Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 7 ~Perjodohan? Oh, No!


__ADS_3

Ponselku di meja bergetar,


"Halo, assalamualaikum Ma."


Tumben Mama menelpon di jam kerjaku.-Batinku berkata.


"Waalaikumsalam, sayang kamu sudah makan, Nak?" Sahut Mama di seberang panggilan.


Hah? Tumben mama bertanya seperti ini?


"Mama kenapa?" Tanyaku, ya aku merasa aneh saja. Masa iya sih, Mama menelpon hanya ingin bertanya apa aku sudah makan atau belum?


Uhhh, jauh dari sikap mama yang biasanya.. Ada apa ya?


"Mama tanya saja kok, oh ya kamu jam berapa pulangnya, sayang?" Tanya Mama lagi.


Heiiiihhhhh?


Tidak biasanya mama menanyakan kepulanganku. Padahal mama sebenarnya sudah tahu kapan aku berangkat atau pulang.


Oh ya, apa tadi mama bilang? sayang?


Oh, gusti Rabbi. Wah, sepertinya ada udang dalam bakwan nih, tidak biasanya mama berkata selembut ini padaku.


"Seperti biasa, Ma." Jawabku.


"Langsung pulang ya? Jangan mampir. " Ucapnya lagi,


"Iya, Dysa langsung pulang kok Ma."


Memangnya mau kemana lagi kalau tidak pulang? Aku menambahkan dalam hati.


"Okey, bye sayang."


"Bye, Ma."


Waktu pulangku sudah tiba dan tugasku digantikan oleh dokter lainnya.


"Oh ya, aku harus menemui Bella dulu." Teringat ucapan anak itu siang tadi.


Berjalan ke ruangannya, mengetuk pintu kamar si kecil Bella lalu membukanya. Terlihat anak kecil yang sedang berbaring di atas brankarnya, gadis pemilik mata sayu itu tengah terjaga. Dia yang semula sedang menonton kartun di televisi lantas menoleh ke arahku dan mengembangkan senyumnya.


"Dokter Dysa." Riangnya memanggil namaku pelan.


Aku dikejutkan dengan sosok pria yang sedang tertidur di sofa dekat pintu masuk dengan posisi setengah badan yang menjuntai ke lantai.


"Papa Bella tidur?" Aku berucap tanpa suara, hanya memeragakan tanganku saja. Bella mengangguk.


Tidak ingin mengganggu seorang ayah yang nampak kelelahan itu, kakiku berjalan sangat pelan tanpa suara mendekati ranjang Bella.


"Kasihan ya Papa?" Bisik Bella padaku.


"He em, memangnya Mama Bella sedang dimana?" Aku berbalik tanya.


"Mama Bella sudah meninggal, Dokter." Jawab Bella santai. Aku terkejut dengan jawaban anak ini, sedang aku masih mengingat betul wajah Mamanya saat terakhir Bella dirawat di rumah sakit ini.


"Maafkan dokter Dysa ya? Apa Bella jadi sedih?" Aku yang duduk di sebelah Bella, bertanya dengan sangat pelan.


"Tidak. Kata Papa, Mama sudah tidak sakit lagi dan bahagia di surga. Mama sedang menunggu kita." Ucap Bella.


Sungguh, demi apa hatiku pilu mendengar kalimat itu. Betapa tabah hati anak kecil ini, bersyukur aku masih di beri waktu yang lebih lama untuk hidup bersama Mama Papa.


Bella yang kemudian bangkit dari posisinya langsung kudekap tubuhnya.


"Dokter, gigi Bella patah. Apa bisa tumbuh kembali?" Tanya Bella padaku, dia menunjukkan dua gigi serinya yang patah separuh.

__ADS_1


"Kenapa bisa patah separuh?" Tanyaku.


"Waktu itu kecelakaan naik motor sama Papa. Gigi Bella terbentur jalan, Dokter." Jelas Bella.


Aku bergidik ngeri membayangkannya, pasti terasa sangat sakit bagi bocah seusianya.


"Nanti tumbuh lagi, kok. Jangan banyak makan coklat dan permen ya." Nasihatku, Bella mengangguk.


"Bella?" Suara parau mengejutkan aku dan Bella, ternyata ayah Bella sudah bangun dari tidurnya.


"Bu dokter?" Pria itu bergeming. Penampilannya yang tampak berantakan, sebisa mungkin menormalkan situasi dirinya. Lantas ayah dari Bella itu berjalan menuju kamar mandi.


"Hihihi, Papa memang pemalu, Dokter. Pasti Papa mandi dulu di sana, hehehe." Ucap Bella yang membuatku ikut terkekeh geli dengan penuturan bocah polos ini.


"Ya sudah, bu dokter pulang dulu ya. Sampai berjumpa besok." Aku mengecup kepala anak itu dan sejenak memeluknya lantas keluar dari ruangan Bella.


......................


Memarkirkan mobil di garasi rumahku, meraih tasku, lalu mengecek ponselku. Terdapat panggilan tidak terjawab dari mama lebih dari 20 panggilan. Ponsel yang termode senyap itu membuatku terlupa akan perintah mama untuk langsung pulang, dan kini sudah pasti mama akan mengomeliku habis-habisan.


"Ya allah, tolong aku.."


Kondisi rumah yang terlihat sepi, tidak ada satu orang pun terlintas di depan mataku.


Kemana Mama?


Kemana Papa?


Lah, pada kemana sih?


Aku yang merasakan suasana rumah yang begitu sunyi lantas berteriak memutar di ruang bawah.


"Assalamualaikum. Ma... Mama! Mama dimana? Maaf, Ma. Tadi Dysa menemui pasien terakhir. Mama please jangan marah, jangan omelin Dysa. Nanti cepat tua, lho. Ma!" Ucapku, aku memutar langkahku mencari keberadaan Mama. Dan saat menengok ke arah kanan, tepatnya di ruang tamu, ternyata di sana.....


"Oh, maafkan saya." Aku membungkuk, malu rasanya ternyata ada tamu di sana.


Oh my God 😱 Aku malu, uhhhh...


Memejamkan mataku rapat-rapat dan berjalan anggun menuju kamarku, mencoba tidak gugup untuk mengembalikan citra dan wibawaku sebagai seorang wanita pada umumnya.


Di dalam kamar, aku menjatuhkan diri di ranjangku, melemparkan tasku ke sembarang arah. Dan menjambaki rambutku sendiri,


"Parah, parah, parah! Aduh, bodohnya aku. Parah, sumpah!!!"


Pintu terbuka, mama mendekat.


"Ma, maaf Ma. Bukannya aku..."


"Cepat ganti pakaianmu, sudah ditunggu." Mama menyela perkataanku.


Aku menurut menggunakan dress dengan panjang di bawah lutut pilihan Mama, ia juga menyeprotkan perfumeku dengan jutaan seprotan memutar ditubuhku.


"Cukup, Ma. Malah nanti nggak enak baunya, menyengat."


"Diam!" Sergah Mama.


Mama menarik lenganku, di tangga kembali mama berbisik padaku.


"Jaga sikap, jangan brutal. Paham?"


"Iya Mama, mama kira Dysa preman apa? Hehehe.." Jawabku.


Mama mengarahkan tempat dudukku di antara Mama dan Papa, berhadapan dengan seorang pasangan seusia Mama Papa dan seorang pemuda di tengahnya, sama sepertiku.


Aku harap ini bukan perjodohanku, batinku berkata.

__ADS_1


"Ehem!" Tamu pria itu berdekhem.


"Nak, Dysa. Seperti yang sudah kami sampaikan kepada Mama dan Papa Nak Dysa, bahwasanya kedatangan kami kemari hendak menyunting nak Dysa untuk menjadi istri Edwin, putra sulung kami ini." Tutur pria paruh baya di hadapanku ini.


"Hah? Mam..."Mama langsung menginjak kakiku, sontak mulutku tertutup kembali karena menahan sakit.


Ini pasti ulah mama, menjodoh-jodohkan aku.


"Bagaimana, nak Dysa?"


Aku yang merasa ciut untuk menjawab, menoleh ke arah Mama dan Papa bergantian. Papa seakan tahu perasaanku, tapi tidak dengan Mama. Mama malah berkata,


"Ayo, sayang. Jangan ragu menjawabnya,"


"Iya, tidak usah ragu. Kalaupun Dysa membutuhkan waktu dan ingin mengenal lebih jauh Edwin, juga tidak apa. Katakan saja, Nak." Ujar lembut Mama Edwin.


"Sayang?" Mama meremas jemariku.


"Eumm, hemm. Dysa sebelumnya minta maaf Tante, Om, dan mas Edwin. Dysa pikir, Dysa membutuhkan waktu untuk mengenal mas Edwin. Mohon pengertiannya." Jawabku hati-hati.


"Ohh, hohoho.. Tidak apa-apa, Nak. Tidak perlu takut, jelas saja kalian harus saling mengenal dulu ya. Salah Paman karena membawa lamaran terlalu cepat. Ya ya ya, silakan bangun chemistry kalian dulu." Ujar ayah Edwin.


"Hem, terima kasih pengertiannya Om." Tambahku.


Hening....


"Oh, mari-mari dimakan jamuan seadanya ini. Maaf ya, ini terlalu sederhana." Papa seperti biasa, selalu merendah.


Sudah jam sepuluh mala, tubuh sudah lelah karena pulang bekerja malah kian bertambah karena kedatangan tamu lamaran.


"Huahhhh." Aku menguap, meregangkan sebelah tanganku yang lain menutup mulutku.


Tiba-tiba mama datang dan melintas di sampingku.


"Eihhh, anak gadis nggak boleh menguap seperti itu." Tegur mama.


"Maaf, Ma. Abis Dysa mengantuk banget. Mama, kan Dysa sudah bilang kalau Dysa nggak mau dijodoh-jodohkan. Dysa mau mencari sendiri pendamping hidup Dysa." Ucapku.


Mama malah semakin mendekat dan berakhir duduk di satu sofa yang sama.


"Kalau iya maumu begitu, tunjukkan pada Mama. Siapa lelaki yang sedang dekat denganmu, mana orangnya bawa kemari? Nyatanya kamu nggak punya kekasih kan? Gebetan? Cem-ceman? Nggak ada yang mau sama kamu kalau bukan Mama yang njomblangin jodoh untukmu." Ketus Mama.


"Ishhh, Mama ucapannya pedas banget sih sama anak sendiri. Masa iya nggak ada yang mau sama Dysa? Dysa punya pacar, kok. Cuma Dysa belum mau kenalin ke Mama."


Aku berucap tidak kalah cepatnya dari mama.


"Ngibul teroozzzzt!" Mama membulatkan mulutnya.


"Akhhh, mama jahat banget si???!" Pekikku saat Mama berlalu membawa piring gelas kotor.


"Apa sih? Ada apa?" Tanya papa.


"Tuh, Pa. Mama kebiasaan, minta Dysa cepat-cepat nikah. Padahal kan jalan Dysa masih panjang. Dysa belum kasih apa-apa buat Mama Papa. Tapi, Mama udah minta menantu aja ke Dysa." Aduku pada Papa.


"Sussst, jangan ngedumel gitu ah. Nanti cantiknya hilang. Tidur, sudah malam. Besok berangkat pagi atau siang?" Tuh kan, Papa lebih mengerti aku daripada Mama.


~uhh, mama kalau minta aku nikah kayak bocah minta permen saja!


"Besok berangkat siang, Pa." Jawabku.


"Sudah, sekarang istirahat dulu." Papa berucap lalu mengecup dahiku. Aku menurut dan melangkah menuju kamarku.


Di kamar, kubanting tubuhku yang lelah pada ranjang empuk kesayanganku yang wangi ini. Seakan kelelahan tubuh ini terbayar kontan jika sudah menempel pada benda luas nan nyaman ini.


"Apa sih, Mama. Nyuruh nikah seenaknya, aku masih mempunyai banyak impian dan ingin menikmati masa mudaku tanpa aturan dalam ikatan berumah tangga." Dumalku sebelum akhirnya memejamkan mata dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2