
Edwin PoV
Diary Kelabu…
Arindya Romansa, gadis cantik yang orangtuaku kenalkan padaku. Hanya memberikan foto dirinya yang masih menggunakan seragam putih abu-abu saja sudah membuatku terbang tinggi melayang, terbayang dengan kecantikannya yang sekarang seperti apa, belum lagi kepintarannya yang mama papa ceritakan kepadaku. Seorang gadis lulusan kedokteran dengan predikat sum cumloude di tingkat strata satunya.
Kata mama, dulu kami pernah bertemu saat pesta ulang tahunnya yang ke 10. Lupa-lupa ingat dengan kejadian silam itu, yang ku tahu dulu Mama sering mengajakku ke pesta-pesta entah pesta apa saja aku tidak begitu tahu. Tidak pernah mama mengenalkan seorang gadis kepadaku kecuali yang satu itu. Dysa, ya semua orang memanggilnya ‘Dysa’.
Lucu, sopan, anggun, cantik, menarik, dan genius. Itulah first impressionku pada gadis itu, teringat betapa lucunya saat dia berteriak di rumahnya mengatakan ‘ Ma? Maafkan Dysa, Ma. Tadi Dysa menemui pasien terakhir. Mama jangan marah, jangan omelin Dysa. Nanti cepet tua lho.' Begitu polos gadis itu bertingkah. Aku suka pada pandangan pertama.
Dia begitu sopan saat berbicara dengan orangtuaku, sesekali menunduk senyum saat tidak sengaja bertatapan mata denganku. Aku semakin dibuat melayang bila terus berada di dekatnya. Sampai setelah hari itu, Mamanya memintaku untuk mengenal lebih jauh dan dalam tentang putrinya itu. Mengantar jemputnya setiap waktu (walau pernah terlambat, eit..Mungkin lebih dari dua kali. Hehe…)
Dia menerimaku, tidak pernah terucap dari bibirnya sesuatu yang kasar atau sampai menyakitkan hatiku. Sekadar sikapnya yang kadang jutek tapi aku maklumi. Maklum, dia masih di usia labil untuk urusan ‘pendekatan’.
__ADS_1
Lambat laun, aku semakin mengenal tentang dirinya. Dia yang tidak pernah marah besar jika aku terlambat mengantar atau menjemputnya, tutur katanya yang begitu sopan, canda tawanya yang sering kami lewati bersama di waktu pulang kerjanya. Kisah restoran China yang sudah dipesan orang, dia sampai tertawa dan saat tertawa lepas seperti itu dia terlihat begitu manis dan manja denganku.
Tapi, di balik semua itu aku menyadari bahwa sikapnya tidak berubah. Hanya sekadar berbicara, bercanda, dan membahas hal-hal ringan semata. Tidak pernah dia membuka peluang untuk aku mendekat ke hatinya. Walau aku mencoba, nyatanya dia tidak peka. Dia hanya menganggapku sekadar teman bercerita, gurau, dan tawa yang menghiasi waktu pagi dan malam harinya.
Sampai pada suatu hari, saat dia mengajakku untuk menemaninya datang ke sebuah pesta. Mengatakan bahwa dresscode yang dia gunakan berwarna pink dan aku menyesuaikan saja. Dia menyambutku dengan senyuman saat melihatku tengah duduk dan berbincang dengan Mamanya di rumahnya. Aku tidak tahu apa arti senyum simpulnya itu. Apakah senyum itu berarti kebahagiaan karena aku bersedia menjadi pasangannya, atau apakah dia sedang menertawakan bajuku, atau kebodohanku? Entahlah, aku si pria naif tahu apa?
Bahkan, aku tidak bisa berpikir buruk tentangnya. Dia terlalu manis dan tidak pantas mempunyai hati yang sadis. Tapi, aku tahu apa tentang hati, sedangkan hati milik pribadi, individu setiap insani.
Tidak berlangsung lama di dalam pesta itu, dia pamit pergi sebentar padaku. Lewat dua jam lamanya dia pergi tanpa ada tanda-tanda akan kembali, aku menyusuri ruangan pesta, lorong dan lobby hotel, parkiran, dan bertanya pada satpam. Gelisah, takut, dan cemas, setengah mati aku mencarinya. Berlarian kesana kemari tapi sama sekali tidak kujumpai jejak kakinya. Sampai pada saat server keamanan hendak menujukkan rekaman CCTV dan di saat bersamaan dia juga memberi kabar bahwa sudah berada di rumah, dengan alasan dia lupa denganku, sedikit kecewa tapi aku memakluminya dan tidak bertanya apa sebabnya. Walau ada gusar tanya di hatiku,
Ingin kuakhiri saja saat itu, tapi aku masih belum menyerah. Kembali seperti biasa, esok harinya aku datang menjemputnya. Di tengah jalanan, kutahu Dysa bukan seorang yang tidak berperimanusiaan. Dia meminta maaf padaku atas kejadian di pesta itu, aku mau lihat seberapa jauh dia menyesali perbuatannya itu. Benar, dia sampai memohon. Aku tahu, bahwa untuk meluluhkan hati memang butuh pengorbanan. Apalagi si dia yang memiliki berlipat ganda potensi dirinya, jadi aku harus ekstra sabar untuk bisa mendapatkan hatinya.
Saat ditengah momen meminta maaf dan memaafkan terjadi penjedaan karena dia mendapatkan panggilan dari temannya. It’s okey, mungkin memang penting. Dia kembali melupakan aku, melupakan apa yang sedang dia lakukan denganku. Perkataanku yang belum keluar dari mulutku, dilupakannya tanpa memberi kesempatan untukku melanjutkan kata. Dia hanya meminta menambah kecepatan laju mobilku karena ada seorang anak kecil yang menunggu kedatangannya.
__ADS_1
Sampai pada hari dimana dia benar-benar datang ke rumahku bersama kedua orang tuanya. Akibat kelepasan dia menyebutkan kata 'pacar' di depanku, dia memenuhi janjinya padaku. Berbicara di hadapanku dan kedua kelurga untuk memutuskan hubungannya denganku dengan alasan yang dia buat tanpa menyebutkan bahwa dia sudah memiliki pacar. Aku hanya diam dan bertanya kenapa untuk sekali saja seolah aku tidak tahu penyebabnya. Namun, orangtuanya yang malah tidak terima sampai dia mendapat tamparan dari tangan Mamanya sendiri. Dia menangis tersedu-sedu di rumahku, aku harap itu bukan air mata palsu (haha, aku menjadi jahat sekarang).
Merasa iba dengannya, toh aku tidak merasa rugi dengan keputusannya, memang sudah kuketahui jika dia tidak mencintaiku. Hanya saja aku yang masih sempat memepetnya.
Mama dan Papaku kecewa, tapi aku meyakinkan mereka bahwa memang dia bukan bagian dari masa depanku kelak. Mau tidak mau, mama dan papaku harus menerima itu.
Memang sedih, terasa pada hari-hari berikutnya. Hari-hariku terasa kosong atau mungkin hampa. Pagi hari yang biasannya aku menjemput dan menyetel alarm di malam hari untuk mengantarkannya pulang, kini tidak ada lagi. Pesan yang rutin aku kirimkan di waktu pagi, siang, dan malam sekadar mengingatkannya makan, kini tiada lagi. Bahkan nomornya sudah kuhapus, begitu juga akun media sosialnya yang kuunfollow. Haha.. Kekanakan memang. Hanya saja bayangan wajahnya yang tidak akan hilang dan masih terus bersemayam dalam pikiranku jika aku tidak menghapus jejaknya.
Menyedihkan bukan kisah cintaku? Apa kalian mengalami hal serupa denganku? Teringat berapa banyak waktu yang sudah aku habiskan hanya untuknya. Boleh aku bertanya? Berapa lama kalian menjaga jodoh orang, hah? Hahaha.... Kita senasib, bro!
Untungnya rasa ini belum begitu dalam untuknya, jadi semoga saja kenangan tentang Dysa tidak mendekam lama dalam hati dan ingatanku.
Mungkin kami masih disatukan dengan satu hubungan. Bukan percintaan, melainkan hanya sebuah petemanan atau ikatan persahabatan. Aku bersyukur karena tidak sempat mendapat julukan resmi ‘mantan’ dan menjadi salah satu personil barisan para mantan dalam perjalanan hidup si cantik Dysa.
__ADS_1
Benar ya, pastilah ada hikmah dibalik semua peristiwa. Hahaha….
Cukup sekian, terima kasih Dysa. :*