
Mataku terasa berat, tapi kilauan sinar mentari membuatku tidak bisa untuk tidak bangun dari pembaringan ini. Aku mengerjap, mengucek kedua mataku.
"Huah!" Aku menguap dan menggeliat dengan bebas. Tersadar bukan berada di tempat tidurku yang biasa kutempati, aku terlonjak bangun dan berdiri tegak.
Aku mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin malam, ah, gaun yang kupakai ini? Aku habis makan malam semalam, tapi kenapa bisa-bisa sudah berada di kamar hotel? Bukankah semalam berada di dinning room?
Dan ya, ah. Gila aku! Bahkan aku baru tersadar jika disebelahku ada dokter Andre. Dia masih terpejam. Ini kedua kalinya aku melihatnya memejamkan mata di depanku. Dia sangat tenang dan damai pada posisi tidurnya.
Melihatnya yang sunggu manis kala tertidur seperti itu, membuatku gemas. Dan ya, aku mengingat kejadian semalam. Saat kami berciuman, ahh, bisa gila aku. Ternyata dia semanis itu.
Dia bergerak-gerak, tapi tak kunjung membuka matanya. Hanya mengubah posisi tidurnya yang semula menyamping dan menghadapku, kini terlentang. Aku baru menyadari kalau dia setampan itu, bahkan di saat tertidurnya pun dia sungguh sangat kalem dan elegan.
Kugigit bibirku lagi, ingin aku merasakan sekali lagi kecupan di bibirku darinya. Tapi, apa mungkin bisa? Yang semalam adalah aku yang setengah mabuk, kalau ini sepenuhnya aku sadar. Tidak mungkin kulakukan jika tidak mau dikatakan wanita murahan yang suka nyosor ke pria tampan.
"Tapi, dia itu sangat manis." Ujarku yang mengesampinkan gengsiku sendiri.
Kini dia mengubah posisinya lagi menjadi membelakangiku. Aku hanya disuguhkan pemandangan punggungnya yang masih mengenakan kemeja pink sejak semalam.
Aku berlari kecil dan mengikuti kemana dia pergi, rasanya seperti mimpi. Aku merasa dia kini milikku, tidak ingin kehilangannya, ingin selalu melihat wajahnya, senyumnya, suaranya, perhatiannya. Aku ingin setiap kubuka mata hanya ada dia di setiap hariku.
Kini bibirnya sedikit terbuka, aku ingin memeluknya. Ingin aku menciumnya lagi dan lagi. Kini aku berlutut di dekat wajahnya, menahan napasku supaya tidak berembus dan mengenai wajahnya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya dan....
Cup. Aku berhasil menciumnya.
Apa dia terganggu? Apa dia akan terbangun? Apa dia merasakannya? Ternyata tidak, dia sama sekali tidak merespons. Masih terlelap dalam mimpinya.
Sebelum dia benar-benar terbangun, aku kabur bergegas ke kamar mandi, membersihkan wajahku. Begitu keluar dari pintu kamar mandi, kulihat dokter Andre sudah membuka matanya, tapi masih dalam posisi berbaring dengan selimut yang menutupi dirinya sampai batas perut.
Dia yang melihatku berambut basah, tidak bertanya apa-apa hanya melihatku yang kini berjalan ke arah sofa.
"Kenapa rambutnya basah?" Barulah dia bertanya, aku menggeleng.
"Karena keramas lah." Jawabku.
"Keramas?"
"Iya, rambutku gatal. Memangnya tidak boleh ya?" Tanyaku, dia yang kuperhatikan dari pantulan layar TV mengerutkan wajahnya.
Dia beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah kamar mandi. Tidak lama, dia keluar dan langkahnya menuju meja panjang di dekat pintu keluar.
Dari sudut mataku, dia berjalan ke arahku. Membawa dua cangkir di tangannya.
"Kopi." Serahnya padaku. Dia menyesap sendiri kopi yang berada ditangan kanannya, sedang sebelah kiri memegang cangkir miliknya sendiri.
"Aku tidak bisa minum kopi pagi hari." Ujarku memberitahu.
"Oh, ya sudah." Ditariknya kembali cangkir itu.
"Baiklah, aku ingin kopi." Aku menghentikan dia yang akan meletakkan kembali kopi di meja panjang itu.
"Katanya tidak mau?"
"Sekarang aku mau, biar kita sama-sama tahu selera masing-masing." Ucapku. Kusesap sedikit kopi hitam yang berada di tanganku. Pahit, sama sekali tidak ada manusia-manisnya.
"Ini gak pake gula ya?" Tanyaku dengan lidah yang menjulur-julur keluar.
Jawabannya hanya berupa gelengan kepala, menyebalkan. Alasanku tidak meminum kopi karena rasanya yang pahit dan aku tidak suka. Masih mending kopi susu atau kopi dengan gula, ini kopi hitam murni.
"Mirip americano." Ujarnya.
Wleee. Aku hampir muntah membayangkan rasa kopi yang satu itu, dulu papa adalah penggemar berat americano yang bagiku rasanya membuatku mual seperti melihat kecoak. Warnanya juga mirip kecoak dewasa, aku tidak menyukainya.
"Kalau tidak suka, nggak usah diminumlah."
__ADS_1
Aku segera menaruh kembali kopi itu pada meja panjang dan mengelap lidahku dengan selembar tissu yang berada di dekatku.
...----------------...
"Habis makan, kuantar pulang ya?" Dia kembali setelah tadi pergi membeli makan, kini dikedua tangannya menenteng sesuatu yang berisi beberapa makanan yang tersimpan di totebag bertuliskan brand fast food ternama.
Aku yang sedang berdiri di dekat balkon kamar ini menoleh. Sejenak aku menggeleng, tapi lantas aku mengangguk.
"Ayo makanlah, kubawakan salad untukmu supaya sehat. Semalam habis minum kan?"
"Iya, makasih."
"Kamu tidak bekerja?" tanyaku di tengah kegiatan makan.
"Libur."
"Mana pernah rumah sakit itu mengadakan libur di weekdays?" Sergahku dengan makanan yang nyaris tersembur keluar dari mulutku.
"Hohohoho, aku ambil cuti sehari." Jawabnya dengan mulut yang dipenuhi dengan makanan, sama sepertiku.
"Hohoho, untuk apa?" Tanyaku lagi.
Tidak ada jawaban, dia menyelesaikan mengunyah makanan yang berada di dalam mulutnya, setelah ditelan barulah ia menjawab. "tidak kah kau sadar jika tadi aku bangun kesiangan?"
"Oh ya ya ya. " Benar, kami terbangun saat matahari sudah meninggi.
Makanan sudah habis, saatnya kita cek out dari hotel ini. "Aku akan kembali sendiri di dalam apartemenku."
"Kamu ingin aku menemanimu sepanjang hari?"
"Oh, bukan begitu. Tidak, tidak begitu juga."
"Lalu aku harus bagaimana, dokter Dysa?" Tanyanya, kini dia mengandeng tanganku. Berjalan beriringan sampai di tempat parkiran.
Di dalam mobil duduk berdua dengannya, dulu kami sering pergi kemana-mana bersama. Tapi mengapa rasanya seperti berbeda? Setiap kali kami bertatapan ada yang berdesir di dalam rongga dada ini.
"Haha, kamu kenapa selali terkaget-kaget begitu?" Ucapnya saat mendapatki yang sudah beberapa kali aku mencuri-curi pandang dirinya yang sangat gagah mengemudikan mobil.
"Aku sedang memperhatikan jalan di sebelah sana. Kenapa kamu kepedean sekali?"
"Kamu suka aku nggak?" Dokter Andre bertanya seperti itu kepadaku?
Memangnya aku suka sama dia ya? Sejak kapan?
"Hah? Apa? Suka? Suka, suka apanya? Nggak, aku benci malah." Ini aku melipat kedua tanganku di depan dada.
"Beneran? Berati yang semalam itu bohongan dong?" Lanjutnya memancing rasa malu dalam diriku yang sudah kututup-tutupi.
"Semalam? Uh? Semalam apa? Memangnya kenapa semalam? Ada apa?" Tanyaku berpura-pura hilang ingatan.
Dia menahan senyumnya, menggigit bibir bawahnya dan melirik ke arahku.
"Semalam kita seperti ini,"
"Hummp." Dia menempelkan bibirnya paa bibirku dalam waktu tiga detik.
"Apa kamu lupa? Hem?"
"Aku... Aku tidak, apa yang kau lakukan?" Dia berhasil membuat dadaku berdentum kencang. Aku menjadi sangat gugup. Bahkan aku tadi bisa melihat rinci wajahnya dengan sangat dekat yang menempel di wajahku.
"Jadi, kamu kesimpulannya kamu suka sama aku apa nggak?"
"Tidak! Aku tetap nggak suka sama kamu. Menyebalkan!" Ujarnya berteriak.
__ADS_1
Ciiieert...
Mobil berhenti secara tiba-tiba karena dokter Andre menginjak pedal remnya dengan tajam.
"Ahhh! Ada apa?" Pekikku.
"Bagaimana kamu bisa tidak menyukaiku, sedangkan semalam kau melamarku?" Ujarnya dengan wajah yang serius.
Hah? kapan aku melamar seorang pria terlebih dulu?
Dahiku berkerut. "Kau mengatakan, 'maukah kau jadi suamiku?' Apa kau juga melupakan hal itu?"
Aku mengangguk, meski sebenarnya aku tidak lupa jika aku mengatakan hal itu.
"Jadi, apa semua itu hanya ilusi semata? Lalu, kau anggap apa aku dalam hidupmu?" Ucapnya tanpa menatapku.
Mengapa suasananya menjadi tegang begini?
Mobil kembali melaju dengan perlaha, dia terlihat fokus menatap ke depan.
"Kamu marah, dok?" Aku bertanya sangat pelan.
"Kamu marah?" Kini kunaik satu nada bicaraku.
Dia tidak menoleh sama sekali. "Kamu marah ya sama aku?" Untuk yang kali ini bukan lagi satu nada, tetapi satu oktaf di dekat telingannya.
Lagi-lagi mobil berhenti secara mendadak hingga decitan ban mobil terdegar memekik dan menusum telinga.
"Aku sedang menye..."
Hump.. Aku menciumnya. Sejak pagi aku mengingkan hal ini. Menciumnya dengan sangat dalam dan penuh makna.Dia menyambutku di beberapa detik berikutnya.
"Aku mengingat semua yang kita alami semalam. Aku yang mengatakan jika kamu itu tampan, aku yang mengatakan dadaku terasa bergetar saat berada di dekatmu, aku yang mengatakan maukah kamu jadi suamiku? Bahkan hatiku saat ini mengatakan untuk jika aku tak mau darimu dan memaksamu untuk tetap berada di dekatku. Aku yang mengharapkan bisa melihatmu di setiap kubuka mata ini." Aku mengatakan dengan sangat jelas dengan air mata yang bercucuran.
"Aku bukan lagi menyukaimu seperti rasa yang biasa, ada sesuatu yang tidak biasa yang kurasakan saat melihatmu. Aku merasa jika kau adalah milikku. Maafkan aku dokter Andre. Tapi aku rasa, aku lebih dari sekadar menyukaimu. Aku mencintaimu."
Dia memelukku, dia mengelus punggungku. Dia mendekapku dalam dadanya. Dia satu-satunya orang yang kupunya dan orang yang tidak pergi saat dunia menjauh dariku.
"Memangnya boleh kalau si cewek yang melamar cowoknya? Buat kawin?" Aku bertanya dalam keadaan masih dalam dekapannya.
"Hem, sudah nangisnya?" Ia menunduk, melihatku yang sedang menatap ke atas.
"Boleh, tidak?"
"Boleh dong, aku terima kok. Aku juga mau menjadi suamimu dokter Dysa-ku."
"Oh boleh ya? Aku belum pernah sih selama ini." Ucapku.
"Belum pernah apa?"
"Belum pernah nembak cowok." Jawabku.
"Oh, itu wajar." Tanggapannya.
"Aku tahu hal yang tidak wajar. Mau tau?"
"Apa?" Dia penasaran.
"Kau adalah ciuman pertamaku." Bisikku.
"Oh ya? Yey, aku mendapatkan virgin lips."
Ada-ada saja.
__ADS_1