Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 25 ~ Setelah Putus


__ADS_3

Mataku sembab karena tangisan semalam, ini tidak akan terjadi jika aku tidak kelepasan menyebut kan ‘pacar’ saat bicara dengan Edwin. Terlampau bahagia ternyata tidak baik juga. Di dalam kamar, aku sudah mengurung diri seharian di sini. Orangtuaku kecewa berat denganku, terlebih Mama yang tidak berhenti memaki saat berjumpa denganku.


Aku terlampau bingung membuat keputusanku sendiri. Mengatakan pada mama papa bahwa aku ingin mengadakan pertemuan dengan keluarga Edwin, dengan kedok bersilaturahmi kerumahnya. Senyum bahagia, itulah respons mereka. Bagi Mama dan Papa, keinginanku berkunjung ke rumah Edwin membawa angin segar. Mengira, aku hendak memercepat proses pernikahan. Sengaja tidak kuberitahukan alasan sebenarnya datang ke sana yang tidak lain untuk memutuskan hubunganku dengan Edwin.


Sedangkan Edwin? Bagaimana jika aku tidak menepati janjiku untuk datang menjelaskan pada orangtuannya? Pria itu pasti akan menceritakan kebenarannya tanpa celah dan berita tentang aku yang memiliki pacar akan tersebar luas sejagat raya alam semesta.


Sudah dapat ditebak ‘kan bagaimana ekspresi semua orang yang ada di sana saat aku mengatakan bahwa aku menolak lamaran Edwin? Tentu saja mereka terkejut bukan main. Mama bahkan sampai menamparku, entah terlalu kesalnya denganku yang tidak berterus terang dahulu, atau karena malu dengan perbuatanku yang berbicara lugas di hadapan teman baiknya. Aku yakin, mama pasti sangat malu saat itu.


Aku memang anak yang kurang ajar ya Ma? Maaf ya Ma, Pa, Dysa tidak memberitahukan ini sebelumnya.


Saat kemarahan Mama sedang berada di puncaknya, kulihat Edwin hanya diam seolah tidak tahu menahu dengan penyebab sebenarnya. Aku hanya melakukan pembelaan secara mandiri. Itu lebih baik daripada dia ikut campur dan mengatakan jika aku ternyata mempunyai pacar selama delapan tahun ini. Thanks ya, mungkin ini sedikit bentuk bantuan darimu (semoga Mas Edwin baca part ini ya. Maaf juga karena aku tidak pernah menaruh hati padamu 🥺).


Sungkan mengingat kejadian semalam yang sangat tidak menyenangkan, bahkan kalimat apa saja yang aku katakan, aku tidak mengingatnya secara penuh. Hanya teringat saat aku mengucapkan ‘Maaf Tante, Om, Mama, Papa. Kedatangan Dysa kemari hanya untuk mengatakan bahwa Dysa dan Mas Edwin tidak bisa melajutkan hubungan lebih jauh lagi. Jadi, lamaran yang diajukan pada Dysa waktu itu, Dysa menolaknya.’ Bayangkan sendiri bagaimana ekspresi semuanya, terkecuali Edwin yang hanya meringis penuh kepuasan. Aku tahu, dia yang merasa menang karena permainanku berakhir tragis. Padahal sumpah! Aku tidak pernah berniat memermainkan hatinya.


(Teruntuk Mas Edwin : Maaf ya, jika kamu dibuat baper karena kebersamaan kita. Ingatlah, tidak semua rasa nyaman itu berarti cinta. Aku nyaman bersamamu karena kau kuanggap seperti kakakku).


Aku tidak pernah menyesal mengucapkan kalimat itu. Cepat atau lambat pasti akan kukatakan juga, hanya saja cara dan waktu penyampaiannya yang salah. Yang kutangisi adalah sebab kemarahan orangtuaku, mereka sangat kecewa denganku buktinya aku yang mendekam lama di sini tapi salah satu dari mereka tidak ada yang datang menghampiri atau setidaknya menawarkan makan pagi.


Ya, akulah si kurang ajar.


Dysa, si biang onar, bikin malu keluarga.


...***...


Esok harinya.


Sepagi ini aku sudah bersiap untuk datang ke tempat kesukaanku, rumah sakit dan berjumpa dengan para penghuninya. Cuacanya begitu terik walaupun matahari belum begitu naik. Memang cerah dan panasnya ibukota sudah menjadi asupan harian masyarakat kota. Berbeda dari hari biasanya, hari ini aku tidak lagi diantar oleh Edwin. Berangkat sendiri menggunakan taksi, bahkan mobilku tidak mau berfungsi karena lama tidak kutunggangi. Eitt.. Jangan kalian pikir jika aku merasa sedih kehilangan dia ya? Seperti ini lebih baik dan leluasa.


Menapakkan langkahku memasukki area bangunan dominan putih dengan tiga lantai yang berpagar biru nan tinggi, pusat kesehatan yang berada di tengah kota ini. Suasananya sekilas terlihat sunyi, namun entah berapa banyak tubuh yang terbaring lemah di dalamnya. Hanya beberapa suster berseragam tosca dan para dokter jaga yang berlalu-lalang di hadapan mata, seperti halnya aku yang bangga dan menikmati menjadi bagian dari mereka.


Dari arah berlawanan, terdapat seseorang yang tidak asing berjalan ke arahku, dokter Andre. Melambaikan tanganku padanya, namun tidak mendapat respons seperti biasanya. Aku lupa kalau masalahku dengannya belum selesai, entah ada salah apa aku dengannya aku pun tidak tahu sebabnya.


“Dokter Andre!” Teriakku walau tidak mendapat tanggapan darinya.


“Bang!”


“Bang Andre!” Langkahnya semakin cepat saja, aku terpogoh mengejarnya.


Kenapa sih dia itu? Apa dia tahu jika aku berbohong tentang mas Dika saat itu? Hah, ngambeknya lama benar?


“Bang dokter Andre!” Lengkap bukan, aku memanggilnya? Dia berhenti karena ada dokter lain yang memberitahunya bahwa aku sedang memanggilnya di belakang sini.


“Bang, kok dipanggil jalan aja sih? Nggak dengar?” Sudah tahu dia pura-pura tidak dengar, kenapa juga aku tanyakan?


Dia menggeleng.


“Memangnya lagi sibuk ya?” Jawabannya hanya mengangkat kedua alisnya. Sok-sok-an tidak memedulikanku, ia menyelipkan kedua tangannya pada saku jas putihnya.


Huh, sok idih.


“Okelah, nanti makan siang bareng ya? Dysa tunggu di depan musala ya?” Lagi-lagi responsnya diam. Sampai di depan ruanganku, aku berpamit duluan. Meski kutahu dia tidak akan mengeluarkan sepatah kata pun. Aku rasa pria ini memang belum dewasa. Tubuhnya saja macho tapi pikirannya kendho -Sepatah kata dari nenekku dulu.


Karena kebijakan baru mengenai perombakan jam kerja, maka mulai hari ini jadwalku dimajukan lebih pagi, jadi sore nanti aku bisa pulang lebih cepat dan tidak sampai larut malam. Aku yang spesialis anak, jujur saja aku sangat menikmatinya dan juga kerjaanku yang tidak terlalu banyak. Hanya melayani temu janji, konsultasi, atau mengurusi pasien di ruang rawat inap anak sebagai tanggung jawabku, mengurus administrasi rumah sakit dalam menjalankan peran staf keanggotaan, dan terkadang aku bisa membantu mengangani pasien umum jika pihak dokter umum kewalahan. Bermanfaat bagi yang lain, apa salahnya?


Kudengar suara azan dari musala rumah sakit sudah terdengar, menyegerakan melaksanakan kewajiabanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Seperti yang telah aku katakan tadi pagi di depan musala aku menunggu kedatangan dokter Andre. Duduk di bangku panjang yang terletak tidak jauh dari tempay ibadah umat muslim itu, aku mendudukan diri sembari memainkan ponselku sekadar scrolling up beranda akun media sosialku. Tidak ada yang spesial, semua tampak membosankan.


Cukup lama aku menungggu di tempat ini seorang diri. Menjadi tontonan dari seliweran suster dan dokter. Mereka menyapaku, mungkin lebih tepatnya mereka hendak menanyakan apa kegiatanku. Sumpah demi apa, mataku dibuat terbelalak saat dokter menyebalkan itu berjalan beramai-ramai dengan para dokter lainnya melintas di sampingku begitu saja.


So shy to the bone! Dia hanya melirikku sekilas lantas kembali menebar tawa dengan para temannya.


Menyebalkan!


Tidak terima melihatnya tertawa sendiri, segera aku menyusul mereka. Berlari mengejar gerombolan para dokter itu.


“Tunggu!” Semua berhenti dalam langkah mereka.


“Hai, mbak Dysa mau makan di kantin juga?” Rika, dokter kandungan berjilbab itu bertanya.


“Iya, boleh saya ikut dengan kalian?”


“Ayolah, dok. Ikut saja. Lebih ramai juga jadinya.” Dokter Kevin menimpali.


“Okey, terima kasih.” Ucapku.


Di meja panjang kantin rumah sakit, itulah tempat makan kami berenam. Saling berhadapan, termasuk aku yang berhadapan dengan dokter Andre.


“Mau pesan apa? Biar aku yang pesankan.” Dokter Richard menawarkan diri.


“Dokter Dysa? Mas Kevin, Rika, Hem, mau pesan apa? Dokter Andre?” Semua diam, bingung memilih menu.


“Hem, dok. Saya ketoprak saja sama es teh ya. Hehe.” Oke, aku mengawali.


“Aku sama deh,” Dokter Rika.


“Aku juga iya.”


“Aku juga, deh.”


“Samakan aja semua.” Ucap Dokter Kevin. Dokter Richard mengiyakan, dirinya pun memilih menu makan siang yang sama. Tidak kusangka menu kesusakaanku menjadi menu makan siang dokter lainnya juga.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, menunggu makan siangku terhidang. Sekadar menyibukkan diri dengan mengedarkan pandanganku ke meja sebelah ternyata mereka semua juga memakan ketoprak.


Apa mungkin ini perayaan hari ketoprak?


Atau ulang tahun penjual menu ketoprak?


Dokter Richard datang membawa beberapa porsi ketoprak dengan bantuan pemilik kedai di kantin ini.


“Kok semua pada makan ketoprak, bu Mirah?” Tanyaku pada penjual menu ketoprak langgananku.


“Iya, tadi mas Richard bilang mau pesan menu ketoprak kesukaan mbak Dysa, enam porsi. Dan yang lainnya katanya ikut menu mbak Dysa saja, begitu mbak.” Jawab bu Mirah.


“Hah? Kok gitu? Biasanya kan juga nggak ‘kan ya? Jadi, warung bu Mirah jadi ramai dong? Hahha.” Aku tertawa, aneh saja rasanya. Masa iya hari ini semua pengunjung kantin makan ketoprak?


“Mungkin mereka juga mau cobain makan menu kesukaan mbak Dysa kali. Mbak Dysa kan cantik.” Bu Mirah.


Hah? Apa hubungannya makan ketoprak sama saya, Bu?


“Bu Mirah bikin pusar Dysa memutar aja. ” Ujar bang Andre, dia berhasil membuatku malu untuk yang kedua kalinya.


“Memang benar kok Mas Andre, katanya mereka itu pada lihat mbak Dysa makan ketoprak buatan ibu hampir tiap hari. Gara-gara mereka penasaran sama makanan kesukaan mbak Dysa, ya itu warung ibu jadinya ramai. Lihat itu.” Bu Mirah menunjukkan kedainya, ramai sekali. Ya, mana kutahu jika mereka memerhatikan menu makanku setiap hari.


“Ya sudah selamat menikmati, Ibu tinggal dulu ya.”


“Ya, mari-mari, Bu.” Ucap dokter Richard yang masih berdiri.


Mengaduk bumbu medhok ketoprak milikku, menambahkan dua sendok teh sambal, kucuran kecap, dan tidak lupa mengambil satu kerupuk udang. Tidak peduli dengan rekan kerjaku yang mengikuti step by step menyajikan ketoprak spesial versi diriku.


“Iya, enak lho ini ketopraknya. Menu favorit dokter Dysa no kaleng-kaleng memang.” Dokter Silvia berkata setelah suapan pertamanya.


“Iya benar.”


“Lezat memang.” Semua berpendapat sama (sedap) rasa pada ketoprak itu.


“Pilihan dokter Dysa memang nggak akan salah ya? Memang selera kita bersama.” Rika.


“Iya, termasuk urusan pasangan ya Dok? Pasti sangat hati-hati, jangan sampai salah pilih.” Dokter Kevin menimpali dengan gurauan.


“Hah? Kok jadi nyambung ke situ?” Heran saja, situasi macam apa ini? Kok aku dijadikan objek pembicaraan?


“Ya, so pasti itu. Dokter Dysa kan wanita unggulan, cantik, baik, pintar, pastinya punya selera tinggi. Nah, buktinya sampai sekarang pun dia belum dapat pasangan yang sesuai dengan kriterianya. Iya kan, dok?”-dokter Silvia.


“Hem.” Tersenyum simpul sajalah ya.


“Tapi bagiku, dokter Dysa sudah memenuhi kriteriaku kok. Bagaimana kalau jadi pasanganku saja, Dok?” Dokter Kevin. Ya, si raja gombal ya dialah orangnya.


“Hus! Mas Kevin, ingat istri lho Mas. Dah dapat bini cantik begono juga!” dokter Rika memukul lengan dokter Kevin. Dokter Kevin, dokter kandungan yang sudah beristri, bahkan istrinya seorang apoteker di toko obat miliknya.


“ Boleh saja, tapi jangan sama aku.” Jawabku.


“Sudahlah dokter Dysa yang cantik rupawan-seksi menawan, tentukan pilihannmu sekarang juga. Pasti banyak yang ngantre kan? Beda sama aku, aku dari lahir pun belum pernah ada tuh cowo yang nembak aku, upsss!” Silvia, si dokter umum yang kelepasan bicara.


“Hahahahaha!” Gelak tawa bergelora karena ucapan dokter Silvia.


“Jujur amat, Bu! Berasa dalam banget sedihnya.” Dokter Richard, dokter pria itu menyikutkan sikunya pada Silvia. Aku pun ikut tertawa walau tidak sampai terbahak.


“Ih, ralat. Maksudku belum ada yang pernah sampai nembak aku karena aku blok duluan nomor ponsel dianya.” Salah tingkah dokter wanita itu.


“Hushhh-Husssh… Tidak menerima pembenaran dalam bentuk apapun. Intinya sama, nggak ada cowo yang nembak di seumur hidup loe ‘kan? Hahaha.” Dokter Rika, sungguh sedap menertawakan teman sendiri ya?


“Uh, tapi kan untungnya aku sudah menikah. Tidak seperti dokter Dysa yang bahkan usianya jauh lebih tua.”


Cep! Semua mulut tertutup rapat, tidak ada bunyi tawaan atau dentingan sendok garpu. Kalimatnya benar-benar membuat hening susasana kantin.


“Mmm.. Maaf dokter Dysa.” Lirih Silvia berkata.


“Hem, no problem. Kok pada diam? Lanjut makan dong!” Ucapku tanpa ragu.


“Dokter Dysa, marah?”


“Tidak. Kenapa harus marah?” Hai, siapa yang sedang marah? Aku bukan anak kecil yang ngambekkan, beda halnya sama dokter Andre ya.


“Sekali lagi maafkan saya.” Ucap Silvia, suasananya menjadi canggung. Aku benci suasana seperti ini yang bernapas saja rasanya tidak nyaman.


Kenapa kantinnya tampak sunyi? Padahal banyak orang di sini.


Ayolah, aku tidak terlalu tersinggung dengan ucapannya. Kenapa seolah-olah mereka yang merasa tidak nyaman?


Sampai kami kembali dari kantin, hanya keheningan menyelimuti. Semua terlihat berbeda, tidak ada canda tawa lagi. Kenapa ini?


“Dokter Dysa, maafkan saya.” Lagi –lagi dia meminta maaf, aku hanya mengangguk saja tanpa ekspresi. Kenapa harus meminta maaf berkali-kali sih?


Di depan ruanganku, hanya tinggal dokter Kevin dan dokter Andre. Sebelum dokter Kevin berbelok menuju ruangannya dia berkata padaku.


“Jangan dimasukkan hati ya kejadian tadi, jangan marah ya?”


Kejadian yang mana sih? Yang Silvia mengatakan kalau aku belum menikah?


“Ya ampun dokter Kevin, mana ada sih aku marah. Tidak kok, hem..” Aku menunjukkan senyum terlebarku, menunjukkan bahwa I’m fine, really.

__ADS_1


“Hahaha, ya sudah saya duluan ya? Sampai jumpa.” Ujar dokter Kevin dengan lambaian tangannya.


“Dokter Andre?” Hanya dia yang masih berdiri di sini, memang ruangannya yang tidak terlalu jauh dari ruanganku.


“Mari, dok.” Ucapnya singkat dan kaku, lantas pergi begitu saja.


“Formal sekali.” Gumamku yang kuyakin dia masih bisa mendengar sindiranku itu.


Melupakan apa yang tidak perlu diingat memang bukan hal bagi sebagian orang, tapi tidak denganku. Itulah kunci hidupku yang selalu terlihat sejahtaera, aku mampu melupakan dengan cepat apa yang tidak ingin aku ingat.


Make it simple, okey?


...***...


Sore datang, sengaja aku tidak berniat pulang cepat karena suasana rumah yang sedang gundah. Aku masih takut akan omelan Mama. Terlewat dua jam dari waktuku pulang, aku masih duduk di kursi kerja, seorang diri, dan ditemani sunyi. Membuang waktu untuk melihat berita-berita yang berseliweran di beranda media sosial, banyak akun beasiswa dan kampus ternama yang bermunculan di sana. Dulu aku mengikuti akun-akun tersebut supaya tidak tertinggal berita tentang perkuliahan. Melihat itu, teringat pada kejadian beberapa tahun lalu saat surat undangan strata dua dirobek Mama. Katanya aku tidak perlu melanjutkan sampai setinggi itu, sudah cukup.


Sejenak aku mengingat pada masa laluku itu.


“Dys.. Dysa! Kemari!” Mama berteriak memanggilku dari lantai bawah.


“Ada apa, Ma?”


“Lihat ini, beberapa hari ini ada surat-surat yang datang. Tertulis untukmu, Dys. Mama agak nggak paham, soalnya pakai bahasa Inggris. Coba kamu baca ini, surat dari siapa saja?” Mama menyodorkan tujuh amplop surat.


Memerhatikan setiap kop surat, sekilas terlihat asing dengan logo dan diakhiri stempel seperti surat resmi dari instansi atau lembaga resmi lainnya. Dan, betapa terkejutnya aku saat membaca isi surat tersebut. Tertulis alamat pengirim dari universitas ternama di dalam dan luar negeri,


Hah? Oxford University?


University of Barcelona?


University of Amsterdam?


Universitas Indonesia?


ITB? UNAIR? UNBRAW?


Mulutku yang menganga karena masih tidak percaya, membuat Mama semakin bertanya-tanya,


“Surat apa Dysa? Surat cerai?” Seloroh Mama, sempat-sempatnya Mama bergurau saat aku sudah berlinganan air mata.


“Ih, Mama.” Aku ikut tertawa dan mengusap air mata tangis bahagia.


“Ini surat undangan lanjut kuliah, Ma.” Binar bahagia terpancar dari nada bicaraku. Sungguh, semuanya bersumber dari dalam hati. Betapa bahagianya aku saat itu.


“Maksud kamu?”


“Dysa dapat undangan untuk lanjut S-2, Ma!”


Menangis dan tertawa saat itu juga.


“Kuliah lagi?”


“Iya, Ma. Bahkan, Dysa dapat undangan untuk melanjutkan jenjang kuliah di luar negeri. Amerika, Belanda! Eropa lho, Ma!” Teriak bahagia.


“Ma, Dysa bisa memilih salah satunya! Menurut Mama Dysa mau milih yang mana?” Menggoyang-goyangkan lengan mama.


“Ini kesempatan Dysa, Ma. Beasiswa, Ma.”


“Please, Ma. Beritahu Dysa, mana yang harus Dysa terima?” Rasanya jantungku berdegup teramat cepat tanpa kendali. Lain halnya Mama yang terlihat biasa saja, alisnya hanya terangkat sebelah, lantas merebut surat undangan itu.


“Kemarikan.” Pinta Mama merebut paksa surat-surat dalam genggamanku.


“Mau diapakan, Ma? Mama tidak senang Dysa bisa lanjut S-2?”


“Tidak!” Jawab Mama. Mama lantas menyobek lembaran kertas itu.


“Ma! Apa yang Mama lakukan?”


“Mama! Hentikan, Ma!” Mama tidak mengiba padaku, ia menuntaskan merobek surat berharga itu sampai pada potongan kecil.


“Mama, Dysa mohon! Beri Dysa kesempatan untuk melanjutkan sekolah, Ma. Huks huks.” Aku hanya bisa menangis, mama telah berhasil mencoret satu impian dari wishlistku. Aku mengira Mama jahat padaku saat itu.


“Sudah cukup dengan impianmu itu, Dysa! Jangan menyusahkan diri sendiri untuk selalu belajar dan belajar setiap hari! Hidup bukan untuk bersenang-senang dengan pelajaran sains semata! Reallylife, hidupku! Kehidupanmu butuh kamu! Tanpa beasiswa pun Mama Papa mampu membiayaimu, tapi jangan harap kamu mendapat restu Mama untuk lanjut kuliah!” Begitulah ucapan Mama, Mama menyebar potongan kertas itu ke udara bersamaan dengan satu anganku yang turut terbang tanpa bisa kupegang.


Untuk pertama kalinya Mama melarang langkahku dan untuk itu pula alasanku untuk menurut pada Mama.


Mama sudah tidak rida, secara paksa aku mengubur satu impian itu. Namun masih berharap jika suatu hari nanti Mama mengizinkanku untuk melanjutkan S-2 ku, Aamiin. (Rintih hatiku pada saat itu).


Air mataku terkucur deras mengingat kejadian hari itu, harus kuterima kenyataan bahwa aku sudah dibacklist dari beasiswa S-2 itu. Ya, lamunanku buyar karena dikejutkan dengan getaran ponsel di laci mejaku. Papa menelpon,


“Halo, Pa. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, Dysa belum pulang?” Saut Papa.


“Sudah kok, Pa. Dysa sedang berkemas.”


“Pulanglah jika sudah selesai, ada seseorang yang menunggumu di rumah.” Ucap Papa.


“Iya, Papa.”

__ADS_1


Siapa yang sedang menungguku? Mama? Atau siapa….?


__ADS_2