
Dua hari ini aku membayar orang untuk merapikan tempat tinggal masa kecilku. Datang orang-orang yang merapikan halaman rumah, memotong habis rumput dan ilalang yang lebat dan setinggi diriku, dan juga membersihkan bagian dalam rumah ini.
Aku memadang ke sekitar, dulu tempat ini adalah surga bagiku. Tempat dimana aku bisa mendapatkan kasih sayang dari orang-orang terdekatku. Tempatku tumbuh hingga aku menjadi seperti saat ini. Aku melihat ke dapur, tempat favoritku dan mama menyiapkan makan pagi, siang, dan malam. Dan meja makan itu, tempat papa duduk membaca koran sambil menyesap kopi atau tehnya.
Kini semua berubah, dalam sekejap semuanya bisa berubah dengan cepat. Dimana lagi aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang seperti dulu lagi? Bagaimana aku bisa mendengarkan kecerewetan mama yang dulu lagi? Aku sungguh merindukan masa-masa itu. Andai waktu dapat diputar, akan aku penuhi semua keinginan mama dan papa sejak dulu.
"Mbak, sudah selesai."
"Mbak, Mbak?"
Aku yang larut dengan lamunanku, membuatku terhenyak saat beberapa pria yang membersihkan rumah ini memanggilku.
"Iya, Pak?"
"Ini sudah selesai semua, Mbak. Sudah beres, silakan dicek." Ujarnya.
Benar, semua sudah seperti semula. Terutama bagian depan rumah yang kembali bersih, segar, dan terawat.
"Ini sisa pembayarannya ya Pak, terima kasih." Aku memberikan sisa uang yang menjadi kesepakatan di awal pengerjaan.
Kini aku tinggal seorang diri di rumah ini. Listrik kembali terpasang yang sebelumnya mengalami pencabutan. Kunyalakan televisi, melihat berbagai stasiun televisi menyajikan berita terkini. Perhatianku terfokus pada kegiatan aksi demonstrasi yang dilakukan di depan sebuah kantor yayasan bertuliskan "AN-NUR"
"Kantor yayasan milik Papa." Ujarku sendiri.
'Aksi para investor dan orang tua siswa yang menuntut keadilan dan hak pendidikan'
Hah, masalah apalagi ini?
Reporter juga menyebutkan jika para demontsran tersebut melakukan aksi membakar ban dan plastik di halaman kantor yayasan.
Terlihat jelas bagaimana kericuhan yang terjadi di sana. Aku rasa tinggal di rumah ini tidak akan aman, lebih baik aku pergi saja.
Esok hari di tempatku bekerja, semakin hari kabar berita tentang yayasan milik orang tuaku semakin tersebar luas. Para jawat dan kolegaku mengerti jika aku adalah anak dari pemilik yayasan An-Nur tersebut. Mereka bersikap unfair padaku.
"Kalau ada masalah, hadepin. Jangan lari dari kenyataan." Sindiran itu kudapatkan dari beberapa teman seprofesiku. Bahkan kini aku sendiri di kantin rumah sakit ini, tidak ada yang mau menemaniku barangkali hanya untuk makan siang.
Tiba-tiba terdapat surat beramplop putih berlogo rumah sakit ini. Kubuka dan tertulis 'Surat Pemutusan Hubungan Kerja'
"Apa?"
"Ini sangat tidak masuk akal!" Kesalku. Aku berjalan cepat menuju ruang pimpinan. Inginku mempertanyakan apa alasan pemecatanku. Citraku sudah baik di sini, aku membangun karirku bertahun-tahun di tempat ini. Mengabdikan diriku dan menjadi salah satu orang yang turut berkontribusi memajukan rumah sakit ini. Kenapa mereka bisa membuangku begitu saja? Tanpa ada farewell party atau sebagainya. Pemecatan ini sunggu tidak terhormat bagiku.
"Permisi, Pak, saya ingin bertemu dengan pimpinan." Ujarku pada satpam yang berada di depan ruang pimpinan.
"Bapak sedang tidak ada di ruangannya, Bu." Jawab satpam itu.
"Kemana? Kapan kembali?" Tanyaku bersikukuh.
"Tidak tahu, sedang ke luar kota." Jawabnya.
__ADS_1
Aku mengirimkan pesan kepada beliau, beberapa menit berlalu panggilan masuk dari nomor yang sama.
"Halo, selamat siang, Bapak. Maaf mengganggu waktunya. Saya ingin bertanya terkait surat pemutusan kerja saya, apakah ini?"
"Iya, benar. Manajemen rumah sakit sekapat untuk itu, karena satu dan lain hal kami harus melakukan hal tersebut. Perihal uang kompensasi dan lain sebagainya akan disampaikan menyusul pihak bersangkutan. Baik, selamat siang." Begitu ucapan direktur rumah sakit.
Dulunya pak direktur ini sangat dekat denganku, beliau yang mempromosikan diriku pada jabatan yang aku pegang sekarang. Namun, entah karena apa, beliau menjadi bersikap seperti ini. Semena-mena denganku.
Bukannya aku tidak terima dengan keputusan ini, tapi dengan alasan apa surat pemutusan kerja ini tersampaikan kepadaku. Tidak adil rasanya, jika dilihat dari kinerjaku selama ini. Aku yang mati-matian menjaga keprofesionalitasan kerjaku, mengembangkan program-program unggulan rumah sakit ini, bahkan seringkali menjadi sasaran pusat media untuk mengekspos rumah sakit ini karena program pengembangan perilaku sehat dan penerapan gizi pada anak dan orang tua karena itu salah satu program yang kubuat.
Namun, kenapa sekarang aku yang tersisihkan?
Untuk hari ini, menjadi hari terakhir bekerja di rumah sakit ini. Kurapikan semua barang-barang yang akan kubawa, tidak ada seorang pun yang mengantarkanku pergi atau mengucapkan selamat tinggal kepadaku.
Aku kembali ke apartmenku, satu-satunya tempatku untuk berlindung dengan tenang. Kembali kunyalakan televisi, sebenarnya takut dengan berita para demonstran itu, tapi aku penasaran apa saja yang sudah mereka perbuat.
'Gedung Yayasan Dibakar dan Diamuk Massa'
Aku terlonjak dari sofa yang aku duduki. "Apa?"
"Kenapa mereka bertindak senekat itu?"
Di layar televisi, menunjukkan beberapa massa yang menyuarakan seruan mereka dengan spanduk besar yang terlampir di pagar gedung yayasan. Berbagai tulisan terpampang jelas.
Tutupnya yayasan beserta seluruh kegiatan operasionalnya bukan karena apa, tapi karena papa sudah meninggal. Tidak ada yang melanjutkan, tidak ada penerusnya. Harusnya kakak-kakakku, tapi mereka entah dimana. Hanya ada aku di sini.
"kepada yang terhormat, bapak kepala yayasan dan sederet pimpinan yayasan an-nur, tolong tanggung jawab dengan keadaan ini. Anak kami tidak bersekolah saat ini, kembalikan uang kami atau akan saya tuntut kalian."
"ya benar, benar! Tuntut saja*!"
Seperti itu para orang tua murid menyuarakan aksinya. Aku galau, aku tidak punya uang banyak. Bagaimana memecahkan masalah ini?
Kepalaku yang pusing menyebabkan dentuman yang sangat dahsyat di bagian kepalaku, aku tidak kuat menahan rasa pening ini. Nyeri, berdenyut, dan berputar-putar menyebabkanku hilang kesadaran.
Saat terbangun, aku sudah berada di ruangan serba putih. Dan memeperlihatkan seorang dokter yang berdiri di dekatku.
Aku mencoba bangkit, "Bang Andre? Oh, maksudku dokter Andre?" Aku kembali bertemu dengannya setelah sekian lama tidak berbincang dengannya dalam urusan selain pekerjaan.
"Kamu terkena serangan vertigo."
"Apa? Aku vertigo? Tadi itu rasanya kepalaku sangat, uh." Sulit untuk menjelaskan. Ternyata seorang dokter pun bisa mengalami kesakitan yang biasanya dikeluhkan oleh para pasiennya.
"jangan terlalu memikirkan hal berat atau vertigo itu akan datang kembali. Serangannya tidak terduga." Nasihatnya.
"Iya, aku tahu." Aku pun tahu bagaimana diagnosisnya.
"Ya, kamu seorang dokter juga. Sudah makan?" Dokter Andre bertanya.
Aku menggeleng, "belum sempat." Jawabku.
__ADS_1
"Istirahatlah, kupesankan makanan untukmu." Ujarnya, ternyata masih ada yang baik kepadaku.
Lima belas menit berlalu, datang makanan yang dibawakan oleh dokter Andre sendiri. "Apa ini?"
"Ketoprak kantin, kesukaanmu."
Aku tersenyum kecil, meski sangat lama kami tidak berkomunikasi, tapi nyatanya dia masih ingat apa kesukaanku.
"Makanlah. Aku tinggal dulu."
"Kemana?" Tanyaku, tak rela jika harus ditinggalkan seorang diri–lagi–.
Dokter Andre yang membuka pintu kembali berpikir, lantas dia tidak jadi meninggalkanku. Kembali masuk dan duduk di kursi dekat ranjangku.
"Enak sekali, rasanya masih sama." Ujarku.
"Ya, karena yang jual masih orang yang sama." Tanggapannya.
"Kantin 3." Ucap kami bersamaan.
"Hahaha." Aku tertawa bersamaan dengannya.
"siapa yang membawaku kemari?" Tanyaku.
"Tidak tahu, pihak apartemen tempatmu tinggal kali? Aku hanya memeriksamu, itu kebetulan." Jawabnya. Aku mengangguk-angguk, "Thanks, dok."
"You're Welcome."
"Habiskan lalu istirahat ya,"
"Sudah habis." ucapku setelah meneguk air putih dari atas nakas. Aku yang kelaparan jadi ketoprak satu porsi adalah menu yang pas untuk satu kali makan.
"Wah, lalu aku harus apa?" Tanyanya padaku.
"Temani aku disini sampai aku tertidur, boleh?" pintaku.
Dia menaikan alis matanya, "bagaimana dengan para pasienku? Apa perlu kau kubius supaya cepat tertidur, huh?"
"Hahaha, ada-ada saja." Lama aku tidak bercengkerama seperti ini dengan orang lain.
"Baiklah, pergilah. Urus pasienmu, layani mereka dengan baik atau aku akan memotong gajimu." Kelakarku.
"Hahaha, baik bu!"
Pagi hari saat aku terbangun, di sebelahku terdapat seorang yang masih memejamkan matanya dengan berbantalkan kedua lengannya. Tidur dengan posisi setengah terduduk, itu sangat menyulitkan.
"Dokter Andre, tapi mengapa dia ada di sini?"
Kurasa dia ini benar-benar laki-laki yang baik.
__ADS_1