
Di bawah cahaya bulan, aku mendongak. Menatap langit yang begitu kelam kurasa malam ini, tiada yang bersinar terang di antara jutaan bintang yang bertaburan. Bahkan, kini purnama sudah berganti, nyatanya belum kudapatkan jawaban atas layang kabar yang kuterbangkan pada pujaan hati. Mas Dika, pria itu hilang bak tenggelam atau lenyap melayang melampaui tingginya awan. Satu pesan yang kukirimkan saat purnama silam tidak terbaca hanya ceklis semata, harap-harap sesuatu buruk tidak sedang menimpa dirinya.
Entah pukul berapa, belaian angin malam menyisir kulitku yang mulai kian menggigil. Seirama dengan rintikan tipis gerimis laksana hati para gadis yang sedang menangis, sepertiku. Walau terbiasa lama tanpa kabar darinya, kali ini esensinya berbeda, seakan aku tengah merasakan sedikit kehilangan entah apa aku tidak tahu. Menyendiri ditemani malam, hanya ingin berdiam diri di sini tak peduli hingga malam terlewati.
“Dysa?” Aku menoleh pada sumber suara, Papalah orangnya.
“Pa?”
“Sedang apa malam-malam begini masih berdiri di luar?”
Aku menggeleng,
“Angin malam tidak baik, lho. Bisa bikin masuk angin.” Ujar Papa yang kini malah berjalan mendekatiku.
“Sedang apa, hem?” Kembali Papa bertanya.
“Hanya ingin memandang langit malam saja. Bulan sabitnya indah, anehnya bintangnya tampak redup semua ya Pa?” Sama-sama aku dan Papa melihat ke atas.
“Iya, mungkin sedikit mendung.” Jawab Papa, lantas beliau menyedekapkan tangan di depan dada.
“Pa?”
“Hem?”
“Apa yang Papa lihat dari Mama? Maksudku, apa yang membuat Papa dan Mama bertahan dalam ikatan pernikahan. Pernahkah Papa merasa bosan dengan Mama?” Tanyaku pada Papa.
Kulihat Papa menoleh kepadaku, lantas mengelus rambutku yang sedang terurai, terbang terhempas siliran angin.
“Dengan alasan ikatan itulah lantas Papa dan Mama tidak bisa saling menyepelekan.” Jawab Papa singkat.
“Apa Papa tidak pernah memiliki niat untuk menduakan Mama? Apa hubungan kalian pernah retak tanpa sepengetahuan Dysa?”
“Pernah.” Begitu hemat jawaban Papa.
“Pernah Pa?” Terlonjak darahku saat mendengar pengakuan Papa barusan. Papa hanya mengangkat kedua alisnya, membenarkan apa yang aku ragukan. Harap tadi hanya gurauan saja.
“Iya, Papa pernah ingin menduakan Mamamu dan hubungan Papa dan Mama pernah berada di titik terumit.” Kulihat Papa menunduk, lantas kembali menatap luasnya langit malam. Aku mendelik tidak percaya. cukup lama aku terdiam, hanya hatiku yang terus bertanya.
Benarkah itu pernah terjadi?
“Apa tidak jahat, Pa? Papa menduakan Mama?” Aku berkata dari sudut pandang seorang wanita yang tidak mau disakiti. Sedangkan Papa hanya tersenyum dan menggeleng-geleng.
Bocah tahu apa?
“Untungnya hanya niat ‘kan? Tidak sampai terjadi.”
“Kok bisa ada niatan seperti itu?” Aku menatap Papa tidak suka. Yang kutahu, Papaku orang yang setia. Tapi apa yang barusan dia katakan?
“Ya, saat itu sampai dua tahun usia pernikahan kami. Tapi, belum juga dikaruniai buah hati. Papa dan Mama sering bertengkar bahkan hampir setiap hari. Maafkan Papa ya?” Terjeda sekian detik.
“Saat itu, Papa pikir Mamamu tidak bisa memberikan Papa anak. Jadi, Papa melampiaskannya lewat tutur kata Papa yang menyakitkan, sedangkan Mamamu yang tidak bisa tersenggol hatinya langsung ikut marah saat Papa bentak. Maklum, saat itu dalam diri Mama Papa masih mengalir darah muda yang selalu merasa benar dan ingin menang. Hahaha…” Gelak tawa Papa iringkan di akhir kalimatnya.
“Jadi, andai saja sampai saat ini Mama tidak memiliki anak berarti Papa sudah meninggalkan Mama?” Aku masih cemberut, diriku yang telah mendoktrin bahwa semua pria akan sama dengan pemikirannya yang dangkal jika memiliki hubungan.
Ternyata semua laki-laki sama saja! Hatiku berteriak demikian.
“Hus, tidak. Papa tidak seperti itu. Setelah dipikir, ternyata tidak ada gunanya juga ‘kan kalau Papa dan Mama bertengkar setiap hari? Toh, anak tercipta atas kehendak Allah subhanahu wa taala, Papa tidak berhak menuntut ini itu pada Mamamu atas apa yang tidak bisa kita kehendaki tanpa seizin-Nya.” Perkataan Papa terjeda sesaat, kembali mendongak ke atas lalu memindahkann tatapannya padaku,
“Papa dan Mama hanya bisa berserah atas kehadiran buah hati, papa sudah benar-benar ikhlas. Dan akhirnya, Alhamdulillah lahirlah putra-putri Papa mama. Abangmu yang pertama, kedua, dan yang ketiga ini dia, Dysa namanya.” Ucap Papa seraya mencubit daguku, lalu aku memeluk tubuh Papa.
Memang seperti inilah sifat Papa yang sebenarnya, seorang pria terbaik yang aku kenal.
“Oh, hehehe. Papa memang kebanggan Dysa! Dysa mau dong punya suami yang bertanggungjawab seperti Papa, yang tampan, mapan mental dan uang, beriman, penyayang, pekerja keras. Yang seperti Papa pokoknya!” Keinginanku sudah mutlak, no debat.
“Pasangan adalah cerminan diri. Perbaiki dirimu sendiri maka tanpa dituntut ke sana kemari, jodoh pasti menghampiri. Iya kan?”
“Hahahah, sip! Papa the best!” Acungan jempol aku tunjukkan pada Papa.
__ADS_1
“Memangnya anak papa ini tidak mau menikah sekarang?”
Aku menggeleng,
“Belum mau, Pa.” Jawabku dengan menakankan kata ‘belum’.
“Nanti keburu ditentuin Mama, lho. Sama Edwin mungkin?” Papa menggodaku,
Plak, aku memukul perut Papa yang tengah aku peluk.
“Hahahah.” Papa tertawa,
“Papa mah gitu… Uh huh, Dysa nggak mau dipasang-pasangin seenaknya.”
“Hahaha, iya deh.. Ayo masuk, sudah larut.” Menurut dan berjalan beriringan.
...****...
...
...
Sejenak aku membaringkan badanku di tempat ternyaman yang super empuk. Mengelus-elus sprei lembutku, menatap langit kamar, melirik ke jendela dan berakhir pada saat memegang benda pipih yang tak sengaja tersentuh telapak tanganku.
“Hah? Mas Dika menelponku tadi?”
Lima panggilan tidak terjawab tertera pada ponselku dari nomor yang sama.
Terdapat balasan pesan dari yang aku kirimkan waktu lalu,
'Kabarku baik, Dysa. Maaf, baru sempat balas pesanmu.'
^3 panggilan tidak terjawab^
'Kenapa tidak angkat telponnya? '
^2 panggilan tidak terjawab^
'Baiklah, besok Mas hubungi lagi.'
Pesan berderet setelah sambungan demi sambungan tidak terjawab olehku. Membiarkannya saja, yang terpenting dia sudah memberi kabar bahwa keadaanya baik-baik saja.
...****...
Pagi harinya, ayam baru saja berkokok dan hari belum begitu terang. Dari jendela kamarku yang berada di lantai atas terlihat mobil Mas Dika yang terparkir jauh di luar gerbang. Tidak yakin sepenuhnya, tapi sang pengemudi lantas keluar dan melambaikan tangannya padaku saat aku memastikan bahwa dialah orangnya.
Mendelik tidak percaya, segera aku mengirimkannya pesan supaya jangan sampai orang-orang rumah curiga padanya. Jauh dari jadwalku datang ke kantor, aku sudah berizin pamit pada Mama dan Papa.
“Naik apa Dys? Nggak nungguin Edwin?” Tanya Mama.
“Nggak, Ma. Nanti Dysa kirimkan pesan pada Mas Edwin.”
“Sudah ya Ma, Pa. Dysa berangkat dulu. Assalamualaikum.” Menciun tangan keduanya, kemudian berlari menemui seseorang yang sudah menungguku sejak habis subuh tadi, mungkin.
“Gila kamu ya Mas!” Umpatan keluar begitu saja, sedang senyuman bersamman dengan rasa hati yang gembira karena lama tak jumpa.
“Kok dikatain gila sih?” Gumam Mas Dika cengengesan.
“Habisnya, Mas datang begitu saja. Kalau Papa lihat bagaimana? Bias-bisa aku dinikahkan besok juga.”
“Bagus dong.” Jawabnya seraya memutar –mutakan setir mobilnya.
Ah, bodoh! Harusnya tidak kukatakan itu.
“Mas Dika habis kemana saja? Kok lama nggak hubungi Dysa?”
“Kan sudah Mas bilang kalau mau pergi jauh. Kamu lupa?”
__ADS_1
“Tidak. Tapi jauhnya itu kemana? Nggak mungkin nggak tahu pergi kemana bukan?” Sedang yang ditanya hanya mengendikkan bahunya, menyebalkan bukan?
Baru pukul delapan pagi, bagiku masih terlalu pagi untuk datang ke rumah sakit.
“Cari makan yuk? Belum sarapan kan?” Mengangguk mau.
Sampai juga pada kedai bubur ayam.
“Mas-mbak, mau pesan berapa?” Tanya si Mang penjual bubur.
“Dua mangkok Mang, yang satu porsi double ya.” Mas Dika menyaut, Mang penjual bubur mengiyakan.
“Buat siapa yang porsi double?”
“Buat Dysaku.” Terkekeh, hatiku berbunga. Haha sepengertian itukah kamu padaku?
Datanglah pesanan kami, walau tempatnya ramai pengunjung yang berlesehan tapi aku tetap merasa nyaman. Sengaja kami memilih tempat yang paling ujung, dibawah pohon kersem, sepoi-sepoi, tenang, dan damai.
“Waw! Banyak banget bubur aku.” Girang dan terkejut.
“Pasti habis kok.” Sautnya.
“Kalau nggak habis gimana, Mas? Kamu memang sengaja mau aku gemuk ya Mas?” Walau nada bicaraku diselingi dengan tawa,
“Gemuk atau tidak, kamu tetap cantik.”
Wleee… Bisa saja bikin aku tersipu malu.
Makan tanpa bicara, menikmati bubur dengan lahap hingga ludas tuntas.
“Ah, kenyang. Ngantuk!” Orang di depanku hanya menggelengkan kepala dengan senyumannya yang aku suka.
“Mas Dika!”
“Main hp mulu!” Padahal aku tahu, dia baru saja menggeser layar kunci ponselnya.
“Posesif.” Ujarnya.
Mendelik, lalu mencubit lengannya.
“Heh! Posesif? Aku nggak mau dikacangin aja.” Bersandar pada batang pohon kering yang berada di sana.
“Hahaha, iya iya. Apa? Kenapa?” Mas Dika menyimpan ponselnya dalam saku.
“Aku cuma mau bilang, kamu itu mirip kakak-kakakku.”
“Kenapa?” Mendekat padaku.
“Ya gitu, mirip aja.”
“Apanya? Muka?”
“Bukan, sikap kamu ke aku. Benar-benar mirip.”
“Nggak ngertilah.” Pasrah dia, sepertinya. Hehe.
“Ya, Mas Dika menyayangiku sama seperti kakak-kakakku. Kamu baik banget, nggak pernah maksa Dysa, memberikan Dysa yang terbaik, tahu apa yang Dysa suka. Benar-benar pengertian, deh.” Ingin aku menambahkan slogan ‘saya suka, saya suka!’
“Ya itu, selama delapan tahun ini apa sih yang belum aku tahu tentang kamu. Hem?” Gumamnya begitu berwibawa, kharismanya seperti kakak-kakakku. Mungkin karena mereka seumuran ya? Oh ya, mungkin sebab itu ya.
“Iya yah, lama bener. Kok kamu bisa sih bertahan sama aku?” Tanyaku usil. Yak, dia hanya mengendikan bahunya lagi.
“Coba dong Mas jawab. Dysa pengin tahu….” Merayu.
Dia beranjak mendekat pada si Mang tukang bubur membayar makanan kami.
“Yuk jalan.” Ajaknya tanpa mau duduk sejenak.
__ADS_1
Mobil melaju pelan, hening seperti biasa. Memikirkan sedikit dengan hubunganku dengan Mas Dika selama delapan tahun ini.
“Mas Dika? Apa mas Dika punya perempuan lain di hatimu?”