Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
36. ~Lamaran Baihaqi


__ADS_3

Sudah bersiap dengan gaun hijau turtouise yang kukenakan. Ekslusif mama pesan dari seorang designer ternama yang biasa muncul di layar kaca sosial media.


Mama bilang, harganya lebih mahal dari sehektar tanah. Gaun hijau sepanjang lutut yang membentuk tubuhku saat kukenakan, memang nyaman tapi kalau mahal untuk apa? Aku tidak merasa bangga menggunakannya. Maaf, Ma.


Bukan mamaku kalau tidak ada pemaksaan kehendak, mama memintaku tampil secantik mungkin supaya pria bernama Baihaqi itu tertarik kepadaku dan tidak kabur saat melihatku.


Bye the way ya Mamaku sayang, memangnya mama mengingnkan apa dariku? Apakah mama setakut itu, takut jika aku akan ditinggal kabur sama seorang pria? Aku sudah cantik sejak lahir, harusnya mama bangga akan itu karena aku adalah anakmu, Ma. Namun, yang sekarang terjadi malah mama memoles penampilanku dan mengatakan jika aku, "kampungan, tampil yang cantik malam ini, Dysa!".


Namun, busana dan riasanku yang terkonsep ini sepertinya keluar dari tema pertemuan malam ini. Mama memerintahkanku untuk berpenampilan mencolok dan busana yang terkesan sexy, padahal-padahal menurut yang kuketahui tamu malam ini adalah mereka yang ahli agama, ya, paling tidak mereka akan mengomentari penampilan dan cara berbusanaku yang cukup "terbuka" dan memperlihatkan aurat. Aku yakin itu.


"Sudah manut saja sama mama, jangan norak kamu ya, Dysa. Mama sudah pesan baju ini jauh-jauh hari, cepat pakai dan rias yang cantik!"


Ya, seperti itulah kalimat mama sejak pagi tadi. Malam ini aku sudah siap, bahkan mama sudah mewanti-wanti diriku supaya cukup menjawab "ya," jika pihak Baihaqi bertanya kesiapanku untuk dilamar.


Puncak acara tiba, aku yang sudah merasa berat mata karena mengantuk harus kuat menahan kelopak mataku supaya tidak terpejam. Bulu mata palsu yang terpasang membuat mataku semakin berat untuk bertahan, untunglah aku punya trik untuk mempercepat acara.


Dengan berinisiatif, aku mengetikkan kalimat pada ponselku dan siap dikirim ke nomor Baihaqi. Sebelum acara ini berlangsung, aku dan Baihaqi sudah pernah bertemu, kami pun bertukar nomor telepon. Hampir setiap malam di akhir-akhir ini aku dan Bai berchat ria, jadi mungkin bisa dibilang kami cukup akrab dalam waktu singkat ini.


"Assalamualaikum. Maaf Baihaqi, tolong percepat saja acaranya. Aku sudah sangat lelah dan mengantuk sekali." Begitu pesan yang kukirimkan.

__ADS_1


Centang dua langsung berubah biru, pesanku langsung dibaca. Tulisan mengetik pun terlihat jelas dan kutunggu-tunggu respons darinya.


"Oke, siap. Sebentar ya Dys." Balasan yang aku dapatkan darinya. Dari pesannya, aku hanya bereaksi mengacungkan jari jempol dari teksnya.


Kulihat Baihaqi berbisik pada ibunya yang duduk di dekatnya, lantas ibunya berbisik ke kerabat di sampingnya, begitu seterusnya sampai pesan tersampaikan di telinga ayah Baihaqi.


Sosok ayah Baihaqi yang sangat berbibawa lantas menganggukkan kepalanya, yang kusuka dari keluarga itu karena merupakan keluarga muslim yang taat. Yang kutahu, Ayah Baihaqi seorang ulama yang mempunyai pondok pesantren. Barangkali beliau merupakan kiai atau keturunannya.


Meski begitu, mereka tidak sombong. Om Ruslan, tidak pernah mau jika papa atau mamaku memanggilnya dengan sebutan pak haji atau pak kiai. Mereka sangat rendah hati, tawaduk, begitu yang sering kudengar saat mama menceritakan keluarga Baihaqi.


Begitu istimewanya keluarga Bai, sampai mama kembali memaksaku untuk menerima lamaran keluarga Baihaqi untuk putra sulungnya.


Ayah Baihaqi memulai acara dengan berdehem sebagai pertanda awal keseriusan puncak acara, semua turut diam dan mulai tegang.


Begitu sekiranya kalimat yang terdengar jelas di telingaku. Aku pun tidak serta merta langsung mengangguk, meskipun mama sudah mencubit paha kananku dengan pelan. Ada banyak yang aku pertimbangkan, hidupku, karirku, masa depanku, masa tuaku.


Terbesit di pikiranku, mungkinkah jika aku kelak menikah dengan Baihaqi, apakah aku akan menjadi menantu seorang keluarga ulama yang taat akan agama? Namun, bagaimana dengan diriku yang belum siap untuk setaat itu? Aku hanyalah perempuan biasa yang tidak selalu taat kepada Tuhanku, ilmu agamaku masih sangat minim. Aku akan malu seumur hidupku jika bersanding dengan keluarga Baihaqi, bahkan saat ini aku tidak menutup auratku dengan benar.


"Nak Dysa, bagaimana sayang?" Ibunda Baihaqi yang duduk berhadapan dengaku, lantas menggenggam tanganku. Entah mengapa mataku terasa panas, air mata seakan ingin tercurah terjun bebas dari kelompak mataku.

__ADS_1


Aku memberanikan diri menatap mata Tante Khadijah, beliau pun mengangguk seraya tersenyum. Ada kedamaian saat bertatapan mata dengan beliau. Namun sayangnya aku belum siap, hatiku menolak. Aku tidak siap menjadi bagian keluarga Baihaqi, aku akan mempermalukan keluarga Baihaqi karena aku tidak pantas menjadi menantu seorang kiai.


Aku menggeleng,


Kulihat semua orang mengembuskan napas berat, apakah keputusanku salah? Mama, mama sudah mencubit pahaku untuk kesekian kalinya. Namun, cubitan mama kali ini sangat keras sampai terasa panas hampir membuat ototku mati rasa.


****


"Entah terbuat dari apa hatimu itu, Dysa! Mama bisa-bisa gila mengurusi hidupmu yang susah diatur seperti itu!"


"Berapa banyak lagi laki-laki yang akan kamu tolak, Dysa! Seperti apa yang kamu mau? Seperti apa yang kamu idamkan, katakan pada mama. Sudah cukup kamu mempermalukan keluarga, Dys."


"Maaf, Ma. Tapi..."


"Diam! Kamu nggak memikirkan perasaan mama dan papa, kamu tidak pernah menuruti keinginan mama yang mudah ini, Dysa. Kamu pikir mama menjodohkan kamu dengan beberapa laki-laki itu mudah? Jangan kamu pikir mama asal memilihkan pria sembarangan untukmu, Dysa. Mama mencarikan lelaki yang terbaik untukmu, tapi apa yang kamu lakukan? Semuanya kamu tolak, tidak ada satu pun yang kamu pilih, Dysa. Mama harus bagaimana?"


Aku tahu mama frustrasi mengahadapi sikapku yang seperti itu untuk kesekian kalinya, tapi Ma, seandainya mama tahu, jika aku mempertimbangkan banyak hal, Ma. Termasuk kebaikan mama papa dan nama baik keluarga kita supaya aman dan tidak rendah di mata keluarga suamiku kelak.


Sungguh, Ma. Jika boleh kukatakan alasanku yang sebenarnya, bahwa aku tidak ingin direndahkan karena diriku yang tidak cukup sebanding dengan keluarga Baihaqi dalam ilmu agamaku. Aku tidak ingin mama dan papa mendapat cap buruk dan dianggap tidak becus mendidikku dalam hal agama dan mengejar duniawi saja.

__ADS_1


Sejauh yang kutahu, hubungan keluarga kita dan Baihaqi sangat baik karena kami selalu menampilkan potret keluarga bahagia dengan segala keindahan sikap dan akhlaqnya, huhungan kekerabatan seperti itu jauh lebih baik menjadi karena bisa saling menghargai sebagai kerabat dekat daripada menjadi besan.


Aku yakin, Ma. Setelah berbesan nanti, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin kalian akan saling membenci karena aku bukan perempuan tang tidak sebaik itu dalam hal akhlaq dan ilmu agama, itu berbanding terbalik dengan keluarga Baihaqi. Ucapku dalam hati saat mama tidak berhenti mengomeli diriku.


__ADS_2