Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 21 ~Sedikit Merindu


__ADS_3

Berdamai dengan kesalahan bukan berarti menjadikannya teman, jadikan kesalahan menjadi pembelajaran adalah solusi yang benar. Sejenak aku membiarkan sosok pria beranak satu itu menguraikan air mata pilu, meluapkan beban dalam dirinya. Kelegaan mental dapat mengurangi bobot timbangan suram menjadi terang untuk siap menghadapi permasalahan yang setiap saat datang.


“Dimana Bella, dokter?” Tanya Pak Denis dengan wajah yang sudah mulai terkondisikan.


“Sebentar, saya tanyakan pada dokter Andre.” Mendial nomor partnerku itu dan tidak lama dokter Andre dan Bella datang, Bella celingukkan dalam gandengan dokter Andre.


“Bella?” Ayahnya merentangkan tangannya, awalnya anak itu hanya diam tapi detik berikutnya dia menghambur tangis dalam pelukkan ayahnya.


“Maafkan, Papa ya nak?” Bella mengangguk,


“Bella minta maaf sama Papa, Bella pergi jauh dari rumah.” Ucap Bella.


“Iya, Bella tidak akan jauh lagi dari Papa. Jadi anak penurut ya sayang?” Bella mengangguk. Sekian waktu berlalu hanya untuk menciptakan perdamaian pada perang batin dari anak dan ayah itu. Dan akhirnya Bella juga ayahnya berpamit pulang.


Aku tersenyum bahagia atas keberhasilan diriku menjadi mediator dari keduanya, tiada yang lebih penting dari kasih sayang dalam sebuah keluarga- itulah menurutku.


“Hai, dok? Makasih ya?” Menyenggol lengan dokter di sebelahku.


“Iya, sama-sama. Makan yuk? Lapar Dys.” Ujar bang dokter di sampingku.


“Hem, oke. Dimana?”


“Kantin saja, gak perlu jauh-jauh lah. Nanti yang ada malah keburu kenyang karena makan angin.” Ujarnya tanpa dosa mengingatkan saat dia terakhir kali mengajakku makan siang saat bersama Dena.


Melihat bang Andre yang semakin akrab denganku membuatku teringat dengan Mas Dika. Sudah lama dia tidak menemuiku atau sekadar menanyakan kabar seperti biasanya. Sebelum aku pergi ke kantin, sejenak aku menyempatkan diri mengirim pesan pada kekasihku itu. Hanya bertanya ‘apa kabar, Mas?’ aku harap dia sudah paham dengan sedikit kerinduanku.


“Sudah belum Dys?” Bang Andre berdiri di dekat pintu.


“Sudah, yuk jalan.”


Di kantin rumah sakit, aku memesan ketoprak menu kesukaanku di sini. Bumbu kacang yang pas, kerupuk udang, mendoan, es teh tawar. Sungguh nikmat! Berbeda dengan aku, bang Andre tidak memesan nasi. Dia hanya memesan seporsi mendoan dengan es jeruk.


Tadi yang bilang lapar siapa sih?


“Cantik ya kamu, Dys?” Celetuk pria di depanku ini.


Aku yang sedang mengunyah tauge menoleh,


“Apanya?”


“Memang maumu apanya?” Balik bertanya, dia.


Memutar bola mataku,


“Maunya inner beauty. Kalau muka, zaman sekarang mana ada sih betina yang nggak cantik?” Ujarku.


“Hahaha!” Ih, ketawa dia.


“Benar kan?” Jajak meminta pembenaran darinya.


“Hahha, iya… Eh, eh. Tengok belakang sih, ada cewek cantik Dys. Beneran deh.” Tiba-tiba dia berkata demikian.


“Ah, apaan sih bang. Jangan mata keranjang kamu ya. Mau jadi fuckboy?” Celetukku.


“Coba aja tengok.” Perintahnya, aku perlahan memutarkan sendi di leherku. Wanita di belakangku hanya satu, dia yang sedang duduk membelakangiku. Seseorang berbaju hijau, dengan rambut panjang sebatas pinggang yang terurai; hitam, lembut, dan berkilau, celana jeans, kaki jenjang, dan mengenakan jepit sandal. Sungguh seksi tampak dari belakang.


“Sexy dan cantik ya Bang?” Mulutku berucap tanpa sadar.

__ADS_1


“He emm.” Gumam bang Andre mengiyakan.


“Seumur hidup, rambutku tidak pernah secantik itu. Panjangnya pun hanya sebawah bahu dan tidak pernah semenyilaukan itu.” Aku yang sama seorang wanitanya pun merasa takjub dengan pemandangan itu. Menikmati lama view yang ada, tanpa terasa teh tawar sudah ludas tak bersisa.


“Mbak? Berapa semuanya?” Suara orang di seberang sana.


“Uhuk! Uhuk!” Tersedak aku dibuatnya.


Suara ngebas itu?


“Bang?” Aku mendelik tak percaya menatap Bang Andre. Sama sepertiku, bang Andre sama terkejutnya.


“Suaranya, Dys?”


“Iya, Bang. Gilak, ngebass!” Ujarku keras, orang tersebut menoleh. Betapa mengangannya mulutku dan bang Andre saat melihat tampak depan seseorang berbaju hijau itu. Dia yang kusangka wanita seksi bak bidadari, ternyata seorang pria berkumis tebal nan melambai.


“Hahahhha! Hahahah!” Sontak bang Andre tertawa keras,


“Bang, malu lah.” Reaksiku memukul tangannya dengan sendok di genggamanku.


“Katanya cantik, Dys? Tuh cantik, kamu sempat iri sama rambutnya.”


Buk…buk...buk, bang Andre memukuli meja dengan kepalan tangannya.


“Lah, kamu duluan yang bilang dia cantik loh, Bang!”


“Hahaha… Bener sih cantik, wkwkwkw!” Balasnya dengan memegang pertunya yang kaku.


****


Gelak tawa tidak henti Bang Andre gelorakan sepanjang jalan kembali dari kantin, sesekali aku memukul lengannya saat dia dengan kerasnya tertawa mengingat kejadian tadi.


“Hahaha, kamu tadi bilang kalau dia sexy dan cantik.” Jawabnya.


“Iya haha, ya memang gitu kalau dilihat dari belakang. Bang Andre juga tadi bilang ‘cantik’ gitu ke dia. Noh makan tuh, Bang.” Sedang orang di sampingku ini masih dengan gelegat cekikik menahan tawanya.


“Receh!” Dumalku.


Hening…


Di depan ruanganku, kami duduk di bangku tunggu.


“Nih, Bang dokter minum dulu.” Menyodorkan segelas air mineral, diterimanya.


“Duduk dulu, nunggu azan zuhur.” Dia menepuk bangku di sebelahnya.


“Bang..” dia hanya bergumam menjawab panggilanku, menyimpan ponselnya lalu mengarah pandangkan wajahnya ke arahku.


“Kenapa?” Tanya Bang Andre padaku.


“Kapan kamu akan menikah?” Lontaran pertanyaan aku semburkan tanpa berpikir panjang.


“Hah? Kok tanya gitu? Aku sensitif lho, Dysa.” Ujarnya sembari menyangga kepala dengan tangan kanannya.


“Oh ya lupa, aku menanyakan pada orang yang salah.” Jelas aku salah, lupa sengambekan apa pria ini jika tersenggol hatinya.


“Lah, kelewat tanya kamu! Biar aku jawab.” Ujar bang Andre, dia membenarkan posisi duduknya lurus ke depan.

__ADS_1


“Kalau kamu tanya kapan aku menikah, jawabanku adalah memangnnya kamu sendiri kapan mau menikah?” Lanjutnya.


Bingung! Sungguh, aku dibuat bingung dengan jawabannya. Aku menepuk keras lengan atasnya.


“Itu sih bukan jawaban, tapi pertanyaan!”


“Jawab yang benerlah, Bang.” Rengekku.


“Ya itu, pertanyaanku itu sebuah jawaban untuk pertanyaanmu yang tidak memerlukan jawaban sebenarnya.”


“Bang dokter Andre, kamu resek! Jawabanmu mulek mudeng, nggak nggenah! Nyesel aku bertanya padamu!” Biarkan aku menggerutu.


“Kamu saja yang aneh, tanya kapan nikah sama si jomblo ya pasti tahulah jawabannya. Gak punya perasaan kamu, Dysa!” Turn on deh mode ngambeknya.


Bang Andre beranjak dari tempat duduknya, memang sensitive sekali orang ini,


“Sorry, dok. Sorry dorry its really! Ayo duduklah lagi.” Pintaku,


“GAK.”


“Please, maafin aku. Jangan marah, iya deh aku salah.” Aku mencekal lengannya, harap ia tidak pergi karena kesal terhadapku.


“Bang, come on… Please, sorry ya? Jangan marah, ayo diminum dulu airnya.” Pintaku memohon tanpa mengubah posisi dudukku.


“Heum, siapa yang marah, sih? Aku mau ke musala, nggak dengar tuh suara azan? Huh, butuh dokter THT nih!” Ucapnya, walau kutahu nada bicaranya seperti saat dia ngambek seperti biasanya.


Aku diam sejenak, iya benar suara azan sudah sampai di lafal akhiran.


“Yuk, salat!” Ajaknya menarik tanganku yang tengah mencekalnya.


“Hahaha, oke ayo!”


“Bang Andre, please jangan marah aku. Aku mau tanya.”


“Tanya apa?” Bang Andre.


“Heum, bang Andre pernah punya pacar? Atau mungkin sudah pernah tunangan? Jangan marah, cukup dijawab saja.” Tuturku.


“Pernah.” Singkat dia menjawab tanpa argumen lanjutan.


“Terus?” aku memancing kelanjutan kisah romansanya.


“Terus gimana? Kamu lihat ‘kan, aku sekarang sendiri? Itu berarti mereka semua pada lari. Gitu aja kok masih tanya ‘gimana?’ Ih...” Dumalnya mendesis.


“Ya, sorry Bang. Kan aku cuma nanya, jangan marah dong.”


Ya jelas semua pada lari, siapa orangnya yang tahan sama orang tipe ngambekan seperti kamu.- hatiku berpendapat tanpa kuminta.


“Kenapa kamu tanya-tanya begituan sih? Mau nembak aku apa gimana?” Cuapnya percaya diri.


Plak! Tepat sasaran pada lengan kekarnya.


“Apaan sih? Mantan-mantannya Bang Andre aja pada kabur, itu gambaran yang jelas seperti apa sifatmumu itu.” Ujarku.


“Memangnya seperti apa sifatku ini?” Bang Andre bertanya,


“Seperti hantu! Nyeremin, dan kamu orang yang ngambekkan! Uhh!” Renyah aku tertawa setelah berkata.

__ADS_1


Yang sebenarnya aku hanya sedang mencari tahu, bagaimana rasanya jika kekasih kita tidak memberi kabar? Apakah seperti aku yang merasa biasa saja? Apa yang harus aku lakukan? Menghubunginya? Datang ke tempat kerjanya? Atau biarkan saja? Aku tidak pernah melakukan satu hal itu selama ini.


Mas Dika seakan hilang kabar, atau apakah dia sedang berlayar dan tidak ingat jalan pulang? ~Eaaa….


__ADS_2