Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 28 ~Makhluk Diciptakan Berpasang-Pasangan


__ADS_3

Kembali menuju ke rumah sakit, tempatku bekerja. Tidak ingin absen sehari pun selagi aku bisa, hidup bukan untuk bermalas-malasan kan gengs? Capek sedikit saja masa iya udah nyerah gitu aja? Cemen loe, Bro-Sis!


Ya, selepas memeriksa pasien terakhir kini aku menuju ke ruanganku. Melewati panjangnya lorong dan beberapa koridor, lenggang aku berjalan melewati banyak ruangan. Di persimpangan, terlihat sosok yang akhir-akhir ini tidak nampak batang hidungnya. Barangkali ia sengaja menghindar untuk bertemu denganku.


“Dokter Andre!” Pekikanku itu berhasil membuat seluruh mata menoleh pada kami. Di sepanjang koridor Adelweiss aku berusaha memanggil doi yang sedang stel budeg dengan panggilanku. Dia yang dulu sangat dekat denganku, bercengkerama setiap hari, menjalankan aktivitas harian bersama, kini berbalik arah. Dokter Andre, entah kenapa semakin hari sikapnya semakin dingin terhadapku. Tiada lagi tegur sapa, tiada makan siang bersama, bahkan hal gila yang sering ia lakukan kini semua musnah, tidak ada.


“Bisakah kita bicara secara baik-baik?”Aku berdiri di hadapan pria setinggi 70,92 inch ini.


“Dokter, apa salahku padamu?”


“Kenapa kau menjaga jarak denganku?”


“Maksudku, kenapa kita menjadi seakan tidak saling mengenal, dok?”


Bungkam…


Menatapnya penuh harap dan tanda tanya,


“Kenapa?” Mata kami bersitatap.


“Tinggalkan pria itu.” Satu ucapan yang keluar dari mulutnya, ya kalimat yang mengandung berjuta makna di dalamnya.


“Siapa?” Mencekal tangannya supaya tidak pergi begitu saja.


“Siapa, maksudnya?” Masih diam seribu bahasa.


“Bang…” Lirih lembut untuk membujuknya berbicara, sedikit mengeratkan genggamanku padanya.


“Pria bernama Dika.” Lantas ia menghempasakan cekalanku. Kemudian melengos pergi meninggalkan aku seorang diri. Tidak sangggup lagi berkata, hanya bisa memandangi punggung tegapnya yang semakin jauh dari pandangan mata.


Kenapa dia menyuruhku meninggalakan Mas Dika?


Apa hubungannya dengan Mas Dika?


Apa benar dia marah karena dia tahu hubunganku yang sebenarnya dengan Mas Dika?


Atau jangan-jangan, dia menyukainku?


“Uhh, tidak-tidak! Percaya diri sekali aku ini.” Menggelengkan kepalaku, aku tidak boleh kepedean.


“Sebaiknya aku tanyakan saja pada mas Dika soal ini.”


Menghubungi pria yang tadi disebutkan, merencanakan pertemuan itu di akhir pekan. Masih tersisa tiga hari lagi menuju hari itu. Aku menuliskan apa saja yang akan aku tanyakan di atas notebook milikku.


Tok..tok..tok.. (Ketukan pintu)


“Mbak Dysa?” Suara dari balik pintu.


“Dokter Rina?” Dia memerlihatkan sedikit bagian kepalanya.


“Mbak belum ke ruang pertemuan? Yuk bareng sama aku. Tadi saya lihat mbak Dysa belum keluar ruangan.” Ujar dokter berparas cantik dengan hijab menyelimuti kepalanya.


“Oh ya, ayo.”


Hari ini memang ada pertemuan yang diagendakan sejak tiga hari lalu, hanya perwakilan saja yang akan datang, termasuk aku yang menjadi salah satu di antaranya.


...****...


...


...

__ADS_1


“Selamat ya dokter Dysa.”


“Congrats.”


“Selamat, dokter Dysa.”


Seperti itulah reaksi semuanya, menjabat tangan, berpelukan, dan memberi selamat. Karena pembahasan pertemuan hari ini adalah salah satunya berisi pengangakatan jabatanku menjadi kepala staf bagian konsultasi gizi dan nutrisi masyarakat/konsumen. Sedangkan, aku sendiri merasa paling dini untuk mendapat jabatan ini, mengingat para kepala bagian atau petinggi lainnya mereka yang sudah bergelar professor, doktor, dan bahkan seusi mereka sepantaran orangtuaku. Aku merasa minder, mendapat jabatan baru berarti tanggungjawab baru juga.


Ada bahagia dan gusar dalam waktu yang bersamaan. Seperti yang aku takutkan selama ini adalah jika terdapat kesalahan dalam kinerjaku, maka tidak segan rumah sakit besar dan ternama ini akan mendepak diriku layaknya secuil abu. Oleh karena itu, lagi-lagi keinginanku untuk melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi kembali muncul di benakku.


“Siap mbak Dysa. Semoga sukses dengan jabatan barunya ya.” Senyum simpul sebagai responsku.


Di depan pintu ruanganku, memegang Cardlock di hadapan sensor pintu. Tiba-tiba terdapat uluran tangan di hadapanku, menoleh ke sisi kanan tubuhku.


“Dokter Andre?”


“Hem, selamat ya?” Kusambut uluran tangan itu.


“Thanks, dok.” Dengan senyumku yang merekah.


Kami hanya diam di tempat, tidak tahu harus melakukan apa karena dia yang akhir-akhr ini bertingkah berbeda dan sangat dingin padaku, sekarang dia datang hanya untuk mengulurkan tangan, memberikan ucapan selamat. Sikapnya sungguh tidak terduga dan ini yang membuatku bingung harus bersikap bagaimana dan seperti apa.


“Hem… Baiklah, aku harus pergi mengecek pasienku.” Ujarnya dengan senyum simpul.


“Hem. Au.. ya. Ya, silakan dok.” Responsku. Betapa anehnya melihat senyumannya itu.


Bukankah sebelumnya dia bersikap sangan tak acuh padaku? Lalu, sikap apa barusan? Aneh! Begitulah batinku berucap.


Kepergian dokter (aneh) itu membuatku bertanya-tanya akan sikapnya yang tidak bisa ditebak. Menit ini bertindak apa dan menit berikutnya bersikap seperti apa, hanya Allah lah yang tahu jalan pikirannya.


Di meja kerjaku, terdapat sesuatu yang asing bagiku. Sebuah kotak kecil berbentuk persegi panjang berwarna putih polos dan seikat mawar merah yang masih segar. Perlahan aku membuka kotak pipih tersebut, sebuah coklat batang sebagai isinya, dihiasi pita pinky dan stiker hello kitty memutar pada bungkus coklat itu.


Ya, coklat selebar dua puluh lima senti meter, berbalut kemasan berwarna ungu.


“Hah, ada sepucuk surat juga.” Membuka lembaran kertas bentuk persegi dengan warna marroon.


...‘Untuk dokter Dysa, semoga suka.’...


“Dari siapa ini? Hahaha, lucu sekali.” Tanggapan pertamaku. Tidak habis pikir, bahkan ada yang sempat menyiapkan ini untukku. Haha..


Melihat ke sekitar kotak dan makanan coklat itu, tidak ada yang aneh. Ya, aku menyimpannya ke dalam tas untuk dapat dinikmaati nanti bersama Adel.


Oh ya, Adel! Hari ini keponankan yang bandel itu akan pulang.


Begitu tiba waktu pulang kerja, bergegas menuju rumah. Belum ada telepon dari orang rumah, berarti mereka belum berangkat.


Sampai di rumah,


“Assalamaualaikum..”


“Ma, Pa, Adel?” Teriakku memanggil orang-orang rumah.


“Bi, dimana Mama?” Bertanya pada asisten rumah tanggaku.


“Di belakang, Non.”


Ya, di taman belakang rumah. Pikirku.


Melihat semuanya tengah berkumpul di sana, berdiri membelakangiku.


“Ma?” Mama menoleh, semuanya menoleh.

__ADS_1


“Tante!” Teriak bocah dengan kepangan dua dan jepit bermotif lidah mertua di sisi kanan kepalanya, ia selalu saja gembira menyambut kedatanganku.


“Ada apa, bahagia sekali?” Merengkuh tubuhnya dalam dekapanku.


“Lihatlah, tante. Aku punya kelinci!” Menarik tanganku.


Dua ekor kelinci berwarna putih bersih tengah melompat ke sana ke mari.


“Ma, Pa, Kak, Mbak.” Menyalami mereka satu per satu.


“Kelinci dari mana, Pa?”


“Adel tadi beli di alun-alun kota.” Jawab Papa.


“Tante, lucu kan kelinciku?” Menjingkrak dan melompat, gadis berkepang dua itu tampak gembira dengan peliharaan barunya.


“Tante, yang itu namanya Thomas. Dan yang di sana namanya Merry.” Menujuk ke kedua kelincinya bergantian.


“Hah? Jadi kelincinya cewek dan cowok?”


“Iya, kata ayah supaya Adel bisa punya banyak kelinci.” Jawabnya.


“Mana yang cewek dan mana yang cowok?” Karena keduanya tampak sama dilihat dari warnanya.


“Kalau yang pakai kalung berarti itulah si Merry. Thomas kan cowok, jadi nggak pakai kalung.” Jawab si empunya.


“Jadi, kelincinya sepasang ya?” Adel mengangguk, dengan tangannya yang sesekali bertepuk gembira atau melompat-lompat kegirangan.


“Tuh, kelincinya Adel aja punya pasangan. Masa kamu enggak?” Sindir Mama, ya kepada siapa lagi jika bukan kepadaku.


“Sudah deh Ma, jangan mulai…”


“Dys, sesungguhnya semua makhluk itu diciptakan untuk berpasang-pasangan lho. Ada ayat al-qur’an yang menyebutkan itu, masa iya Dysa anak Mama nggak punya pasangan?” Mama sudah dalam mode mengode KERAS.


Lah iya, kalau Allah saja sudah menjamin semua makhluk berpasang-pasangan begitu berarti nggak ada yang perlu dicemaskan dong tentang pasangan, mama ribet amat ngurusi pasanganku? Huh.


“Iya, Ma. Nanti Dysa kenalin sama Mama.”


Sudahlah, mengalah saja ya. Tolong jangan hancur-jangan hancurkan moodku, Ma.


...****...


Keluarga kecil kakakku itu lantas bersiap pulang membawa dua ekor kelinci sebagai oleh-olehnya. Entah kapan lagi mereka akan pulang, tiada yang tahu pasti waktunya.


“Nanti kalau Adel ke sini lagi, kelincinya di bawa ya? Kita main sama-sama.” Ujarku saat Adel sudah duduk di jok belakang mobil ayahnya.


“Oke, nanti Adel kasih Tante anak kelincinya ya? Satu atau dua?” Menawarkan kelinci padaku.


“Hahaha… Dua ya, biar sepasang. Cewek cowok ya?”


“Okey tante. Kenapa harus cewek cowok? Kenapa tidak cowok-cowok atau cewek-cewek saja?” Ya, jiwa mengeksplornya meronta.


“Supaya bisa banyak ‘kan berkembang biak. Jadi, harus cewek dan cowok dong.” Asal sajalah aku menjawab.


“Tapi, kenapa? Bukannya sama saja?”


Hufft, bagaimana ini?


“Hustt… Pokoknya Tante maunya kelinci yang cowok sama cewek. Okey?”


“Okey!” High five.

__ADS_1


“Bye….” Saling melambaikan tangan.


Si manis dan cantik Adelia sudah pergi. Aku harap dia kembali sebelum dewasa nanti.


__ADS_2