel dari stop kontak dan menuangkan air tersebut pada sebuah cangkir.
Aku kembali ke ruang televisi, kulihat dokter Andre masih duduk di sana. Dia tengah mencari-cari sesuatu di sofa tersebut. Benda yang dia cari berhasil ditemukan, sebuah remote kontrol televisi.
Aku mendelik, berlari dan meletakkan cangkir itu di meja dengan kasar. Kurebut remote TV tersebut dari tangannya.
"Jangan nyalakan televisinya!" Ucapku ketus.
Dia yang kurebut remote dari tangannya lantas memandangku heran, "kenapa?"
Ah, benar. Kenapa aku merebutnya secara kasar dan kenapa aku marah?
Aku menjatuhkan diriku di sofa itu. Kupijat pangkal hidungku untuk menetralkan kepalaku yang terasa pening.
"Uh, maaf. Aku sedang kacau, apa kau tidak melihat beredar berita keluargaku yang dipidanakan? Aku tengah menjadi buronan polisi saat ini, kamu tidak mengetahui berita itu?" Tanyaku pada pria di sebelahku dengan pasrah.
"Aku sebenarnya tahu,"
"Kalau kau tahu, kenapa ada di sini? Kenapa kau tidak pergi seperti orang-orang lainnya yang kabur setelah melihat dan mendengar kabar itu?" Ucapku lugas.
"Kenapa aku harus pergi jika aku memilih di sini? Kau mengingkanku pergi dari hidupmu juga?" Jawabannya membuatku terlarut dalam kesedihan ini. Aku tak kuasa menahan tangisku, merasakan beban berat yang berada di bahuku. Aku membutuhkan orang lain untuk tetap berada di sampingku, mendukungku, dan mendengarkanku.
Aku memeluknya erat-erat. Kulampiaskan kesedihan ini pada bahunya. Air mataku tak lagi terbendung, semua tercurah membasahi bahunya.
"Tolong jangan pergi, jangan tinggalkan aku sendiri." Ucapku memohon padanya. Kurasakan belaian lembut pada kepalaku yang membuatku tenang dan mendamaikan hatiku.
Aku cukup tenang saat ini. Kutarik tubuhku untuk melepaskan pelukanku padanya. "Jangan menangis, ada aku di sini." Ucap dokter Andre seraya mengusap air mata di pipiku.
"Dan mana air putihku?" Dokter Andre bertanya.
"Oh iya, ini." Ujarku mengambil cangkir yang tadi ku bawa.
"Teh? Kok jadi teh? Bukannya tadi kuminta air putih?" Ujarnya.
Bodoh, aku terlupa. Mengapa aku bisa menyajikan teh, jika yang dia minta adalah air putih sebelumnya.
"Hahaha, sudahlah ajaib berarti airnya. Keren."
"Kita makan malam di luar?" Ajaknya.
__ADS_1
Aku menggeleng, "takut."
Namun, dia tersenyum dan meraih tangan kananku. Menggenggamnya dengan erat, "tidak perlu takut, ada aku di sini."