Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 2 ~Menilik Keseharian


__ADS_3

dr. ARINDYA ROMANSA, Sp.A.


Papan nama persegi panjang yang kupasang di dada sebelah kanan pada jas putihku. Suatu kebanggaan atas kerja kerasku selama ini demi menggapai cita-citaku sejak dulu kala.


Mama dan Papa tidak pernah membatasi impianku, mereka turut bahagia dengan semua pencapaianku tanpa memaksakan apapun pada diriku. Hanya ada satu permintaan yang kurang aku sukai yakni kala Mama mulai menanyakan 'Kapan kamu menikah, Dysa?',


'Mama dan Papa ingin melihat cucu darimu',


'Kapan kamu punya pacar dan dating melamar?'.


Dan pertanyaan lain sebagainya.


Aku bersyukur masih bisa mendengar pertanyaan bahkan omelan Mama yang kadang Papa pun turut serta mendukung Mama walau kalimat yang Papa gunakan lebih lembut daripada Mama. Ya, selagi kedua orangtuaku masih hidup sebisa mungkin aku halau kemarahan dan redam amarahku.


Mamaku memang cerewet, dia seorang ibu rumah tangga sekaligus ketua di (hampir semua) organisasi masyarakat di kota tempat tinggal. Mamaku tipikal wanita yang proaktif sehingga dengan mudah melakukan aksi blusukan dan memberi pengaruh hebat di dalam kehidupan bermasyarakat. Jika aku tanya apa Mama tidak lelah atau kerepotan? Mama menjawab ‘Daripada nggak ada kerjaan.’ Hahaha~


Sedangkan Papa seorang pengusaha pada yayasan An-Nur yakni sebuah lembaga yayasan pendidikan dan panti asuhan. Menurut cerita Mama, dulunya Papa seorang jaksa di pengadilan negeri, tapi Papa yang belum menjadi pegawai negeri memutuskan untuk membangun yayasan sendiri. Dan karena ketulusan hati Papa untuk membantu para tunawisma dan meningkatkan mutu pendidikan para anak jalanan, tekad baik papa mendapat sambutan baik oleh pemerintah setempat dan menggerakkan pada donatur untuk turut serta berdonasi.


Alhasil, yayasan Papa menjadi semakin maju dan sekarang bukan hanya anak jalanan yang bersekolah di sana, namun anak para pejabat hingga manca negara berdatangan. Papa yang selalu mengedepankan loyalitas pendidikan demi kemajuan pemikiran manusia cerdas di masa depan membuat banyak orang tertarik mengenyam pendidikan di sekolah dirian Papa.


~Dysa bangga pada kalian, Pa, Ma.


****


“Selamat pagi Pa, Ma!” Teriakku saat turun dari tangga lantai dua.


“Pagi, Nak. Sudah rapi ya pagi-pagi begini?” Papa berbicara setelah menyeruput secangkir teh hijaunya.


“Iya, dong. Dysa~” Selorohku mencincing kerah kemejaku. Papa tertawa, tak berselang lama Mama mendekat.


“Dys, makan dulu sebelum ke rumah sakit.” Mama menyodorkan dua lembar roti panggang oles mentega kesukaanku.


“Ehh, kamu nggak riasan ya?” Tiba-tiba Mama bertanya dengan menautkan kedua alisnya.


“Kenapa, Ma? Apa Dysa terlihat pucat? Padahal Dysa pakai moizturizer sama compact powder seperti biasanya kok.” Aku becermin pada piring putih mengkilap di depanku.


“Mukamu tidak ada warnanya, cobalah pakai lipstik warna menyala.” Saran Mama pagi ini.


“Dysa pakai lipbalm kok, Ma. Ini warna peach, sesuai dengan usia Dysa. Natural, tidak menor.” Jawabku, aku tahu kemana tujuan pembicaraan Mama.


“Itu sih riasan anak SMA, kamu 'kan sudah dewasa. Bukan usiamu lagi jika masih ingin tampil seperti itu.” Ucap Mama.


“Maksud Mama?”


“Ya mana ada sih pria dewasa yang tertarik pada tampilan wanita model bocah sepertimu.” Cecar Mama.


“Mama...” Papa melerai.


“Dysa emang lagi nggak cari pria dewasa kok, Ma." Ucapku tanpa dosa.

__ADS_1


“Ya maksud Mama, kamu menikah lah, Dys. Kamu anak bungsu Mama. Mama ingin yang terbaik untukmu, selagi kamu masih muda, cantik, dan terdidik kamu tidak akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pria tampan dan mapan." Tujuan pembicaraan Mama terkuak juga.


“Dan beriman ya, Ma.” Papa menambahkan.


“Susah Ma kalau cari yang seperti keinginan Mama dan Papa. Maksudnya, kalau ternyata pilihan Dysa tidak sesuai dengan ekspetasi Mama dan Papa, apa Mama Papa tetap menginginkan pernikahan? Meski tidak sesuai dengan harapan Mama dan Papa?” Ucapku, tidak lupa aku selalu berbicara lembut pada kedua orang tuaku.


“Bawa saja kemari pacarmu, mama lihat dulu seperti apa dia. Kalau tidak sesuai, Mama akan-“


"Ma, Dysa tidak mau ya dijodoh-jodohkan!" Aku menyergah ucapan Mama sebelum dituntaskannya. Lama-lama aku akan terpancing emosi juga menyahuti desakan Mama di pagi hari seperti ini.


“Ma, Pa. Dysa berangkat ya, hari ini ada jadwal pemeriksaan pagi.” Aku langsung mencium tangan keduanya.


“Hati-hati ya.” Papa.


“Iya, Assalamualaikum.”


“Waalaikumussalam warahmatullah,” Mama dan Papa membalas salamku.


****


Seperti biasa, jas putih bersih berkilau melekat pada tubuhku. Aku sudah ditunggu oleh panjangnya antrean para orangtua dengan membawa anak-anak mereka masing-masing. Senyum kuterbitkan pada semua yang sedang duduk mengantre dilobby tunggu.


“Dokternya sudah datang!”


“Itu dokter Dysa sudah datang.”


Terdengar gemuruh riang gembira atas kedatanganku, aku bahagia mendapat sambutan para orangtua yang optimis dengan kesehatan anak-anak mereka yang notabene sedang ada masalah dalam diri anak-anaknya.


Kubuka jurnal nama-nama pasien yang sudah mendaftar antrean, cukup banyak karena memang hari ini adalah hari khusus pemeriksaan umum.


“Ti, panggilkan pasien urutan pertama." Aku memerintahkan Tati, layaknya dokter profesional, aku mempunyai asisten dokter. Tatilah orangnya, seorang perawat yang sedang magang di rumah sakit ini dan mendapat tugas membantu pekerjaanku.


“Baik, dok.”


Datanglah pasien kecilku yang pertama dengan ibunya,


“Halo... Benar dengan dek Ivan ya? Selamat pagi,” aku bertanya pada seorang anak laki-laki yang digendong ibunya.


“Iya benar, pagi juga bu dokter.” Ibunya yang menjawab.


“Haii... Mana yang sakit, sayang?” Aku menggerakkan pergelangan tangan bocah itu.


“Apa yang dirasakannya, Bu?” Aku bertanya ramah pada ibunya.


“Ini dok, akhir-akhir ini anak saya mengeluh sakit dan pusing pada kepalanya, dan juga katanya kakinya juga sakit, mungkin maksudnya pegal. Dia mengatakannya setiap pagi atau sepulang sekolah.” Tutur ibu dari bocah bernama Ivan itu.


Aku mengangguk lalu bertanya,


“Berapa usianya?”

__ADS_1


“Lima tahun, dok.”


Aku bangkit, kemudian menepuk brankar di belakangku.


“Baiklah, ayo tidur di sini. Biar bu dokter periksa dulu ya?”


“Tidak, tidak mau. Tidak mau, Mama. Arrrhggggg!!" Anak itu menjerit.


“Ivan, Ivan.. Tenang sayang, tenang. Bu dokter tidak akan menggigitmu, tidak pula menyuntikmu.” Ujarku lembut mengelus punggung anak bernama Ivan itu.


“Bu dokter tidak akan menyuntik Ivan?” Aku menggeleng penuh kasih.


Saat aku menempelkan stetoskop pada dadanya, tiba-tiba keluar darah dari hidungnya. Detak jantungnya tidak stabil, tubuhnya terasa dingin, matanya berkabut, warna kulitnya yang pucat kehijauan, sakit kepala yang dieluhkannya, pegal pada persendiannya, ditambah kucuran darah dari hidungnya. Aku sudah bisa mendiagnosis penyakit bocah laki-laki ini.


“Tati, tolong ambil tissue dan bersihkan mimisanya.” Aku berucap setenang mungkin, agar sang ibu tidak khawatir.


“Apa ini mimisan yang pertama kalinya pada Ivan, Bu?” Aku bertanya.


“Heum, dulu juga pernah bahkan terjadi beberapa kali saat usianya masih empat tahun. Saya memeriksakannya ke klinik dekat rumah, katanya hal biasa bagi anak-anak karena faktor kelelahan dan perubahan cuaca.” Terang ibunya.


“Anak saya baik-baik saja kan, dok?” Kali ini ibunya bertanya bersamaan dengan Ivan yang datang bersama Tati yang menggendongnya.


“Apa ayahnya ikut kemari?” Mengantisipasi besar kemungkinan sang ibu tidak terima dengan yang akan aku sampaikan.


"Tidak ada, kami bercerai. Anak saya baik-baik saja kan, dok?" Ibu muda itu menuntut kejelasan segera.


“Mohon maaf sebelumnya. Menurut diagnosis saya, anak ibu memiliki ciri mengidap kanker leukemia. Tapi, lebih jelasnya kita bisa melakukan tes darah di laboratorium untuk memastikannya.” Ujarku.


Sang ibu dihadapanku ini menangis, lantas bertanya,


“Kapan tes itu bisa dilakukan?”


“Ibu bisa membuat janji dengan dokter Andre, dokter spesialis kanker. Beliau bertugas besok. Anda bisa berkonsultasi dengannya, semakin cepat lebih baik.” Jelasku.


“Baik, dok. Terima kasih.” Ujar lemas seorang ibu muda di hadapanku.


“Sama-sama, Bu. Teruslah optimis dan berpikir positif ya Bu.”


“Bu dokter, terima kasih ya.” Ucap si kecil Ivan.


“Iya, sayang. Ivan anak hebat ya, semangat!!” Aku mengepalkan jariku ke udara, bocah itu mengikutinya.


“Kasihan ya Bu, anak tidak berdosa dan seceria Ivan ternyata mengidap penyakit yang tidak disangka.” Tati memandang iba langkah Ivan keluar ruangan.


“Betul, Ti. Tapi semua pasti ada hikmahnya. Allah Maha Baik, Maha Adil. Ya sudah, ayo panggilkan pasien selanjutnya.” Titahku, kemudian Tati keluar dan memanggil pasien berikutnya.


Menjadi seorang dokter bagi anak-anak, si makhluk tanpa dosa sungguh berjuta rasa dan kejutannya. Bangga rasanya, berinteraksi dengan para malaikat kecil yang berhati suci dan mereka yang selalu aku jumpai setiap hari.


-Suara hati Dysa

__ADS_1


__ADS_2