Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 23 ~Gara-Gara Pacar


__ADS_3

“Mas Dika? Apa Mas Dika punya perempuan lain di hatimu?” Penasaran saja, jika ada pun tidak apa-apa. Aku tidak akan marah, memang aku yang tidak selalu ada bersamanya kemungkinan besar bias saja perselingkuhan terjadi.


“Mas?”


“Menurutmu?”


“Menurutku, ya jika ada pun tidak apa-apa. Dysa nggak marah.”


“Jadi kamu mau ya diduakan?” Tanyanya. Ya nggak juga, buka gitu maksudku.


“Ya nggak gitu dong ceritanya. Kamu kayak minta izin mau berpoligami aja. Kalau udah terlanjur sih nggak papa, biar aku yang pergi ‘kan gampang.” Dengan mudahnya aku berkata demikian. Toh memang tidak ada yang merasa dirugikan di sini, baik secara finansial atau fisik mental.


Diam, dia hanya bungkam tanpa ekspresi. Susah sekali ya meninterogasi pasangan kita selingkuh atau tidak.


“Jawab saja lah Mas. Ada atau tidak?”


“Kalaupun ada, aku pasti sudah menikah kan? Dan, di sinilah kamu yang di sebut selingkuhanku.” Jelasnya.


“Oh, iya ya? Aku pelakor dong ya? Hahaha, tapi aku bukan pelakor kan?”


“Bicara apa sih kamu, Dysa?” Nada bicaranya terdengar tidak enak, aku telah memancing amarahnya.


Aku diam sampai tempat tujuan.


“Sudah sampai, turunlah. Kejarlah semua impianmu.” Mengelus puncak kepalaku.


Aku masih diam dalam tundukan kepalaku,


“Dysa?”


“Maaf ya Mas?” Sangat pelan aku berucap.


“Tidak apa. Aku juga minta maaf ya?” Mengecup kepalaku. Bukan sampai di situ saja, Mas Dika ikut turun bersamaku.


“Kapan kita bisa bertemu lagi ya?” Menggenggam tangan kananku.


“Kapanpun kamu mau, asalkan di tempat lain! Jangan di rumahku!” Rambutku sasaran untuk diacaknya.


“Hahaha oke, sudah sana.” Mendorong tubuhku. Di seberang sana rupanya Bang dokter Andre sedang bersandar pada tiang dan memerhatikanku dengan Mas Dika, entah sejak kapan.


Berjalan semakin mendekatinya, tatapan dokter pria itu bukan mengarah padaku tapi pada mobil Mas Dika sampai benda itu bergerak menjauh.


“Bang Andre?” Menepuk lengannya.


“Siapa dia?” Sapaku dibalas dengan pertanyaan.


“Dia… Dia kakakku.” Jawabku bohong. Ya biarkan saja kali ini aku berbohong secara langsung.


“Benar kakakmu? Bukan kekasihmu?” Menatap penuh selidik. Wajahnya begitu serius menatapku, marah. Itulah gambaran ekspresinya. Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


“Aku harap kamu tidak berbohong, dokter Dysa!” Ucapannya begitu penuh penekanan, menyelipkan kedua tanganya dalam saku celana hitamnya lantas pergi begitu saja.


Maaf, aku berbohong.


...*** ...


Sampai jam kerjaku habis malam ini, tidak kujumpai bang Andre setelah perjumpaan pagi tadi. Ada sedikit rasa mengganjal di hatiku, aku yang berbohong pada orang yang berbaik hati padaku. Aku rasa, mungkin itu tidak adil untuknya.


Menyusuri parkiran rumah sakit, hanya beberapa mobil terparkir di sana. Dari arah belakang ada seseorang yang menyalip jalanku, bang Andre ternyata.


“Bang!”


“Bang Andre, tunggu!”


Berhenti di sisi mobil hitamnya, menatapku dengan ekspresi datarnya.


“Ada apa?” Tak mengacuhkanku, dia sibuk membuka pintu mobilnya.


“Aku mau bicara denganmu.”


“Sudah malam, besok lagi saja.” Katanya. Tidak bisa membantah, hanya pasrah dengan kepergiannya.


Aku berjalan mendekati halte rumah sakit, menunggu Edwin menjemputku seperti hari biasa. Langitnya begitu cerah, cahayanya membias melewati celah pohon lebat di tepian jalan. Senyum, bulan sabit seakan ikut tersenyum saatku mendongak menatapnya. Sisa kebahagiaan bertemu kekasih rahasiaku pagi tadi masih terasa sampai sekarang.


Tin.. tin…(suara klakson)


Masuk ke dalam mobilnya. Sudah mengalun lagu ‘Sampai Tutup Usia’ dari Angga Candra, salah satu lagu kesukaanku. Sesekali aku ikut bersenandung pada bagian lirik-lirik yang kuhapal. Menggoyangkan badan dan tanganku menikmati alunan musik yang sendu dan mendayu.


“Sepertinya sedang bahagia? Kenapa?”


“Hah? Masa sih? Dysa rasa ini biasa saja.” Memang kelihatan ya kalau kita hatinya sedang bahagia?


“Auranya begitu kuat, Dysa. Kamu bernyanyi sambil senyam-senyum terus.”


“Hahaha.. iya deh. Akh, ketahuan kan kalau suasana hatiku sedang berbunga-bunga.” Gelak tawa bersama, tawaku menular padanya yang ikut tertawa.


“Memangnya berbunga karena apa? Dapat gaji dobel?” Dia bertanya.


“Yee… Bukanlah Mas,”


“Lalu karena apa?” Masih bertanya lebih.


“Hahaha.. Cuma ketemuan sama pacar, tadi pagi.” Jawabku tanpa berpikir panjang.


Cieettttt!


Roda mobil memekit, tubuh kami terdorong ke depan karena pengereman mendadak darinya, sesaat diam menyetabilkan degup jantungku yang tidak keruan. Seketika aku langsung sadar dengan apa yang aku ucapkan barusan. Membekap mulutku rapat, pria di sampingku tampak shock memandang lurus ke depan. Jemarinya mengenggam erat pada setir mobil.


Apa dia marah?

__ADS_1


“Pacar?” Bertanya sambil menatapku tajam.


“A.. Em…aah Mas, maksudku bukan itu.” Mencari alasan. Gigiku bahkan gemetar melihat ekspresi wajahnya saat menatapku.


“Sejak kapan kamu punya pacar?”


“Ehmm…. Sejak…. Sejak-”


“Kapan, Dysa?” Suaranya hanya berupa desisan seperti kobra.


“Delapan tahun ini.” Jawabku lirih. Menutup mataku rapat-rapat, sudah tidak ada gunanya untukku menutupinya lagi.


“Kita akhiri saja semuanya. Aku akan ke rumahmu sekarang juga.”


Alunan musik dari tipe mobilnya berhenti karena mendapatkan bogeman darinya. Kemudian, pedal gas diinjaknya kuat-kuat, mobilnya melaju sangat cepat menyalip semua kendaraan yang berada di depannya. Aku tahu, dia begitu marah. Tapi, apa harus sampai semarah ini? Apa dia tega menghilangkan nyawa bahkan sebelum sampai di rumah?


Lalu, apa yang akan dia katakan pada Mama dan Papa ? Bisa semakin panjang urusannya.


“Mas Edwin. Jangan bilang mama papa Dysa, Mas.” Satu-satunya cara adalah aku harus memohon maaf padanya.


“Dysa mohon.” Mengguncang lengannya.


“Dysa mohon, Mas. Jangan lakukan ini, jangan.” Bahkan air mataku sudah tidak berdaya untuk bertahan di tempatnya.


“Terlambat, Dysa. Harusnya aku tahu sejak awal kau hanya ingin memermainkanku.” Giginya bahkan saling bertautan saat berucap demikian.


“Tidak, Dysa tidak bermaksud memermainkanmu begitu.” Air mataku sudah meluruh deras, dan jalan menuju ke rumahku sudah semakin dekat.


“Dysa mohon, Mas. Akan aku jelaskan semua padamu. Mama dan Papa tidak tahu soal ini. Jangan Mas, Dysa mohon. Huk huk, Mas Dysa mohon jangan katakana alasannya. Mama Papa akan kecewa denganku, mereka tidak tahu tentang hubunganku dengan kekasihku.” Edwin tersentak dan langsung menatapku sekilas.


“Dysa, mohon. Kasih waktu untuk Dysa bicarakan ini. Kasih waktu Dysa untuk menjelaskan semuanya padamu, jangan bilang Mama dan Papa. Please, Mas.” Masih menggenggam lengannya, tidak peduli dengan air mata yang menganak pinak di pipiku.


“Ini salah Dysa, bukan Mama Papa Dysa. Jangan bilang ke Mama dan Papamu juga, Dysa mohon. Dysa mohon sama kamu. Huks huks huks.”


“Hentikan mobilnya di sini. Jangan bilang sekarang, Mas. Dysa mohon…” Rasanya semua sudah sia-sia, memohon pun tiada artinya. Menghentikan langkah orang yang marah sungguh membuatku hanya bisa pasrah.


Apa yang akan terjadi jika Papa dan Mama tahu tentang ini? Habislah riwayatku, huk huks.


Sampai di persimpangan jalan menuju rumahku, mobil menepi di sana. Menumpahkan segala tangisku saat itu juga. Ternyata dia masih memberi iba juga.


“Harusnya kamu katakan sejak awal padaku meski papa mama kita tidak tahu tentang kebohonganmu.”


“Maaf, Mas. Maafkan Dysa.”


“Kau membuang waktuku saja! Memang sejak awal tiada artinya diriku ini dimatamu.” Kalimat yang menusuk hatiku, dia ternyata sudah menyadarinya sejak awal.


Diam dan menunduk, hanya itu yang bisa aku lakukan. Kata maaf saja rupanya tidak mempan untuk menebus kesalahanku yang fatal ini. Harusnya aku bisa memutuskan hubungan ini dengan baik-baik.


“Aku tunggu penjelasnmu langsung di depan Mama dan Papaku atau akan kuceritakan apa adanya sesuai yang aku tahu.” Ujar pria di sampingku, dan aku mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2