
Hari ini hari pernikahan Dena, aku mengajak Edwin untuk datang ke pernikahan itu. Bukannya aku malu jika datang sendiri tanpa membawa gandengan, hanya saja ini semua karena permintaan Mama. Mama yang memintaku mengajak Edwin untuk pergi bersama atau tidak usah datang sama sekali.
Sesuai keinginanku, aku memberitahu pria itu bahwa hari ini aku memakai gaun berwarna soft pink. Aku dibuat tergugu olehnya, Edwin datang menjemputku dengan memakai baju senada yaitu kemeja warna pink juga.
“Kenapa kamu senyum begitu, Dys?” Mama ternyata memerhatikan mimik wajahku yang menahan tawa melihat sang pengacara yang selalu menuruti kehendakku.
“Hah? Uh.. Siapa yang senyum, Ma? Dysa nggak senyum sama sekali.” Aku mengelak,
“Ya sudah, sudah cantik. Sana pergi, jangan buat Edwin susah!” Pesan mama,
“Ya, ma… Dysa pergi dulu ya.”
Pukul tujuh pagi seperti ini aku sudah siap datang ke acara resepsi sahabatku, Dena. Bahkan, saat di perjalanan saja dia sudah menelponku puluhan kali.
“Iya, Dena… Sabar,” ujarku setelah Dena menyemprotkan banyak kalimat di ujung sambungan telepon.
Tut…tut….tut…
“Laah, langsung dimatikan.”
Menghela napas sesak, jalanan sepagi ini sungguh ramai karena bertabrakan dengan jam berangkat sekolah dan para karyawan yang senantiasa membuat kebisingan ibu kota.
Melirik sejenak pada orang di sampingku yang sejak tadi tidak kuanggap keberadaannya, di tengah kelelahan akibat kemacetan, dia menyangga dagunya pada tepian pintu mobil. Gurat kebosanan terlihat jelas dari gesture tubuhnya, tapi tidak memengaruhi penampilan pada dirinya. Lengan bajunya yang dilipat sesiku, wangi parfumnya, dan tatanan rambutnya, aku rasa dia akan menjadi pusat perhatian di manapun ia berada.
“Mas Edwin nggak ada kerjaan hari ini?” Dia yang terlihat suntuk lantas menyergah gembira saat kutanya.
“Ekhem! Sedang kosong. Kamu sendiri?”
“Aku tetap massuk, tapi tukeran sama jadwal malam.” Jawabku, pria itu merapatkan mulutnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mas Edwin nggak bela-belain ninggalin kerjaan hanya demi ajakanku ini ‘kan?” Ujarku bertanya.
Dia mengernyit, lalu menjawabnya dengan gelengan kepala.
Sampai di parkiran hotel tempat akad dan resepsi pernikahan Dena, karena jarak tempuh yang lumayan jauh dan ditambah drama jalanan kota membuatku tertinggal acara ijab kabul antara ayah Dena dan suaminya. Sedangkan saat aku menjajaki karpet merah di dalam ruang pesta itu, Dena sudah berada di atas pelaminan, berdiri dengan suaminya serta bersalaman dengan para kerabat dan koleganya. Aku turut serta berbaris untuk memberi ucapan selamat padanya.
Dena, ya sahabatku itu menatapku dengan tatapan mematikannya.
“Apa- apaan kamu, Dys! Masih datang juga?” Dena kesal padaku, uluran tanganku tidak disambutnya. Langung saja aku memeluk tubuhnya.
“Maaf, aku benar-benar minta maaf. Apa kau tidak memberiku maaf?” Kemudian kulepas pelukanku padanya.
__ADS_1
“Kau tidak berjalan bersamaku saat tadi aku keluar dari kamar rias, padahal aku menelponmu sejak subuh, Dysa!” Omel Dena, tidak ada rasa malu sama sekali baginya di acara pestanya sendiri.
“Sussst, kau boleh memarahiku tapi nanti. Bukan di sini tempatnya jika mau marah, kau tidak malu pada para tamu?” Aku berbisik dan menunduk maaf pada suaminya itu, Dena marah karena aku.
“Memangnya aku peduli? Biarkan saja mereka tahu kalau kau bukan sahabatku yang baik.”
“Dena…” Lirih lembut suaminya itu, suara Dena bahkan memekik keras bertabrakan dengan dentingan sendok prasmanan di bawah sana.
“Nah lo! Sudah, lupakan ya? Selamat membuka lembaran baru, nanti aku kirimkan hadiah untuk kalian berdua. Oh ya, doaku semoga kalian langgeng abadi di dunia sampai di akhirat.”
“Aamiin, terima kasih…” Ujar Dena dan suaminya, dia berkaca-kaca lalu kembali memelukku.
"Hem, sudah jadi nyonya besar sekarang ya, Na?" Gurauku menoel dagu Dena, Dena tersenyum malu-malu.
“Foto dulu,” pinta Dena sebelum aku melangkah pergi. Tamu yang hendak bersalaman di belakang antreanku terpaksa harus berpanjang usus menuruti tuntutan sang pengantin wanita yang ribet ini.
Aba-aba dari kameramen memerintahkan kami untuk berpose berbagai macam, tidak lupa Edwin juga mau dan turut serta.
Jepret… sekali,
Jepret… dua kali,
Jepret,
jepret!
“Sudah ah, nggak enak di tunggu yang lain noh.”
“Oh iya, oke oke. Sekali lagi oke?” Pinta Dena. Baik, aku menurut.
Di sebelah Dena aku berpose feminim, dengan gaya formal dan memegang tas kecil yang menggantung di sebelah bahuku, pandanganku tanpa sengaja mengedar turun ke bawah pada barisan kursi para tamu. Pada barisan ke tiga, di sana aku melihat gadis kecil berkepang dua yang sedang memandang ke arah kami di atas panggung ini. Duduk pada pangkuan seorang ibu yang sudah terlihat tua, tatapan Bella menyorot sendu menatap dimana ayahnya berada. Tanpa aku duga, air mataku lolos begitu saja,
“Dys, kenapa kamu?” Dena menyenggol lenganku.
“Oh, tidak. Aku… aku, aku hanya mengenang kenangan kita dulu, aku pikir setelah ini kau akan menjadi sibuk dengan kehidupanmu sendiri.” Aku menyek air mataku dan mencari alasan.
“Hey, tiada yang berubah pada persahabatan kita. Aku akan tetap bermain dan jalan-jalan bersamamu, tidak ada yang berubah. Oke? Iya kan Mas?” Kulihat papa Bella mengangguk, mengiyakan ucapan istrinya itu.
Aku turun dari podium utama, sepanjang kaki melangkah banyak kujumpai artis papan atas berdatangan layaknya pesta para kalangan warga emas, para artis pun menjadi tamu undangan dan menyumbangkan beberapa lagu di atas podium dengan antusias. Banyak wajah-wajah yang familiar aku lihat di layar televisi turut hadir di sini, aku tidak tahu seberapa konglomeratnya keluarga suami Dena itu hingga mampu menggelar pesta semeriah dan semegah ini.
Di tengah keramaian hatiku merasa sedih, memang hatiku yang mudah lumer. Rasanya tiada yang melihat dan berempati pada gadis kecil yang memakai gaun pink ala princess Aurora tersebut, dia hanya diam di pangkuan seorang wanita. Aku berpikir sejuta kali untuk menghampiri gadis kecil yang bersandar pada dad seorang wanita tua. Saat acara sedang hebohnya, aku yang duduk di kursi yang tersedia berniat untuk menghampiri Bella di belakang sana.
__ADS_1
“Mas, aku mau ke sana sebentar ya.” Izinku pada mas Edwin.
“Kemana? Aku temani ya?”
“Tidak, tidak usah.” Dia mengangguk,
Bella masih diam dalam duduknya dengan tatapan yang tertuju fokus pada ayahnya yang tengah bercengkerama, tersenyum, dan tertawa di atas panggung dengan banyak orang.
“Bella,” Bella menoleh girang, senyumnya sangat lebar melihatku ada di sampingnya. Dia turun dari pankuan dan berjalan menuju tempatku berdiri.
“Bunda dokter! Bunda dokter ada di sini?” Tanyanya memekik karena suasana di ruangan ini sangat ramai dan bergemuruh. Aku mengandengnya keluar dari ruangan itu, membawanya ke sebuah lobby hotel yang cukup tenang karena sepi.
“Ayo, kita duduk di sini saja.” Aku membopong Bella duduk dipangkuanku, di tepi jendela yang segar memerlihatkan pemandangan kolam renang.
“Bunda dokter di sini?”
“Iya, kenapa Bella hanya diam dan terlihat murung di dalam sana?” Aku bertanya seraya membenarkan jepit rambut bunga mataharinya yang hampir terlepas.
“Di dalam terlalu ramai, Bela tidak tahu itu acara apa. Kata Oma dan Papa, Bella cukup diam saja dan menurut pada si Mbok.” Tutur bocah polos itu.
Yang sebenarnya terjadi ialah Papa Bella sedang menikah lagi, Nak.
Inginku berbicara demikian, namun, aku bisa apa? Apa hakku memberitahukan ini pada Bella? Sedangkan keluarganya sendiri tidak memberitahukan tentang pernikahan ayahnya, miris sekali.
“Memangnya, itu acara apa sih Bunda dokter?” Pertanyaan Bella yang aku takutkan, akhirnya ditanyakan juga.
“Hem, apa yah? Itu, hem itu pestanya Papa Bella, nanti Bella tanyakan saja pada Papa Bella ya?” Jawabku.
“Tapi kalau menurut Bella, sepertinya itu pesta pernikahan ya bunda dokter?” Bella berkata dengan santainya, tangannya tengah menggulung-gulung helaian rambut di sisi telingannya.
Aku terdiam mendengar ucapannya yang sudah mampu mengira sampai ke sana.
“Kenapa Bella bisa mengira seperti itu?”
“Bella punya mainan Barbie dan dia punya gaun putih seperti tante yang berdiri di samping Papa. Baju yang papa pakai mirip seperti punya Ken, nama pasangan Barbie yang Bella punya. Jadi, Bella pikir mungkin tante itu sebagai Barbienya dan Papa sebagai Ken-nya. Apa benar begitu, bunda dokter?” Ujar Bella, aku lagi-lagi tersentak dengan ucapannya. Aku beranggapan, sungguh sampai hati keluarganya yang tidak berterus terang pada anak malang ini.
“Hem, bisa jadi begitu. Kalau boleh tahu kalau saja Bella punya mama baru, Bella senang tidak?” Anak itu hanya mengendikkan kedua bahunya.
“Kenapa tidak tahu?” Tanyaku,
“Bella tidak tahu karena Bella belum pernah merasakannya, bunda dokter. Kalau mama baru Bella sebaik Mama Bella yang dulu, mungkin Bella akan senang.” Ujarnya.
__ADS_1
Aku mengecup kepalanya,
“Bella!” Terdengar panggilan keras dari ujung lorong lobby tersebut, aku dan Bella sontak terkejut dengan suara tersebut.