Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 10 ~Dua Karakter Pria


__ADS_3

Waktu seakan cepat berlalu, aku yang terlalu menikmatinya tanpa terasa tiba juga waktu pulang kerja.


"Bu, saya pulang dulu ya. Sudah dijemput Bapak." Pamit Tati.


"Iya, Ti. Hati-hati ya."


"Mari, bu. Maaf tidak bisa menunggu bu Dysa karena saya ada keperluan mendesak." Ucap Tati.


"Iya, tidak masalah. Ya sudah, bapakmu nanti marah lho kelamaan menunggu."


Yap, pukul dua puluh tiga puluh. Sudah malam dan aku lelah. Lampu di tepian tiang-tiang rumah sakit sudah menyala, kerelip lampu jalan sudah benderang, dan kini saatnya aku pulang.


Tidak seperti biasanya, Edwin belum ada di tempatnya. Aku mengira bahwa dia sedang marah karena kejadian pagi tadi. Ya, meski begitu tidak ada salahnya bagiku. Tidak ada hak baginya untuk mengekangku atau membatasi hubunganku dengan rekan-rekanku, mengingat dia bukan siapa- siapa dalam hidupku.


"Ya sudah, aku pesan ojek online saja." Aku putuskan membuka aplikasi ojek online di ponselku. Sudah dapat dan tinggal menunggu driver ojol datang menjemputku.


Sendiri, sepi, dan sunyi, itulah yang kurasakan saat ini. Di halte rumah sakit, aku duduk sendiri menanti driver ojek online yang kupesan. Namun, tiba-tiba dari arah kanan terlihat gemerlap sorot lampu yang menyilaukan mataku. Sebuah mobil putih berhenti tepat di depanku,


"Edwin?" Lirih bibirku.


Edwin keluar dari mobilnya, berjalan mendekat ke arahku.


"Maaf, tadi ada urusan mendesak dengan klien. Menunggu lama dari tadi?" Tanya Edwin.


"Hem, tidak terlalu." Aku menggeleng.


Tin...tinnn....


"Ojek online atas nama mbak Dysa?" Ucap ramah seorang pria berjaket hijau.


"Hem, Ed.. Eh, maksudku Mas Edwin. Saya sudah memesan ojol." Ucapku.


"Ya sudah, tunggu sebentar." Ucap Edwin lantas mendekat kepada driver ojol itu.


Aku melihat Edwin membuka dompetnya dan menyerahkan lembaran uang pada ojek online itu.


"Sudah, ayo pulang." Ajaknya, pria ini kemudian menyodorkan tangannya untuk menggandengku. Aku tidak bergeming, hanya berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.


"Mas Edwin." Panggilku, dia menoleh


"Hem? Kenapa?" Alisnya terangakat,


"Maaf, tadi pagi itu aku hanya bercanda dengan rekan kerjaku. Dia bukan siapa-siapa," ujarku.


Dia mengerutkan dahinya,


"Tadi pagi? Dia siapa?" Mulutnya malah melontarkan pertanyaan.


Hah? Jadi dia tidak melihatnya, toh? Yah percuma aku meminta maaf.


"Dia siapa, Dys?"


"Oh, ya allah! Aku salah orang, bukan-bukan. Bukan sama kamu, Mas. Aku baru ingat kejadiannya di kantin tadi, bukan kamu kok." Elakku mencari alasan lain.


Di dalam mobil, jujur saja aku sudah berkali-kali terkantuk-kantuk namun tetap kupertahankan supaya tetap terjaga.


"Dys, ngantuk?" Tanya Edwin.


"Sedikit," ia hanya mengangguk tidak menanggapiku lagi.


Ya, beberapa menit terpejam tanpa sadar sudah sampai di halaman rumah.


"Sudah sampai... Bangunlah.." Suara lembutnya berbisik di samping telinga kananku.

__ADS_1


"Ohhh, huahhh. Makasih ya, Mas." Aku menguap seraya berkata demikian.


"Iya, istirahatlah. Aku langsung pulang ya, besok kita bertemu lagi. Dahhh..." Ujarnya.


Sudah semakin larut, mataku sudah tidak berdaya lagi. Sangat sulit terbuka dan langkahku sudah sempoyongan.


"Dys? Kenapa kamu? Mabok?" Celetuk Mama.


"Ahhh, Mama! Ngaco sih. Mana mungkin Dysa seperti itu, orang cuma ngantuk kok." Balasku, sudah berkali-kali menguap dan akhirnya sampailah juga di kasur empuk kesayanganku.


BRUGGGGH...


Menjatuhkan tubuhku dan detik berikutnya aku sudah terlelap ke dalam alam bawah sadarku.


Baru beberapa waktu lalu mataku terpejam, namun sayup-sayup terdengar suara Mama di telingaku.


"Dys... Bangun, Dysa. Dysa, bangun..." -Mama


"Huahh, apa sih Ma. Masih mengantuk ah!" Ucapku.


"Hih, kamu nggak berangkat kerja? Sudah jam sembilan, lho!" Mama meneriakiku,


"Jam sembilan? Jam sembilan apa?" Tanyaku,


"Ya, pagilah! Kamu pingsan ya?" -mama


Aku menoleh ke arah jendela kamarku, terang!


"Ahhh, Mama! Kok baru dibangunkan sih?"


"Mama, Dysa terlambat!" Pekikku,


Keterlaluan ya, kenapa tidurku bisa kebablasan gini sih?


Tanpa mengindahkan ucapan mama, aku yang merasa sudah sangat telat untuk memulai aktivitas segera menuju kamar mandiku.


Tidak habis pikir, apa jadinya jika mama tidak berinisiatif membangunkanku. Akan menjadi sejarah terburuk di sepanjang hidupku atas ketidakprofesionalanku dalam profesi.


Melihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Bahkan aku belum sarapan dan memoles wajahku,


"Ah, tidak lagi-lagi deh bangun kesiangan. Dan kenapa sih alarmnya tidak bunyi, sial!"


Aku menggerutu, ponsel yang biasanya menjadi pengingat waktu malah tidak berbunyi sama sekali hari ini.


Berlari menuju lantai bawah, hanya ada Mama di sana. Sudah pasti Papa telah berangkat ke kantornya,


"Mama, Dysa berangkat ya. Dimana kunci mobilku?" Gelagapan aku mencari benda kecil yang tiba-tiba menghilang saat dibutuhkan.


"Cari apa?"


"Kunci mobilku, Ma." Membolak-balikkan bantal di sofa, benda kecil itu menjadi tidak kasat mata di saat mendesak seperti ini.


"Kenapa mau pakai mobil sendiri, sedangkan Edwin sudah menunggumu di depan." Ujar Mama.


"Tapi, Ma. Dysa sudah hampir terlambat, hari ini ada pemeriksaan pegawai." Aku berkilah, jika bersama Edwin maka aku akan semakin telat karena dia melajukan mobilnya sangat santai jika sedang bersama denganku.


Sialan!


"Kalau ngotot cari benda yang tidak ada, malah semaki telat, kamu. Salah siapa bangun kesiangan." Mama malah menuding kesalahanku.


Mau tidak mau, aku berangkat dengan Edwin.


"Huffft."

__ADS_1


"Kenapa, Dysa?" Tanya Edwin lembut padaku, tidak ada bosannya ya dia menunggu, mengantar, dan menjemputku setiap harinya?


"Tidak, Mas tolong agak cepat ya. Hari ini ada pemeriksaan di rumah sakit." Ucapku.


...----------------...


"Terima kasih." Hanya setengah jam perjalanan, biasanya sampai sejam lebih dari waktu tempuh tanpa mengebut.


"Sama-sama. Pulang nanti, beritahu aku ya." Aku mengiyakan ucapannya.


Berjalan cepat menuju ruanganku,


"Sudah pemeriksaaannya, Ti?" Aku bertanya pada Tati yang tengah menyapu ruanganku.


"Oh, tadi kata dokter Andre pemeriksaan itu ditunda, bu." Jawab Tati.


"Lah? Padahal aku sudah mengebut. Mana belum sarapan lagi, kesal!"


"Iya, ditunda sampai minggu depan begitu, Bu. Oh ya Bu, tadi dokter Andre memberikan itu." Tati menunjuk sebuah kotak berwarna merah di atas mejaku.


"Oh apa ini?" Aku membukanya dan terdapat sebuah kain berwarna merah. Saat aku membeberkannya, ternyata sebuah gaun cantik dengan beberapa payet tersebar yang membuat gaun itu tampak berkilau.


Oh ya, malam nanti aku akan mendatangi pesta bersamanya.


"Ti, kamu sudah sarapan?" Tanyaku pada Tati.


"Hem, sudah Bu."


"Saya belum, kita ke kantin yuk?" Tati mengiyakan. Belum sampai di kantin rumah sakit, dari arah berlawanan terdapat dokter Andre berjalan ke arahku.


Dia melambaikan tangan padaku,


"Baru sampai?"


"Iya," balasku.


"Sudah lihat gaun yang aku berikan? Bagus tidak?" Tanya dokter spesialis kanker itu.


"Hem, iya bagus."


"Muat?" Tanyanya lagi.


"Loh? Belum saya coba. Kalau ukuran bajunya small, jelas tidak muat di tubuhku, dok." Jawabku.


"Sungguh? Padahal aku membeli dengan ukuran extra small, lho." Ucapnya lagi. Kami berjalan beriringan, sedangkan Tati berada di belakangku.


"Yahhh, auto koyak deh gaun itu. Aku pakai mukenah saja ke pestanya." Gurauku.


"Wahh, ide bagus tuh." Dia menanggapiku dengan gurauannya juga.


"Mau kemana sih?" Tanya dokter di sampingku ini.


"Ke kantin, belum sarapan." Jawabku dengan mengelus perutku, dokter Andre menghentikan langkahnya.


"Kenapa dok?" Tanyaku,


"Kalau mau Ke kantin bukan ke sini jalannya. Ini sudah terlewat jauh, Ibu...." Ucapnya.


"Hah?" Aku melongo.


Ya, saat aku menoleh ke belakang. Papan petunjuk jalan ke kantin sudah terlewat jauh.


"Hahaha.... Dasar aku!"

__ADS_1


__ADS_2