
Sendiri memang menyedihkan, namun lebih baik daripada bersama tapi melelahkan. Begitu mereka yang pergi, aku biarkan saja. Tidak tahu seberapa lama kita bersama, kenyataannya aku dan dia yang memiliki hubungan hampir satu dekade lamanya akhirnya kandas juga.
Ini mengingatkanku pada ucapan Mama,
'Dunia ini fana, semua tiada yang akan abadi sekalipun kau merasa memiliki tapi ingatlah Tuhanmu yang berhak menentukan berapa lama kau akan dititipi'
Jadi rindu Mama...
Seminggu penuh tidak berinteraksi dengan Mama, mama lebih sering mendiamkanku akhir-akhir ini. Mungkin karena ia tahu kesibukan aktivitas harianku, seminggu penuh juga aku tidak memakan sarapan yang Mama sajikan. Sedangkan Papa sama saja, beliau berada di luar kota karena urusan pembangunan panti asuhan lainnnya. Mama pasti merasa kesepian saat di rumah, berbeda cerita jika beliau sudah keluar dan berkumpul dengan kawanan organisasinya.
Berniat menebus rasa bersalahku kepada Mama, aku kini duduk di meja makan sebelum Mama keluar dari kamarnya. Bingung juga harus melakukan apa, memasak pun yang ada nanti malah kena cibiran pedas Mama. Menyuci perabotan rumah, tapi tidak ada perkakas dapur yang kotor. Di pandanganku hanya menangkap satu benda berbahan kain berbentuk persegi menggantung di sudut dapur. Oke, aku akan membersihkan teflon, kompor, dan lainnya.
Mengawali dengan menyemprotkan sprai pembersih lalu mengelapnya dengan kanebo, setelah bersih barulah mengelapnya dengan benda agak empuk berbahan kain tersebut, begitu seterusnya. Tidak tahu berapa lama aku bekerja, ternyata sudah ada Mama yang sedang berdiri berkacak pinggang di depanku.
Bukan pujian atau kalimat kagum yang aku dapatkan. Tapi,
"Kesambet apa, Dysa?"
"Tumben mampir dapur?" Lanjut Mama. Aku langsung memajukan bibirku sepanjang aku bisa.
"Ih, Mama. Tiap hari juga Dysa mampir ke dapur barang cuma minum juga." Jawabku.
"Biasanya ke dapur ingat makan doang, buka kulkas neguk air, buka tudung saji ambil makanan. Lah ini kok berani bener pegang kesed?" Begitu ledeknya.
Aku diam, hanya memainkan bibirku ke kanan dan kiri.
"Iya wis, lanjutkan. Mama mau masak, kamu mau sarapan apa?"
"Roti panggang saja, Ma. Tapi dibikin sandwich gitu lho, nggak usah pakai selai."
"Iya, rewel." Begitu jawaban 'iya' dari Mama.
"Minggu depan, Bai sama keluarganya mau datang lagi." Ucap Mama tiba-tiba.
Aku diam,
"Kenapa diam?" Tanya Mama.
"Ya sudah, datang ya tinggal datang saja. Mereka kan tamunya Mama."
Mama menjentikkan jarinya di belakang kepalaku, keras, sampai bunyinya terdengar ke kedua telingaku.
"Sakit, Ma."
"Bodoh! Mereka datang dengan maksud dan tujuan."
"Maksud dan tujuannya apa?"
"Melamar." Kembali mama mengiris tomat di atas talenan.
__ADS_1
"Melamar Siapa?"
"Pikir saja sendiri, kamu pikir mereka datang untuk melamar Mama?!" Nada bicara mama meninggi.
Aku mengendikkan bahuku,
"Ya, mungkin saja."
"Ishh, dasar anak kurang ajar." Tidak main-main, wanita yang melahirkanku ini menempelkan pisau bekas tomat di kepalaku.
"Mama, kotor!" Terasa agak basah dan berlendir pada rambutku saat kuusap.
"Belum mandi juga... Jorok, perawan mandinya siang."
"Mama juga." Elakku.
"Juga apa? Perawan?" Lawaknya.
"Mama juga belum mandi, maksudknya!!!!"
Mama tertawa, bisa-bisanya mama bilang kalau masih perawan, orang anaknya segede ini coba? Dasar MamaLita alias Mama sosialita.
"Kalau Bai datang, kamu harus tampil cantik. Dandan yang bener." Pituturnya.
"Bukannya berdosa ya Ma, berias diri di depan lelaki yang bukan mahrom kita?"
"Husst, kan niatnya bukan buat cari perhatian. Niatnya untuk menyanbut tamu, mereka itu masih saudaraan lho sama kita. Tamu harus disambut baik, apalagi mereka yang masih berstatus saudara. Kamu tahu ngga, budhe Nur yang sekarang tinggal di Malang itu?" Tanya mama.
"Nah, suaminya kan punya adik noh yang sekarang di Jogja."
"Terus?" Ucapku.
"Lah, adiknya itu iparnya orang tua Baihaqi, Dys."
"Jadi?" Lanjutku bertanya.
"Jadi ya, mereka itu secara tidak langsung bersaudara dengan kita."
"Bukannya kalau saudaraan nggak enak ya buat jadi menantu? Enakan juga jadi saudara selamanya, nggak harus besanan juga." Ujarku.
"Saudara jauh juga. Udah lah, kamu kalau dikasih tahu sukanya ngeyelllll terus. Ribet!"
Lah, mama yang bikin ribet. Apa pula peduliku dia mau saudaraan sama kita kek, enggak kek. Datang ya tinggal datang saja, nggak usah panjang-panjangin cerita kali, Ma. -Sungutku dalam hati.
"Kamu harus mau Dysa, Mama tidak mau menerima penolakan apapun lagi. Dia calon yang paling baik di mata Mama, menolaknya berarti kamu tidak berbakti dengan Mama." Sarapanku pagi ini, bersamaan dengan sandwich yang hampir siap serta merta bonus cerewetan mama.
Bukan tidak mau berbakti, Ma. Hanya saja masih belum siap menikah. Apa iya, menikah harus dipaksakan? -Cukup berkata di dalam batin saja.
"Dysa, dengar?"
__ADS_1
"Ya, ma."
"Nih, makan. Sudah matang."
"Awas panas." Sambungnya saat aku mendekat ke meja makan membawa sepiring sandwich ala Mama.
"Ma, hari ini mama mau kemana?"
"Ke Mall, belanja keperluan."
"Ikut ya Ma."
Pukul sebelas pagi,
"Tuh, kalau ngajak kamu tuh kelamaan. Banyak waktu mama yang terbuang." Tuturnya menghentak-hentak.
"Maaf, Ma. Orang tadi bajunya kusut, ya harus disetrika dulu."
"Apa nggak ada baju lain di lemarimu? Tak bakar kalau baju di lemari nggak pada kamu pakai. Jangan beli baju lagi nanti di sana!!" Bentak Mama padaku.
"Iyaa, tapi jangan pulang sebelum Dysa puas ya Ma?"
"Bodo amat!!"
Kejam, kejamnya Mamaku itu. Mama berjalan menuruni anak tangga, berjalan ke garasi dan mengambil mobil merahku untuk digunakannya. Mama wanita yang modis, di usianya yang menginjak lebih dari setengah abad ia masih sering dipanggil gadis belia karena gayanya.
Tidak sombong atau berbangga, mama malah mendusal malu saat dikatakan kakak beradik ketika jalan bersamaku. Aku tidak minder atau merasa terlihat tua sampai disebut seumuran dengan Mama. Memang aku merasa pantas dengan dandananku yang natural dan apa adanya.
Berbeda dengan Mama, Mama tidak pernah menggenakan daster layaknya ibu-ibu rumahan yang sibuk dengan cucian, anak-anak, dan urusan rumah tangga. Memang hanya ada satu pembantu di rumah, selebihnya penghuni rumah mengurusnya sendiri. Dasar Mama yang pandai mengelola diri dengan baik, Mama aktif kegiatan di dalam ataupun di luar rumah.
Seperti hari ini, aku yang memakai rok span sepatas matakaki, kemeja, dan jaket kulit warna peach, dan hari ini aku memakai hijab warna senada dengan jaketku, dengan sepatu sendal berhak setinggi tiga senti, bagiku outfit yang cukup pantas untuk berjalan-jalan.
Lain halnya Mama, baju berbahan parasut warna putih, dengan dalaman tengtop, celana hitam panjang, sepatu boots berhak tinggi, kacamata hitam, rambut cepolan atas, tampak seksi mengalahkan aku yang masih gadis dan belum menemukan jodoh ini. Meski begitu, Mama nampak garang dengan langkahnya. Tidak berniat mencari perhatian, yang ada tampak fine-fine saja dengan penampilannya. Cantik sih, tapi lupa usia.
Belanja kebutuhan rumah untuk sebulan ke depan, aku hanya mendorong troli di belakangnya. Tidak paham dengan kebutuhan rumah tangga, yang aku ingat bahwa aku selalu membutuhkan pembalut. Tanpa kuminta Mama sudah memasukkannya ke daftar belanja bulanan. Jadi, ya sudah cukup diam dan mengikuti langkahnya.
"Ma, nanti mampir ke sana ya?" Tunjukku pada gerai jam tangan.
"Iya."
Dari kejauhan ada salah satu arloji yang menarik perhatianku, warna putih dengan pinggiran berkelip layaknya intan. Entah asli atau tidak, tapi aku suka. Sampai pada akhirnya langkahku nanar, tidak keruan tanpa arah hingga troli yang aku dorong menabrak seseorang.
Brak... Bruggg !
"Oh, maaf, maaf." sontak aku menyesal, belanjaan wanita muda di depanku ini jatuh berceceran.
"Maaf, mbak. Mari aku bantu." Memunguti bingkisan kertas berlabel maal yang sama.
"Lain kali hati-hati. Kalau yang ditabrak anak-anak gimana? Sakit ini tahu." Ucap wanita yang aku tabrak itu.
__ADS_1
"Iya, saya sangat menyesal. Sekali lagi maafkan saya."
Belum melihat jelas wajah wanita yang aku tabrak itu, sedetik kemudian rahangku dibuat kaku karena mulutku menganga. Sosok yang aku tabrak adalah orang yang selama ini aku rindu dan kunantikan kabarnya.